TELEVISI DAN FANTASI POPULARITAS

Rahmiaji, Lintang Ratri (2013) TELEVISI DAN FANTASI POPULARITAS. [Experiment]

[img]Microsoft Word
22Kb

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini muncul ketika ada keresahan tentang dampak pola industri sinetron di Indonesia terhadap pekerja anak. Hal ini karena televisi dicurigai membentuk konstruksi artis untuk mendukung kepentingannya semata, dimana konstruksi ini menciptakan kesadaran palsu bagi para orang tua anak yang berpotensi sebagai pekerja media, sebuah fantasi popularitas. Penelitian ini dilakukan berdasarkan paradigma kritis, berupa penelitian kualitatis denan metode analisis resepsi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa media sangat intens dalam membangun konstruksi artis cilik sesuai kepentingannya. Hal ini terbukti dengan porsi tayang artis cilik dalam program infotainment cukup banyak ditemui. Dominasi pemikiran ini dilakukan media dengan sempurna melalui hadirnya tayangan infotainment sehingga khalayak terhegemoni dengan fantasi popularitas artis cilik yang diciptakan oleh media. Ada tiga proses pemaknaan yang dilakukan khalayak terhadap konstruksi media televisi tentang pekerja anak, popularitas, artis cilik, dan orang tua artis cilik. Tipe khalayak pertama adalah menerima konstruksi media televisi. Khalayak yang menerima ini diduga intensitas menonton tayangan tinggi, tuntutan ekonomi yang tinggi berkaitan dengan SES yang rendah, pendidikan yang tidak cukup, membuat khalayak rentan terhadap penciptaan kesadaran palsu tentang fantasi popularitas yang dihadirkan media. Berbeda dengan tipe khalayak kedua yang menyadari adanya konsep baru, yang mereka yakini kebenarannya, namun tidak cukup kuat jika dinegosiasikan dengan konsep yang sudah dominan. Khalayak tipe negosiator ini, terpaan medianya sedang, tuntutan ekonomi yang tinggi karena faktor sosial dan SES yang rendah, namun pendidikannya cukup. Khalayak yang ketiga adalah khalayak yang menolak konsep yang dibawa media, Khalayak tipe ini memiliki SES tinggi dan latar belakang pendidikan yang tinggi, sehingga mereka lebih kritis terhadap media, serta memiliki kriteria hidup yang lebih baik untuk anak-anak. Fantasi popularitas rendah karena mereka bisa mencapai standar hidup baik tanpa harus berfantasi. Kata Kunci : Pekerja Anak, Sinetron, Fantasi Popularitas, Industri Televisi  

Item Type:Experiment
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:43841
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:07 Oct 2014 09:32
Last Modified:07 Oct 2014 09:32

Repository Staff Only: item control page