PEMETAAN GEOLOGI, ALTERASI, MINERALISASI DAN KERAPATAN URAT KUARSA PADA BENCH 210 UNTUK MENGETAHUI PENGARUH KERAPATAN URAT KUARSA TERHADAP MINERALISASI DAN NILAI KADAR TEMBAGA ENDAPAN PORFIRI CU-AU BATU HIJAU, SUMBAWA, NTB

Kusuma, Laraswati Jiwatami Dwi (2014) PEMETAAN GEOLOGI, ALTERASI, MINERALISASI DAN KERAPATAN URAT KUARSA PADA BENCH 210 UNTUK MENGETAHUI PENGARUH KERAPATAN URAT KUARSA TERHADAP MINERALISASI DAN NILAI KADAR TEMBAGA ENDAPAN PORFIRI CU-AU BATU HIJAU, SUMBAWA, NTB. Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF
289Kb

Abstract

Endapan porfiri merupakan salah satu jenis endapan hidrotermal yang memiliki potensi sebagai penghasil mineral-mineral ekonomis, misalnya emas, tembaga dan molibdenum. Dengan mempelajari konsep-konsep geologi dari sistem endapan porfiri seperti tipe litologi, karakteristik alterasi, jenis mineralisasi dan tipe urat maka lingkungan mineralisasi pembentuk bijih akan mudah untuk diketahui. Studi mengenai mineralisasi pada endapan porfiri juga memerlukan analisis kerapatan urat kuarsa untuk menentukan zona mineralisasi yang memiliki kadar tinggi dan kadar rendah. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui sebaran litologi, zona alterasi dan pengaruh kerapatan urat kuarsa terhadap mineralisasi pada endapan porfiri Batu Hijau. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam kegiatan produksi agar mendapatkan material tambang dengan kadar tinggi. Metode yang digunakan untuk menganalisis pengaruh kerapatan urat kuarsa terhadap mineralisasi pada bench 210 Endapan Porfiri Batu Hijau yaitu dengan melakukan highwall mapping pada bench 210 dinding utara dan timur tambang dan logging geologi sebanyak 120 lubang bor yang melewati bench 210 dengan panjang masing-masing 15 meter. Tipe litologi yang dijumpai di daerah penelitian dari tua ke muda yaitu satuan Volkanik, intrusi Diorit Kuarsa Ekuigranular, intrusi Tonalit Menengah dan intrusi Tonalit Muda. Berdasarkan pengamatan megaskopis dan mikroskopis, zona alterasi daerah penelitian dapat dibagi menjadi: Zona Alterasi Partial Biotite (sebanding dengan alterasi potasik), Zona Alterasi Secondary Biotite (sebanding dengan alterasi potasik), Zona Alterasi Pale Green Mica (sebanding dengan alterasi Filik), Zona Alterasi Chlorite-Epidote-Sericite (sebanding dengan alterasi Propilik) dan Zona Alterasi Feldspar Destructive (sebanding dengan alterasi Argilik). Mineralisasi yang berkembang di daerah penelitian merupakan mineralisasi sulfida tembaga berupa Bornit dan Kalkopirit sebagai mineral bijih dan Pirit sebagai mineral penyerta. Zona kerapatan urat kuarsa di daerah penelitian dibagi menjadi zona kerapatan urat kuarsa sangat melimpah (10-15%), melimpah (5-9,9%), sedang (3–4,9%) dan jarang (0,3-2,9%). Berdasarkan hasil analisis, terdapat hubungan yang positif antara penyebaran kerapatan urat kuarsa dengan zona mineralisasi dan kadar tembaga berdasarkan data assay. Semakin tinggi kerapatan urat kuarsa maka semakin tinggi pula nilai kadar tembaganya dan umumnya berada pada zona dominan Bornit. Sedangkan semakin jarang kerapatan urat kuarsa maka semakin rendah pula nilai kadar tembaganya dan umumnya berada pada zona dominan Pirit. Katakunci: Endapan porfiri Batu Hijau, logging lubang bor, highwall mapping, zona kerapatan urat kuarsa, nilai kadar assay tembaga

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:Q Science > QE Geology
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Geological Engineering
Faculty of Engineering > Department of Geological Engineering
ID Code:43232
Deposited By:Mr Geologi Undip
Deposited On:10 Jul 2014 10:10
Last Modified:10 Jul 2014 10:10

Repository Staff Only: item control page