PENGEMBANGAN KAWASAN GUA SUNYARAGI SEBAGAI TAMAN WISATA BUDAYA DI CIREBON

RADITYO, PUNGKI (2006) PENGEMBANGAN KAWASAN GUA SUNYARAGI SEBAGAI TAMAN WISATA BUDAYA DI CIREBON. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik .

[img]
Preview
PDF - Published Version
59Kb

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar didunia yang memiliki kekayaan akan kebudayaan yang beraneka ragam. Melihat keadaan tersebut sudah jelas bahwa Indonesia sangat kaya akan potensi wisata, tinggal bagaiman pemerintah dan masyarakat dapat mengolahnya agar dapat lebih menarik dan mengasilkan devisa yang menguntungkan bagi negara dan kemakmuran rakyat sendiri. Terdapat sekitar 3.000 peninggalan arkeologi, berupa bangunan, situs dan permukiman. Peninggalan ini termasuk benda tak bergerak. Dengan jumlah sebanyak itu, kebudayaan Indonesia boleh sejajar dengan kebudayaan Mesir, Cina, dan India. Peninggalan arkeologi yang terawat dan tergarap sebagai objek wisata budaya dengan baik jumlahnya masih sangat sedikit, selebihnya jatuh bangun untuk bisa bertahan agar tak lapuk dimakan waktu. Wisata budaya atau arkeologi bukanlah angan-angan. Wisata budaya bisa jadi yang terbaik dalam dunia pariwisata kita. Objek budaya mampu menyumbang banyak uang ke pundi-pundi negara dan tak ketinggalan kantung masyarakat. Namun, kalau mau jadi yang terbaik harus ada beberapa syarat yang dipenuhi. Objek budaya harus dirawat dengan sungguh-sungguh. Sesudah itu, dikemas rapi dengan bungkus paket wisata yang menarik. Saat ini bangsa Indonesia sedang berusaha untuk melewati krisis yang berkepanjangan. Pemerintah terus mengembangkan berbagai aspek kehidupan untuk kehidupan mayarakat yang lebih baik. Salah satu daerah yang sedang berkembang adalah kota Cirebon yang letaknya sangat strategis, yaitu dijalur pantura yang sangat ramai dan merupakan daerah yang berbatasan langsung antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pemerintah daerah Cirebon berupaya untuk lebih memperkenalkan Cirebon sebagai kota wisata dan budaya. Masih banyak onjek yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang mampu bersaing dengan objek-objek yang ditawarkan oleh daerah lain di Indonesia, seperti Keraron Kasepuhan, Keraton Kecirebonan, Keraton Kanoman, Taman Ade Irma Suryani, makam Sunan Gunung Jati, Taman Kalijaga, dan Gua Sunyaragi. Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan tersebut, perlu dibuat suatu fasilitas yang khusus memperkenalkan Kota Cirebon, yaitu objek-objek wisata yang ditawarkan kepada wisatawan, sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satunya adalah Gua Sunyaragi. Objek budaya ini berada disisi jalan Brigjen Dharsono (by pass), Cirebon. Kontruksi dan Komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Dari sisa peninggalan yang ada, terlihat kecanggihan dan keunikan hasil budaya manusia pada zamannya. Gua Sunyaragi merupakan peninggalan budaya masa lampau, yaitu bagian dari Keraton Kasepuhan. Kawasan Gua Sunyaragi saat ini perlu dikembangkan menjadi sebuah sarana yang menampilkan obyek Gua Sunyaragi, sekaligus memperkenalkan kebudayaan setempat, dalam hal ini kesenian daerah yang berkembang di Cirebon secara luas kedalam sektor pariwisata. Pengembangan kawasan Sunyaragi sebagai Taman Wisata Budaya Cirebon tidak lepas dari nilai-nilai tradisi yang ada. Wisata budaya yang direncanakan nanti harus dapat menampilkan ciri khas daerah Cirebon. Berdasarkan rumusan kesepakatan yang tertuang dalam Visi Kota Cirebon sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor I Tahun 2004 tentang Rencana Strategis Kota Cirebon 2004 – 2008, salah satu misinya adalah melestarikan dan mengembangkan pariwisata yang bertumpu pada nilai-nilai tradisi dan budaya Cirebon. Cirebon sebagai kota Budaya dan Pariwisata diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional. 1.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama yang akan dicapai adalah mengembangkan kawasan Gua Sunyaragi menjadi sebuah komplek taman wisata budaya yang dapat lebih memperkenalkan kebudayaan Cirebon secara khusus dan sekaligus melestarikan keberadaan objek wisata tersebut, yaitu Gua Sunyaragi. Sasaran Tersusunnya usulan dasar-dasar perencanaan dan perancangan yang bertitik tolak dari judul pembahasan yaitu Pengembangan Kawasan Gua Sunyaragi sebagai Taman Wisata Budaya di Cirebon berdasarkan atas aspek-aspek panduan perancangan. 1.3 MANFAAT Manfaat yang diperoleh dari pembahasan ini adalah : Secara Subyektif 1. Penyusunan makalah ini digunakan sebagai Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang akan dilanjutkan dalam bentuk desain grafis. 2. Sebagai salah satu persyaratana mata kuliah Tugas Akhir yang harus dipenuhi untuk kelulusan sarjana srata 1 (S1) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Secara Obyektif 1. Dengan adanya pengembangan dan penambahan fasilitas pada kawasan Gua Sunyaragi diharapkan dapat terus melestarikan objek cagar budaya sekaligus sebagai promosi wisata daerah Cirebon dalam upaya peningkatan pendapatan daerah. 2. Bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan, keberadaan Taman Wisata Budaya ini dapat memberikan wawasan dan pemahaman terhadap pentingnya pelestarian budaya yang menjadi ciri khas daerah dan bangsa sehingga memberi pengaruh positif bagi semua pihak. 1.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup penyusunan naskah Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Pengembangan kawasan Gua Sunyaragi sebagai Taman Wisata Budaya di Cirebon mempunyai penekanan pada keterpaduan aspek wisata dan aktualisasi nilai-nilai tradisi dan budaya sebagai tema pengembangan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan elemen-elemen pembentuk kawasan, aspek astetis dan struktur akan diuraikan sebagai satu kesatuan ruang yang berkesinambungan. Sedangkan langam arsitektur yang diangkat adalah gaya arsitektur Cirebon yang ciri khasnya dapat terlihat pada bangunan-bangunan keraton di Cirebon. 1.5 Metode Pembahasan Kawasan Gua Sunyaragi merupakan objek wisata budaya yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Kota Cirebon yang mempunyai misi menjadi kota wisata dan budaya perlu memperhatikan keadaan tersebut, selain itu Cirebon juga belum memiliki fasilitas yang dapat mempromosikan wisata dan budaya khas daerah. Untuk melakukan penatan dan pengembangan, maka perlu dilakukan survey lapangan sehingga diperoleh data-data eksisting kawasan yang akurat, potensi dan permasalahan yang ada sehingga dapat dibahas lebih jelas dan sistematis. Melihat kondisi tersebut, maka pembahasan yang digunakan adalah deskriptif analitis untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang sedang berkembang dilapangan denga mengumpulkan data melalui pengamatan langsung, wawancara, dan data statistik baik dari literatur maupun dari instansi yang terkait. 1). Pengumpulan Data Data yang diperlukan adalah : a.Data Primer, yaitu data utama yang berupa informasi mengenai aspek pembahasan. Data diperoleh dengan melakukan survey lapangan dan wawancara. # Survey lapangan, dilakukan dengan pengamatan langsung dan membuat dokumentasi pengamatan pengamatan dengan pemotretan kondisi dan potensi tapak. # Wawancara, dengan mengajukan pertanyaan mengenai jumlah pengunjung, macam kegiatan dan fasilitas yang tersdia serta mengenai kondisi daerah setempat kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, dan pengelola Gua Sunyaragi. b.Data Sekunder, yaitu data yang didapatkan dari sumber/ informan kedua, meliputi berbagai berbagai informasi yang bersifat melengkapi data primer, seperti data monografi dan kebijakan pemerintah. Data tersebut diproleh dengan metode dokumentasi, yaitu penelusuran dan penyalinan arsip. 2). Analisa dan Penampilan Data Analisis dilakukan sejak berada di lapangan dengan melakukan organisasi data dilanjutkan dengan menghubungkan antara data yang satu dengan yang lain untuk kemudian diidentifikasi. Dalam rangka mengolah data yang telah dikumpulkan, digunakan teknik analisis logik untuk data yang bersifat kualitatif dalm bentuk uraian sistematis. Untuk mengolah data kuantitatif digunakan teknik analisis statistik, dalam bentuk penyajian tabel atau grafik Proses dalam melakukan analisis adalah : 1. Melakukan reduksi data, merupakan proses seleksi, pemfokusan, dan penyederhanaan, sehingga didpatkan data yang benar-benar diperlukan dalam proses perencanaan dan perancangan. 2. Data Display, menampilkan data yang penting berupa tabel atau grafik untuk memudahkan analisis. 3. Pendekatan-pendekatan, dilakukan terhadap lima aspek, yaitu terhadap : a.Aspek Fungsional Pendekatan yang dilakukan untuk menentukan pelaku kegiatan, jenis dan kelompok kegiatan, materi atraksi, fasilitas, hubungan kelompok ruang, dan kapasitas. b.Aspek Kontekstual Melihat keterkaitan antara bangunan yang direncanakan terhadap lingkungan atau tapak dimana bangunan tersebut direncanakan. c.Aspek Kinerja Pendekatan terhadap bagaimana suatu bangunan dapat menjalankan aktivitas didlamnya dengan baik, meliputi utilitas dan sirkulasi. d.Aspek Teknis Pendekatan untuk menjelaskan permasalahan yang berkaitan dengan teknis bangunan, seperti struktur dan utilitas. e.Aspek Arsitektural Pendekatan terhadap aspek arsitektural yang akan menentukan gubahan massa dan tampak bangunan. 1.6 Sistematika Pembahasan Kerangka bahasan dalam Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Pengembangan Kawasan Gua Sanyuragi sebagai Taman Wisata Budaya disusun sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan Menguraikan tentang tema secara umum pengembangan kawasan Gua Sunyaragi, yang didalamnya meliputi latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang ingkup yang membatasi bahasan, metode pembahasan yang digunakan, serta kerangka bahasan yang berisi tentang pokok-pokok pikiran pada setiap bab. Bab II : Tinjauan Pengembangan Kawasan dan Taman Wisata Budaya Menguraikan tinjauan tentang teori-teori yang digunakan untuk mendukung perencanaan dan perancangan pengembangan kawasan Gua Sunyaragi sebagai Taman wisata Budaya Cirebon. Bab III : Tinjauan Kota Cirebon, Kawasan Gua Sunyaragi dan Studi Banding Tinjauan mengenai gambaran kondisi dan potensi kawasan Gua Sunyaragi baik fisik maupun non fisik yang mengarah pada pengembangan sebagai Taman Wisata Budaya, dan studi banding yang relevan dengan konteks judul. Bab IV : Batasan dan Anggapan Batasan dan anggapan yang dihasilkan dari analisis dan akan digunakan sebagai acuan dalam pendekatan program perencanaan dan perancangan. Bab V : Pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Hal-hal yang berkaitan dengan karaktere pelaku baik macam maupun aktivitasnya, luas lahan yang digunakan, fasilitas yang dibutuhkan, jenis struktur dan bahan bangunan yang akan dipakai sesuai dengan karakteristik lahan. Bab VI : Program Perencanaan dan Perancangan Menjelaskan program perencanaan dan dasar-dasar eksplorasi perancangan dengan tetap memperhatikan konteks kelestarian alam sekitar.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:26718
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:11 Apr 2011 10:45
Last Modified:11 Apr 2011 10:45

Repository Staff Only: item control page