ANALISIS KONTRASTIF BENTUK DASAR ADJEKTIVA, NOMINA, DAN VERBA BAHASA JAWA (NGOKO) DENGAN BAHASA INDONESIA

Sukamto, Joko ANALISIS KONTRASTIF BENTUK DASAR ADJEKTIVA, NOMINA, DAN VERBA BAHASA JAWA (NGOKO) DENGAN BAHASA INDONESIA. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.

[img]PDF (skripsi)
1509Kb

Abstract

Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal dapat dibedakan lagi berdasarkan kategori predikatnya menjadi (1) kalimat berpredikat verbal, (2) kalimat berpredikat adjektival, (3) kalimat berpredikat nominal (termasuk pronominal), (4) kalimat berpredikat numeral, dan (5) kalimat berpredikat frasa preposisional (Alwi, 2003: 336) Dalam skripsi ini akan dibahas kalimat berpredikat verbal yang diperluas dengan “cara yang menerangkan predikat itu terjadi”. Dari perluasan itu, diperolehlah suatu bentuk yang disebut keterangan cara. Perlu untuk diketahui, unsur kalimat dapat dibedakan atas unsur wajib dan unsur tak wajib (manasuka). Unsur wajib itu terdiri dari konstituen kalimat yang harus ada, sedangkan unsur tak wajib terdiri dari konstituen kalimat yang tidak harus ada. Pada kenyataannya, suatu kalimat seringkali tidak hanya terdiri dari unsur wajib saja, tetapi juga unsur tak wajib. Alwi berpendapat bahwa dari segi struktur, kehadiran unsur tak wajib memperluas kalimat dan dari segi makna unsur tak wajib itu membuat informasi yang terkandung dalam kalimat menjadi lebih lengkap (2003: 365-366). Hal ini mengantarkan penulis untuk memperluas unsur wajib predikat dengan suatu unsur tak wajib keterangan (keterangan cara). Selain dalam kalimat tunggal, Alwi (2003: 409) menemukan hubungan cara dalam kalimat majemuk bertingkat dengan pernyataannya “Hubungan cara terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama”. Hubungan semantis “cara” bertalian dengan peran semantis klausa adverbial subordinatif. Suatu perbuatan memiliki cara-cara tertentu dalam pelaksanaannya. Pengungkapan cara perbuatan itu dilaksanakan pun memiliki bentuk (konstruksi) yang bermacam-macam. Cara perbuatan terjadi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yakni secara implisit dan eksplisit. Fokker memandang hubungan (pertalian) secara implisit yaitu apabila dalam pengungkapannya, suatu konstruksi tidak mempergunakan struktur yang bersifat lahiriah (kata tugas), sedangkan pengungkapan pertalian secara eksplisit ialah sebaliknya, yaitu mempergunakan kata tugas sebagai penanda hubungan (1983: 100). Dari cara implisit dan eksplisit yang digunakan dalam mengungkapkan makna “cara”, akan diperoleh adverbia cara yang berada dalam tataran fungsi keterangan. Dalam tataran fungsi tersebut, keterangan cara dapat berbentuk kata, frasa, atau klausa. Dari bentuk-bentuk tersebut, diperolehlah kata keterangan, frasa depan, frasa keterangan, dan klausa keterangan yang mengandung makna “cara”. Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, Alwi (2003:288) membagi kata tugas menjadi lima kelompok yakni preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas. Sehubungan dengan itu, yang dipergunakan untuk membantu mengungkapkan makna “cara” hanyalah preposisi dan konjungsi. Preposisi dan konjungsi pada umumnya tidak mengalami perubahan bentuk dan secara sintaktis tidak menduduki fungsi inti kalimat. Kedua jenis kata tugas tersebut juga tidak dapat menjadi kalimat. Preposisi dapat menduduki fungsi keterangan kalimat apabila digunakan sebagai komponen frasa preposisional (Tadjuddin, 2001: 2). Frasa preposisional (depan) terdiri dari preposisi sebagai penanda yang diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya (Ramlan, 2001:163). Penanda makna “cara” dalam sebuah tuturan ternyata bervariasi dan tidak hanya mengandalkan preposisi dengan atau secara. Kata tugas penanda makna “cara” yang lain yakni preposisi tanpa dan konjungsi dengan, melalui, tanpa, sambil, sembari, dan seraya. Dalam menjalankan perannya untuk menandai hubungan makna antarkonstituennya, kata tugas tersebut dapat dipakai secara bergantian. Sebagai contoh, kata dengan dan secara dalam bahasa Indonesia memiliki kemiripan makna akibat berdistribusi dalam konstruksi gramatika. Kedua kata tersebut dapat saling menggantikan tanpa mengganggu kegramatikalan kalimat. Contoh: (1) Secara diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah. (MK-24) (2) Dengan diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah. (3) Diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah. Preposisi dengan dan secara menimbulkan hubungan makna. Dalam contoh (1) dan (2) di atas, keduanya menjelaskan “cara mengambil”. Namun, dalam contoh (3) menunjukkan bahwa untuk menerangkan cara predikat berlangsung, sebuah konstruksi tidak harus menggunakan kata tugas. Kata tugas yang digunakan untuk membantu menghadirkan makna “cara” bukan semata-mata penanda makna “cara”, melainkan juga digunakan dalam menghadirkan makna lain. Oleh karena itu, perlu diadakan klasifikasi yang jelas mengenai keterangan cara agar pemakai bahasa Indonesia dapat membedakannya dari keterangan lain, misalnya: (i) Saya bekerja dengan kemauan besar. (ii) Saya bekerja dengan orang besar. (iii) Saya bekerja dengan kapak besar. Wujud lahir (luar) ketiga keterangan dalam contoh (i-iii) di atas sama. Akan tetapi, apabila diperhatikan benar-benar jenis nomina yang berada di belakang preposisi, akan tampak bahwa contoh (i) kemauan adalah wujud sifat sehingga dengan kemauan besar merupakan keterangan cara, contoh (ii) orang adalah wujud bernyawa sehingga dengan orang besar merupakan keterangan penyerta (komitatif), dan (iii) kapak merupakan wujud tak bernyawa sehingga dengan kapak besar merupakan keterangan alat (instrumental) (Alwi, 2003: 373). Sehubungan dengan keterangan cara, Samsuri (1994: 254) menyebutkan bahwa tiap keadaan, peristiwa, atau perbuatan dapat diterangkan cara, tempat, dan waktunya. Kata atau kelompok kata yang dipakai untuk keperluan ini disebut keterangan predikat atau adverba. Lebih lanjut, Alwi dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003:205), mengemukakan “Adverbia kecaraan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi.” Pemarkah tanya bagaimana dipakai untuk menanyakan ‘keadaan’ atau ‘cara’. Namun, pertanyaan yang memakai bagaimana caranya dapat dipastikan akan mengundang hadirnya adverbia cara. Muslich berpandangan bahwa makna adverbia dapat ditinjau dalam kaitannya dengan unsur lain dari suatu struktur (kaitan relasional). Makna relasional tersebut bisa diamati pada satuan frasa dan klausa. Pada satuan frasa, adverbia secara semantis bergantung pada satuan leksikal lain. Kebergantungan ini merupakan hubungan antara pewatas dan inti, misalnya dalam frasa sangat baik, baik merupakan inti dan sangat merupakan pewatas. Pada satuan klausa atau kalimat, jangkauan makna adverbia meliputi seluruh klausa atau kalimat. Dengan demikian, adverbia tersebut bisa berpindah posisi dalam kalimat. Misalnya dalam kalimat seenaknya dia pergi, adverbia seenaknya bisa berpindah posisi di depan subjek, di antara subjek dan predikat, maupun di belakang predikat (1990: 99-100). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu satuan sintaksis dapat dikenali, apakah keterangan cara atau bukan, ialah dari hubungan makna dengan satuan sintaksis yang lain, sisi acuan kata, dan segi bentuk. Dari sisi acuan kata, adverbia cara mengacu pada cara perbuatan itu terjadi, sedangkan dari segi bentuk suatu unsur (konstituen) memiliki bentuk yang tertentu sehingga bisa dikenali bahwa adverbia tersebut benar-benar merupakan adverbia cara. Biasanya, suatu adverbia (keterangan) cara juga bisa berpindah letak karena ia memiliki sifat yang bebas. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata, struktur frasa, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan (Ramlan melalui Lestari, 2005: 2). Pembicaraan tentang penggolongan kata tersebut akan sangat bermanfaat dalam mengklasifikasikan bentuk keterangan cara yang terdapat dalam kalimat bahasa Indonesia. Penentuan kategori atau kelas kata selain berdasarkan makna yang dikandung oleh kata, juga harus berdasarkan bentuk gramatika, sifat kata, dan perilakunya dalam konstruksi sintaksis (Ramlan melalui Lestari, 2005: 2). Penggolongan kata dapat dilakukan dengan cara memasukkan kata ke dalam konstruksi gramatika, sehingga bersifat sintaksis. Konsep perilaku sintaksis tersebut sangat penting dalam pemerian kategori kata. Dalam bab pembahasan dikupas mengenai jenis (kategori) kata yang mengisi unsur-unsur keterangan cara.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Divisions:Faculty of Humanities > Department of Indonesian
ID Code:5745
Deposited By:Mr. Sastra Indonesia
Deposited On:28 Jan 2010 13:53
Last Modified:28 Jan 2010 13:53

Repository Staff Only: item control page