Museum Paleontologi Patiayam di Kudus

Mahatyanto, Handi and Suprijadi, Bambang and Murtomo, B. Adji (2015) Museum Paleontologi Patiayam di Kudus. Undergraduate thesis, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF
532Kb
[img]
Preview
PDF
359Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

3218Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

768Kb
[img]PDF
Restricted to Repository staff only

2537Kb
[img]
Preview
PDF
494Kb
[img]
Preview
PDF
356Kb
[img]
Preview
PDF
345Kb

Abstract

Indonesia memiliki sejarah panjang peradaban dan kebudayaan manusia. Jejak – jejak manusia purba dan peradabannya yang ditemukan dari lapisan pleistosen terdapat di berbagai tempat di Pulau Jawa. Daerah Patiayam di wilayah Kudus merupakan salah satu situs terlengkap, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata.Situs ini telah mendapat perhatian ilmuwan pada jaman penjajahan, sejak keberhasilan Eugene Dubois menemukan fosil Pithecantropus erectus di Trinil, Ngawi, Jawa Timur serta merta para ahli megadakan eksplorasi ke daerah – daerah termasuk Patiayam. Pada tahun 1857,tersebut nama F.W. Junghuhn, de Winter,dan pelukis naturalis Raden Saleh pernah ke Patiayam untuk menggali mencari fosil. Usaha mereka kurang berhasil karena lahan situs masih tertutup oleh hutan sehingga sulit menemukan fosil. Tiga data penting kehidupan kala Pleistosen di Patiayam antara lain sisa homnid (Homo erectus), sisa lingkungan purba (fosil – fosil vertebrata dan avertebrata), dan data budaya (alat batu/litik). (Sumber : Museum Patiayam, Kudus) Mengingat potensi Patiayam dalam bidang ilmu pengetahuan dan melihat keadaan museum yang telah ada, maka untuk mewujudkan Hakikat Museum yang sesungguhnya diperlukan fungsi dan peranan museum Patiayam ini, agar dapat menjalankan fungsi museum dengan sebaik-baiknya. Balai Arkeologi Yogyakarta dan Forum Pelestari Situs Patiayam menilai fasilitas penyimpanan fosil di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kurang memadai. Mereka berharap fosil itu disimpan di museum yang sebenarnya. Pendirian museum di Patiayam ini ternyata sejalan dengan perhatian Pemerintah terhadap potensi Patiayam yang sejak 22 September 2005 situs Patiayam ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Tengah nomor 988/102.SP/BP3/P.IX/2005, dimana letak zona inti situs Patiayam adalah tanah milik Perhutani petak 21C (Bappeda 2007 : 1-3). Museum Patiayam merupakan museum lapangan dengan persyaratan koleksi – koleksi yang diutamakan di lapangan setempat. Sesuai dengan kenyataan hasil fosil temuan dan penelitian ditemukan beberapa kelompok fosil manusia purba, fauna vertebrata dan invetebrata di situs Patiayam, maka lokasi museum yang sesuai adalah di daerah Cagar Budaya Patiayam yang koleksi – koleksinya kebanyakan dari lapangan setempat.Dari museum lapangan Daerah Patiayam, diharapkan dapat berkembang menjadi museum yang lebih representative dengan laboratorium dan fasilitas penunjang lainnya, mengingat masih diperlukannya sebuah museum khusus yang menangani dan mengamankan fosil-fosil dari peninggalan kehidupan jaman prasejarah.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:45822
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:17 Jun 2015 15:51
Last Modified:17 Jun 2015 15:51

Repository Staff Only: item control page