TINGKAT KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) PADA SARANG SEMI ALAMI YANG BERBEDA DI TURTLE CONSERVATION AND EDUCATION CENTER (TCEC), BALI

RETNO , DAMAYANTI (2019) TINGKAT KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) PADA SARANG SEMI ALAMI YANG BERBEDA DI TURTLE CONSERVATION AND EDUCATION CENTER (TCEC), BALI. Undergraduate thesis, Faculty of Fisheries and Marine Sciences.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1034Kb

Abstract

Penyu lekang merupakan satu dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia. Penyu lekang memiliki persebaran yang terpusat di perairan tropis. Habitat peneluran penyu di Indonesia semakin lama mengalami ancaman yang serius baik oleh manusia maupun alam. Adanya ancaman yang tinggi menyebabkan perlunya upaya penyelamatan populasi penyu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan relokasi sarang, yaitu pemindahan telur yang dilakukan dari sarang alami ke sarang semi alami, seperti yang sudah dilakukan di Turtle Conservation and Education Center (TCEC) di Bali. Namun tingginya jumlah telur yang harus diinkubasi pada puncak masa peneluran tidak sebanding dengan volume bak penetasan. Maka pengelola melakukan inisiatif dengan menggunakan media alternative berupa kotak styrofoam dan ember plastik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penetasan, masa inkubasi, dan tingkat survival pada bak beton, kotak styrofoam, dan ember plastik. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap menggunakan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data yang diambil adalah data suhu sarang selama penetasan, angka penetasan tukik, masa inkubasi, tingkat survival, dan morfometri tukik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penetasan tertinggi sebesar 64,29 % dihasilkan oleh bak beton. Kotak styrofoam dan ember plastik masing-masing menunjukkan nilai yang sama yaitu 38,10 %. Masa inkubasi tersingkat dihasilkan sarang bak beton sebesar 58 hari, diikuti oleh sarang ember plastik 60,33 hari dan pada kotak styrofoam menghasilkan masa inkubasi terlama yaitu 61 hari. Perbedaan nilai keberhasilan penetasan dan masa inkubasi dipengaruhi oleh salah satu faktor penetasan, yaitu suhu sarang selama inkubasi. Tingkat survival tukik, dilihat dari tingkat keberhasilan kemunculan didapatkan bahwa bak beton memiliki tingkat kemunculan yang tertinggi sebesar 25 %, kotak styrofoam memiliki tingkat kemunculan yang lebih rendah dari bak beton, yaitu 13,10 %, dan ember plastik memiliki nilai terendah untuk tingkat keberhasilan kemunculan, yaitu 11,90 %. Kata Kunci : Penyu, Penyu Lekang, Konservasi, Sarang Semi Alami

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:Q Science > Q Science (General)
Divisions:Faculty of Fisheries and Marine Sciences > Department of Marine Science
ID Code:77232
Deposited By:Pancasila Wati FPIK
Deposited On:21 Oct 2019 08:11
Last Modified:21 Oct 2019 08:11

Repository Staff Only: item control page