PERKEMBANGAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS UNTUK MEMPEROLEH HAK ATAS TANAH DI DENPASAR-BALI

WAHYU SATRIA , WANA PUTRA WIJAYA and Sri Wahyu , Ananingsih (2018) PERKEMBANGAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS UNTUK MEMPEROLEH HAK ATAS TANAH DI DENPASAR-BALI. Masters thesis, Fakultas Hukum UNDIP.

[img]Archive (ZIP) - Published Version
Restricted to Registered users only

2680Kb

Abstract

Istilah “waris” berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal. Indonesia belum mempunyai hukum waris yang berlaku secara nasional, sehingga tergantung pada masyarakat setempat tunduk pada hukum waris barat, hukum waris islam atau hukum waris adat. Adapun pada masyarakat hukum adat di Denpasar-Bali yang merupakan masyarakat adat yang tunduk pada hukum adat Bali, dimana dalam hal mengenai pewarisan, yang mendapat bagian waris adalah anak laki-laki atau purusa dibandingkan anak perempuan atau pradana. Namun seiring berkembangnya zaman, telah terjadi perkembangan mengenai kedudukan perempuan untuk mewaris, namun belum sebesar bagian dari laki-laki dan perlu memenuhi syarat- syarat tertentu. Oleh karena itu penelitian ini mengambil judul Perkembangan Kedudukan Perempuan Sebagai Ahli Waris Untuk Memperoleh Hak Atas Tanah Di Denpasar-Bali. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris (socio legal research). Pendekatan yuridis dimaksudkan untuk mengkaji ketentuan mengenai sistem waris adat yang dianut pada hukum waris adat di Denpasar-Bali. Sedangkan pendekatan empiris digunakan untuk mengkaji mengenai perkembangan yang terjadi terhadap sistem pewarisan di masyarakat hukum adat di Denpasar-Bali. Kedudukan perempuan untuk memperoleh hak atas tanah berdasarkan pada hukum adat Bali, belum mendapat bagian. Hal tersebut dikarenakan hukum adat Bali masih berlaku secara positif di masyarakat hukum adat Bali khususnya Denpasar, dimana hanya anak laki-laki saja yang mendapat warisan. Berbeda jika membahas mengenai perkembangan mengenai pewarisan yang terjadi saat ini, dimana perempuan atau pradana telah diberi kesempatan untuk menjadi ahli waris, sepanjang tetap menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya, berstatus sentana rajeg atau menjadi purusa dan belum atau tidak kawin keluar. Harta bagian yang dapat diperoleh oleh perempuan tersebut adalah harta yang berasal dari harta Guna Kaya orang tuanya.

Item Type:Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords:hukum adat, hukum waris adat, kedudukan perempuan dan purusa, pradana.
Subjects:K Law > K Law (General)
L Education > L Education (General)
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Notary
ID Code:70942
Deposited By:Magister Kenotariatan
Deposited On:24 Mar 2019 08:57
Last Modified:24 Mar 2019 08:57

Repository Staff Only: item control page