HUBUNGAN PREFERENSI JENIS KELAMIN ANAK DAN KETERLIBATAN PIHAK LAIN DENGAN PENUNDAAN MENJADI AKSEPTOR KB DI KECAMATAN WONOSOBO KABUPATEN WONOSOBO PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2004 THE CORRELATION BETWEEN CHILD SEXUAL PREFERENCE INVOLVING OTHER'S INTERFERENCE AND ACCEPTOR ADJOURNMENT IN FAMILY PLANNING PROGRAM IN THE DISTRIC AND REGENCY OF WONOSOBO CENTRAL JAVA, 2004

WIJAYANTI, IKANITA (2005) HUBUNGAN PREFERENSI JENIS KELAMIN ANAK DAN KETERLIBATAN PIHAK LAIN DENGAN PENUNDAAN MENJADI AKSEPTOR KB DI KECAMATAN WONOSOBO KABUPATEN WONOSOBO PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2004 THE CORRELATION BETWEEN CHILD SEXUAL PREFERENCE INVOLVING OTHER'S INTERFERENCE AND ACCEPTOR ADJOURNMENT IN FAMILY PLANNING PROGRAM IN THE DISTRIC AND REGENCY OF WONOSOBO CENTRAL JAVA, 2004. Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF - Published Version
15Kb

Official URL: http://www.fkm.undip.ac.id

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tidak lepas dari masalah kependudukan. Jumlah dan mobilitas penduduk perlu terus dikendalikan serta diarahkan agar menjadi kekuatan pembangunan. Untuk itu diupayakan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia yang saat ini telah dan sedang dilaksanakan yaitu program Keluarga Berencana Nasional. Jumlah PUS di kabupaten Wonosobo pada tahun 2003 adalah 115.983 pasangan. Jumlah Peserta Aktif (PA) adalah sebesar 80.351 (76,29%) pasangan dan 35.632 pasangan (23,71%) belum menjadi akseptor KB. Di kecamatan Wonosobo pada tahun 2003 jumlah total PUS adalah 11.214 pasangan, dengan Peserta Aktif sebanyak 8.546 pasangan atau 76,20%. Jumlah PUS yang belum menjadi akseptor KB adalah 2.668 (23,80%). Populasi dalam penelitian ini adalah PUS yang telah menjadi akseptor KB dengan jumlah 8.546 pasangan dan PUS yang belum menjadi akseptor KB sebanyak 2.668 pasangan, dan telah mempunyai anak minimal 2 (dua) orang anak. Dari perhitungan rumus diperoleh jumlah sampel non-akseptor sebanyak 93 pasangan dan jumlah sampel akseptor (pembanding) sebanyak 95 pasangan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara keinginan yang kuat akan anak laki-laki dengan penundaan menjadi akseptor KB {alpha=0,05,x2=2,6552 tabel=3,841,p value 0,103 (p>0,05)} Ada hubungan yang bermakna antara komposisi jenis kelamin anak dengan penundaan menjadi akseptor KB {alpha=0,05,x2=5,499>x2 tabel=3,841,p value=0,019(p<0,05)} Ada hubungan yang bermakna antara keinginan jenis kelamin tertentu untuk anak dengan penundaan menjadi akseptor KB (alpha=0,05,x2=4,194>x2 tabel=3,841,p value=0,041(p<0,05)} Tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan ekonomi dari pihak lain dengan penundaan menjadi akseptor KB.{alpha=0,05,x2=0,1702tabel=3,841,p value 0,680(p>0,05)} Ada hubungan yang bermakna antara keterlibatan pihak lain dalam hal urusan intern keluarga dengan penundaan menjadi akseptor KB. {alpha=0,05,x2=4,177>x2 tabel=3,841, p value=0,041(p>0,05)} Indonesia is one of the developing countries deserving population problem. The population and its mobility should be well directed and controlled so that it comes to be one of the developing power. Therefore, it is essential to hold the population growth of the country which actually has beenor is being carried out by mean of Natinal Family Program. The number of eligible couple, in Wonosobo Regency of 2003 was 115.983 couples. The number of family planning acceptor was 80.351 (76,29%) and the rest of 35.632 (23,71%) was non-acceptor. In the Districal Town Area of Wonosobo there was recorded 11.214 in total consisting of a 8.546 family planning acceptor or 76,20% and a 2.668 non-acceptor. The population utilized in this research was an eligible couple including 8.546 of family planning acceptor and 2.668 of non-family planning acceptor, all of whom had at least 2 children. The applied base formulation obtained 93 couples of non-acceptor and 95 acceptor samples (as comparative) of eligible couple on family planning program. There was not found out any significant correlation between preference for son infant and adjournment for being family planning program acceptor. {alpha=0,05,x2=2,6552 table=3,841,p value=0,103 (p>0,05)} There was a significant correlation between child sex composition and family planning acceptor adjournment for being family planning acceptor.{alpha=0,05,x2=5,499>x2table=3,841,p value 0,019(p<0,05)} There was discovered a significant correlation between preference for specially of child sex and family planning acceptor adjournment.{alpha=0,05,x2=4,194>x2table=3,841,p value 0,041(p<0,05)} There was not any significant correlation between economic support from others and family planning acceptor adjournment.{alpha=0,05,x2=0,1702table=3,841,p value 0,680(p>0,05)} There was a significant correlation between other's interference in internal family affairs and family planning acceptor adjournment.{alpha=0,05,x2=4,177>x2table=3,841,p value=0,041{p<0,05)} Kata Kunci: Prefensi jenis kelamin anak, keterlibatan pihak lain, penundaan menjadi akseptor KB Child sexual preference, other's interference, family planning acceptor adjournment

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions:Faculty of Public Health > Department of Public Health
ID Code:4632
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:20 Jan 2010 10:12
Last Modified:20 Jan 2010 10:12

Repository Staff Only: item control page