Gedung Konvensi dan Pameran di Surakarta Dengan Penekanan Desain Post Modern

Respati Santoso, Dewantoro and Setioko, Bambang and Woro Murtini, Titien (2015) Gedung Konvensi dan Pameran di Surakarta Dengan Penekanan Desain Post Modern. Undergraduate thesis, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF
532Kb
[img]
Preview
PDF
354Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

2339Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

1145Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

1645Kb
[img]
Preview
PDF
1356Kb
[img]
Preview
PDF
319Kb
[img]
Preview
PDF
355Kb

Abstract

Saat ini, Indonesia sudah berkembang menjadi salah satu negara tujuan bisnis dan wisata. Hal itu dibuktikan dengan perolehan data dari Statistical Report on Visitor arrivals to Indonesia 2008–2012, yang menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara untuk pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) bila digenapkan mencapai 41% sementara untuk wisatawan liburan 57% dan lainnya 2%. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa perkembangan MICE di Indonesia menunjukkan peningkatan yang sangat menggembirakan. Indonesia tak hanya kaya akan potensi wisata tapi juga potensi untuk dijadikan lahan bisnis komersial di bidang MICE. Hal ini akan menjadi peluang besar bagi pebisnis dan pemerintah Indonesia untuk menggarapnya menjadi sumber pendapatan yang cukup menjanjikan. Dan bergeser ke Kota Surakarta, dari tahun ke tahun tingkat kunjungan wisatawan ke Solo semakin meningkat. Berdasarkan salah satu sumber dari media tabulasi nasional, tahun lalu, Solo menduduki peringkat 8 tujuan wisata nasional dan sekarang telah bergeser ke peringkat 4. Selain dari sektor bisnis dan perdagangan potensi Surakarta dalam MICE di dukung dengan potensi seni budaya lokal. Di Surakarta ada dua keraton yang bisa menjadi tujuan turisme lokal dan internasional yang didukung oleh berbagai kesenian tradisional yang masih hidup dan tempat rekreasi maupun hibuar selalu bertambah setiap tahun nya. Ada berbagai tempat di Surakarta dan sekitarnya yang dulu menjadi tempat wisata yang bisa dibangun lagi, dan yang terpenting menurut perhitungan bisnis adalah biaya segala aktivitas itu bila diselenggarakan di Surakarta terhitung murah dibanding jika diselenggarakan di Jakarta atau Bali, dari tarif hotel sampai harga makanan, dari biaya transportasi sampai tiket rekreasi. Mengamati perkembangan dan potensi Kota Surakarta dan sekitarnya yang sudah semakin marak, rasanya saat ini adalah saat yang tepat untuk diimplikasikannya suatu wacana dibangunnya sebuah Konvensi dan pameran. Sekarang banyak sekali diagendakan perhelatan besar yang bertaraf nasional dan juga internasional, yang tentu saja melibatkan banyak sekali peserta. Contohnya World Heritage Cities Conference & Expo (WHCCE), Solo Batik Carnival, Festival Pasar Kumandang, Munas Apeksi, SIEM, Bengawan Solo Fair, Borobudur Travel Mart dan Munas Apeksi. Hal ini akan sangat disayangkan bila tidak didukung dengan fasilitas yang memadai, seperti ruangan yang besar dan nyaman dan perlengkapan audio visual yang memadai. Seperti dikemukakan Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda yang menyebut Surakarta minim fasilitas MICE, salah satunya ruang pertemuan berstandar internasional. Predikat Solo sebagai kota budaya dan pelajar tampaknya sekarang tengah berkembang menjadi kota bisnis, budaya dan wisata. Munculnya properti–properti baru seperti apartemen, kondotel dan juga hotel berskala internasional seperti Ibis, Solo Paragon, Centerpoint, Kusuma Mulia Tower serta Water World menjadi penanda yang cukup kuat bagi bangkitnya nadi perekonomian di Kota Solo. Ini akan menjadi suatu kesempatan besar bagi masyarakat Surakarta untuk menggarap lahan ini menjadi peluang besar yang sangat profitable bahkan akan menaikkan pamor Kota Surakarta menjadi kota metropolis. Hal ini bisa disikapi dengan dibangunnya suatu Konvensi dan Pameran yang besar dan lengkap.. Gedung pertemuan di kota Solo saat ini hanya berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan resepsi dan pertemuan biasa, sementara pelaku bisnis lebih memilih menyelenggarakan meeting di restoran ataupun hotel. Hal ini disebabkan oleh desakan kebutuhan akomodasi yang serba praktis dan hemat waktu yang tentunya akan membuat gedung pertemuan di kota Solo terkesan kurang populer. Wacana adanya Bangunan Konvensi dan Pameran yang ideal perlu didukung dengan adanya area yang besar, toilet yang memadai, AC, pencahayaan yang cukup, pasokan listrik dan cadangannya, telepon, kendaraan, fasilitas pemadam kebakaran, cargo dan lift serta eskalator bila diperlukan, pintu darurat, ruang sekretariat, panggung, ruang VIP, kafetaria, toko obat, klinik, dapur dan sebagainya. Saat ini apabila terdapat event yang melibatkan lebih dari 3.000 orang, pasti akan di tempatkan di Bali atau Jakarta. Padahal bisa dipastikan event semacam ini akan diadakan minimal enam kali dalam satu bulan, baik berskala nasional ataupun internasional. Tentu saja hal ini amat disayangkan, mengingat banyak sekali potensi daerah kita yang dapat ditampilkan baik dari segi budaya, keahlian ataupun kuliner. Apabila Konvensi dan Pameran ini dibangun, tentu akan terwujud pula peningkatan APBD, penurunan angka pengangguran serta kenaikan pendapatan masyarakat Kota Surakarta. Apabila dapat dilaksanakan setidaknya 10 event dalam setahun dengan sekitar 40% pada setiap event dapat dipastikan dalam empat hingga enam tahun ke depannya biaya investasi akan segera didapatkan kembali. Untuk itu, Pemkot Surakarta hendaknya dapat merangkul investor handal yang mampu merealisasikan wacana tersebut. Dengan dibangunnya Konvensi dan Pameran seperti ini, niscaya perkembangan MICE di Kota Surakarta dengan sendirinya akan menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dan tentu dengan berkembangnya MICE tersebut akan mendorong laju perekonomian kota Surakarta, dan menciptakan atmosfer budaya baru, yaitu berkembangnya Surakarta tak hanya melulu menjadi kota budaya dan wisata tapi juga menjadi kota metropolitan. Kota Surakarta akan menjadi pusat bisnis baru di Jawa Tengah dan menjadi nadi perekonomian di Indonesia. Dengan melihat potensi kota, dan keterbatasan fasilitas MICE yang tersedia di kota Surakarta (Solo), maka diperlukan suatu fasilitas yang mampu mewadahi berbagai kegiatan konvensi dan ekshibisi dengan segala fasilitas pendukungnya yang sangat memadai. Perencanaan bangunan Konvensi dan Pameran di Solo ini diharapkan dapat menjadi landmark kota Surakarta dengan menampilkan nuansa budaya tradisional Solo sebagai citra dan karakter bangunan, dengan fleksibilitas ruang (kapasitas dapat menyesuaikan volume segala event, yang sangat fleksible, sehingga sangat mudah disetting menurut kebutuhan konsumen, dengan begitu harga lebih ekonomis). Selain itu melalui bangunan ini dapat menjadi jendela cakrawala budaya Solo bagi para pengunjung.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:46717
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:03 Nov 2015 11:22
Last Modified:03 Nov 2015 11:22

Repository Staff Only: item control page