Ruang Publik Virtual: Ruang yang Diperebutkan

Nurul, Hasfi (2014) Ruang Publik Virtual: Ruang yang Diperebutkan. In: Communcation, Culture and Media Studies , 10-11 Desember 2014, Universitas Islam Indonesia.

[img]Microsoft Word (Proceeding Konferensi Nasional_Conferensi on Communication, Culture and Media Studies) - Published Version
66Kb

Abstract

Pilpres RI 2014 menjadi saksi bagaimana sosial media dipakai sebagai alat diskusi deliberatif yang dinamis dalam sejarah pilpres di Indonesia. Fenomena ini sekilas memperkuat thesis bahwa ruang publik virtual telah meningkatkan partisipasi politik. Namun mungkin pernyataan itu terlalu tergesa-gesa karena selain diskusi yang membangun proses komunikasi politik, media baru ini justru menumbuh-suburkan praktek-praktek diskusi patologis. Twitter menjadi tempat dihembuskannya opini-opini yang mengarah ke kampanye negatif, kampanye hitam hingga propaganda. Isu-isu sensitif agama dan ras menjadi alat komoditas politik yang membahayakan integrasi bangsa. Twitter yang memberikan otonomi khusus pada setiap warga untuk berkomunikasi secara terbuka, kenyataannya tidak selalu serta merta memberikan jaminan terbangunnya demokrasi yang lebih baik. Tak begitu berbeda dengan ruang publik dalam konteks media tradisional, twitter juga menjadi ruang yang diperebutkan untuk mencapai kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.

Item Type:Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects:P Language and Literature > P Philology. Linguistics > P1-1091 Philology. Linguistics > P87-96 Communication. Mass media
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:58642
Deposited By:Ms Nurul Hasfi
Deposited On:28 Dec 2017 21:57
Last Modified:28 Dec 2017 21:57

Repository Staff Only: item control page