MUSEUM BATIK TULIS BAKARAN DI KOTA PATI

WIDIASTUTI, RATIH (2011) MUSEUM BATIK TULIS BAKARAN DI KOTA PATI. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik .

[img]
Preview
PDF - Published Version
68Kb

Abstract

1.1 Latar Belakang Batik, kesenian yang diturunkan oleh nenek moyang kita, adalah salah satu kerajinan khas Indonesia. Batik bukan hanya merupakan sebuah warisan budaya lokal, namun sudah benar-benar menjadi warisan budaya bangsa yang wajib dilestarikan. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal batik baik dalam coraknya yang tradisional maupun yang modern. Baik wanita maupun pria Indonesia gemar memakai batik baik pada acara formal maupun non-formal. Bakaran adalah sebuah desa yang ada di kecamatan Juwana kabupaten Pati. Desa ini ada 2 yakni Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon. Saat ini, desa Bakaran mampu menjadi ikon Pati yaitu dengan karya budaya masyarakatnya. Banyak budaya ditemukan di Juwana, terutama didaerah ini, sehingga masyarakat menjulikinya daerah seni budaya. Salah satu karya budaya masyarakat yang mampu menjadi perhatian masyarakat luas adalah karya batik tulisnya. Karya batik ini juga mampu mengangkat citra daerah. Seni Batik Bakaran ini berjalan sejak Zaman Majapahit yaitu antara abad 14 sampai sekarang. Dan sampai saat ini corak Batik Bakaran sangat khas dan unik yang motifnya sangat berbeda dengan batik-batik lain walaupun asal mulanya dari budaya batik yang sama yaitu budaya keraton. Hal ini disebabkan karena sudah terjadi perpaduan kebudayaan pedalaman dan pesisir yang akhirnyamenjadikan karya masyarakat ini sangat unik. Batik Bakaran pada jaman sebelum berbagai macam krisis dan reformasi cukup terkenal di dalam negeri maupun luar negeri bahkan tidak kalah dengan batik lain, terlihat dari cukup banyaknya pesanan batik Bakaran oleh para turis. Tapi seiring adanya perubahan yang terjadi pada negeri kita tercinta Batik Bakaran pun merasakan dampak yang kurang baik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap semua hal yang berhubungan dengan batik Bakaran, para pengrajinnya dan perekonomian secara umum. Mau tak mau karena memang tidak ada pilihan yang cukup menguntungkan maka kerajinan batik Bakaran pun agak menghilang dari dunia Perbatikkan Indonesia. Namun sekitar pertengahan tahun 2007. Batik Bakaran mulai “thukul” (tumbuh) kembali dengan segala daya dan upaya. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah untuk mewajibkan para PNS untuk mengenakan pakaian batik pada hari-hari tertentu. Dan hal tersebut disambut dengan antusias oleh masyarakat Kota Pati. Berdasarkan uraian singkat diatas maka dapat dikatakan bahwa Batik Tulis Bakaran adalah salah satu asset budaya dari Kota Pati dan patut untuk dilestarikan. Cara untuk melestarikan asset budaya tersebut dapat melalui berbagai macam cara seperti kebijakan yang telah ditempuh oleh Pemerinah Daerah Kota Pati maupun dengan cara yang lain. Seperti dengan mendirikan Museum Batik Tulis Bakaran Di Pati. Selain bertujuan untuk melestarikan aset budaya daerah pendirian Museum Batik Tulis Bakaran Di Kota Pati juga bertujuan untuk lebih mengembangkan kegiatan pariwisata Di Kota Pati. Aktivitas sektor pariwisata telah didorong dan ditanggapi secara positif oleh pemerintah dengan harapan dapat menggantikan sektor pertanian dan kelautan yang menjadi primadona dalam penerimaan devisa daerah. Sektor pariwisata memang cukup menjanjikan untuk turut membantu menaikkan pendapatan daerah dan secara pragmatis juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Prospek industri pariwisata di Kota Pati diprediksikan akan semakin cemerlang, dengan perkiraan pada tahun 2010 akan mengalami pertumbuhan hingga 4,2% per tahun. Selain faktor-faktor di atas, industri pariwisata juga memiliki karakter unik yaitu bahwa sektor pariwisata memberikan efek berantai (multiplier effect) terhadap distribusi pendapatan penduduk di kawasan sekitar pariwisata, elastis terhadap krisis nasional yang terjadi dalam arti tidak terlalu terpengaruh oleh krisis keuangan dalam negeri, ramah lingkungan serta kenyataan bahwa industri pariwisata merupakan industri yang nir konflik. 1.2 Tujuan Dan Sasaran 1.2.1 Tujuan Tujuan dari penyusunan LP3A ini adalah untuk medapatkan suatu penekanan desain yang spesifik sesuai karakter/keunggulan judul yang diajukan. Sehingga produk yang dihasilkan akan lebih baik dan terarah sesuai dengan originalitas dan citra yang dikehendaki dari judul yang diajukan. 1.2.2 Sasaran Sasaran dari penyusunan LP3A ini adalah agar terciptanya usulan langkah-langkah pokok proses perencanaan dan perancangan Museum Batik Tulis Bakaran Di Kota Pati melalui aspek-aspek panduan perencanaan dan perancangan sesuai dengan alur pikir proses penyusunan LP3A dan desain grafis yang akan dikerjakan. 1.3 Manfaat 1.3.1 Secara Subjektif • Manfaat dari penyusunan LP3A ini adalah sebagai persyaratan kelulusan dalam mata kuliah tugas akhir agar dapat masuk kedalam Tahap Eksplorasi Desain Tugas Akhir Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. • Sebagai dasar acuan proses eksplorasi desain yang merupakan bagian dari tahapan Tugas Akhir. 1.3.2 Secara Obyektif Diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan, baik bagi mahasiswa bersangkutan maupun mahasiswa lain dan masyarakat umum. 1.4 Ruang Lingkup 1.4.1 Aspek Substansial Ruang lingkup substansial dari perencanaan dan perancangan “Museum Batik Tulis Bakaran Di Kota Pati” adalah termasuk didalam kategori bangunan massa banyak yang dapat memadukan berbagai teknik pameran yang informatif dan atraktif, serta kegiatan pendukung lainnya seperti pelatihan pembuatan batik, studi mengenai batik, pusat informasi batik, pusat pemasaran, ruang pertemuan, dll. I.4.2 Aspek Spatial Lokasi dari Museum Batik Tulis Bakaran Di Kota Pati terletak pada kawasan pendidikan, perkantoran, dan fasilitas umum. Dari segi aksesibilitas lokasi tapak dapat dengan mudah dijangkau oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. 1.5 Metode Pembahasan Metode pembahasan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metoda deskriptif yaitu dengan mengumpulkan dan menguraikan data primer dan sekunder yang telah didapatkan. 1. Data primer didapat dengan melakukan observasi langsung, studi banding, wawancara dan membuat dokumentasi, 2. Data sekunder didapat dari data statistik dan kepustakaan (studi pustaka/literature) yang terkait. 1.6 Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan yang digunakan dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur disusun dengan urutan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Penjabaran mengenai Latar Belakang Permasalahan, Tujuan dan Sasaran, Manfaat, Lingkup Pembahasan, Metoda Pembahasan, Sistematika Pembahasan dan Alur Pikir. BAB II KAJIAN PUSTAKA Menguraikan tinjauan umum yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan Museum Batik seperti, Tinjauan museum, Tinjauan Pameran, Tinjauan tentang batik, Studi Komparasi, Kesimpulan Studi Komparasi. BAB III TINJAUAN MUSEUM BATIK TULIS BAKARAN DI KOTA PATI Berisi tentang Tinjuan Umum Kota Pati, Tinjauan Khusus Batik Tulis Bakaran, Tinjauan Museum Batik Tulis Bakaran. BAB IV BATASAN DAN ANGGAPAN Berisi tentang batasan dan anggapan yang akan digunakan sebagai acuan perencanaan dan perancangan BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Berisi tentang pendekatan program ruang, program tapak, penekanan desain, sistem struktur dan sistem utilitas. BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Berisi tentang konsep dan program dasar perancangan yang dituangkan secara garis besar sebagai kelanjutan dari proses pendekatan arsitektur, Program Ruang dan Tapak Terpilih.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:29275
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:06 Sep 2011 13:09
Last Modified:06 Sep 2011 13:09

Repository Staff Only: item control page