KAJIAN TATAGUNA LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BABON KOTA SEMARANG DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETERSEDIAAN AIR

HASTUTI, YUNI (2002) KAJIAN TATAGUNA LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BABON KOTA SEMARANG DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETERSEDIAAN AIR. Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF - Published Version
20Kb

Official URL: http://mpwk.undip.ac.id

Abstract

Peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk sebagai dampak dari peningkatan urbanisasi di DAS Babon diduga membawa pengaruh terhadap perubahan tataguna lahan, yang pada gilirannya mempengaruhi sistem hidrologi yang ada, terutama terkait dengan ketersediaan air DAS Babon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan tataguna lahan dan implikasinya terhadap ketersediaan air DAS Babon melalui identifikasi indikator ketersediaan air, seperti (1) Debit air; (2) Koefisien Aliran permukaan ( C ); (3). Koefisien Regim Sungai (KRS); (4) Nisbah debit air maksimum-minimum; (5) Tinggi muka airtanah dan (6) Sedimen terlarut. Metode analisis yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif eksploratif yang berperan dalam mendiskripsikan parameter biofisik DAS, yang meliputi: kondisi topografi, iklim, morfologi, tataguna lahan dan ketersediaan air pada masa lampau dan pada masa sekarang serta permasalahan yang terjadi di DAS Babon. Sedangkan metode kuantitatif dengan analisis korelasi dipergunakan untuk menganalisis seberapa besar korelasi perubahan tataguna lahan DAS dengan ketersediaan air. Hasil analisis deskriptif eksploratif menunjukkan DAS Babon mempunyai fungsi dominan sebagai pelayanan domestik yang diindikasikan dengan adanya penambahan luasan lahan terbangun (build up area). Dari hasil penelitian ini dinyatakan bahwa selama kurun waktu 15 tahun (1986 – 2001) telah terjadi penambahan penambahan luasan lahan pemukiman sebesar 730 Ha (34%) dan sebaliknya terjadi penyusutan lahan lahan pertanian sebesar 28%, dan 5% untuk lahan tambak. Perubahan tataguna lahan tersebut memberikan implikasi terhadap perubahan (1). Koefisien aliran permukaan (C;) (2) Koefisien regim sungai (KRS; (3) Nisbah debit air maksimum-minimum; (4) Nisbah debit air musim penghujan-kemarau dan (5). Konsentrasi sedimen terlarut. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara perubahan tataguna lahan dengan komponen-komponen ketersediaan air, seperti : debit air rata-rata bulanan, debit air musim penghujan, koefisien aliran permukaan dan konsentrasi sedimen terlarut, akan tetapi sebaliknya antara perubahan tataguna lahan dengan debit air rata-rata musim kemarau tidak terdapat korelasi secara signifikan.. Dengan mengkaji fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan tataguna lahan DAS Babon Kota Semarang telah memberikan pengaruh negatif terhadap ketersediaan air, sehingga perlu adanya penetapan kebijakan perencanaan tata ruang wilayah yang berkelanjutan dalam konteks pengelolaan DAS Babon dan pembatasan terhadap alih fungsi lahan pertanian memjadi lahan terbangun untuk kawasan permukiman.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:4839
Deposited By:Mr mpwk undip
Deposited On:21 Jan 2010 09:02
Last Modified:11 Feb 2010 11:32

Repository Staff Only: item control page