Analisis Implementasi Pelacakan Pasien Mangkir pada Program Penanggulangan Tuberkulosis RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga Tahun 2010

Harminto, Harminto (2012) Analisis Implementasi Pelacakan Pasien Mangkir pada Program Penanggulangan Tuberkulosis RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga Tahun 2010. Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF
19Kb
[img]
Preview
PDF
36Kb
[img]
Preview
PDF
73Kb

Abstract

Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan 2012 ABSTRAK Harminto Analisis Implementasi Pelacakan Pasien Mangkir pada Program Penanggulangan Tuberkulosis RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga Tahun 2010 xvii + 147 halaman + 41 tabel + 5 gambar + 11 lampiran Implementasi pelacakan pasien mangkir adalah aktivitas yang dilakukan komponen Jejaring Eksternal DOTS Rumah Sakit dalam melakukan pelacakan pasien mangkir untuk mencegah pasien putus berobat. Meskipun RS Paru Dr Ario Wirawan Salatiga telah menerapkan Strategi DOTS sejak tahun 2004 dan Jejaring Eksternal tahun 2007, namun data DOTS RS tahun 2005 s/d 2009 menunjukkan bahwa implementasi pelacakan pasien mangkir belum sesuai harapan. Menurut Goerge C. Edward III, keberhasilan implementasi suatu kebijakan ditentukan oleh 4 faktor yaitu : komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor implementasi pelacakan pasien mangkir pada Program Penanggulangan Tuberkulosis RS Paru Dr Ario Wirawan Salatiga tahun 2010. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Informan penelitian adalah anggota Tim DOTS RS Paru Dr Ario Wirawan Salatiga, Wasor Kabupaten dan Petugas TB Puskesmas terkait. Analisis data menggunakan metode content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pelacakan pasien mangkir belum efektif. Hal ini karena adanya kendala komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Kendala komunikasi mencakup keterlambatan Tim DOTS RS melakukan identifikasi pasien mangkir, kurang optimalnya peran wasor sebagai mediator penyampaian informasi, serta ketidak jelasan sebagian informasi yang disampaikan. Kendala sumber daya mencakup keterbatasan SDM, anggaran, fasilitas dan wewenang, khususnya pada Wasor Kabupaten. Kendala disposisi mencakup kurangnya motivasi dan komitmen petugas terhadap implementasi pelacakan pasien mangkir. Kendala struktur birokrasi mencakup belum adanya struktur organisasi, pembagian tugas, sistem pelaporan dan pertanggung jawaban, serta SOP pelacakan pasien mangkir. Untuk meningkatkan implementasi pelacakan pasien mangkir disarankan untuk melakukan perbaikan pada ke empat faktor tersebut, khususnya pada pelaksanaan identifikasi pasien mangkir. Kata Kunci : Pasien mangkir, TBC, DOTS Implementasi Kebijakan Jumlah Pustaka : 30 (tahun 1992 – 2010) Diponegoro University Postgraduate Program Master’s Program in Public Health Majoring in Health Policy Administration 2012 ABSTRACT Harminto Analysis on the Implementation of Missing Patient Tracking on Tuberculosis Alleviation Program at Dr. Ario Wirawan Pulmonary Hospital Salatiga, 2010 xvii + 147 pages + 41 tables + 5 figures + 11 enclosures Implementation of missing patients tracking was an activity done by hospital DOTS external networking component to prevent patient from breaking the treatment. Although Dr. Ario Wirawan pulmonary hospital Salatiga had applied DOTS strategy since 2004 and external networking since 2007, hospital DOTS data 2005-2009 indicated that implementation of missing patient tracking had not fulfilled according to what was expected. According to George C. Edward III, successfulness of policy implementation was determined by 4 factors: communication, human resources, disposition and bureaucracy structure. The objective of this study was to explain factors of the implementation of missing patient tracing in tuberculosis control program at Dr Ario Wirawan pulmonary hospital Salatiga in 2010. This was a qualitative research. Data collection was done using in depth interview method and document review. The informants were members of the DOTS team of Dr. Ario Wirawan Pulmonary Hospital Salatiga, district TB Supervisor (Wasor), and TB staffs from related primary healthcare center. Data was analyzed using content analysis method. Results of the study showed that the implementation of missing patient tracking was still ineffective. It was caused by several obstacles: communication, human resources, disposition and bureaucracy structure. Communication problems included delaying in identifying missing patients by hospital DOTS team, inadequate role of wasor as an information mediator, and unclear information conveyed. Human resource problems were mostly on the district wasor. Disposition problem included lacking of motivation and commitment of the health workers towards implementation of missing patient tracking. Bureaucracy structure problems included no organizational structure, job distribution, reporting system and accountability, and missing patient tracking standard operating procedures (SOP). To improve the implementation of missing patient tracking, it is suggested to improve the four factors especially on the implementation of missing patient identification. Key words : missing patient, TBC, DOTS regulation implementation Bibliography : 30 (1992 – 2010)

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:Q Science > Q Science (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Health
ID Code:37355
Deposited By:Mr. Mikm Undip
Deposited On:29 Nov 2012 13:14
Last Modified:29 Nov 2012 13:14

Repository Staff Only: item control page