Pengendalian Kualitas Metode Six Sigma Terintegrasi dengan ISO 9001:2000 (Studi Kasus pada Produk Tali Emas Spesial di PT. Sriboga Raturaya Semarang)

Bachtiar, Arfan and Tri Putranto, Iwan (2009) Pengendalian Kualitas Metode Six Sigma Terintegrasi dengan ISO 9001:2000 (Studi Kasus pada Produk Tali Emas Spesial di PT. Sriboga Raturaya Semarang). Diponegoro University. (Unpublished)

[img]Microsoft Word
24Kb

Abstract

Tuntutan konsumen akan food–safety serta perubahan paradigma dari trust people pada trust system membuat PT. SRR sebagai perusahaan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan sesuai dengan misinya, membuat segenap jajaran manajemen berpikir untuk membuat suatu sistem pengendali keamanan pangan. Untuk itu integrasi penerapan Six Sigma dengan HACCP dan ISO 9001 dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut. Penelitian ini menekankan pada bagaimana proses integrasi dilakukan untuk menyelaraskan dengan perbedaan karakteristik ketiganya (Six Sigma, HACCP dan ISO 9001). Kesulitan dalam menyamakan perbedaan karakteristik menjadi hal yang menarik dalam proses integrasi sehingga diperlukan penyamaan persepsi terlebih dahulu. Berdasarkan identifikasi karakteristik kualitas setelah dilakukan pengolahan data, kegagalan fungsional produk yang paling kritis terhadap pelanggan adalah Water Absorbtion (WA) sebesar 52,69 %, sedangkan faktor yang mempengaruhi WA ini adalah moisture content = MC dan granulasi produk. Kemampuan tingkat proses moisture content yang dimiliki perusahaan saat ini adalah : subproses A = 4.01 Sigma (DPMO = 6033), subproses B = 2.00 Sigma (DPMO = 309864), subproses C = 2.67 Sigma (DPMO = 121780), subproses D = 3.64 Sigma (DPMO = 16139) dan tingkat proses total MC adalah pada level 1.73 Sigma (DPMO = 407288), sedangkan kemampuan tingkat proses granulasi yang dimiliki perusahaan saat ini adalah pada level 4.66 Sigma (DPMO = 766). Beberapa hal yang berkaitan dengan cacat karena MC disebabkan penambahan air pada proses 1st dampening dan 2nd dampening tidak sesuai target yang ditetapkan, dan tindakan perbaikan yang bisa dilakukan diantaranya melakukan perawatan mesin pembersih/screen, pompa air, filter, dan bak penampungan air serta pemberian tanda/kode pada setting mesin. Beberapa hal yang berkaitan dengan cacat granulasi disebabkan karena sifter/ayakan yang bocor serta grinding roll yang tidak sesuai dan beberapa tindakan perbaikan yang bias dilakukan dapat dilihat pada tahap improve. Setelah dilakukan analisa dan identifikasi Critical Control Points (CCP) didapatkan 3 tingkat proses yang merupakan CCP, yaitu proses ke-28 (Dry Stoner), proses ke-73 (Re-dresser) dan proses ke-74 (Magnetic Trap), sedangkan untuk tindakan korektif dan/atau preventif-nya dibuatkan form laporan harian untuk pengontrolan/pemantauan CCP.

Item Type:Other
Uncontrolled Keywords:Keywords : Kualitas, Six Sigma, HACCP, ISO 9001:2000
Subjects:T Technology > T Technology (General)
T Technology > TS Manufactures
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
ID Code:7381
Deposited By:Admin teknik industri
Deposited On:12 Mar 2010 14:25
Last Modified:12 Mar 2010 14:25

Repository Staff Only: item control page