TEMPAT PERBELANJAAN KONTEMPORER PETERONGAN SEMARANG

TANURANGGA, ALFI (2000) TEMPAT PERBELANJAAN KONTEMPORER PETERONGAN SEMARANG. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
54Kb

Abstract

1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan tenaga-tenaga kerja aktif yang terkena program rasionalisasi perusahaannya beralih profesi menjadi pedagang kaki lima atau DT (dasaran terbuka) pada beberapa tempat terbuka di Kota Semarang, salah satu lokasi yang dirasakan strategis untuk menawarkan dagangan, salah satunya adalah kawasan Pasar Peterongan. Krisis yang telah berlangsung selama dua tahun lebih ini juga berdampak menurunkan daya belisebagian besar masyarakat terutama kasta ekonomi menengah ke bawah yang tentu saja mempengaruhi pola konsumsi mereka. Gayung bersambut, para pedagang “pancakan” yang memenuhi jalan lingkungan dan pedestrian di sekitar Pasar Peterongan tersebut merasa mendapatkan “pasar” untuk kelangsungan hidup mereka sehingga tetap bertahan pada posisinya, bahkan menarik minat orang lain untu ikut berjualan disana. Sebenarnya Pasar Peterongan sebagai pasar tradisional tidak sendirian eksis di kawasan tersebut, dalam jarak sekitar seratus meter terdapat Pasar Wonodri yang sama-sama berkelas pasar wilayah; tetapi Pasar Peterongan hadir jauh lebih awal sehingga memiliki ikatan emosional lebih kuat dengan warga Semarang, dengan demikian tidak heran bila lebih banyak orang yang berbelanja ke pasar tersebut dan memancing para pedagang berkumpul ke pasar tersebut dan memancing para pedagang berkumpul ke sana; maka jadilah Pasar Peterongan penuh dan kurang teratur. Lokasi Pasar Peterongan yang berada di tengah-tengah perumahan penduduk dengan tingkat kepadatan cukup tinggi merupakan problem tersendiri, selain kesulitan lahan untuk pengembangan pasar juga sirkulasi di sekitar pasar menjadi semakin tidak teratur oleh aktivitas warga. Selain itu jalan di depan Pasar Peterongan (Jl. MT. Haryono) adalah jalan arteri sekunder yang sering dilalui kendaraan dari arah Utara yang akan meninggalkan kota Semarang. Kemacetan lalu lintas sering terjadi pada jam-jam sibuk karena ruas jalan tidak mampu menampung peningkatan jumlah kendaraan pada jam-jam tersebut. Sikap para penyeberang jalan baik pedagang maupun lainnyayang tidak mau memanfaatkan jembatan penyeberangan semakin memperburuk lalu lintas kawasan. Semarang adalah sebuah kota pusat perdagangan yang terus tumbuh mengikuti perkembangan peradaban manusia. Salah satu konsekuensi dari perkembangan tersebut adalah peningkatan dan perubahan sarana-prasarana perdagangan yang menyangkut segi arsitektural, komoditas, ekonomi, social-budaya dan teknologi Pasar Peterongan bersama Pasar Bulu dan Pasar Johar adalah tiga titik tumbuh perekonomian BWK I yang memiliki cakupan pelayanan berskala kota, sedangkan ruas Jalan MT. Haryono-Dr. Cipto dan sekitarnya adalah kawasan bernilai ekonomis tinggi sehingga mendapat toleransi pengembangan zona komersial mengarah ke zona pemukiman (Rencana Detail Tata Ruang Kota 1995-2005. BWK I, Bappeda Kodia Semarang, III-29). Alih fungsi zona pemukiman menjadi area komersial tersebut terlihatpada kawasan perumahan di sekitas Pasar Peterongan yang berubah menjadi deretan pertokoan, bahkan di wilayah tersebut kini telah mendapat dua buah pasar modern multistories dengan hadirnya “Java Supermall” mendampingi supermarket “Sri Ratu” yang telah ada sebelumnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kawasan Pasar Peterongan merupakan kawasan komersial bernilai ekonomis tinggi dan konsekuensiya sarana-prasarana perdagangan yang sudah tidak sesuai dengan masanya selayaknya diperbaharui dan atau dikembangkan. Arsitektur tidak selayaknya semata-mata menghamba pada aturan/petunjuk pemerintah dan mengejar kebutuhan jaman yang biasanya hanya masalah kepentingan dan gengsi kelompok masyarakat tertentu. Urgensi arsitektur sebagaimana awal mulanya yang merupakan usaha manusia melindungi manusia dari gangguan alam ‘shelter’, memiliki penekanan makna social yang lebih dalam daripada penyelesaian kasus individual. Berdasarkan latar belakang tersebut, sudah seharusnya nuansa social dalam perencanaandan perancangan yang mencakup kebutuhan masyarakat banyak dipertimbangkan, salah satunya adalah kasus Pasar Peterongan ini. Besarnya animo warga kota “Lumpia” khususnya masyarakat di sekitar pada, umumnya para umumnya para pengguna Pasar Peterongan untuk melakukan transaksi disana menunjukkan bahwa mereka masih membutuhkan keberadaan pasar tersebut sebagaimana bentuknya pada saat ini yaitu sebagai pasar tradisional karena alasan-alasan tertentu yang sebaian besar dipengaruhi oleh siruasi krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Kompleksitas permasalahan pada kawasan Pasar Peterongan tersebut perlu dipikirkan secara komprehensif alternative pemecahannya, misalnya : kombinasi pasar modern dan tradisional untuk mengatasi tantangan zaman sekaligus memberikan ruang hidup bagi “si lemah”, pengadaan area parker yang sebagian juga berfungsi sebagai tempat bongkar muat, perluasan area pasar secara vertical, penataan ulang sungai kecil dan jalan-jalan lingkungan di sekitar pasar, serta alternative pemecahan lain yang pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas kawasan secara keseluruhan. 1.2. Tujuan dan Sasaran Tujuan pembahsan ini adalah mendokumentasikan dalam sistematika tertentu data-data umum mengenai pasar atau tempat pembelanjaan, data-data khusus kawasan Pasar Peterongan mengenai lokasi, sarana dan prasarana penunjang, data pengguna bangunan, kondisi fisik, social budaya, ekonomi, serta data-data lain yang terkait dengan keberadaan Pasar Peterongan di Kodia Semarang agar dapat dianalisa potensi dan permasalahannya, yang pada gilirannya dapat memberikan masukan yang akurat untuk menetapkan landasan dan program redesain Pasar Peterongan. Sasaran penulisan laporan ini adalah tersusunnya program perencanaan dan konsep dasar perancangan dari proyek penataan dan pengembangan Pasar Peterongan, yang akan menjadi landasan dalam proses perancangan fisi pasar. 1.3. Manfaat Manfaat subjektif penulisan laporan ini adalah memberikan dasar berpijak dan acuan dalam merumuskan, menganalisa, menentukan, dan mendesain aspek-aspek arsitektural selama proses perancangan fisik redesain Pasar Peterongan ini di dalam studio grafis. Manfaat objektif yang diharapkan dapat tercapai adalah terbukanya cakrawala pandang pembaca laporan ini terhdap nuansa dan kondisi tempat perbelanjaan tradisional, khususnya Pasar Peterongan; dan dapat memberikan masukan berartibagi penyusunan laporan, artikel, dan dokumentasi lainnya yang memiliki objek bahasan sejenis dengan laporan ini. 1.4. Metode Pembahasan Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah dokumentatif dan deskriptif, yaitu mengumpulkan data-data primer dan sekunder melalui observasi lapangan, studi instansional, studi literature, studi banding, dan wawancara; yang kemudian dipaparkan dalam sistematika tertentu. Metode yang digunakan untuk membahas data-data yang telah terdokumentasi tersebut adalah deskriptif argumentative, yaitu studi komparatif dengan objek studi banding, analisis data, perumusan potensi dan masalah, serta penentuan dan penetapan program dasar perencanaan dan perancangan; yang diuraikan dalam argumentasi berdasarkan masukan yang diterima. 1.5. Kerangka Bahasan Sistematika yang digunakan dalam penulisan laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan Pada bab pembuka ini terdapat uraian latar belakang penulisan laporan, tujuan dan sasaran laporan serta manfaatnya, metode yang digunakan dalam penulisan dan kerangka pembahasannya. Bab II Tinjauan Pustaka Bagian laporan yang menguraikan hal-hal tentang pasar antara lain tentang pengertian, objek, pelaku, sarana dan prasarana. Dibahas pula situasi dan kondisi Pasar Johar Semarang sebagi objek studi banding. Bab III Tinjauan Kota Semarang dan Pasar Peterongan Bab yang meninjau Kotamadia Semarang dan Pasar Peterongan dalam skala kota, lingkup pelayanannya, pengaruhnya bagi lingkungan di sekitar pasar, dan tinjauan detail Pasar Peterongan. Bab IV Kesimpulan, Batasan, dan Anggapan Bab yang berisi kesimpulan dari ulasan bab sebelumnya, dan batasan serta anggapan untuk membatasi cakupan Tugas Akhir. Bab V Kajian dan Pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan Pada Bab ini diuraikan pendekatan-pendekatan terhadap factor-faktor yang menentukan dan yang dibutuhkan dalam perencanaan dan perancangan fisik Redesain Pasar Peterongan. Bab VI Konsep dan Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Bagian akhir dari laporan yang menetapkan landasan, tujuan, konsep dasar perencanaan dan perancangan, serta merumuskan persyaratan perancangan dan program perancangan.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:3035
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:31 Dec 2009 08:19
Last Modified:31 Dec 2009 08:19

Repository Staff Only: item control page