POLA MIGRASI MASYARAKAT KOTA SEMARANG SEBAGAI AKIBAT PERUBAHAN IKLIM GLOBAL JANGKA PENDEK

PRATIWI, Nila Ardhyarini Hayuning (2009) POLA MIGRASI MASYARAKAT KOTA SEMARANG SEBAGAI AKIBAT PERUBAHAN IKLIM GLOBAL JANGKA PENDEK. Undergraduate thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF
4Mb

Abstract

Perubahan iklim merupakan tantangan global yang paling serius dihadapi pada abad 21 ini dan telah menjadi tantangan manajemen pembangunan kota yang perlahan-lahan akan mempengaruhi kondisi lingkungan suatu kota dalam periode waktu tertentu. Perubahan iklim mengakibatkan perpecahan siklus hidrologi wilayah yang berarti, yaitu mengubah evaporasi, transpirasi, run-off, air tanah, dan presipitasi, dengan berimplikasi pada kuantitas dan kualitas sumber daya air wilayah (Irianto dalam World Bank, 2007). Sebagai akibatnya, hal tersebut akan meningkatkan intensitas air hujan, tetapi dalam periode tertentu juga dapat mengakibatkan musim hujan yang berkepanjangan sehingga bahaya akan banjir juga semakin meningkat. Selain itu, pemanasan global yang berdampak pada kenaikan suhu dan mengakibatkan pencairan gletser dapat mempengaruhi terjadinya kenaikan permukaan air laut. Perubahan elevasi air laut ini tentu saja dapat mengganggu kehidupan masyarakat karena akan mengakibatkan genangan di wilayah pesisir dan daratan perkotaan yang lebih rendah. Fenomena tersebut terjadi di Kota Semarang sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan dapat dirasakan dalam jangka pendek. Bentuk antisipasi yang dapat dilakukan diantaranya adaptasi dengan meninggikan bangunan rumah, proteksi dengan membangun tanggul, reklamasi, atau migrasi ke daerah yang lebih aman. Jika kondisi lingkungan Kota Semarang bagian utara semakin memburuk, maka tindakan yang paling aman dilakukan masyarakat adalah migrasi. Faktor utama yang mendorong masyarakat migrasi adalah perubahan kondisi lingkungan karena kenaikan permukaan air laut semakin tinggi akibat perubahan iklim global, masyarakat yang mengambil keputusan migrasi ini selanjuntya disebut climate migrants. Tujuan migrasi masyarakat yang satu dengan yang lain berbeda-beda sehingga akan membentuk suatu pola migrasi dari variasi tujuan/ arah migrasi tersebut dengan daerah asalnya. Migrasi ini nantinya akan memberikan implikasi bagi pembangunan Kota Semarang. Pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian ini adalah bagaimana pola migrasi masyarakat Kota Semarang sebagai akibat perubahan iklim global dalam jangka pendek serta implikasinya bagi pembangunan kota? Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pola migrasi masyarakat Kota Semarang sebagai bentuk antisipasi dalam merespon kenaikan permukaan air laut yang merupakan dampak dari perubahan iklim global jangka pendek dan implikasinya bagi pembangunan kota. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Metode ini dapat membantu peneliti dalam melakukan analisis, tidak hanya memberikan gambaran terhadap fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan sebab akibat, membuat prediksi serta mendapatkan implikasi dari suatu permasalahan yang terjadi. Teknik analisis menggunakan deskriptif kuantitatif untuk mendeskripsikan data kuantitatif maupun hasil perhitungan kuantitatif, dan diskriminan untuk menentukan variabel kerentanan yang paling mempengaruhi masyarakat dalam mengambil keputusan migrasi atau tidak migrasi. Cara pengumpulan data melalui kuesioner dengan proportional random sampling yaitu responden dipilih secara acak sesuai proporsi luas permukiman di suatu kelurahan terhadap luas seluruh permukiman di wilayah penelitian yang diperkirakan mampu mewakili jumlah seluruh penduduk, wawancara kepada Dinas PSDA Kota Semarang, dan observasi dengan pengamatan visual langsung ke wilayah studi. Temuan studi pada penelitian ini yaitu faktor-faktor penyebab masyarakat bermigrasi dan tidak bermigrasi yang paling dominan adalah pendapatan masyarakat, kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sekunder, dan tingkat abrasi di wilayah penelitian. Ketiga variabel tersebut terkait dengan fitur kerentanan ekonomi dan lingkungan biografi. Sehingga dalam mengambil keputusan bermigrasi atau tidak bermigrasi, masyarakat mempertimbangkan kondisi perekonomian dan lingkungan yang mengalami penurunan kualitas. Pola migrasi yang terbentuk berasal dari daerah asal migrasi yang merupakan wilayah suburban dengan daerah tujuan migrasi yang terdiri dari city centre seperti Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Timur sehingga membentuk centripetal migration, serta wilayah suburban seperti Kecamatan Pedurungan, Candisari, Tembalang, dan Banyumanik sehingga membentuk population retention. Implikasi keputusan masyarakat bermigrasi dan tidak bermigrasi bagi pembangunan Kota Semarang akan berujung pada penurunan kualitas lingkungan Kota Semarang serta penurunan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan kebijakan Pemerintah Kota Semarang agar pembangunan kota berlangsung secara berkelanjutan, seperti perencanaan mitigasi bencana kenaikan muka air laut; sosialisasi pemanfaatan rumah panggung kepada masyarakat di permukiman nelayan; serta menyusun kebijakan mengenai kawasan konservasi, baik untuk wilayah perbukitan maupun wilayah pesisir, dan melindungi kawasan konservasi yang sudah ada guna mempertahankan keseimbangan lingkungan. Key Words: Perubahan Iklim Global, Kenaikan Permukaan Air Laut, Kerentanan, Migrasi

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > GF Human ecology. Anthropogeography
H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Urban and Regional Planning
Faculty of Engineering > Department of Urban and Regional Planning
ID Code:41079
Deposited By:JPWK Planologi
Deposited On:16 Dec 2013 13:41
Last Modified:16 Dec 2013 13:41

Repository Staff Only: item control page