Representasi Konflik Ideologi antar Kelas dalam film The Help

Afidah, Astri Nur (2013) Representasi Konflik Ideologi antar Kelas dalam film The Help. Undergraduate thesis, Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP.

[img]
Preview
PDF
64Kb

Abstract

JUDUL : Representasi Konflik Ideologi antar Kelas dalam film The Help NAMA : Astri Nur Afidah NIM : D2C008013 Abstraksi Film merupakan media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. The Help merupakan salah satu film yang mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pembantu kulit hitam yang mencoba melawan struktur dominansi majikan kulit putih sebagai akibat dari adanya tindakan diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana tindakan resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam, gambaran karakter orang kulit hitam serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dan mengungkap ideologi yang ada. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis John Fiske untuk mengkaji dan meneliti tanda-tanda dalam film The Help. Ada tigal level yang diungkapkan Fiske, yakni level realitas, representasi, dan ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk resistensi terjadi dalam bentuk secara langsung ataupun secara tidak langsung. Bentuk perlawanan secara langsung terjadi secara verbal melalui pengucapan kata-kata kasar, jorok, umpatan, pemberian julukan, bentakan, dan sangkalan. Bentuk perlawanan secara langsung juga terjadi secara non verbal dengan cara mengcengkeram lengan baju, mengabaikan ucapan, dan melotot. Bentuk resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam dapat juga berupa ucapan verbal dan tindakan secara tidak langsung. Pengucapan cemoohan dan mengumpat di belakang majikan kulit putih adalah salah satu bentuk resisitensi dalam bentuk verbal secara tidak langsung. Penerbitan buku yang berisi tentang pemikiran dan perasaan orang kulit hitam adalah bentuk resistensi budak kulit hitam secara tidak langsung dan non verbal. Sebagian besar gambaran perlawanan tersebut dapat dilihat melalui penokohan, latar belakang cerita, simbol, tindakan tokoh dalam adegan, serta dialog. Tanda-tanda komunikasi dalam film ini diungkap melalui kerja kamera, pencahayaan, tata artistik, serta dialog. Film ini menunjukkan bagaimana kaum minoritas dapat berjuang melawan keterbatasan agar dapat setara dengan kaum mayoritas. Keywords : Semiotika, Film, Ras, Kelas, Kulit Hitam JUDUL : Conflict Representation of Class Ideology on The Help Movie NAMA : Astri Nur Afidah NIM : D2C008013 Abstract Film is mass media which has ability to deliver message to audience. The Help is one of the film which describe the situation from black helper who try to against the dominance structure of her white employer as the impact from the act in discrimination. This paper objective is to describe how the act in resistance which done by the black helper, the image character from black female and other form of act in resistance which presented by visual and linguistic symbol and explore the ideology. The researcher used qualitative approach and John Fiske semiotic analysis to examine and analyze the symbol in The Help movie. There are three levels which described by Fiske, there are reality level, representation and ideology. The result showed that resistance forms which happened in direct and in direct form. Direct resistance happened by scurrility, dirty word, and verbal abuse, jim crown, harsh words, and denial. Direct form of resistance also happened in non verbal by pulling the sleeve, ignorance and open eyed. Resistance form which was done by the black female can be form in verbal expression and indirect act. Insult pronouncing and swear secretly from the white employer is one of the indirectly verbal resistance. Book publication which consist of the idea and the feeling of black female is resistance act of black slave indirectly and non verbal. Most of the resistance image can be seen by the character, background, symbol, action in every scene, and dialogue. Communication symbol in this movie is explored by the camera works, lighting, artistic works and dialogue. This film shows how minorities can fight against the limits in order to be equal with majority. Keywords : Semiotics, Movie, Race, Class, Black Women, Minority REPRESENTASI KONFLIK IDEOLOGI ANTAR KELAS DALAM FILM THE HELP Astri Nur Afidah1 Film merupakan media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. The Help merupakan salah satu film yang mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pembantu kulit hitam yang mencoba melawan struktur dominansi majikan kulit putih sebagai akibat dari adanya tindakan diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana tindakan resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam, gambaran karakter orang kulit hitam serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dan mengungkap ideologi yang ada. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis John Fiske untuk mengkaji dan meneliti tanda-tanda dalam film The Help. Ada tigal level yang diungkapkan Fiske, yakni level realitas, representasi, dan ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk resistensi terjadi dalam bentuk secara langsung ataupun secara tidak langsung. Bentuk perlawanan secara langsung terjadi secara verbal melalui pengucapan kata-kata kasar, jorok, umpatan, pemberian julukan, bentakan, dan sangkalan. Bentuk perlawanan secara langsung juga terjadi secara non verbal dengan cara mengcengkeram lengan baju, mengabaikan ucapan, dan melotot. Bentuk resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam dapat juga berupa ucapan verbal dan tindakan secara tidak langsung. Pengucapan cemoohan dan mengumpat di belakang majikan kulit putih adalah salah satu bentuk resisitensi dalam bentuk verbal secara tidak langsung. Penerbitan buku yang berisi tentang pemikiran dan perasaan orang kulit hitam adalah bentuk resistensi budak kulit hitam secara tidak langsung dan non verbal. Sebagian besar gambaran perlawanan tersebut dapat dilihat melalui penokohan, latar belakang cerita, simbol, tindakan tokoh dalam adegan, serta dialog. Tanda-tanda komunikasi dalam film ini diungkap melalui kerja kamera, pencahayaan, tata artistik, serta dialog. Film ini menunjukkan bagaimana kaum minoritas dapat berjuang melawan keterbatasan agar dapat setara dengan kaum mayoritas. Kata kunci : Semiotika, Film, Ras, Kelas, Kulit Hitam, Minoritas 1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro astri.nurafidah@gmail.com CONFLICT REPRESENTATION OF CLASS IDEOLOGY ON THE HELP MOVIE Abstract Film is mass media which has ability to deliver message to audience. The Help is one of the film which describe the situation from black helper who try to against the dominance structure of her white employer as the impact from the act in discrimination. This paper objective is to describe how the act in resistance which done by the black helper, the image character from black female and other form of act in resistance which presented by visual and linguistic symbol and explore the ideology. The researcher used qualitative approach and John Fiske semiotic analysis to examine and analyze the symbol in The Help movie. There are three levels which described by Fiske, there are reality level, representation and ideology. The result showed that resistance forms which happened in direct and in direct form. Direct resistance happened by scurrility, dirty word, and verbal abuse, jim crown, harsh words, and denial. Direct form of resistance also happened in non verbal by pulling the sleeve, ignorance and open eyed. Resistance form which was done by the black female can be form in verbal expression and indirect act. Insult pronouncing and swear secretly from the white employer is one of the indirectly verbal resistance. Book publication which consist of the idea and the feeling of black female is resistance act of black slave indirectly and non verbal. Most of the resistance image can be seen by the character, background, symbol, action in every scene, and dialogue. Communication symbol in this movie is explored by the camera works, lighting, artistic works and dialogue. This film shows how minorities can fight against the limits in order to be equal with majority. Keywords : Semiotics, Movie, Race, Class, Black Women, Minority REPRESENTASI KONFLIK IDEOLOGI ANTAR KELAS DALAM FILM THE HELP 1. Pendahuluan Film merupakan salah satu bentuk media yang tidak lepas dari campur tangan pembuatnya untuk mengangkat isu ataupun persoalan yang terjadi di masyarakat. The Help (2011) adalah salah satu film yang bertema diskriminasi ras dan kelas. Film ini menarik untuk diteliti karena banyak ketidakpekaan masyarakat terhadap sistem ras dan kelas yang ada sehingga menimbulkan tindakan pelecehan, kekerasan, penghinaan, dan tindakan diskriminatif akibat memiliki ras dan kelas yang berbeda. Sistem diskriminatif dewasa ini masih terasa di Amerika, meskipun Presiden Amerika sekarang ini adalah seorang kulit hitam, tapi nyatanya kondisi jutaan warga kulit hitam di Amerika tidak banyak mengalami perubahan. Diskriminasi merupakan perilaku tak manusiawi dan tak bermoral yang pernah terjadi di tengah-tengah masyarakat internasional. Perilaku tidak manusiawi telah mengambil dua bentuk di Amerika. Pertama, perbudakan dan kedua adalah diskriminasi. Di Amerika Serikat, undang-undang kesamaan hak tidak banyak dihiraukan dan diskriminasi ras dapat disaksikan di seluruh sisi kehidupan sosial. Sebelumnya pada tanggal 20 November 1963 negara-negara anggota PBB telah membuat sebuah deklarasi yaitu United Nations Declaration on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (Deklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial) melalui Resolusi 1904 (XVIII). Deklarasi itu memuat penolakan terhadap diskriminasi rasial, penghentian segala bentuk diskriminasi rasial yang dilakukan oleh Pemerintah dan sebagian masyarakat, penghentian propaganda supremasi ras atau warna kulit tertentu atau langkah-langkah yang harus diambil negara-negara dalam penghapusan diskriminasi rasial (Jusuf, 2005:2). Namun demikian, karena deklarasi itu hanyalah sebuah pernyataan politis yang tidak bersifat mengikat secara hukum. Orang-orang kulit hitam dan kelompok minoritas adalah korban praktik diskriminasi yang terjadi secara luas di sana. Kondisi kehidupan dan kesejahteraan warga kulit berwarna juga mengenaskan. Mereka rata-rata hidup di bawah standar kesejahteraan Dalam film ini perbudakan dan sistem diskriminatif diperlihatkan secara gamblang. Bagaimana penyebutan “negro” untuk menyebut si pembantu kulit hitam. Begitu juga ketika Hilly dengan tegas mengatakan bahwa pembantu kulit hitamnya tidak diijinkan menggunakan toilet yang sama dengannya dengan kata-kata kasar. Secara garis besar, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan nilai-nilai yang dalam film The Help kaitannya dengan diskriminasi yang menyebabkan sikap resisten bagi pembantu kulit hitam. Lebih dalam lagi, penelitian ini berusaha mengungkapkan ideologi dominan yang melatarbelakangi tindakan melawan kepada majikan yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam. 2. Metoda Tipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik untuk mengungkapkan makna denotasi dan makna konotasinya. Metode semiotika Barthes juga dipadukan dengan The Codes of Television milik John Fiske yang meliputi level realitas, level representasi dan level ideologi. Level realitas terdiri dari kostum, riasan, latar, gaya bicara, ekspresi. Level representasi meliputi, aspek kamera, musik, pencahayaan, suara. Serta level ideologi merupakan hasil dari level realitas dan representasi yang diterima sebagai kode ideologis, seperti patriarki, ras, kelas dan feminisme. 3. Hasil Penelitian 3.1 Analisis Sintagmatik : Tanda-Tanda Konflik Ideologi Antara Pembantu Kulit Hitam Versus Majikan Kulit Putih Film The Help terbagi menjadi 148 adegan. Hal ini berarti bahwa terdapat 148 satuan bacaan. Didalamnya terdapat 22 adegan atau 22 leksia yang menurut peneliti memiliki makna penting dalam merepresentasikan tindakan diskriminasi yang menyebabkan resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam terhadap majikan kulit putih. Leksia tersebut meliputi adegan 1,2,6,8, 15, 22, 37, 39, 43, 50, 51, 52, 55, 65, 68, 69, 96, 116, 127, 128, 146 dan 148. 3.2 Analisis Paradigmatik Tindakan resisten antara pembantu berkulit hitam dan majikan kulit putih dalam film The Help dilatarbelakangi adanya Jim Crow Laws. Hukum Jim Crow adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menunjukkan minoritas si kulit hitam. Hukum Jim Crow adalah bentuk sistem kasta ras yang ada di Amerika bagian Selatan. Sistem ini membuat warga kulit hitam atau Afro- Amerika merasa terpisah dan didiskriminasikan.hukum terang-terangan melakukan pemisahan fasilitas bagi kulit hitam dan kulit putih. Fasilitas publik pun dibagi berdasarkan warna kulit. Tanda-tanda pemisahan ini ditampilkan dalam penulisan “White Only” atau “Colored” pada fasilitas umum seperti gereja, bioskop, kamar-mandi, dan pintu keluar-masuk di suatu gedung. Secara garis besar tindakan resistensi terjadi dalam dua bentuk yaitu, resistensi secara langsung dan resistensi secara tidak langsung. Resistensi secara langsung dapat terjadi melalui bentuk verbal dan non verbal. Begitu juga dengan resistensi secara tidak langsung, terjadi secara verbal dan non-verbal. 3.2.1 Resistensi Secara Langsung Resistensi secara langsung terjadi akibat sikap spontan sebagai dampak dari respon yang diterima. Sikap melawan ini biasanya terjadi tanpa direncanakan dan langsung menuju obyek sasarannya. Resistensi secara langsung dapat berupa ungkapan kata-kata yang kasar atau sikap. 3.2.1.1 Resistensi Secara Langsung dalam Bentuk Verbal Resistensi dalam bentuk verbal terjadi karena pemilihan diksi secara lisan yang diucapkan secara langsung kepada tokoh yang bersangkutan. Pada adegan 2, tampak percakapan antara Mae Mobley, putri Elizabeth, dengan Aibileen. Aibileen memangiil Mae dengan sebutan “Baby Girl.” Sedangkan Mae memanggil Aibileen dengan sebutan “Aibee” yang merupakan kependekan dari nama Aibileen. Resistensi verbal secara langsung juga di tunjukkan Mae pada adegan 54, saat Aibileen selesai menggunakan toilet khusus untuk pembantu kulit hitam, Elizabeth menyuruh Aibileen bergegas keluar dari kamar mandi karena ia akan pergi. Mae merengek untuk masuk ke dalam toilet, tetapi Elizabeth melarangnya. Setelah Aibileen keluar, Elizabeth langsung menyerahkan Mae kepada Aibileen, kemudian Mae berkata “you are my real mama, Aibee. (kamu ibu sejatiku, Aibee).” Pada frasa di atas, Mae menganggap Aibileen ibunya karena peran Elizabeth sebagai ibunya tidak berpengaruh banyak terhadap perkembangan Mae. Elizabeth hanya berfungsi sebagai wanita yang melahirkan saja, tanpa mau mengasuh dan merawat Mae. Aibileenlah yang sehari-hari mengasuh Mae dan mendidik Mae. Aibileen juga yang mengganti popok Mae di pagi hari. Hingga Mae merasa lebih nyaman berada dekat Aibileen ketimbang Elizabeth,ibunya sendiri. 3.2.1.2 Resistensi Secara Langsung dalam Bentuk Non-Verbal Resistensi dalam bentuk non verbal dilakukan dengan cara mencengkeram baju, ataupun melakukan hal-hal yang bersifat fisik, bukan berupa lisan. Pada adegan 50, Minny merasa ingin buang air kecil. Toilet khusus untuk pembantu kulit hitam berada di luar rumah, padahal hari itu sedang badai hebat. Tak lama Minny meminta ijin kepada Missus Walter untuk membuatkannya teh, tetapi Minny malah berbelok ke kamar mandi ketimbang ke dapur. Ia membuka roknya dan bersiap kecing. Kemudian, Hilly datang yang menangkap isyarat tidak beres dengan Minny menyusul ia ke kamar mandi dan mengetuk Minny. Ia mendapati Minny sedang berada di dalamnya. Karena kesal, Minny menekan tombol flush dan segera membetulkan roknya. Minny tidak jadi menggunakan toilet Hilly. Hilly yang tahu pembantunya, kulit hitam, menggunakan toiletnya marah dan segera menyuruh Minny dari toiletnya. Minny yang juga kesal langsung membanting pintu dan keluar. Hilly langsung memecat Minny saat itu juga. Minny lalu keluar rumah dan menembus badai untuk pulang kerumahnya. Keputusan Minny dalam menggunakan kamar mandi Hilly adalah suatu tindakan melawan sistem dari pemisahan fasilitas untuk kulit hitam dan kulit putih.. Dalam keadaan biasa, Minny tidak akan pernah menggunakan toilet yang khusus digunakan untuk orang kulit putih. Tetapi, badai yang hebat membuatnya mengambil keputusan tersebut. Tindakan membanting pintu juga diartikan sebagai tindakan melawan dominansi majikan. Membanting pintu juga dianggap sebagai salah satu perlakuan yang kasar akibat terbawa emosi. Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas. Sikap Minny dalam membanting pintu diartikan sebagai ekspresi dari terbawa emosi marah akibat ia dituduh menggunakan toilet, padahal ia tidak jadi menggunakannya. 3.2.2 Resistensi Secara Tidak Langsung 3.2.2.1 Resistensi Secara Tidak Langsung dalam Bentuk Verbal Resistensi secara tidak langsung dalam bentuk verbal terjadi ketika tokoh utama membicarakan tokoh lain dibelakangnya. Perkataan yang hanya diketahui tokoh lain, bukan pada tokoh yang bersangkutan. Aibileen di adegan 80 menambahkan Mae masih memakai popok ketika tidur sampai pagi tanpa diganti popoknya oleh Leeefolt. Sekitar 10 jam, Mae harus tidur dengan popok kotor. Aibileen tidak menegur Elizabeth, tetapi malah membicarakan masalah ini kepada Skeeter. Keengganan Elizabeth dalam mengganti popok dianggap Aibileen sebagai kegagalan menjadi seorang ibu dan istri. Perempuan dalam hidupnya mempunyai berbagai macam peran, peran sebagai seorang ibu tidak akan pernah lepas dari peran seorang istri, dan seorang ibu juga berpengaruh dalam membentuk peran seorang anak. Sedangkan Elizabeth tidak mampu menjalankan kedua fungsi tersebut. Perempuan memiliki sifat-sifat khas yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki, yakni melahirkan, memelihara, dan mengurus anak. Hal ini mendorong laki-laki berpendapat bahwa ruang lingkup yang sesuai dengan perempuan adalah rumah dan keluarga karena fisik dan pembawaan perempuan dianggap paling cocok dengan tugas-tugas tersebut (Saptiawan dan Sugihastuti, 2007: 19). Tetapi yang terjadi adalah, Elizabeth malah sibuk dengan dunia sosialnya dimana lebih mengutamakan kumpul-kumpul dan bermain kartu. Identitas sebagai nyonya sosialita lebih diutamakan Elizabeth ketimbang mengasuh anak perempuanya. 3.2.2.2 Resistensi Secara Tidak Langsung dalam Bentuk Non-Verbal Sikap perlawanan secara tidak langsung dalam bentuk non verbal terjadi ketika Aibileen, Skeeter, Minny dan para pembantu kulit hitam lainnya bersatu dalam membuat buku berjudul The Help. Buku ini berisi perasaan dan pendapat para pembantu kulit hitam terhadap sistem yang selama ini berlaku. Diskriminasi sudah cukup banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari para pembantu kulit hitam ini. Sehingga, kemunculan buku ini diharap mampu menyuarakan aspirasi para pembantu kulit hitam dalam melawan diskriminasi. Buku digunakan sebagai simbol “kebebasan” kulit hitam untuk menyuarakan apa yang menjadi keresahan hatinya. Manusia, selamanya tidak bisa memendam apa yang ia rasakan. Suatu saat mereka butuh wadah untuk menyalurkan perasaan dan pikiran yang dibungkam. Orang kulit hitam pada tahun 1963, banyak yang suaranya tidak didengar. Mereka hanya menjadi warga kelas dua. Sehinga buku yang diterbitkan ini merupaka titik balik dengan keluarnya pikiran dan perasaan mereka ke muka publik. Dengan bantuan Skeeter, para pembantu ini berharap dengan diterbitkannya buku ini, dapat mendorong mereka ke kehidupan yang lebih baik. Setara tanpa perlu ada diskriminasi lagi. Pendidikan Skeeter yang lulusan Universitas Mississipi membuat pikirannya lebih terbuka terhadap isu sosial seperti pembedaan fasilitas umum bagi kulit hitam dan kulit putih. Amerika Serikat yang pada jaman itu menganut sistem “terpisah tapi sejajar”, membuat Skeeter terinspirasi untuk membuat buku yang berisikan sudut pandang warga minoritas kulit hitam yang berkerja sebagai pembantu. Ia melihat banyak sekali pembungkaman yang terjadi bagi warga kulit hitam. Hak bicara mereka dirampas bahkan terkadang pembunuhan tanpa pengadilan marak terjadi. Resistensi yang terjadi di antara kulit hitam dan kulit putih tidak lepas dari ideologi yang mendasarinya. Adanya sikap merasa lebih superior di dalam suatu tatanan masyarakat daripada kaum yang lainnya, membuat kaum superior ini mengelompokkan manusia dalam kelas-kelas tertentu. Kelas budak adalah salah satunya. Pemberlakuan Hukum Jim Crow yang diterapkan di Amerika Serikat mulai tahun 1876 membuat sikap diskriminatif terasa dilegalkan. Beberapa stereotype negative mengenai orang kulit hitam sebagai orang yang bermasalah, dekat dengan sumber penyakit, kumuh, pencuri, miskin, juga ditampilkan sepanjang film ini. Horton dan Hunt (1999) menjelaskan ada lima penyebab munculnya prasangka yaitu : pertama, sikap etnosentrisme yang cenderung menganggap baik orang-orang dalam kelompok sendiri dan menganggap buruk orang-orang di luar kelompok. Kedua, adanya kenyataan sederhana bahwa setiap hari kita melakukan penilaian terhadap orang yang tidak terlalu kita kenal; stereotip, yang meskipun tidak akan pernah sepenuhnya benar, telah menjadi dasar penilaian kita yang mudah digunakan. Ketiga, berdasarkan pengalaman tentang beberapa individu dari kelompok lain, kita membuat generalisasi mengenai keelompok itu. Keempat kita cenderung menentukan stereotip yang menunjang anggapan kita tentang bagaimana seharusnya hubungan dan hak-hak istimewa dari kelompok-kelompok yang berbeda. Terakhir, kita cenderung melakukan prasangka terhadap orang yang bersaing dengan kita. Dalam segi hubungan antar kelompok etnik, diskriminasi merupakan cara memperlakukan orang berdasarkan pada klasifikasi kelompok, bukannya berdasarkan ciri-ciri individu. Diskriminasi tampak jika dalam memperkerjakan seseorang, menerima siswa di sekolah, menyewa rumah, memilih pasangan atau dalam banyak situasi lainnya, tanpa mempertimbangkan ciri-ciri kepribadian orang itu secara sungguh-sungguh (Horton dan Hunt, 1999: 65). Dapat diungkap pula dalam bab ini ideologi tentang perempuan sebagai agen perubahan. Tokoh-tokoh utama dalam film The Help adalah wanita-wanita yang berbeda kelas sosial. Perbedaan kelas sosial ini membuat wanita-wanita itu terbagi menjadi beberapa kelompok sosial. Wanita tidak hanya ditempatkan dalam kodrat untuk melahirkan dan menyusui tetapi juga untuk bertahan hidup. Situasi tahun 1963 yang menjadi latar film ini cukup mengesampingkan peran wanita dalam tatanan ekonomi dan politik. Terutama untuk wanita kulit hitam, mereka biasanya terlahir dari keluarga miskin yang bekerja sebagai pembantu secara turun-temurun. Sistem ekonomi kapitalis telah menyebabkan terjadinya relasi kekuasaan dan relasi pertukaran yang mengarah pada eksploitasi kelas pengguna (borjuis) terhadap kelas pekerja (proletariat) (Sunarto, 2009 : 36). Keberanian yang ditampilkan Skeeter dalam mengabaikan peraturan dan keberanian Aibileen dalam mengabaikan peraturan dimaknai sebagi tonggak perubahan bagi orang kulit hitam. Hingga akhirnya buku tersebut dapat terbit dan menjadi buku yang laris adalah salah satu perwujudan keberhasilan orang kulit hitam dalam menyuarakan pendapatnya. Secara politis, kaum wanita, mengalami keterasingan dari lingkungan sosialnya. Sehingga apabila kaum wanita ingin terbebas dari penindasan, mereka harus membebaskan diri dari kapitalisme tersebut.(Sunarto, 2009:37). Aibileen,Minny, dan Skeeter adalah tokoh-tokoh yang akhirnya berani keluar dari zona nyamannya untuk membuat suatu perubahan untuk melawan tindakan diskriminasi yang terjadi di sekitar mereka. Orang yang berani melakukan perubahan dalam artian positif bisa disebut dengan pahlawan. Pahlawan identik dengan pejuang kemerdekaan, orang yang gagah berani, pecinta tanah air, dan identik dengan pengorbanan nyawa. Namun, pada saat ini makna pahlawan bisa menjadi relatif. Seseorang yang melakukan perubahan bagi orang lain yang sifatnya menjadi lebih baik bisa disebut dengan pahlawan. Skeeter layak mendapat julukan ini karena keberaniannya melawan peraturan yang melarang orang kulit putih datang ke rumah orang kulit hitam, serta berinteraksi dalam rumah orang kulit hitam. Terlebih Skeeter berani menerbitkan buku berjudul The Help yang memuat perasaan dan pemikiran pembantu kulit hitam untuk mencapai kesetaraan. 4. Pembahasan Kedudukan orang kulit hitam masih dianggap sebagai masyarakat kelas kedua dalam kehidupan masyarakat kota Jackson, Missisipi, Amerika Serikat (Cincotta, 2000 : 340). Sehingga orang kulit hitam mendapat perlakuan yang bersifat diskriminatif dan mengucilkan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat dunia. Hal ini tidak lepas dari adanya hukum pemisahan kulit hitam dan kulit putih yang dikenal dengan nama Hukum Jim Crow. Banyak ucapan ataupun tindakan diskriminasi yang terjadi dalam film The Help. Pengucapan kata nigra, nigger atau colored off mendominasi di beberapa adegan. Sedangkan tindakan diskriminasi terjadi di beberapa adegan seperti pemisahan tempat duduk bagi kulit hitam dan kulit putih di dalam bis. Pemisahan fasilitas saat di bioskop dengan adanya pintu terpisah bagi si hitam dan si putih. Aibileen dan Minny sebagai pembantu dari golongan kulit hitam berusaha melawan majikan dan melawan sistem yang membelenggu golongan orang kulit hitam. Sikap perlawanan mereka didasari atas keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Hal ini dibenarkan oleh Wood (2004 dalam West dan Turner, 2008: 179) yang menjelaskan sikap berasal dari perlawanan terhadap mereka yang berkuasa dan menolak untuk menerima cara bagaimana masyarakat mendefinisikan kelompok mereka. Tindakan Aibileen dan Minny kemudian menginspirasi pembantu kulit hitam lainnya untuk keluar dari struktur kekuasaan dan dominansi majikan orang kulit putih. Hegel mengatakan bagaimana hubungan tuan-budak membentuk perbedaan sikap para partisipan dalam hubungan tersebut. Argumen Hegel menyatakan bahwa tidak ada visi tunggal berkaitan kehidupan sosial. Tiap kelompok sosial memersepsikan pandangan parsial mengenai masyarakat (West dan Turner, 2008; 179). Teori yang dipakai dalam penelitian adalah paradigma kritis dan standpoint theory. Teori ini mengungkapkan bahwa satu perspektif akan mengaburkan hal-hal lainnya. Seperti diungkapkan Riger (1992) standpoint theory memberikan kerangka untuk memahami sistem kekuasaan. Kerangka yang dibangun atas dasar pengetahuan yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari orang – mengakui bahwa individu itu sendiri adalah konsumen aktif dari realitas mereka sendiri dan bahwa perspektif individu-individu itu sendiri merupakan sumber informasi yang paling penting mengenai pengalaman mereka. Teori sikap berargumen bahwa tidak ada standar obyektif untuk mengukur sikap. Pada intinya, semua penyataan, ungkapan, dan teori harus dipahami sebagai perwakilan dari lokasi sosial yang obyektif (West & Turner, 2008:278). Dalam film The Help yang diteliti oleh peneliti menemukan bahwa sikap seorang Hilly dan Skeeter akan berbeda dalam memperlakukan seorang kulit hitam. Hilly memperlakukan pembantu kulit hitamnya dengan tindakan diskriminatif dan membatasi hak-hak oang kulit hitam. Sedangkan Skeeter, walaupun sama-sama berasal dari ras kulit putih seperti Hilly, ia memperlakukan pembantu kulit hitamnya dengan sopan, serta memenuhi hak pembantu kulit hitamnya dengan benar. Hal ini dibenarkan Mark Obey (1998) yang menggunakan teori standpoint untuk mempelajari ras dan budaya. Hierarki sosial tidak bersifat paten. Terdapat pergulatan yang berkesinambungan di dalam masyrakat untuk menentukan kelompok mana yang dominan dan siapa yang memiliki hak untuk berbicara bagi diri mereka dan orang lain (West dan Turner, 2008: 181). Asumsi penelitian ini adalah tercapai kesetaraan bagi kaum kulit hitam dan kaum kulit putih. Kesetaraan berhasil diperoleh ketika Aibileen dapat keluar dari pekerjaannya setelah 17 tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia kemudian menulis buku, cita-cita yang telah lama ia idam-idamkan. Sedangkan Minny, tetap bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Celia. Tetapi, ia mendapat gaji dan fasilitas yang layak. Tidak ada pemisahan kamar mandi, tidak ada pemisahan dapur, tidak ada pemisahan penggunaan peralatan makan, bahkan Minny dapat membawa serta anak-anaknya untuk tinggal di rumah Celia. Celia dan Johny pun memperlakukan Minny dengan baik. Minny dapat hidup tentram tanpa ada ancaman dari Leroy. Skeeter pada akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai penulis di New York. Ketiganya hidup bersahabat tanpa melihat warna kulit dan perbedaan kelas sosial yang ada diantara mereka. Hal ini tidak lepas dari pemikiran Harstock mengenai teori sikap. Kehidupan material tidak lepas dari posisi kelas yang menyusun dan membatasi pemahaman akan hubungan sosial. Ketika kehidupan material distrukturkan dalam dua cara yang berlawanan untuk dua kelompok yang berbeda, pemahaman yang satu akan menjadi kebalikan dari yang satunya. Ketika terdapat kelompok dominan kelompok bawahan, dan pemahaman dari kelompok yang dominan akan bersifat parsial dan merugikan (West dan Turner, 2008: 186). Harstock juga menyatakan bahwa kelompok yang menjadi bawahan harus berjuang bagi visi mereka mengenai kehidupan sosial. Pendapat Harstock ini kemudian yang menjelaskan bahwa orang kulit hitam perlu melakukan perlawanan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Fungsi ideologi dari pembuatan film ini adalah merepresentasikan bagaimana situasi politik, ekonomi, dan budaya (termasuk jender dan warna kulit) di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, dapat meraih apa yang menjadi mimpi bangsa Amerika. Disisi lain, merupakan gambaran dari perubahan yang signifikan dalam mencapai kesetaraan bagi orang kulit hitam. 5. Penutup 5.1 Simpulan Film The Help menyajikan rangkuman bagaimana hukum pemisahan antara kulit hitam dan kulit putih berdampak pada terbelenggunya hak-hak orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas yang sama dengan kulit putih. Film ini menyajikan bagaimana sikap-sikap diskriminasi timbul sebagai akibat adanya hukum pemisahan yang terjadi di kota Jackson, Missisipi. Berdasarkan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan : 1. Resistensi terjadi secara langsung, baik dalam bentuk verbal ataupun non verbal, dan secara tidak langsung, baik dalam bentuk verbal ataupun non verbal. Bentuk resistensi secara langsung dalam bentuk verbal terlihat pada adegan 2, 54, 127, 139 dan 148 dengan pengucapan kata-kata kasar, bentakan, sangkalan dan pemberian julukan yang memiliki makna khusus. Bentuk resistensi secara langsung non verbal terlihat pada adegan 50 dan adegan 148. Bentuk resistensinya adalah dengan melotot, mencengkeram baju. Sedangkang resistensi secara tidak langsung yang bersifat verbal terjadi dalam bentuk prasangka dan ucapan yang ditunjukkan secara sembunyi-sembunyi pada adegan 6 dan 80. Sedangkan resistensi secara tidak langsung dalam bentuk non verbal ditunjukkan melalui penerbitan buku yang melalui buku tersebut sebagai tindakan perlawanan atas dibungkamnya suara orang kulit hitam. 2. Ideologi kapitalis menuntun majikan dan pekerja terfokus kepada struktur kapitalisme yang dibangun atas hubungan pertukaran. Kapitalisme membuat para nyonya-nyonya kulit putih untuk dapat bertindak sewenang-wenang kepada pembantu kulit hitamnya akibat ia memiliki modal. Sedangkan pembantu kulit hitam menjadi kaum minoritas karena ketiadaan alat produksi. Hal ini membuat kaum majikan dapat memaksa kaum protelar untuk melakukan apa yang kaum majikan inginkan. Akibatnya, para pembantu ini tidak memiliki hak untuk mengutarakan pemikiran mereka sendiri. Sehingga para pembantu ini melakukan perlawanan untuk memperjuangkan hak-hak mereka. 5.2 Rekomendasi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemikiran dan gagasan ilmiah. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya pengetahun dalam mengenal tanda-tanda resistensi yang dilakukan oleh kaum minoritas dalam mendobrak struktur dominan di dalam sistem di masyarakat. Nantinya, penelitian ini diharapakan dapat menjadi salah satu rekomendasi bagi peneliti lainnya yang akan melakukan penelitian dengan kajian semiotika, khususnya di bidang media massa dan resistensi antar kelas. Secara teoritis, Film The Help merupakan salah satu film Hollywood yang bermutu tinggi. Dengan alur cerita yang enak dan akting para pemainnya yang tidak dapat dipungkiri menjadikan film ini menjadi salah satu judul film unggulan. Namun, tidak lepas dari unsur komersialisasi. Isu tentang warna kulit diangkat untuk mendongkrak penjualan tiket. Film yang diganjar berbagai penghargaan ini juga tidak lepas dari keinginan para kapitalis untuk menuai keuntungan sebanyak-banyaknya. Secara praktis, penulis berharap agar para sineas membuat film yang berkualitas tidak hanya dari segi sinematografinya saja, tetapi juga dalam bertutur, sehingga penonton dapat mengambil mengambil pesan yang disampaikan oleh film tersebut, meskipun penonton tidak berasal dari kalangan akademisi, tetapi bisa menonton film lebih kritis. Secara sosial, dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agar masyarakat tidak menilai seseorang minoritas dari hanya apa yang tampak dan melekat pada mereka seperti warna kulit gelap dekat dengan kejahatan adalah sesuatu yang tidak benar. Tidak dibenarkan bagi seorang manusia untuk memiliki melakukan kejahatan atau tindakan yang tidak baik kepada kaum minoritas atas dasar prangka karena prasangka tidak selamanya benar. Prasangka dapat terjadi ketika orang yang berada di struktur kelas yang lebih tinggi merasa paling benar untuk menentukan tindakan bagi kelas yang berada di bawahnya. Sehingga, dengan adanya penelitian ini diharapakan dapat membuat masyarakat atau penikmat film menjadi lebih kritis dalam menyikapi perbedaan ras, kelas dan golongan. Meskipun latar belakang film The Help adalah kota Jackson, Missisipi, nyatanya tindakan diskriminatif juga melanda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sehingga penelitian ini juga diharapakan membuka cakrawala penonton film ini di Indonesia untuk semakin menghargai perbedaan dan lebih bersikap bijaksana dalam menghadapai perbedaan ras maupun kelas. Seringnya tanpa sadar, kita sering mengucapkan kata-kata yang bersifat rasis sehingga diharapkan dengan melihat film ini sikap peka bisa lebih terbina agar tidak lagi terjadi kekerasan ataupun tindakan diskriminatif akibat perbedaan ras ataupun kelas. 6.Daftar Pustaka Barker, Chris. (2000). Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogyakarta : PT Bentang Pustaka. Barthes, Roland. (1991). Mythologies. New York: The Noonday Press. Barthes, Roland. (2007). Petualangan Semiologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Burton, Graeme. (2005). Media and Society: Critical Perspective. New York: Open University Press. Chandler, Daniel. (2002). Semiotics, the Basics. New York: Routledge. Cincotta, Howard. (2004). Garis Besar Sejarah Amerika. United States Information Agency (Badan Penerangan Amerika Serikat). Danesi, Marcel. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta : Jalasutra. Dow, Bonnie J. and Julia T. Wood. (2006). The Sage Handbook of Gender and Communication. London: Sage Publications.Inc Eco, Umberto diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir. (2009). Teori Semiotika. Bantul: Kreasi Wacana. Fiske, John. (1987). Television Culture. London and New York: Routledge. Fiske, John. (1990). Introduction to Communication Studies. New York: Routledge. Fiske, John. (2004). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra. George D. Zgourides & Christie S. Zgourides. (2000). Sociology. United States : IDG Books Worldwide.Inc Griffin, Emory A. (2011). A First Look at Communication Theory. New York:McGraw Hill. Hall, Stuart. (1997). Representations, Cultural Representations and Signifying Practices. New Delhi: Sage Publications. Horton, Paul B and Chester L. Hunt. (1999). Sosiologi. Jakarta : Erlangga. Krolokke, Charlotte and Anne Scott Sorensen. (2006). Gender Communication Theories and Analyses: From Silence to Performance. London: Sage Publications. Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. London: Sage Publication. Mangunhardjana, Margija. (1976). Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius. Moleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. McQuail, Dennis. (1987). Mass Communication Theory, second edition. Jakarta : Erlangga. Sugihastuti dan Saptiawan, Itsna Hadi. (2007). Gender dan Inferioritas Perempuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Yogyakarta: Grasindo. Sunarto. (2000). Analisis Wacana Ideologi Gender Media Anak-Anak Semarang. Semarang: Penerbit Mimbar Yayasan Adikarya Ikapi-Ford Foundation. Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara. Tong, Rosemarie Putnam. (2004). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra. West, Richard, dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi Introducing Communication Theory : Analysis and Application buku 2. Jakarta : Salemba Humanika. Widagdo, Bayu. (2007). Bikin Film Indie itu Mudah. Yogyakarta: Andi Offset. Zoebazary, Ilham. (2010). Kamus Istilah Televisi dan Film. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Referensi Film: Taylor, Tate. (2011). The Help [DVD]. United States of America : DreamWorks Pictures Production. Referensi Makalah: Jusuf, Ester Indahyani. (2005). Konvensi Diskriminasi Rasial. Makalah. Dipresentasikan pada Konvensi Internasional Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Sebuah Kajian Hukum Tentang Penerapannya di Indonesia di Jakarta.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:37738
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:02 Jan 2013 10:09
Last Modified:02 Jan 2013 10:09

Repository Staff Only: item control page