REPRESENTASI STARBUCKS SEBAGAI GAYA HIDUP KONSUMERISME [Monolog Kebudayaan Barat Kepada Timur Dalam Secangkir Kopi]

Kheyene, Molekandella Boer (2013) REPRESENTASI STARBUCKS SEBAGAI GAYA HIDUP KONSUMERISME [Monolog Kebudayaan Barat Kepada Timur Dalam Secangkir Kopi]. Masters thesis, Master Program in Communication Science.

[img]
Preview
PDF - Published Version
121Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
797Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
1168Kb
[img]
Preview
PDF - Published Version
360Kb

Abstract

ABSTRAKSI REPRESENTASI STARBUCKS SEBAGAI GAYA HIDUP KONSUMERISME (Monolog Kebudayaan Barat Kepada Timur dalam Secangkir Kopi) Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menjamurnya produk-produk Barat di Indonesia. Starbucks sebagai salah satu produk Barat kini telah memiliki 147 gerai yang tersebar dikota-kota besar yang ada di Indonesia. Hal tersebut semakin menumbuhkan faham konsumerisme,terlebih lagi dalam melakukan aktivitas promosinya, Starbucks menggunakan media sosial seperti fans pages. Tingginya akses informasi internet membuat masyarakat dipaksa mengkonsumsi informasi yang tumpah ruah. Iklan-iklan dalam fans pages Starbucks dimaknai bukan semata pesan untuk mempromosikan produk, akan tetapi sebagai tarik menarik ideologi konsumerisme Starbucks [Barat] untuk Timur. Penelitian ini mempertanyakan bagaimana ideologi konsumerisme yang dihadirkan dalam fans pages starbucks coffee Indonesia? Penelitian ini berlandaskan kajian budaya populer, yang mencoba mengkritisi relasi antara Barat dan Timur melalui secangkir kopi bernama Starbucks. Penelitian ini menggunakan teori konsumerisme milik Jean Baudrillard dan menggunakan teknik analisis Semiotika milik Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan membongkar wacana konsumerisme dalam empat iklan yang ada di fans pages starbucks Indonesia.Tema keempat unit analisis yaitu: “starbucks card”, “frappucino”, “tumbler” dan “hari kemerdekaan Indonesia” Hasil penelitian ini menemukan apa yang dikatakan Baurdrillard dengan ‘simulakra’ dan ‘hiperealitas’. Dimana, kini masyarakat bukan hanya membeli kopi sebagai penghilang rasa kantuk, tetapi juga membeli “prestise”. Ideologi yang ditemukan yaitu: (1)Leisure class (2)meme [baca:mem] dan (3) fetisisme sebagai cara untuk menciptakan faham konsumerisme. Penelitian ini mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah, untuk membuat kebijakan dalam menyaring produk-produk asing yang masuk ke Indonesia, serta membuat masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi yang ada dimedia sosial, salah satunya dengan semakin gencar menggerakan literasi media. Keyword : Starbucks Coffee, Konsumerisme, Simulakra, Hiperealitas ABSTRACT STARBUCKS RPRESENTATION AS A CONSUMERISM LIFESTYLE (Monologue Western and Eastern Culture in a Cup Coffee) The background of this research was the plethora phenomenon of Western products in Indonesia. Starbucks Coffee as one of Western products has owned about 147 outlets which spread all over the big cities in Indonesia. From this, consumerism has been proven to exist, through social media like fans page Facebook as one of its promotional activities. Having high-speed access into its information has forced customers to consume and digest those cornucopia of information. Advertisements advertised on Starbucks Fans Page was assumed as not only delivering messages for promoting products, thus this research questioned about how does ideology of consumerism exist on Fans Page Starbucks Coffee Indonesia? The research was based on the study of popular culture, which, attempting critics towards relationship between Wests and Easts in the form of a cup of coffee called Starbucks. This research used consumerism theory which belongs to Jean Baudrillard and Semiotic Analytical Techniques owned by Roland Barthes. This research aims to expose consumerism discourse through four advertisements advertised on Fans Page Starbucks Indonesia. Those four themes of analysis are : “Starbucks Card”, “Frappucino”, “Tumbler”, “Independence Day of Indonesia” The result of this research finds what has been proven by Baudrillard with “simulakra” and “hiperality”, in which, nowdays people do not only buy coffee as drowsiness reliefs but also afford “prestige”. Ideologies came to surface : (1) Leisure Class, (2) Meme and (3) Fetisisme as one of way to build consumerism understanding. This research expects attention from government, to create a policy that aims to filter foreign products entering Indonesia, as well as to make people more selective in consuming information spreads on social medias. Thus, the policy should contain a incentive approach to move media literacy. Keyword : Starbucks Coffee, Consumerism, Simulakra, Hipereality

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Communication Science
ID Code:42012
Deposited By:Magister Ilmu Komunikasi
Deposited On:07 Feb 2014 19:44
Last Modified:16 Dec 2015 16:54

Repository Staff Only: item control page