PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP PENGKONDISIAN THERMAL DALAM RUANGAN PADA RUMAH RAKIT PALEMBANG

Diem, Anson Ferdiant (2004) PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP PENGKONDISIAN THERMAL DALAM RUANGAN PADA RUMAH RAKIT PALEMBANG. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
4049Kb

Abstract

Indonesian traditional architecture is highly varied. One of the varieties is found in Palembang, the city chosen for the location of this case study. It is chosen because it has the widest river in the archipelago, whose name is "Musi river" and has nine small rivers connected to it. The nine smaller rivers are called Batang Hari Sembilan. The method used in selecting the sample for this study was stratified sampling based on the dwelling grouping pattern and building orientation was the factor considered for more representative sample. This causal comparative research was aimed to find the cause and effect relationship. Orientation analysis was done and explained descriptively and phenomenologically. Analysis of the thermal convenience of the building was carried out by following A guideline, that is, "1940 Mom and Wiesebrom temperature. The measurement of the temperature, wind speed, and humidity was done on the spot. There are three findings of this study. First, different building orientation of Palembang raft housing does determine the thermal convenience of the room. The orientation facing south-north creates room thermal condition of the raft house more effective. Second, the thermal convenience of the raft housing room having north-south orientation has lower CET (Corrected Effective Temperature) value, which can make the room cooler with 1:1 inlet-outlet ratio. Third, the width of opening hole of Palembang raft house does not fulfill the requirement of wind speed based on the compilation calculation to match the thermal condition using AV (air velocity) formula of Macfarlane this is because of the Orientation of the opening hole of Palembang raft house is not facing of the coming wind and in addition that has caused low quality of natural lighting in addition to thermal inconvenience, especially when there are more members of the family in the raft house in the future. Therefore, to anticipate that possibility, it is suggested that the opening hole of the house be made larger facing that of the coming wind. This research is a preliminary study in terms of thermal convenience dealing with Palembang raft housing that floats along the Musi river. In order to develop regional architecture in the future, the writer hopes that someone will replicate this study with more sample, more time, and with better equipment. Arsitektur Tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia sangatlah beragam. Salah satunya yang ada di kota Palembang. Kota Palembang dipilih sebagai lokasi studi kasus karena kota Palembang memiliki sungai terbesar di Nusantara dengan 9 (sembilan) anak sungai yang disebut sebagai "Baking Hari Sembilan". Metode yang digunakan untuk pemilihan sampel adalah metode "Stratified Sampling" berdasarkan pengelompokan pola peletakan Minim Orientasi bangunan digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk mendapatkan sampel yang lebih representatif Jenis dari penelitian ini sendiri adalah "causal comparative research" untuk menyelidiki kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat. Analisis orientasi ditinjau dan dijelaskan secara deskriptif fenomenologik. Analisis penkondisian thermal bangunan ditinjau berdasarkan pedoman rentang temperatur dan Mom & Wiesebrom (1940). Pengukuran temperatur, kecepatan angin dan kelembaban dilakukan di lapangan. Temuan pertama yaitu terdapat perbedaan orientasi bangunan rumah Rakit Palembang yang temyata mempengaruhi kondisi thermal dalam ruangan. Orientasi yang menghadap ke Selatan-Utara temyata lebih efektif dalam menciptakan kondisi thermal dalam ruangan rumah Rakit. Temuan kedua yaitu mengenai tingkat kondisi thermal dalam ruangan rumah Rakit Palembang. Rumah Rakit yang berorientasikan ke Selatan-Utara memiliki nilai CET (Correct Effective Temperature) yang lebih rendah terbukti lebih dapat mendinginkan temperatur di dalam ruangan, dengan rasio (inlet : outlet) satu banding satu. Temuan ketiga menunjukkan bahwa luas lubang bukaan pada rurnah Rakit Palembang semuanya kurang memenuhi persyaratan kecepatan angin sesuai dengan perhitungan kompilasi pencocokan kondisi thermal terhadap rumus persyaratan Av (pergerakan udara) dart "Macfarlane" dikarenakan orientasi lubang bukaan tidak searah dengan pergerakan udara. Hal tersebut selain mengakibatkan ketidak nyamanan thermal juga menyebabkan rendahnya kualitas penerangan alami. Apalagi jika ditinjau untuk kebutuhan masa mendatang dengan kemungkinan adanya pertambahan an ggota keluarga. Untuk itu perlu dibuat bukaan lebih besar dan pada posisi angin datang. Penelitian ini merupakan penelitian awal dalam kajian pengkondisian thermal terhadap rumah Rakit Palembang yang terletak pada badan sungai Untuk meningkatkan perkembangan Arsitektur daerah dimasa mendatang, peneliti berharap bisa dilanjutkan dengan sampel yang lebih lengkap, waken pelaksanaan yang lebih terinci dan alat ukur yang lebih memadai.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12022
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:27 May 2010 12:25
Last Modified:27 May 2010 12:25

Repository Staff Only: item control page