MEMAHAMI POLITIK TATAPAN DALAM FILM WONDER WOMAN

Larissa , Asoka Tunggadhewi (2018) MEMAHAMI POLITIK TATAPAN DALAM FILM WONDER WOMAN. Undergraduate thesis, Faculty of Social and Political Science.

[img]
Preview
PDF - Published Version
190Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
135Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
85Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
494Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
175Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
53Kb

Abstract

Genre Superhero telah menjadi blockbuster Hollywood selama sepuluh tahun namun belum ada yang menceritakan kisah Superhero perempuan. Perilisan film Wonder Woman yang disutradarai oleh Patty Jenkins mendapat pujian kritikus dan penonton. Kesuksesan komersil dan pujian tersebut tidak membuatnya bebas dari tuduhan bahwa film ini menjadikan Wonder Woman sebagai obyek. Penelitian didasarkan pada gagasan bahwa gender sutradara dapat memberikan perbedaan dalam penggambaran perempuan sebagai subyek dan bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbedaan yang ditampilkan dengan adanya politik tatapan sutradara perempuan. Penelitian ini mengacu pada paradigma kritis dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis Sara Mills, dan menggunakan Male Gaze Theory dan Auteur Theory sebagai teori utama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa yang pribadi seperti politik tatapan memang bisa menjadi politik. Wonder Woman tidak digambarkan sebagai obyek melainkan sebagai citra dan juga sebagai subyek melalui pandangan khalayak dan pandangan karakter dalam narasi. Karakter memiliki sifat maternal, sensitif, dan naif yang merupakan atribut yang dicirikan secara tradisional dengan perempuan dan belum pernah ditunjukkan dalam karakter utama film Superhero sebelumnya. Penggambaran Wonder Woman dalam pandangan kamera mengomunikasikan proses identifikasi figural dengan sosok naratif, subyek mitos, dan gambar narasi. Fragmentasi pada bagian tubuh perempuan seperti dada, pinggul, dan fragmentasi yang menggambarkan perempuan dari kaki hingga kepala tidak terjadi pada film ini. Patty Jenkins membuktikan bahwa dia dapat menawarkan perbedaan dalam representasi dan penggambaran perempuan dengan tidak menjadikan karakter sebagai obyek. Female authorship dalam film Wonder Woman tidak hanya berguna sebagai strategi politik, tetapi juga penting untuk menciptakan sinema yang dibuat oleh sutradara perempuan dan khalayak feminis di industri Hollywood. Patty Jenkins mampu menambahkan pesan mengenai subyektifitas perempuan di genre film yang identik dengan laki-laki, meskipun ia masih belum dapat lepas dari pengaruh Male gaze pada pandangan kamera. Pembentukan karakter mengomunikasikan pengertian feminin atas rasa kedamaian dan keadilan yang dikombinasikan dengan karisma Superhero klasik. Fragmentasi tubuh perempuan yang kuat dan berotot menjadi bentuk protes melawan tubuh lunak, pasif, dan terkomodifikasi dalam femininitas konvensional, meskipun masih mengandung scopophilia dalam melihat wajah Wonder Woman yang menunjukkan kecantikan, kepolosan, dan kenaifan. Fokalisasi Diana memberikan penggambaran subyektifitas perempuan sebagai subyek yang feminin dan heroik. Analisis skemata berdasarkan wacana yang ada pada struktur sinema menunjukkan politik tatapan sutradara yang memberikan pesan bahwa femininitas merupakan atribut yang harus disamakan dengan kekuatan dan bukan kelemahan.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:75910
Deposited By:Perpustakaan Fisip Undip
Deposited On:28 Aug 2019 13:34
Last Modified:28 Aug 2019 13:34

Repository Staff Only: item control page