HUBUNGAN PAJANAN BENZENE DENGAN KADAR FENOL DALAM URINE DAN GANGGUAN SISTEM HEMATOPOIETIC PADA PEKERJA INSTALASI BBM

Sigit , Pudyoko (2010) HUBUNGAN PAJANAN BENZENE DENGAN KADAR FENOL DALAM URINE DAN GANGGUAN SISTEM HEMATOPOIETIC PADA PEKERJA INSTALASI BBM. Masters thesis, Master in Environmental Health.

[img]
Preview
PDF - Published Version
18Kb

Abstract

Salah satu bahan kimia yang berbahaya yang terkandung dalam produk migas, baik produk mentah maupun produk jadi adalah kandungan benzene. Keberadaan benzene dalam produk migas dapat secara alami terdapat dalam produk tersebut sejak dari proses ekplorasi, maupun benzene yang timbul karena adanya proses pengolahan dan produksi. Berdasarkan SNI no 19-0232-2005 tentang nilai ambang batas zat kimia di tempat kerja nilai maksimum yang diijinkan adalah 10 ppm. Benzene merupakan bahan kimia yang diklasifikasikan A2 yaitu zat kimia yang diperkirakan karsinogen untuk manusia (suspected human carcinogen). Depo Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu fasilitas untuk menyalurkan BBM ke masyarakat. Dengan kegiatan utama penerimaan, penimbunan dan penyaluran BBM, pekerja Depo Distribusi BBM mempunyai tingkat risiko tinggi terhadap paparan benzene dari produk BBM yang dikelola. Dengan adanya risiko tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan pajanan benzene dengan kadar fenol dalam urine dan gangguan sistem hematopoietic pada pekerja Depo Distribusi BBM. Penelitian dilakukan pada salah satu Depo Distribusi BBM yang ada di Semarang dengan melakukan pengukuran kadar benzene di udara, kadar fenol dalam urine pekerja, dan profil darah pekerja. Kemudian dilakukan analisa untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara faktor-faktor tersebut. Dari hasil penelitian terhadap 46 (empat puluh enam) pekerja di Instalasi BBM Semarang didapatkan hasil bahwa adanya indikasi gangguan sistem hematopoitec. Sebanyak 29 orang pekerja (63,03 %) mempunyai jumlah netrofil yang tidak normal, 21 orang pekerja (45,65 %) jumlah limfositnya tidak normal, 34 orang pekerja (73,91 %) jumlah monositnya tidak normal, 16 orang pekerja (34,78 %) laju endap darah 1 jamnya tidak normal dan 24 orang pekerja (52,17 %) laju endap darah 2 jamnya tidak normal. Dari hubungan variabel bebas dengan variabel terikat didapatkan terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi benzene di udara dengan profil darah yaitu eosinofil dengan tingkat signifikansi p value 0,014 ; Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) dengan tingkat signifikansi p value 0,034 ; laju Endap Darah (LED) 1 jam dengan tingkat signifikansi p value 0,042 dan Laju Endap Darah (LED) 2 jam dengan tingkat signifikansi p value 0,024. Selain itu masa kerja juga mempunyai hubungan dengan profil darah yaitu MCHC dengan tingkat signifikansi p value 0,05 ; LED 1 jam dengan tingkat signifikansi p value 0,010 dan LED 2 jam dengan tingkat signifikansi p value 0,007. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) dari hasil analisis multivariat didaparkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi LED 2 jam adalah faktor masa kerja dengan nilai signifikansi p value 0,034 dengan tingkat keyakinan 95% CI = 6.245 (1.145 – 34.054).

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Environmental Health
ID Code:8988
Deposited By:prodi magister kesehatan lingkungan
Deposited On:22 Apr 2010 09:08
Last Modified:22 Apr 2010 09:08

Repository Staff Only: item control page