VIDEO DOKUMENTER: “KUDA TERAKHIR”

Nugroho, Cahyadi (2012) VIDEO DOKUMENTER: “KUDA TERAKHIR”. Undergraduate thesis, Faculty of Social and Political Sciences.

[img]PDF
233Kb

Abstract

VIDEO DOKUMENTER: “KUDA TERAKHIR” ABSTRAK Sarana komunikasi massa yang tidak terpisahkan dengan masyarakat adalah televisi tak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga media hiburan, dan edukasi bagi masyarakat dari berbagai usia. Kelebihan televisi lainnya, yaitu menerima akurasi informasi dan menyampaikan nilai-nilai atraktif kepada sejumlah besar orang secara serentak dan luas. Televisi menjadi media yang cukup strategis untuk menayangkan produk jurnalistik seperti video dokumenter, karena hampir seluruh kalangan dapat mengakses media ini. Format dokumenter televisi dinilai lebih tepat untuk ditayangkan di televisi, sebab cara-cara pengambilan gambar disesuaikan dengan televisi. Metode pembuatan video dokumenter atau dokumenter televisi ini terdiri dari 3 tahap; pra produksi, produksi, serta paska produksi. Negosiasi dan lobi untuk penayangan video dokumenter dilakukan dengan stasiun-stasiun televisi lokal yang ada di Semarang, diantaranya yakni TVRI Jawa Tengah, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, dan Pro TV. Video dokumenter ini mengangkat tema sosial budaya yang menyuguhkan pengamen jaranan atau kuda lumping ke dalam sebuah tayangan televisi. Selain itu juga isi pesan yang ditayangkan lewat dokumenter televisi merupakan sesuatu hal yang kompleks tentang nasib kesenian jaranan yang kurang diperhatikan. Meski begitu, kelompok pengamen Wargo Budoyo telah memperkenalkan kesenian tersebut dijalanan dengan meminta imbalan. Dari situ kemudian muncul pertanyaan apakah mereka melestarikan atau merendahkan kesenian? Pesan tersebut harus tepat sasaran, maka dari itu penggunaan format dokumenter dinilai lebih efektif untuk menyampaikan pesan kepada penonton daripada menggunakan format lain semisal talkshow, investigasi, atau berita. Dengan menggunakan pendekatan dokumenter dokumentaris mempunyai ruang lebih luas dan lugas untuk menyampaikan ide-ide sebagai produser, scriptwiter, dan sutradara. Sehingga tujuan yang diinginkan oleh dokumentaris tercapai yaitu memberi informasi dan edukasi kepada pemirsa. Walaupun ada keterbatasan durasi yang ditentukan oleh media partner sekitar 3 menit, tetapi dengan tayangnya video ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa karya tersebut merupakan produk jurnalistik. Video tersebut tayang pada tanggal 16 Mei 2012 di TV Borobudur dalam bentuk filler. Kata Kunci: Komunikasi Massa, Televisi, Dokumenter, Sutradara, Scriptwriter, Produser, Jaranan VIDEO DOCUMENTARY: “KUDA TERAKHIR” ABSRACT The communication facility mass inseparable with society is television not only the source of information, but also a pleasant pastime, and education to the people of many ages. Excess television other namely receive accuracy of information and conveying values attractive to a number of a great simultaneously and wide. Television became a strategic media to showing journalistic product such as documentary video, because almost viewers are able to access this media. Television format documentary considered more appropriate to shown on television, how-how for simulcast adapted to television. A method of making documentary video or documentary television consisting of 3 phase; pre production, production, and pasca production. Negotiation and lobbying for screenings documentary video done with local television that is in Semarang some of them are TVRI Jawa Tengah, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, and Pro TV. This documentary video bring up the theme socio-culture who furnish buskers jaranan or kuda lumping into a impressions television. It also contents message posted passing documentary television was something a complex subject about fate art jaranan less reck. Nevertheless, group buskers Wargo Budoyo has introduced the music of street by asking some money. From there then came the question whether they preserve or humbling art? The message should to be right on target, therefore the use of documentary format considered more effective to convey a message to the audience instead of using another format such as talkshow, investigation, or news. By the use of documentary space approach documentaries have more widely and straight to convey ideas as producers, scriptwiter, and director. So, the purpose which it is desired by documentaries achieved namely giving information and education to the viewers. Although there are constraints a duration as specified by the media partners about three minutes, documentary video is enough to prove that the work is a product of journalism. The video broadcast on may 16, 2012 on Borobudur TV in the form of filler. Keywords: Mass Communication, Television, Video Documentary, Director, Scriptwriter, Producers, Jaranan

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:37159
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:21 Nov 2012 21:35
Last Modified:21 Nov 2012 21:35

Repository Staff Only: item control page