NILAI BERITA DAN ETIKA MEDIA DALAM TAYANGAN LIPUTAN PENYERGAPAN TERORIS DI TEMANGGUNG

Evie, Sofiati Aminuddin (2011) NILAI BERITA DAN ETIKA MEDIA DALAM TAYANGAN LIPUTAN PENYERGAPAN TERORIS DI TEMANGGUNG. Masters thesis, Master Program in Communication Science.

[img]
Preview
PDF
88Kb
[img]
Preview
PDF
151Kb
[img]
Preview
PDF
114Kb
[img]
Preview
PDF
302Kb

Abstract

ABSTRAKSI NILAI BERITA DAN ETIKA MEDIA PADA TAYANGAN PEYERGAPAN TERORISME TEMANGGUNG DI TvOne Peristiwa terorisme, merupakan peristiwa yang menarik bagi pers untuk diangkat sebagai berita. “Bad news is good news” merupakan jargon yang begitu populer di dunia jurnalistik, di mana pekerja media akan saling bersaing untuk memperoleh materi yang akan diberitakan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengungkap nilai berita (news value) yang muncul dalam tayangan penyergapan terorisme di Temanggung, meliputi nilai tentang ketepatan waktu, kontroversi, dan tokoh penting.(2) mengungkap penerapan etika media yang muncul dalam tayangan penyergapan teroris di Temanggung,meliputi materi nilai tentang keadilan, akurasi dan obyektifitas. Kerangka pemikiran teoritis yang digunakan adalah pemikiran Potter mengenai “news value” dan “etika media” dan Kovach terkait dengan sembilan elemen jurnalistik, yang dalam penelitian ini digunakan dua prinsip yaitu loyalitas, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkanlambatnya perkembangan peristiwadilapangan menyebabkan tvOne acapkali melakukan repetisi dan menayangkan filler (sisipan) untuk mengisi kekosongan berita, yang berdampak pada “ketidak tepatan waktu” atau tertunda sebanyak dua puluh satu persen (21%). Secara keseluruhan hasil penelitian ini telah mengungkap nilai-nilai berita pada tayangan penyergapan ini yang mencakup ketiga nilai berita yang digunakan. Kriteria yang digunakan untuk menilai kelayakan pemberitaan penyergapan terorisme seperti unsur kebaruan peristiwa dalam hal ini ketepatan waktu (66%), tokoh penting (keterkenalan-prominence) (tokoh teroris 92%, narasumber 94%), dan kontrofersi-pertentangan (57%) telah terpenuhi. Terungkapnya nilai berita pada tayangan ini dilengkapi dengan penayangan yang menarik (52%), dramatis (70%), dan penggunaan gaya bahasa hiperbolik (50%) dengan cara penyampaian yang deskriptif melengkapi pengungkapan nilai berita pada tayangan ini. Jurnalis berita dalam praktik kerjanya sering menghadapi konflik antara kelayakan berita dan standar etika. Fakta dilapangan menunjukkan, unsur akurasi mencapai (1%) dan obyektifitas 99%. Unsur fairness tidak terdapat sama sekali dalam tayangan ini, yang dapat dimaknai bahwa tvOne dalam tayangannya masih ada keberpihakan pada kepentingan media sendiri (tvOne), yaitu pemberitaan eksklusif. Dilema etika masih muncul disini terkait dengan pengulangan-pengulangan (repetisi) gambar sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999) kali dan repetisi informasi sebanyak tujuh ratus delapan puluh sembilan (789) kali. Repetisi tergambarkan sebagai upaya untuk memperdaya atau membohongi khalayak, yang menghasilkan berita sensasi yang didramatisasi sehingga penyajian berita menjadi berlebih-lebihan. Pada akhirnya dalam tayangan ini tvOne belum mampu berpihak pada kepentingan publik, dalam arti loyalitas yang diberikannya masih terbatas sehingga fungsi edukatif yang dibawa oleh televisi belum mampu menghadirkan sebuah masyarakat yang mulai menghargai informasi.   ABSTRACT THE VALUE OF NEWS AND MEDIA ETHICS TOWARDS THE TERORISM AMBUSH IN TEMANGGUNG Terorism, a very interesting event to be presented as a news. “Bad news is good news” is a jargon that is so popular in the world of journalism, a kind of place where media workers will competeto acquire materials to be presented. The objectives of the study are (1) to reveal the value of news (news value) which appears in the terorists ambush in Temanggung, including the value of punctuality, controversy, an important character, and the oddity. (2) To uncover the applications of media ethics arises in a terorists ambush in Temanggung, which includes fairness, accuracy and objectivity. Theoretical framework that the writer used is the Potter thought concerning “news value” and “media ethics” and also Kovach theory assosiated with the nine elements of journalism. The writer decided only to use two principles, namely loyalty and verivication. The results of the research shows that the slow progress happening during the ambush forced tvOne to conduct repetition and deliver filler (inset) to fill the void of the news, which then affects on the “inaccurate time” or delayed time for about twenty one percents (21%). The overall results of the reasearch reveals the news values taken from the ambush which can be categorized into three values. The criteria that the writer used to assess the feasibility of the terorist ambush are the elements of novelty, in this case, punctuality (66%), an important figure (fame-figure, 92% of them are the terorist leaders, and 94% for the sources), and coflict of controversy (57%) has already been fulfilled. However, tvOne has combined this news with a very attractive delivery (52%), dramatic situation (70%) and the use of hyperbolic language (50%) using a very descriptive way to stress the importance of the news. News journalists who works in field is often face a conflict between news feasibility and ethical standarts. The fairness of the news (0%) while the elements of accuracy which reaches to (99%) and 99% of the objectivity. The above finding indicates that in this terorist ambush, tvOne has adopted ethical consideration especially on the elements accuracy, and objectivity. The writer cannot find the element of fairness in the news at all which can be conclude that in this case, tvOne has a very strong tendency towards the importance of the media itself, that is exclusivenews. Ethical dilemmas which arise here due to the repetition of images, with number of nine hundred ninty nine time (999) and repetision of information with number of seven hundred eighty nine (789)time. Repetition described as an effort to deceive the audience, which produces the sensation of dramatized news and it looks like excessive news. At the end of the show tvOne was incapable of taking sides on public interest, in the sense of the loyalty. As a result the educational function carried by television cannot fulfill its duty to present a good and educative show towards its audience who began to appreciate information

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Communication Science
ID Code:38442
Deposited By:Magister Ilmu Komunikasi
Deposited On:14 Feb 2013 15:36
Last Modified:17 Dec 2015 18:18

Repository Staff Only: item control page