Memahami Identitas Kelompok Street Punk Melalui Fashion

Dominikus, Isak Petrus Berek (2015) Memahami Identitas Kelompok Street Punk Melalui Fashion. Masters thesis, Postgraduate Program in Communication Studies.

[img]
Preview
PDF - Published Version
199Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
268Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
785Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
83Kb

Abstract

ABSTRAK Di tengah perang isu negatif tentang periodisasi keberadaan budaya Punk di Semarang, banyak sekali ditemukan simpul-simpul diskursus yang bermain di dalamnya. Subkultur Punk saat ini tidak hanya dihadapkan pada kuasa kultur dominan yang tak henti-henti mencoba untuk melemahkan mereka dengan berbagai konvensi (norma maupun pasar) yang telah digariskan oleh masyarakat kontemporer, akan tetapi subkultur Punk dalam dirinya sendiri juga mengalami pelemahan dan fragmentasi. Struktur ini diimprovisasi sebagai tanggapan afektasi atas tujuan tertentu (hidden goal) terhadap suatu claim image sebagai identitas yang mewakili orientasinya melalui fashion. Tujuan utama yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah peneliti berupaya memahami identitas kelompok Street Punk Semarang melalui fashion. Dalam penelitian komunikasi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini, peneliti menggunakan paradigma interpretif (constructivis) dengan didasarkan pada kajian fenomenologi klasik (classical phenomenology) yang juga dikenal dengan istilah fenomenologi transendental (transcendental phenomenology) dicetuskan oleh Edmun Husserl (1859-1938). Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dengan tipe desain deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi, studi pustaka dan studi lapangan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa minimnya pemahaman memberikan dampak yang besar dalam proses representatif, pada kasus ini ada pelbagai macam hal yang mereka (Street Punk) selaku the role models of fashion Punk sendiri bahkan tidak tau atau benar-benar memahami dengan jelas apa yang ada dalam pikiran mereka saat mereka mengenakan fashion. Akibatnya, fashion sebagai simbol identitas subkultur ini pun mengalami degradasi nilai dari nilai guna menjadi hanya sebagai nilai tanda. Nilai tanda inipun senantiasa menempatkan makna fashion Street Punk dalam orientasinya sebagai bentuk komoditas dan eksistensi. Pertama, sebagai bentuk komoditas fashion pada situasi ini oleh Street Punk sebagai subbkultur yang berorientasi pada counterculture telah bertransformasa dari simbol identitas budaya yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan tereduksi sebagai hal yang sifatnya komersil. Kedua, sebagai bentuk eksistensi fashion pada kondisi ini dijadikan acuan pembuktian diri bahwa praktik yang diakukan dapat menghasilkan klaim image sebagai identitas yang mewakilinya. Struktur ini diimprovisasikan atau dibuat-buat sebagai tanggapan afektasi (affectation) semata terhadap konsepsi ‘tampil beda’ dan ‘stylish’ yang terakomodir sedemikian rupa hanya demi kepuasan emosional (perasaan senang). Dengan demikian, terdapat kontradiksi ketika Street Punk mengartikulasikan perlawanannya melalui fashion. Ide tentang perlawanan terhadap tatanan atau sistem sosial dominan (modernitas kapitalistik) menempuh cara yang sejalan dengan sistem itu sendiri. Street Punk sebagai subkultur menjadi semakin conform dengan zamannya dan tidak lagi menjadi ancaman terhadap sistem dominan, justru mereka adalah bagian dari sistem itu sendiri. Hasil terpenting dari rekonstruksi inipun cenderung menempatkan struktur identitas komunitas Street Punk sebagai ‘konformitas: internalisasi’. Kesimpulan ini dilakukan dengan menimbang bahwa, dalam sebuah proses pembentukan identitas dapat diperoleh melalui internalisasi yang membentuk konformitas. Sehingga, proses internalisasi ini dapat berfungsi untuk menyamakan identitas yang dimiliki oleh komunitas Street Punk dengan masyarakat dominan. Dengan kata lain, internalisasi ini dapat membuat identitas yang dimiliki oleh subkultur Street Punk berasimilasi kedalam kultur dominan. Kata Kunci: Subkultur, Fashion, Identitas. ABSTRACT In the midst of war negative issues about periodization existence Punk culture in Semarang, many once discovered nodes discourse play in it. Punk subculture today are not only faced with the power of the dominant culture is endlessly trying to weaken them with various conventions (norms or market) that have been outlined by contemporary society, but Punk subculture in itself is also experiencing weakness and fragmentation. This structure affectation improvised response on a specific purpose (hidden goal) against a claim of identity that represents the image as orientation through fashion. The main objectives to be answered through this research is researcher seeks to understand the identity of the group Street Punk Semarang through fashion. In qualitative communication research with phenomenological approach, the researchers used an interpretive paradigm (constructivis) to be based on the study of classical phenomenology which is also known as transcendental phenomenology coined by Edmund Husserl (1859-1938). The method used is qualitative method with descriptive design types using data collection techniques include, library research and field study. Results from this study showed that the lack of understanding of a large impact in the representative process, in this case there are various kinds of things that they (Street Punk) as the role models of fashion Punk themselves do not even know or truly understand clearly what is in their minds when they wore fashion. As a result, fashion subculture as a symbol of identity is also degraded the value of the value to be just as the value of the sign. Even this mark value always put fashion Street Punk meaning in its orientation as a form of commodity and existence. First, as a form of fashion commodities in this situation by Street Punk as subbkultur oriented counterculture has bertransformasa of symbols of cultural identity which was originally free from the things that are traded reduced as a matter of commercial nature. Secondly, as a form of existence of fashion in this condition as reference proving themselves that transactions are carried out practices that can lead to claims image as a representative identity. This structure of improvised or made-up in response affectation solely to the conception of 'different' and 'stylish' in such a way that accommodated just for the satisfaction of emotional (feelings of pleasure). Thus, there is a contradiction when Street Punk articulate resistance through fashion. The idea of resistance to the dominant order or social system (capitalist modernity) take a way that is consistent with the system itself. Street Punk as a subculture becomes increasingly conform with his time and no longer a threat to the dominant system, instead they are part of the system itself. The most important result of reconstruction even this tends to put the community's identity structure Street Punk as 'conformity:internalisation'. This conclusion was made by considering that, in a process of identity formation can be obtained through the internalisation of the form of conformity. Thus, this internalization process can serve to equalize the identity of the community Street Punk with the dominant society. In other words, this internalization can make the identity of the subculture Street Punk assimilated into the dominant culture. Keywords: Subculture, Fashion, Identity

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Communication Science
ID Code:46035
Deposited By:Magister Ilmu Komunikasi
Deposited On:30 Jul 2015 15:13
Last Modified:18 Mar 2016 14:11

Repository Staff Only: item control page