PEMBENTUK KETAHANAN SOSIAL EKONOMI PETANI TAMBAK MELALUI UPAYA SYLVOFISHERY DI KELURAHAN MANGUNHARJO

WIJAYANTI, Wawargita Permata and ARTININGSIH, Artiningsih (2011) PEMBENTUK KETAHANAN SOSIAL EKONOMI PETANI TAMBAK MELALUI UPAYA SYLVOFISHERY DI KELURAHAN MANGUNHARJO. Undergraduate thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]PDF
Restricted to Repository staff only

3779Kb

Abstract

Perubahan iklim merupakan dampak pemanasan global, yang menimbulkan kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang. Kondisi ini disebabkan oleh naiknya muka air laut, abrasi, serta kerusakan lingkungan pesisir. Kerentanan fisik telah diantisipasi dengan penanaman mangrove sebanyak 1.745.600 pohon dan pembangunan sabuk pantai Mangunharjo sepanjang 2,5 km (Kelompok Bumi Lestari, 2010). Namun, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan kerentanan sosial ekonomi yang dialami masyarakat, khususnya petani tambak. Pada tahun 1995, pendapatan petani tambak mencapai Rp 1.000.000,00/hari, tetapi terus menurun hingga Rp 10.000,00 sampai Rp 30.000,00/hari (tidak menentu) pada awal tahun 2000an. Penurunan pendapatan disebabkan oleh tenggelamnya tambak atau tambak yang kurang produktif akibat perubahan salinitas. Selain itu, kondisi sosial juga berubah. Petani tambak jarang berinteraksi satu sama lain, baik antar individu maupun kelompok. Mereka sibuk memikirkan kehidupan ekonomi masing-masing. Pertemuan yang biasanya diadakan satu bulan sekali, hanya diadakan tiga bulan sekali dengan tingkat kehadiran rendah (Hasil wawancara, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim mempengaruhi tatanan sosial ekonomi. Oleh karena itu, petani tambak tergolong populasi rentan. Populasi rentan memerlukan usaha adaptif untuk mengembalikan kestabilan kehidupan sosial dan ekonomi. Salah satu cara beradaptasi adalah menggali potensi kegiatan ekonomi dengan memperhitungkan sumberdaya lokal yang dimiliki. Terkait sumberdaya lokal, potensi yang dapat dimanfaatkan di Kelurahan Mangunharjo adalah mangrove. Dengan memanfaatkan mangrove, masyarakat mulai mengembangkan kegiatan sylvofishery. Sylvofishery adalah suatu bentuk usaha terpadu antara budidaya mangrove (pohon bakau) dan budidaya perikanan air payau (Harahab, 2010:138). Tujuan adaptasi masyarakat adalah untuk membentuk ketahanan sosial ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pembentuk ketahanan sosial ekonomi petani tambak melalui upaya sylvofishery sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim di Kelurahan Mangunharjo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, untuk memahami fenomena dan memperbanyak pemahaman tentang objek penelitian dengan cara mengeksplorasi informasi sebanyak-banyaknya. Analisis yang digunakan adalah deksriptif kualitatif. Analisis ini mampu memberikan penggambaran objek secara detail sehingga keunikan objek akan terlihat. Hasil dari analisis ini adalah ditemukannya faktor alam dan faktor manusia yang mendukung dan menghambat sylvofishery, value added (nilai tambah) sylvfishery dari manfaat fisik, ekonomi, dan sosial sylvofishery, serta tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam adaptasi di Kelurahan Mangunharjo. Berdasarkan hasil analisis diperoleh faktor beberapa pembentuk ketahanan, yaitu faktor alam terdiri atas kesesuaian kondisi fisik tambak untuk pengembangan sylvofishery dan dukungan luas tambak (> 3000 m 2 ). Kedua, faktor manusia, yaitu terbukanya akses untuk memenuhi kebutuhan hidup, keberanian petani tambak untuk berinovasi, kemauan belajar dari pengalaman/pembelajaran lain, munculnya kerjasama dan interaksi antar petambak, dan adanya peningkatan kemampuan petani tambak. Ketiga, dukungan institusi, yaitu dengan terbangunnya konektivitas/hubungan antar petani tambak dengan stakeholders dan antar stakeholders. Namun, pembentuk ketahanan sosial ekonomi tersebut belum optimal. Hal ini disebabkan oleh adaptasi hanya berkembang pada delapan orang, masih dilakukan secara individu dan belum dimanfaatkannya peluang terhadap akses (modal, pengetahuan, dan sebagainya) untuk beradaptasi. Oleh karena itu, kondisi 8 orang petani tambak berada dalam tahap mengarah (embrio) pada kondisi ketahanan sosial ekonomi. Jika mereka memanfaatkan peluang yang ada untuk beradaptasi dan adaptasi mampu dikembangkan berkelompok maka terciptanya ketahanan sosial ekonomi semakin terbuka. Manfaat akan semakin besar jika kegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan bisnis lokal. Dengan demikian, masyarakat dapat bertahan hidup dalam lingkungannya, memanfaatkan seluruh potensi yang ada, serta dapat meningkatkan kesejahteraaan hidupnya. Kata Kunci : Adaptasi, Ketahanan Sosial Ekonomi, Mangunharjo, Petani Tambak, Sylvofishery

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:S Agriculture > S Agriculture (General)
H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Urban and Regional Planning
Faculty of Engineering > Department of Urban and Regional Planning
ID Code:40997
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:10 Dec 2013 12:04
Last Modified:14 Jul 2014 10:00

Repository Staff Only: item control page