-
   
  Nomor 3  
Juli - Desember 2006
 
 
 
ARTIKEL ASLI
 
Home
Latar Belakang
Redaksi
Pedoman Penulisan
 
PAST ISSUE

M3 Nomor 2

   
  KONSUMSI FAST FOOD SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA OBESITAS PADA REMAJA USIA 15-17 TAHUN
(Studi kasus di SMUN 3 Semarang)
-

Tabel 5 memperlihatkan uji korelasi Spearman untuk melihat kuat hubungan pada beberapa variabel. Pada aktifitas fisik, total intake kalori dan pandangan pada remaja didapatkan hubungan yang bermakna (p<0,05) dengan kejadian obesitas. Sedangkan pada variasi jenis makanan cepat saji, kalori yang berasal dari makanan cepat saji dan persentasi kalori dari makanan cepat saji terhadap total intake harian tidak didapatkan hubungan yang bermakna dengan kejadian obesitas (p>0,05). Tanda negatif (-) pada kekuatan korelasi (r) menunjukkan hubungan yang terbalik dengan kejadian obesitas.
Pada aktifitas fisik terdapat kuat hubungan lemah dengan arah hubungan yang negatif, yang menunjukkan bahwa; semakin tinggi aktifitas fisik yang dilakukan, semakin rendah angka kejadian obesitas.
Pada total intake kalori, didapatkan kuat hubungan lemah dengan arah hubungan yang positif, yang menunjukkan bahwa; semakin tinggi total intake kalori pada seseorang, maka akan semakin tinggi mempengaruhi terjadinya obesitas.
Pada pandangan-pandangan remaja tentang kegemukan, didapatkan kuat hubungan yang sedang dan kuat dengan arah hubungan yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pandangan remaja tentang kegemukan yang sedang terjadi pada dirinya, maka akan semakin menurunkan angka kejadian obesitas.

BAHASAN

Total intake kalori pada kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok kasus, dan setelah dilakukan uji Mann-Whitney ternyata terdapat perbedaan bermakna (p=0,011) antara kelompok kasus dan kontrol. Total intake kalori yang lebih besar pada kelompok kontrol ini disebabkan pada kelompok kontrol tidak terdapat kecenderungan untuk mengurangi makan seperti pada kelompok kasus. Selain faktor diatas, bias recall juga sangat berpengaruh pada penelitian ini karena bias recall merupakan salah satu bias yang mungkin muncul pada penelitian case-control.15 Setelah dilakukan uji korelasi, ternyata terdapat hubungan searah yang lemah antara total intake kalori dengan terjadinya obesitas. Semakin besar intake kalori, semakin besar kemungkinan terjadinya obesitas. Jadi jelas bahwa total intake kalori yang dikonsumsi tiap hari masih berperan terhadap terjadinya obesitas. Hasil studi ini memperkuat pernyataan beberapa peneliti, yaitu bahwa peningkatan masukan energi dan konsumsi makanan memberikan kontribusi besar untuk terjadinya obesitas.9
Pada analisis Mann-Whitney, didapatkan hasil berbeda tidak bermakna pada variasi jenis makanan cepat saji yang dikonsumsi, kalori yang berasal dari makanan cepat saji, dan persentase kalori yang berasal dari makanan cepat saji antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa pola konsumsi makanan cepat saji antara kelompok kasus dan kelompok kontrol relatif sama. Fakta ini menunjukkan bahwa; bisa jalan bersama dan tidak dipandang berbeda, merupakan motif yang mendominasi banyak perilaku sosial pada masa remaja.6
Pada perhitungan OR, didapatkan hasil bahwa variasi jenis makanan cepat saji bukanlah faktor risiko untuk terjadinya obesitas, dan setelah dilakukan uji korelasi, ternyata memang tidak didapatkan hubungan antara variasi jenis makanan cepat saji dengan terjadinya obesitas pada remaja. Hasil studi ini berbeda dengan yang ditemukan oleh Padmiari dan Hamam Hadi, yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis makanan cepat saji yang dikonsumsi dengan kejadian obesitas pada kelompok umur yang berbeda.1 Perbedaan ini disebabkan karena yang mempengaruhi obesitas adalah jumlah masukan kalori,11 bukan jenis makanannya. Jenis-jenis makanan cepat saji yang banyak dikonsumsi oleh remaja antara lain; hamburger, fried chicken, pizza dan donat.
Makanan cepat saji memberikan sumbangan kalori yang bervariasi terhadap total intake harian, tergantung dari jenis makanan cepat saji tersebut. Kandungan energi, lemak, kolesterol dan garam pada makanan cepat saji pada umumnya tinggi, namun sangat miskin serat. Dalam 100 gram, burger mengandung 261 kalori, french fries mengandung 342 kalori, fried chicken pada bagian dada ayam atau sayapnya mengandung 303 kalori, pizza yang berisi keju mengandung 268 kalori, dan hotdog mengandung 247 kalori.13 Kandungan serat dalam berbagai macam makanan cepat saji relatif rendah, sehingga diperlukan konsumsi serat sebagai tambahan untuk mengimbangi tingginya kolesterol dalam darah.2

 

Next Page >>

<<Previous Page

 

 
     
www.m3undip.org
 

Berdiri tahun 2005, dipulikasi oleh: Tim Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang