Kajian Jejak Ekologis ( Ecological Footprint) di Zona Industri Genuk, Kota Semarang

SUDANTI, - (2013) Kajian Jejak Ekologis ( Ecological Footprint) di Zona Industri Genuk, Kota Semarang. PhD thesis, Program Doktor Ilmu Lingkungan.

[img]
Preview
PDF
2914Kb
[img]
Preview
PDF
2204Kb
[img]
Preview
PDF
180Kb
[img]
Preview
PDF
2222Kb
[img]
Preview
PDF
195Kb

Abstract

ABSTRAK Kemajuan di sektor industri telah membawa berbagai pencapaian antara lain, peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Namun demikian, selain memberikan berbagai dampak positif, kegiatan zona dan kawasan industri juga menyebabkan berbagai dampak negatif, yang berkaitan dengan aspek lingkungan dan sosial. Pada umumnya yang menerima dampak langsung dari pencemaran ini adalah penduduk yang tinggal di sekitar kawasan atau zona industri (impacted area). Pencemaran dapat berupa polusi udara, air, tanah, asap, bau, getaran, kebisingan, kemacetan lalu lintas dan banjir yang dapat menurunkan kualitas lingkungan dan pada gilirannya akan menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Keberlanjutan pembangunan dapat diraih apabila di dalam setiap pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan tetap memperhatikan kapasitas daya dukung, daya tampung lingkungan, dan jejak ekologis. Namun pada kenyataannya, konsep penting tersebut masih belum diterapkan secara konsisten di dalam perencanaan dan pembangunan kawasan atau zona industri, termasuk di Zona Industri Genuk Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari pertanyaan penelitian, apakah jejak ekologis, daya dukung dan daya tampung lingkungan di Zona Industri Genuk Kota Semarang telah melampaui dayadukung lingkungannya dilihat dari aspek kesesuaian lahan, ketersediaan air, kebutuhan energi dan asimilasi limbahnya, dan seberapa besar sisa atau defisit ekologis, serta bagaimanakah persepsi masyarakat terhadap keberadaan zona industri dan dampak lingkungan yang terjadi, dalam arah pembangunan berkelanjutan. Penelitian tentang persepsi masyarakat dilakukan di 3 kelurahan yang berdekatan dengan Zona Industri Genuk, yakni Kelurahan Terboyo Wetan, Genuksari dan Trimulyo. Penelitian ini menggunakan paradigma positivistik dengan analisis kuantitatif dan tipe penelitian eksplanatori. Penelitian dilakukan di Zona Industri Genuk menggunakan metode survei dan case study, yang bertujuan untuk meneliti jejak ekologis, daya dukung, dan daya tampung, serta persepsi masyarakat. Ditinjau dari aspek kesesuaian lahan, potensi dan kebutuhan air, penggunaan energi serta daya tampung limbah, menunjukkan bahwa daya dukung dan daya tampung lingkungan telah terlampaui. Besarnya jejak ekologis di Zona Industri Genuk Semarang adalah 3.755 gHa, yang berarti 4,7 kali lebih besar dibanding dengan luas peruntukan lahan aktual Zona Industri Genuk (± 800 hektar). Biokapasitas Zona Industri Genuk adalah sebesar 1.064 gHa, sehingga mengalami defisit ekologis 2.691 gHa atau telah melampaui daya dukung lingkungannya. Defisit ekologis per hektar sebesar 3,36 dan termasuk dalam kategori very severe deficit region (DE > 2,0). Besarnya jejak karbon (carbon footprint) Zona Industri Genuk adalah 146,2 ton setara CO2/tahun per hektar, lebih besar dibandingkan dengan jejak karbon Kawasan Industri Rungkut Surabaya sebesar 41,29 ton setara CO2/tahun per hektar. Masyarakat berpendapat bahwa bentuk pengaruh keberadaan zona industri terhadap penduduk di sekitarnya yang paling menonjol adalah pengaruh terhadap kondisi lingkungan. Dampak lingkungan yang terjadi antara lain, sumur penduduk yang tercemar, banjir dan rob, rusaknya tambak milik warga, menurunnya hasil pertanian dan peningkatan penyakit yang terkait dengan kondisi lingkungan yang tercemar. Dampak positif keberadaan zona industri antara lain meningkatnya pendapatan masyarakat, baik yang berasal dari pekerja industri maupun dari sektor informal antara lain dari berjualan makanan, sembako, dan tempat pemondokan bagi buruh/pekerja pendatang dan meningkatnya harga lahan. Untuk mendukung keberlanjutan Zona Industri Genuk sudah saatnya diterapkan sistem produksi bersih (cleaner production), ecological friendly industry yang menuju kearah pengembangan Eco Industrial Park. Menggunakan sumber daya alam dan energi secara efisien. Tidak memproduksi jenis produk yang akan merugikan sistem alam apabila dibuang kembali ke dalamnya. Tidak merubah tata letak zona yang sudah ditentukan pada masterplan, terutama ruangan terbuka untuk peresapan dan penghijauan, serta tidak melanggar Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang telah ditentukan. Kata kunci : jejak ekologis, daya dukung lingkungan, daya tampung lingkungan, pencemaran lingkungan, keberlanjutan. ABSTRACT The development of the industrial sector has brought many significant achievements and progress, including the increase in regional income and economic welfare. However, in spite of providing a variety of positive impacts, the development of industrial zones and areas also led to a variety of negative impacts that relate to social and environmental aspects. The negative impacts on the ecological balance are in the form of waste pollution and environmental damage. The one that has to suffer from the direct impacts of pollutions is the people who live in the ‘impacted area’ or around the areas of the industrial zone. Pollution may include air pollution, water, soil, smoke, odour, vibration, noise, and also traffic congestion and flood, which may degrade the quality of the environment and, in turn, will reduce the carrying capacity of the environment. Sustainable development can be achieved if in the utilization of natural resources and environment is taking into account the carrying capacity, environmental capacity, and ecological footprint. However in reality, this important concept is still not be consistently applied in the planning and development of regional or industrial zones, including Genuk Industrial Zone Semarang. This study aims to find answers to research questions of whether the ecological footprint and the carrying capacity of the environment in Genuk Industrial Zone of Semarang has surpassed its carrying capacity, perceived from the aspects of land suitability, water availability, energy and waste assimilation. It also aims to identify the extent of ecological balance, people's perceptions on the existence of the industrial zone and the environmental impacts that occur along the direction of sustainable development. Research on public participation was conducted in 3 villages adjacent to Genuk Industrial Zone, namely the Village of Terboyo Wetan, Genuksari and Trimulyo. This research employed positivistic paradigm, with quantitative analysis, and explanatory type of research. The method being utilized in this research is survey and case study, which aim to determine the ecological footprint and carrying capacity of Genuk Industrial Zone. Considering the aspects of land suitability, water potential and demands, energy use and waste capacity, this study shows that the carrying capacity of the environment has been exceeded. The magnitude of the ecological footprint in Genuk Industrial Zone is 3755 gHa, which means that it needs 4.7 times appropriated land greater than its own area (± 800 hectares). The biocapacity of Genuk Industrial Zone is at 1064 gHa, therefore the ecological deficit is 2691 gHa, which implies the exceeding of it’s environmental carrying capacity. The ecological deficit per hectare is 3.36 and it categorized as very severe deficit region (ED> 2.0). The amount of carbon footprint of Genuk Industrial Zone is 146.2 tonnes equivalent CO2/year per hectare, much larger than the carbon footprint of Rungkut Industrial Estate Surabaya amounted to 41.29 tonnes CO2 equivalent /year per hectare. The community argues that the most prominent influence form on the population of Genuk Industrial Zone is the influence of environmental conditions. Impacts that occur among others, contaminated of the local wells, flood and tidal waves, the destruction of local farms, agricultural outcomes in peril, and increase in diseases associated with contaminated environmental conditions. The positive impact gained are rising people incomes, both from industrial activity and the informal sectors such as selling food, groceries, rented house and job opportunity among local workers / migrant workers and rising land prices. To support the sustainability of Genuk Industrial Zone, natural resources and energy have to be used efficiently, not to produce type of products which harm the natural system, not to change the layout of the zone specified in the masterplan, particularly open space for water infiltration and greenery, and not to violate the basic building coefficient. And most of all, cleaner production system and ecological friendly industry towards Eco Industrial Park have to be implemented. Keywords: ecological footprint, environmental carrying capacity, assimilative capacity, environmental pollution, sustainability.

Item Type:Thesis (PhD)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Doctor Program in Environmental Science
ID Code:40475
Deposited By:ms Hastomo Agus
Deposited On:21 Nov 2013 10:07
Last Modified:21 Nov 2013 10:07

Repository Staff Only: item control page