BAHASA MASYARAKAT PERKOTAAN: TANTANGAN PEMERTAHANAN BAHASA PALEMBANG

Dyah, Susilawati (2010) BAHASA MASYARAKAT PERKOTAAN: TANTANGAN PEMERTAHANAN BAHASA PALEMBANG. In: Seminar Nasional Pemertahanan Bahasa Nusantara, 6 Mei 2010, Hotel Pandanaran Semarang.

[img]
Preview
PDF - Published Version
105Kb

Official URL: http://mli.undip.ac.id

Abstract

Masyarakat perkotaan secara kultur sering dibedakan dari masyarakat pedesaan. Masyarakat kota dianggap lebih maju dan modern, dan lebih mudah menerima perubahan. Dari sisi budaya, masyarakat di perkotaan lebih majemuk. Keberagaman etnis yang tinggal menyebabkan akulturasi budaya tidak terhindarkan lagi. Akibatnya, benturan budaya menjadi wujud persaingan kepentingan antarbudaya yang saling tarik. Budaya mana yang muncul dan diklaim sebagai budaya baru menjadi dilema bagi pemilik identitas budaya lama. Nilai manfaat bagi budaya lama dan/atau budaya baru menjadi pertimbangan pemenangan salah satu budaya tersebut. Palembang, sebagai ibu kota pemerintahan provinsi Sumatera Selatan adalah salah satu kota yang mengalami akulturasi budaya akibat sentuh budaya yang ada di sana. Berbagai etnis yang mendiami wilayah ini menyebabkan budaya asli dari indigenous people (warga asli) mengalami erosi dan penirisan. Salah satu yang ikut tergerus adalah bahasa sebagai alat utama berkomunikasi. Bahasa Palembang sebagai bahasa yang digunakan oleh warga asli etnis Palembang kian lama “terganggu” oleh bahasa etnis lain yang majemuk di wilayah ini. Ferguson (1971) menyebut konsep diglosia dalam hal kontak bahasa. Diglosia yang dimaksud, masing-masing bahasa yang ada dan digunakan dalam satu masyarakat dapat memainkan fungsi kemasyarakatan yang berbeda. Satu bahasa bisa menjadi varian tinggi (H) dan bahasa yang lain menjadi varian rendah (L). Bahasa Palembang dan bahasa-bahasa pendatang yang ada di Palembang masing-masing dapat menduduki salah satu varian tersebut. Persaingan bahasa Palembang dan bahasa pendatang, bahkan bahasa nasional dapat menjadi sisi yang menarik untuk dicermati dengan melihat batas-batas penggunaan dan/atau keterpengaruhan pola penggunaan bahasa Palembang akibat sentuh budaya dengan etnis lain. Alih kode atau campur kode dalam penggunaan bahasa dalam tuturan sehari-hari juga merupakan pilihan berbahasa yang dapat menunjukkan sikap berbahasa seseorang. Sikap berbahasa masyarakat Palembang dari generasi ke generasi itu juga menjadi salah satu gejala yang dapat dijadikan titik tolak kebertahanan bahasa Palembang.

Item Type:Conference or Workshop Item (Speech)
Uncontrolled Keywords:diglosia, sikap berbahasa, kebertahanan bahasa
Subjects:P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Linguistic
ID Code:36875
Deposited By:Mr Ahlis Ahwan
Deposited On:14 Nov 2012 08:26
Last Modified:14 Nov 2012 10:07

Repository Staff Only: item control page