PERBANDINGAN PERUBAHAN GEJALA HEMODINAMIK ANTARA PREKURARISASI ATRAKURIUM 0,05 mg / kg BB DENGAN MgSO4 40% 40 mg KARENA PENGGUNAAN SUKSINILKOLIN SEBAGAI FASILITAS INTUBASI

Bramantyo, Liborius Vendwi (2009) PERBANDINGAN PERUBAHAN GEJALA HEMODINAMIK ANTARA PREKURARISASI ATRAKURIUM 0,05 mg / kg BB DENGAN MgSO4 40% 40 mg KARENA PENGGUNAAN SUKSINILKOLIN SEBAGAI FASILITAS INTUBASI. Undergraduate thesis, Medical faculty.

[img]
Preview
PDF
528Kb

Official URL: http://www.fk.undip.ac.id

Abstract

Latar Belakang : Suksinilkolin merupakan pelumpuh otot golongan depolarisasi, karena mula kerjanya cepat dan lama kerja yang singkat, sehingga obat ini banyak digunakan untuk induksi cepat. Sayangnya, seiring dengan keunggulan yang dimiliki, suksinilkolin memiliki efek samping yang cukup banyak. Seyogyanya, obat dengan keunggulan demikian memiliki efek samping yang minimal. Atrakurium, seperti pelumpuh otot non depolarisasi lain, telah teruji sebagai baku emas “pretreatment” terhadap efek samping ini. Magnesium sulfat (MgSO4) yang populer sebagai obat premedikasi belum banyak diteliti sebagai “pretreatment”. Tujuan : Mencari bukti obyektif efektivitas pemberian atrakurium dan magnesium sulfat pre induksi suksinilkolin yang dilihat dari perubahan gejala hemodinamik paska operasi. Cara Kerja : Penderita yang memenuhi kriteria inklusi dipuasakan 6 jam. Penderita mendapat preoksigenasi 3 l/menit selama 5 menit, kemudian tekanan darah, tekanan arteri rerata, dan laju jantung diukur serta dicatat. Penderita mendapat pra-pengobatan sesuai kelompok yang telah ditentukan secara random sebelumnya, yaitu MgSO4 40% 40mg (kelompok I) dan atrakurium 0,05 mg/kgBB (kelompok II), disuntikkan secara intravena selama 10 detik. 3 menit kemudian semua kelompok diinduksi dengan propofol 1% secara titrasi intravena (2 - 2,25 mg/kgBB) dengan kecepatan 0,5 cc/detik. Bila reflek bulu mata hilang diberikan suksinilkolin 1,5 mg/kgBB intravena dalam 10 detik. Setelah kelumpuhan maksimal tercapai kemudian dilakukan intubasi endotrakea dilanjutkan pencatatan tekanan darah, tekanan arteri rerata, dan laju nadi paska intubasi. Untuk analgetik selama anestesi diberikan tramadol 2 mg/kgBB intravena dan rumatan anestesi menggunakan isofluran, O2 : N2O ( 50% : 50% ) dan atrakurium hingga selesai. Hasil : Hasil pencatatan menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah sistolik, diastolik, laju jantung, dan tekanan arteri rerata terjadi pada kedua kelompok. Dimana perubahan yang terjadi pada MgSO4 lebih besar dibandingkan atrakurium. Dan secara statistik, perubahan yang terjadi adalah bermakna (p<0,05). Kesimpulan : Dari penelitian ditemukan bahwa penurunan tekanan darah sistolik, diastolik, laju jantung, dan tekanan arteri rerata pada pengguna MgSO4 lebih besar dibanding dengan atrakurium. Dan hampir semua perubahan baik pada MgSO4 maupun atrakurium (p < 0,05) menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan bermakna secara statistik, hanya pada tekanan darah diastolik penggunaan atrakurium terjadi perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05).

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords:Efek Hemodinamik, Suksinilkolin, Atrakurium, Magnesium Sulfat
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Faculty of Medicine > Department of Medicine
Faculty of Medicine > Department of Medicine
ID Code:7513
Deposited By:Mr. Kedokteran Admin
Deposited On:23 Mar 2010 12:23
Last Modified:23 Mar 2010 12:23

Repository Staff Only: item control page