“HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON PROGRAM KUTHANE DEWE DENGAN TINGKAT PEMAHAMAN ISI BERITA YANG DIDAPAT”

WILDAN, RICKY YUNIAR (2012) “HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON PROGRAM KUTHANE DEWE DENGAN TINGKAT PEMAHAMAN ISI BERITA YANG DIDAPAT”. Undergraduate thesis, Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP.

[img]
Preview
PDF
308Kb

Abstract

RESUME PRAKTEK PENELITIAN KOMUNIKASI “HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON PROGRAM KUTHANE DEWE DENGAN TINGKAT PEMAHAMAN ISI BERITA YANG DIDAPAT” Di era informasi ini, kebutuhan untuk mengakses berita dan informasi masyarakat semakin meningkat. Banyaknya media yang memberikan informasi, tentu saja memberikan berbagai pilihan bagi masyarakat. Mulai dari media cetak, media elektronik, bahkan sampai media online. Televisi merupakan salah satu jenis media elektronik yang bisa dikatakan berperan besar dalam memenuhi kebutuhan informasi manusia. Melalui media ini kita bisa memperoleh segala bentuk informasi aktual serta hiburan yang atraktif dan variatif. Salah satu sarana informasi dari televisi adalah melalui program berita. Contoh Pada stasiun TV RCTI. Mereka mempunyai satu program berita yaitu Seputar Indonesia yang sudah bertahan selama 21 tahun. Di SCTV ada Liputan 6. Tayangan ini menyajikan liputan berita baik itu berita nasional ataupun manca negara. Stasiun TV nasional memang memberikan informasi dan berita yang cukup aktual, tapi lingkup yang diberitakan masih lebih banyak di skala nasional. Keberadaan stasiun televisi swasta nasional belum mampu mengangkat isu lokal. Kenyataannya TV swasta nasional yang menyiarkan hingga ke daerah-daerah muatan konten lokal tidak lebih dari 10 persen saja. http://beritadaerah.com/article/bali/64926 Kurangnya porsi pemberitaan berita lokal, secara tidak langsung memicu munculnya stasiun TV lokal. Contohnya : TV Borobudur, merupakan TV Lokal pertama yang ada di Semarang. Kehadirannya menjadi pencetus bagi perkembangan stasiun TV lokal. Salah satu program yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton adalah “Kuthane Dewe”. Kuthane Dewe merupakan program berita yang memiliki kekhasan dalam penggunaan bahasa Jawa Semarang dalam penyampaian beritanya. Selain Kuthane Dewe, ada juga stasiun tv lokal lain yang mengusung format acara sejenis. Contohnya Cakra TV dengan program “Pawartos Jawi Tengah” Namun menurut survei yang dilakukan dreamlight research di tahun 2012 menunjukan kalau TV Borobudur merupakan stasiun TV lokal di Semarang yang paling diminati. http://dreamlightresearch.com/ Penyampaian informasi dalam berita yang disajikan oleh TV Nasional biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Berbeda dengan TV Nasional, TV lokal mengedepankan penggunaan bahasa daerah di salah satu programnya. Penggunaan bahasa Jawa pada program Kuthane Dewe adalah bahasa ngoko Semarangan. Tapi apakah semua audiens yang menyaksikan program Kuthane Dewe memahami informasi yang disampaikan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton acara Stasiun TV lokal “Kuthane Dewe” dengan tingkat pemahaman isi berita yang diperoleh. Berbicara tentang televisi maka erat kaitannya dengan intensitas menonton televisi. Intensitas merupakan kegiatan yang berulang-ulang dan lebih dari satu kali dengan frekuensi yang semakin lama semakin meningkat. “Intensitas memiliki definisi keadaan (tingkat, ukuran), lama kejadian tersebut.” (http://digilib.petra.ac.id/) Merujuk pada penelitian yang dilakukan Indrawan (2004:36) Intensitas menonton televisi diartikan sebagai interaksi kumulatif terus-menerus dalam jangka waktu yang relatif lama dengan televisi. Sedangkan pemahaman adalah sesuatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar. Suharsimi menyatakan bahwa pemahaman adalah bagaimana seseorang mempertahankan, membedakan, menduga menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Jadi pemahaman terhadap isi berita bisa diartikan dengan bagaimana seseorang bisa mempertahankan, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, dan menuliskan kembali informasi yang mereka dapatkan melalui media, khususnya informasi yang disampaikan dalam program berita televisi. Pendekatan uses and gratification mempersoalkan apa yang dilakukan orang pada media, yakni menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca surat kabar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita. Inilah yang disebut sebagai efek komunikasi massa. Efek komunikasi massa sendiri meliputi aspek kognitif, afektif, dan behavioral. Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 2004:217-219) variabel bebas (X) variabel terikat (Y) Pada penelitian ini, populasinya adalah audiens program Kuthane Dewe berusia 25 – 45 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pembagian atau pengelompokan melalui beberapa tahap pengelompokan. Dikenal dengan nama klaster banyak tahap (multistage) atau sampling gugus bertahap. Multistage dalam penelitian ini melalui tahap sebagai berikut :  Memilih secara acak beberapa kota besar di Indonesia, maka terpilihlah kota Semarang.  Memilih secara acak daerah yang berada di wilayah kota Semarang, maka terpilihlah Kecamatan Semarang Selatan.  Memilih secara acak kelurahan di Kecamatan Semarang Selatan, maka terpilihlah Kelurahan Mugassari Intensitas Menonton Program Kuthane Dewe Tingkat Pemahaman Isi Berita  Memilih secara acak RW RT di kelurahan Mugassari, maka terpilihlah RT 5 RW 1 dan jumlah warganya 84 orang.  Dari total 84 warga tersebut, jumlah warga yang memiliki usia di atas 25 tahun adalah 68 warga. Jadi jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 68 orang. Berdasarkan hasil temuan penelitian dalam tabulasi silang terdapat hubungan antara varibel (X) intensitas menonton “Kuthane Dewe” dengan (Y) tingkat pemahaman isi berita yang didapat. Semakin tinggi intensitas seseorang menonton program “Kuthane Dewe”, maka semakin tinggi pula tingkat pemahaman terhadap isi berita yang didapat. Walaupun terdapat hubungan di antara variabel X dan Y, tapi ada hal lain yang bisa diperhatikan. Ada 20 responden yang memiliki intensitas tinggi namun tingkat pemahaman yang diterimanya rendah. Hal itu tidak berbanding jauh dengan jumlah responden yang memiliki intensitas menonton tinggi dan tingkat pemahaman isi berita yang juga tinggi, yaitu 21 responden. Dari hasil penelitian ini, bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para praktisi maupun instansi terkait, bahwa selain intensitas menonton yang tinggi, juga dibutuhkan faktor lain agar pemahaman terhadap isi berita bisa diterima dengan baik oleh penonton program “Kuthane Dewe”. Kesimpulan Terdapat hubungan antara intensitas menonton program “Kuthane Dewe” dengan tingkat pemahaman isi berita yang didapatkan. Semakin tinggi tingkat intensitas menonton, semakin tingggi pula tingkat pemahaman isi berita yang didapat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa Jawa dalam penyampaian berita di program “Kuthane Dewe” tidak terlalu menjadi masalah bagi responden. Hal ini disebabkan penggunaan bahasa Jawa ngoko yang masih sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari responden. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa intensitas menonton program “Kuthane Dewe” masih tinggi. Hal ini mungkin disebabkan oleh keinginan responden untuk mendapatkan informasiinformasi tentang peristiwa lokal yang belum bisa diberikan oleh stasiun tv nasional. Selain itu, tingkat pemahaman isi berita yang didapat oleh responden masih cenderung rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh jam tayang yang dini hari, sehingga responden merasa malas untuk memahami berita yang disampaikan. Selain itu juga disebabkan oleh aktifitas lain yang dilakukan responden ketika menonton program tersebut. Saran  Akademis: Berdasarkan hasil dan temuan dalam penelitian ini, peneliti merekomendasikan untuk diadakan penelitian lanjutan terhadap efek media massa, khususnya penelitian yang berhubungan dengan muatan berita stasiun TV Lokal.  Praktis: Berdasarkan hasil dari penelitian ini, sebagai bahan masukan bagi tim “Kuthane Dewe”, bahwa jam tayang program tersebut, juga memengaruhi tingkah pemahaman isi berita. Pada jam tayang “Kuthane Dewe” pukul 24:00 penonton merasa terlalu lelah untuk menonton karena sudah melakukan aktifitas selama seharian. Selain itu, jika mereka menonton biasanya dilakukan untuk mengisi waktu luang di malam hari. DAFTAR PUSTAKA Rahkmat, Jalaludin. 2004. Psikologi Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung Indrawan S, Doni. 2004. “Pengaruh Perbedaan Latar Belakang Budaya dan Intensitas Menonton Televisi Terhadap Persepsi Seseorang Pada Tayangan Mistis (Studi Pada Masyarakat Abangan dan Santri)”. Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang. http://dreamlightresearch.com/ di akses pada 6 Mei 2012 pukul 21:00

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:37209
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:23 Nov 2012 10:34
Last Modified:23 Nov 2012 10:34

Repository Staff Only: item control page