ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA DALAM RUBRIK KONSULTASI SEKS DI PILAR PKBI JAWA TENGAH

Yulianti, Retno ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA DALAM RUBRIK KONSULTASI SEKS DI PILAR PKBI JAWA TENGAH. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.

[img]PDF (skripsi)
137Kb

Abstract

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan atau maksud pembicara kepada pendengar (Nababan, 1986:66). Pemakaian bahasa sebagai alat komunikasi dipengaruhi oleh faktor sosial dan faktor situasional. Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah status sosial, jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan sebagainya. Faktor situasional meliputi siapa yang berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, mengenai hal apa, dalam situasi yang bagaimana, apa jalur yang digunakan, ragam bahasa mana yang digunakan, serta tujuan pembicara (Nababan, 1986:7). Pada dasarnya bahasa dibagi menjadi dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Pada bahasa lisan, pembicara dan lawan bicara berhadapan secara langsung sehingga mimik gerak dan intonasi pembicara dapat menjelaskan maksud yang akan disampaikan. Untuk bahasa tulis, penulis dan pembicara tidak berhadapan langsung, tetapi tulisan dapat dipahami oleh pembicara karena menggunakan tanda baca atau dengan membacanya secara berulang kali. Dalam tulisan ini penulis mengambil judul Analisis Kesantunan Berbahasa dalam Rubrik Konsultasi Seks di PILAR PKBI Jawa Tengah, dikarenakan penulis ingin mengetahui penggunaan bahasa yang digunakan oleh penanya dalam mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan konsultasi seks di PILAR PKBI Jawa Tengah. Penggunaan bahasa dalam hal ini harus dijaga etika komunikasinya agar tidak terkesan vulgar. Adanya norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, maka mereka mempunyai anggapan yang tabu dan rasa malu yang memungkinkan mereka memilih alternatif untuk mempergunakan “kata khusus” dalam mengungkapkan masalah seks. Alternatif penggunaan kata itu dapat berupa kata lugas dan kata metaforis. Selain itu pola pikir kultural masyarakat Indonesia sebagai orang timur yang berpola spiral dan tidak langsung. Keadaan ini akan mempengaruhi cara penyampaian pesan atau maksud melalui bahasa tulis, terutama dalam mengungkap masalah seks. Pola pikir kultural orang Indonesia yang tidak langsung ini bisa juga dipakai sebagai salah satu penjelas berkembangnya penggunaan bahasa eufemisme. Ketidaklangsungan penyampaian pesan atau maksud baik dalam bentuk pilihan kata maupun bentuk tuturannya, tentulah berhubungan dengan kesantunan berbahasa. Berdasarkan pemikiran penulis, sangat menarik tentunya untuk dilakukan sebuah penelitian terhadap penggunaan bahasa dalam Rubrik Konsultasi Seks di PILAR PKBI Jawa Tengah. Rubrik ini selain membantu para remaja memberikan solusi seputar permasalahan seks yang mereka alami, tentu saja dapat dijadikan alternatif bagi mereka untuk mendapatkan informasi dan pendidikan tentang seks. Penggunaan bahasa dalam rubrik ini lebih ditekankan kepada bahasa penanya karena penulis ingin mengetahui kesantunan berbahasa dikalangan remaja di Semarang. PILAR PKBI Jawa Tengah merupakan salah satu wadah milik remaja untuk mendapatkan informasi tentang pendidikan seks. Jadi sangatlah layak bagi penulis untuk mengetahui penggunaan bahasa di kalangan remaja khususnya di kota Semarang. PILAR (Pusat Informasi dan Layanan Remaja) didirikan pada tanggal 18 Maret 1998 oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jawa Tengah. PILAR adalah satu dari delapan belas proyek serupa yang ada di Indonesia, dengan sasaran remaja yang berusia 18-24 tahun. PILAR mempunyai misi meningkatkan pengetahuan remaja, pemahaman dan perhatian yang berarti atas kesehatan reproduksi, tanggung jawab seks dan tingkah laku sosialnya. Keputusan untuk memilih remaja, karena berdasarkan fakta jumlah populasi remaja sekitar 36% dari seluruh populasi penduduk Indonesia dan keberadaan mereka sering tidak mendapat perhatian yang semestinya. Fakta bahwa remaja tidak memiliki kesempatan yang bebas untuk mengambil tindakan dan informasi yang mereka butuhkan adalah dengan memperhatikan aspek-aspek psikologi dan kesehatan reproduksi. Berdasarkan alasan di atas, PILAR berpikir perlu untuk memberi perhatian lebih baik kepada mereka melalui proyek-proyek remaja secara aktif. Proyek-proyek PILAR meliputi unit-unit aktifitas yang masing-masing dipilih oleh relawan yang terpilih pada bidangnya. Unit-unit PILAR yaitu: ARH Konseling (Adolescent Reproduction Health) melayani konseling psikologi dan medis untuk remaja melalui telpon, surat, sms atau tatap muka tiap hari; Unit Medis melayani konsultasi dan pelayanan medis, terutama yang berhubungan dengan masalah kesehatan reproduksi remaja; Unit IEC (Information Education and Comunication) tugas utamanya adalah menyebarluaskan informasi keberadaan PILAR dan informasi tentang kesehatan reproduksi melalui training, ceramah, diskusi kelompok dan diskusi panel. Penyebaran informasi dilakukan melalui radio, penerbitan news letter dan produksi merchandise PILAR; Radio Program untuk menyebar luaskan informasi mengenai reproduksi sehat dan konseling remaja. PILAR bekerja sama dengan beberapa stasiun radio dalam acara BIBIR (Bincang-Bincang Remaja) di Imelda FM 104,4 FM setiap Kamis Pukul 21.00-22.00 WIB, Remaja Kondang di Radio Suara Semarang setiap Minggu Pukul 12.00-13.00 WIB, Cinta Oh Cinta di Gaya FM setiap Selasa Pukul 21.00-22.00 WIB dan di Radio Prambors FM setiap hari Selasa Pukul 19.00-20.00 WIB

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Divisions:Faculty of Humanities > Department of Indonesian
ID Code:5362
Deposited By:Mr. Sastra Indonesia
Deposited On:24 Jan 2010 14:36
Last Modified:24 Jan 2010 14:36

Repository Staff Only: item control page