SOLO CONVENTION AND EXHIBITION CENTER

MARETA, FERINA (2009) SOLO CONVENTION AND EXHIBITION CENTER. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas teknik Undip.

[img]
Preview
PDF
43Kb

Abstract

BAB I PENDAHULUAN Laporan perancangan ini sebagai tindak lanjut dari Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur dan menjadi satu rangkaian dengan perancangan fisik Solo Convention and Exhibition Center. Dalam laporan perancangan ini diungkapkan secara garis besar pemikiran-pemikiran dan konsep perancangan fisik dengan didasarkan pedoman perancangan yang meliputi : A. Tujuan Perancangan B. Faktor Penentu Perancangan C. Dasar Filosofi Berdasarkan pedoman perancangan dilakukan eksplorasi desain untuk memperoleh alternatif desain terbaik dan konsepsi perancangan diuraikan dalam : A. Perancangan tapak, mencakup pencapaian, sirkulasi dan tata ruang luar. B. Perancangan bangunan mencakup bentuk massa bangunan, penampilan bangunan, tata ruang dalam, struktur dan bahan bangunan. C. Perlengkapan bangunan dan tapak, yang meliputi persyaratan fisik dan utilitas bangunan serta utilitas kawasan. Dari rumusan di atas diharapkan terwujud perancangan Solo Convention and Exhibition Center dapat menjadi landmark kota Solo dengan menampilkan nuansa budaya tradisional Solo sebagai citra dan karakter bangunan, juga dengan konsep fleksibilitas ruang dimana kapasitas ruang dapat menyesuaikan volume segala event, yang sangat fleksible dan movable, sehingga sangat mudah disetting menurut kebutuhan konsumen, dengan begitu harga lebih ekonomis. BAB II PEDOMAN PERANCANGAN A. Tujuan Perancangan Perancangan Solo Convention and Exhibition Center adalah untuk menciptakan suatu wadah bagi kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang ada di kota Solo, mengingat Solo telah dicanangkan sebagai salah satu kota tujuan MICE di Indonesia, yang didukung dengan fasilitas yang representatif di dalam pembentukan karakter kawasan dan memenuhi kualitas pelayanan yang baik, dengan jangkauan pelayanan dalam skala internasional sehingga dapat menampung peningkatan pelayanan di masa depan serta dapat mendukung perkembangan industri MICE khususnya, dan perekonomian pada umumnya. Tujuan perencanaan dan perancangan Solo Convention and Exhibition Center diharapkan dapat tercapainya fungsi utama gedung pertemuan sebagai bangunan perdagangan dan jasa, sedangkan fungsi utama gedung pertemuan dapat diuraikan secara pokok, yaitu : o Untuk mewadahi kagiatan konvensi dan ekshibisi, atau kegiatan lainnya yang membutuhkan fasilitas auditorium atau ballroom seperti perjamuan, pertunjukan musik dan peragaan busana, sebagai upaya untuk memenuhi pengguna Convention and Exhibition Center yang makin berkembang. o Berkaitan dengan pelaku sektor ekonomi khususnya perdagangan dan industri, bangunan Convention and Exhibition Center merupakan sarana bersosialisasi antar pelaku bisnis untuk bertukar informasi atau mengambil kebijakan melalui konvensi dan merupakan sarana efektif untuk mempromosikan produk-produk perdagangan dan industri. o Karakter proses kegiatan dalam wadah tersebut adalah penyatuan kegiatan konvensi yang membutuhkan kenyamanan dan privasi yang tinggi dengan kegiatan ekshibisi yang bersifat promosi publik. o Unsure kegiatan konvensi berhubungan dengan suasana kenyamanan, ketenangan dan keprivasian serta kegiatan ekshibisi yang berhubungan dengan suasana keramaian dan santai. Sehingga dengan adanya perencanaan dan perancangan yang menyeluruh akan menciptakan bentuk gedung pertemuan (Convention hall) yang layak dan harus memenuhi standart kebutuhan pemakainya, yaitu : ▪ Menyediakan fasilitas utama berupa hall pertemuan yang representatif dalam hal kapasitas, kefleksibilitasan dalam setting ruangan (movable concept) juga didukung aspek teknis ruangan (aspek utilitas) yang memadai sesuai dengan kebutuhan fungsinya. ▪ Menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang dan pendukung yang layak sesuai dengan fungsinya serta dapat memenuhi tuntutan kenyamanan, keamanan dan kemudahan. ▪ Pelayanannya berskala internasional. ▪ Konsep keruangan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. B. Faktor Penentu Perancangan Faktor-faktor pokok yang menentukan perancangan Solo Convention and Exhibition Center ini adalah : 1. Standart dan Pedoman perancangan Convention and Exhibition Center yang dijadikan sebagai acuan pembentukan program ruang. 2. Data-data sekunder berupa data kependudukan, industri, perekonomian, wisata, fasilitas dan sarana-prasarana kota yang ada yang terkait dengan industri MICE. 3. Lokasi dan tapak, yaitu terletak pada kawasan perdagangan yaitu pada Jl. Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di pusat kota. 4. Tuntutan peraturan bangunan setempat yang berpengaruh pada penentuan ketinggian bangunan, rasio ketertutupan tapak dengan bangunan dan sempadan bangunan. 5. Tuntutan karakter bangunan agar dapat tampil representatif tanpa mengesampingkan kesan tradisional. 6. Kapasitas dan jenis aktifitas yang akan ditampung. C. Dasar Filosofi 1. Falsafah dasar Sesuai dengan tujuan dan kriteria perancangan, maka falsafah dasar yang harus dipenuhi adalah : a. Fungsional, harus sesuai dengan tuntutan fungsinya, sehingga tercapai hubungan yang saling mendukung dengan adanya kemudahan, kelancaran, keamanan dan kenyamanan pemakai bangunan. b. Karakteristik Solo Convention and Exhibition Center, gedung pertemuan yang di dalamnya terdapat kegiatan MICE (Meeting , Incentive, Convention and Exhibition) berskala kota, nasional maupun internasional. Solo Convention and Exhibition Center ini mengedepankan kualitas kelengkapan fasilitas pelayanan, kualitas fungsinya secara fisik, keamanan, dan kenyamanan. Sedangkan bangunan mencerminkan fungsinya dari pengolahan ekspresinya, baik itu dari segi struktur, tampilan dan juga lingkungan bangunan itu sendiri. 2. Konsep Desain Konsep penekanan desain yang digunakan pada perancangan Solo Convention and Exhibition Center adalah konsep fleksibilitas ruang, yaitu suatu kemampuan/sifat ruang untuk dapat bergerak, berubah mengikuti kebutuhan konsumen dari segi kapasitas dan luas. Maksudnya misalkan ada suatu order pameran atau konvensi skala besar yang membutuhkan space luas ruang ini dapat mengamodasi semuanya, dan ketika hanya ada order pameran atau konvensi dalam skala kecil yang hanya membutuhkan space yang kecil ruang ini dapat dengan mudah disetting mengikuti kebutuhan luas/kapasitas yangt diinginkan sehingga jarga akan lebih ekonomis. Gambaran desainnya yaitu menggunakan material-material yang mudah di bongkar pasang dan disetting dengan system Automatic Building System. Karakter fisik bangunan yang hendak ditampilkan yaitu suatu konsep transformasi identitas Kota Solo ke dalam suatu konsep modernitas mengingat fungsi bangunan yang mengakomodir aktivitas modern. Konsep ini dipilih sebagai representasi dari spirit kota Solo yaitu Solo’s Past as Solo’s Future, yaitu suatu spirit pembangunan kota Solo yang menjadikan karakter budaya lokal sebagai dasar pengembangan modernitas Solo, dalam kata lain mengembangan kota yang tidak meninggalkan identitas masa lampau. Konsep ini ditampilkan dengan menghadirkan suasana tradisional Solo dalam hal ini yaitu batik sebagai identitas kota Solo ke dalam elemen-elemen interior dan eksterior. BAB III KONSEP PERANCANGAN A. Perancangan Tapak 1. Pencapaian Tapak berada di kawasan perdagangan dan jasa yang tepatnya jalan Slamet Riyadi, yang merupakan pencapaian utama ke dalam tapak. Tapak dilalui berbagai jenis kendaraan umum seperti mobil angkutan kota dan bis dalam kota. Selain itu letak tapak sangat strategis karena berada di pusat kota sehingga dapat dicapai dari berbagai arah. sebagian besar pencapaian berasal dari arah stasiun purwosari sebab jalan Slamet Riyadi merupakan jalur satu arah. 2. Sirkulasi dan Parkir Sirkulasi untuk pengunjung pada tapak melalui pos satpam yang berada dekat entrance, kemudian menuju drop off atau langsung menuju parkir. Sirkulasi untuk pengelola dan servis dipisahkan dari sirkulasi pengunjung agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. sirkulasi pengelola dan servis melalui belakang bangunan. Sirkulasi vertikal di dalam bangunan menggunakan escalator dan tangga. Area parkir untuk pengunjung berada di area basemen dan sebagian ada di area depan termasuk parkir untuk bus pengunjung, sebab luas lahan tidak memungkinkan untuk meletakkan parkir di depan bangunan. Sedangkan area parkir untuk pengelola dan servis sengaja dibedakan dari area parkir pengunjung agar tidak menggangu sirkulasi pengunjung. 3. Tata ruang luar Pola ruang luar diarahkan mengikuti bentuk komposisi massa bangunan dan titik aksis, dimana aksis diambil dari point of view tapak yaitu tegak lurus dengan jalan utama. Pola sirkulasi serta pola dan fungsi yang akan dicapai oleh pembentukan ruang luar tersebut. Ruang luar terdiri dari area hijau dan area parkir. B. Perancangan Bangunan 1. Bentuk massa bangunan Massa bangunan mengambil aksis menyesuaikan dengan view dari arah pencapaian utama (Jl. Slamet Riyadi) dan mengikuti bentuk tapak. Lebih memprioritaskan fungsional, sirkulasi dan persyaratan bangunan dengan melakukan eksplorasi sehingga tercipta bentuk denah yang menampung fungsi-fungsi yang menunjang kegiatan utama bangunan tersebut. Selain itu juga mempertimbangkan pembagian zona-zona sesuai fungsi ruangan. 2. Penampilan Bangunan Karakter bangunan yang ingin ditampilkan, yaitu kesan bangunan atraktif dan dinamis. Yaitu bangunan Arsitektur Modern secara visual arsitektural maupun secara teknis dan struktur namun tetap memasukkan unsur tradisonal melalui ragam hias berupa motif batik dan ukiran. 3. Struktur Penggunaan sistem struktur dengan melakukan penyesuaian terhadap fungsi ruang kegiatan, tuntutan bentuk ruang, dimensi ruang, fleksibilitas ruang serta efisiensi ruang. Struktur tersebut harus memenuhi tuntutan fisik bangunan yang meliputi kekakuan, kestabilan dan daya tahan terhadap gangguan alamiah, seperti gempa, angin, petir dan lain-lain serta menjamin keamanan terhadap masalah konstruksi dan bahaya kebakaran, sehingga di dalam melakukan pertimbangan pemilihan material struktur harus ekonomis, perawatannya mudah dan mempunyai daya tahan yang bagus terhadap segala kondisi yang mungkin terjadi. 1) Sub structure Untuk struktur pondasi menggunakan struktur raft (pondasi rakit). 2) Mid structure Mid structure bangunan menerapkan pola grid. Modul kolom yang digunakan adalah 12 m x 12 m dan 10 m x 10 m. 3) Upper structure Roof structure bangunan menggunakan atap dak beton, struktur shell dan folded plate. 4. Bahan Bangunan • Dinding, dinding luar menggunakan secondary skins berupa kisi-kisi dari alumunium. • Bukaan menggunakan kaca patri dengan motif batik sidomukti dan dihiasi dengan teralis dari besi tempa dengan warna tembaga. Sedang bukaan-bukaan lebar rangka kaca menggunakan rangka alumunium. • Lantai, pada interior bangunan ini menggunakan material lantai marmer. Pada plaza menggunakan batu candi sedang pada lansekap bangunan menggunakan rumput perkerasan dari paving. • Plafond, menggunakan gipsum dengan rangka aluminium. C. Perlengkapan Bangunan 1. Sistem pencahayaan Terang langit dimanfaatkan dengan menggunakan bukaan dinding pada bangunan.khususnya pada ruang bagian depan. Sedangkan penerangan buatan menggunakan lampu TL dan untuk penerangan khusus menggunakan lampu sorot pada stage. 2. Sistem pengkondisian udara Sistem pengkondisian udara menggunakan sistem penghawaan buatan dengan AC package hal ini dikarenakan banyak area yang mebutuhkan penghawaan buatan namun tidak semua ruang tersebut membutuhkan penghawaan buatan secara bersamaan (tergantung pemakaian ruangan). Sedangkan untuk ruang ekshibisi terbuka menggunakan penghawaan alami. 3. Sistem telekomunikasi Untuk kebutuhan komunikasi baik internal maupun eksternal digunakan 2 sistem yaitu • Sistem komunikasi eksternal, dengan sistem Private Automatic Branch Exchange (PABX), untuk komunikasi antar ruang/bangunan untuk fasilitas koneksi dengan pihak luar. • Sistem komunkasi internal, dengan media interkom yang menghubungkan antar ruang/bangunan tanpa bisa melakukan koneksi dengan pihak luar. 4. Jaringan listrik Kebutuhan listrik dipenuhi oleh PLN sebagai sumber listrik utama dan genset sebagai cadangan apabila aliran dari PLN mati. Kedua jaringan disalurkan ke trafo dan panel kontrol pusat (MDP) kemudian dialirkan ke panel (SDP) yang akan diteruskan ke tiap-tiap ruang yang dibutuhkan. 5. Sistem Penanggulangan Kebakaran  Pengaman terhadap bahaya kebakaran Elemen-elemen pemadaman terhadap api antara lain menggunakan : ▪ Fire hydrant, yang mempunyai jangkauan sekitar 25-30 m. ▪ Hidran pilar di tepi jalan yang berjarak maksimal 100 m. ▪ Fire extinguisher berupa zat kimia yang ditempatkan pada ruangan-ruangan dengan jarak per unitnya antara 20-30 m. Pengamanan terhadap kebakaran dari segi arsitektural harus pula memperhatikan beberapa hal, antara lain : ▪ Perletakan tangga atau pintu keluar yang tidak terlalu berjauhan satu sama lain, maksimal berjarak ± 30 m. Sehingga bila terjadi kebakaran pengunjung dapat dengan mudah menyelatkan diri keluar bangunan. 6. Jaringan air bersih Air bersih untuk keperluan seperti KM/WC, minum dan lain-lain berasal dari PDAM DAN sumur artetis dengan menggunakan bak penampungan untuk menampung dan menyalurkan air ke seluruh bangunan. 7. Jaringan air kotor Sistem jaringan pembuangan air kotor menyebar ke seluruh ruangan terutama untuk ruang-ruang jual yang basah dan kotor (limbah cair) dan saluran tersebut dikumpulkan untuk selanjutnya disalurkan ke riol kota. Untuk air hujan menggunakan talang yang dihubungkan ke saluran air. Sedangkan untuk limbah padat dari lavatory disalurkan ke septictank dan diolah secara alamiah. 8. Sistem pembuangan sampah Menggunakan sistem pembuangan sementara (TPS) antara sampah organik dan anorganik dipisahkan untuk kemudian dibuang pada pembuangan terakhir (TPA) dengan menggunakan truk sampah. 9. Transportasi vertikal Menggunakan eskalator dan tangga. 10. Sistem penangkal petir Untuk pengamanan petir menggunakan Sistem Faraday. Bentuknya merupakan tiang-tiang yang berulang-ulang ditempatkan pada beberapa bagian atap bangunan dengan ketinggian kurang lebih 30 cm, kemudian dihubungkan dengan kabel baja ke bawah tanah. 11. Building Automatic System Digunakan untuk mengendalikan peralatan mekanikal elektrikal melalui CPU (Central Processing Unit). 12. Sistem keamanan Sistem keamanan yang digunakan yaitu dengan tenaga manual dengan bantuan tenaga security dan kamera monitor Closed Circuit Televition (CCTV) yang ditempatkan pada bagian ruangan tertentu. 13. Akustik Penggunaannya pada ruang-ruang konvensi yaitu main convention, meeting room, penunjang convention (ballroom), melalui perletakan pada zona tertentu dan penggunaan material isolasi bunyi pada lantai, dinding dan plafond. 14. Sound system dan Audio visual, Terdiri atas public area, car calling, pemancar suara, microphone, speaker, Simultaneous Interpreter, Electronic voting, film projector, OHP, dan Slide Projecyor.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:1229
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:09 Oct 2009 10:18
Last Modified:23 Oct 2009 14:06

Repository Staff Only: item control page