PUSAT INFORMASI BUDAYA SUKU BADUY

Andigi Yuffty, Dhion and Suyono, Bambang and Noor P, Bintang (2016) PUSAT INFORMASI BUDAYA SUKU BADUY. Undergraduate thesis, Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF
1567Kb
[img]
Preview
PDF
433Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

1785Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

533Kb
[img]
Preview
PDF
204Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

672Kb
[img]
Preview
PDF
463Kb
[img]
Preview
PDF
1020Kb
[img]
Preview
PDF
306Kb

Abstract

Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan kesenian. Keberagaman budaya inilah yang membuat Indonesia dikenal oleh negara-negara lain dalam lingkup internasional. Kebudayaan merupakan hasil budi daya manusia yang selalu tumbuh dan berkembang, yang dapat menunjukan ciri dan karakter suatu bangsa. Dengan potensi budaya Indonesia ini, dibutuhkan pengorbanan untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur dan beragam sebagai modal pembentuk ciri khas suatu bangsa. Baduy merupakan sub-etnis Sunda yang hidup berdampingan dengan alam. Memilih hidup berdampingan dan bergantung pada alam menjadikan suku Baduy terisolasi dari kehidupan moderen. Bahkan masyarakat suku Baduy tidak mengirimkan anak-anaknya ke sekolah untuk belajar layaknya masyarakat pada umumnya. Suku Baduy terbagi menjadi dua golongan, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada tata cara menjalankan Pikukuh atau aturan adat. Baduy Dalam masih memegang teguh Pikukuh dan menjalankannya dengan baik, sedangkan Baduy Luar sudah terpengaruh pola hidup masyarakat moderen. Berbeda dengan masyarakat Baduy Luar, ketatnya aturan adat pada masyarakat Baduy Dalam memaksa mereka agar tidak terkontaminasi budaya luar. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa aturan adat masyarakat Baduy Dalam melarang penggunaan barang-barang elektronik. Namun demikian, secara umum masyarakat suku Baduy masih memilih hidup tanpa listrik, tanpa alas kaki, dan tetap berjalan kaki. Kawasan Baduy tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Diperkirakan akhir abad ke-18 wilayah Baduy ini terbentang mulai dari kecamatan Leuwidamar sekarang sampai ke Pantai Selatan. Sekarang luas wilayah Baduy ini sekitar 5102 hektar. Batas wilayah sekarang ini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di desa Leuwidamar dan sekitarnya. Dalam hal ini, Kabupaten Lebak yang masih memiliki suku asli yang menetap seharusnya menjaga serta melestarikannya sebagai budaya yang menjadi kearifan lokal. Dengan cara membuat pusat Informasi budaya yang menarik serta memberi kenyamanan pada setiap pengunjung yang datang. Pusat Informasi budaya tersebut dapat difokuskan pada kebudayaan Suku Baduy yang merupakan sub-etnis sunda asli Banten.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:47403
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:22 Jan 2016 08:57
Last Modified:22 Jan 2016 08:57

Repository Staff Only: item control page