JAVANESE HERBAL CENTER

Dwijo Wicaksono, Totok (2006) JAVANESE HERBAL CENTER. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik .

[img]
Preview
PDF - Published Version
71Kb

Abstract

Jamu sudah dikenal di Indonesia khususnya di Jawa sebagai perawatan kesehatan sehari-hari, maupun sebagai sarana pemulihan kesehatan bila sembuh dari sakit. Penduduk di tanah Jawa, dengan dilingkungi oleh alam tetumbuhan yang berlimpah ruah diatas tanah yang subur, yang dalam idtilah pewayangan disebut “Gemah Ripah Loh Jinawi”, menggunakan jamu tidak hanya untuk melengkapi makan sehatnya sehari-hari. Namun, juga digunakan sebagai sarana perawatan kesehatan, kebugaran, dan keawetan tubuh dan penampilannya. Penggunaan jamu telah berakar sedemikian kuatnya dalam kehidupan masyarakat sampai sekarang, meskipun sejak seabad yang lalu pendidikan kedokteran dengan obat-obat modern telah dikenal Indonesia. Jamu dibuat sebagai makanan sehari-hari yang merawat dan mempertahankan energi badan yang vital, membantu badan kita untuk mengobati diri secara alami. Jamu obat-obatan alammi tidak bermaksud untuk mengganti obat penemuan modern terbaru, namun hendaknya tidak dilupakan atau diabaikan karena dapat memberikan kontribusi yang besar untuk perawatan kesehatan manusia. Indonesia yang memiliki kekayaan alam berupa tumbuh-tumbuhan yang berjumlah kira-kira 10.000 spesies, merupakan nomor dua terbesar di dunia setelah Brasil, sangat kaya akan ilmu perawatan kesehatan dengan tumbuhan (jamu). Sayangnya, penelitian khasiat obat dari bahan alam asli Indonesia saat ini masih terbatas. Akibatnya, potensi tanaman obat yang demikian besar di Tanah Air belum tergali maksimat. (Suara Pembaharuan, 28 Desember 2005). Belum satu pun terkenal di dunia dan menjadi kebanggaan Indonesia. Namun bukanya tak mungkin, di masa mendatang salah satu tanaman obat kita menjadi tanaman unggulan yang dikenal di seluruh dunia. Dengan adanya penelitian-penelitian yang terus berkembang terhadap bahan alam oleh para ahli, bukan tidak mungkin akan ditemukan sesuatu yang signifikan khasiatnya untuk pengobatan penyakit yang sekarang banyak diderita manusia dan belum punya penjelasan mengenai sebab musababnya serta pengobatannya. Jangan merupakan penyuplai tanaman obat terbesar di Indonesia. Buktinya, dari sekitar 7.300 ton produksi industri jamu di Indonesia, sebanyak 6.190 ton antaranya diproduksi di propinsi ini. (Suara Merdeka, 14 Juni 2003). Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah adalah Kota Jamu, dari 14 industri jamu skala besar di Indonesia, sembilan diantaranya berada di Semarang. Itu berarti 75% pengusaha jamu berada di kota ini, diantaranya adalah Sidomuncul, Nyonya Meneer, Jamu Jago, Simona, Leo dan Borobudur.menurut Jaya Suprana, Presiden Komisaris Jamu Jago, sebutan Kota Semarang sebagai Kota Jamu adalah sangat sah dan tak terbantahkan. Sayangnya, pamor yang begitu melegenda tersebut kurang ada follow up-nya. Seharusnya pemerintah bisa mengontrol dan membantu menyediakan bahan jamu (simplesia), dan lebih mengembangkan penelitian soal jamu. Padahal kesulitan utama para pengusaha kecil adalah masalah litbang, manajemen, keuangan, dan pemasaran. Dengan melihat pangsa pasar yang cukup, efek ekonomi lainnya yang turut mendukung adalah pariwisata. Konsep wisata jamu memiliki efek ganda pada perkembangan industri jamu di Semarang. Ini tidak hanya memasarkan produk jamu, tetapi juga memperkenalkan identitas Semarang sebagai kota jamu. Perkembangan jamu di tanah air tidak secepat obat-obatan tradisional China, India dan Malaysia. Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi mulai dari kurangnya dukungan dari pemerintah, sikap dunia medis yan belum sepenuhnya menerima obat-oabatan tradisional, merebaknya jamu palsu dan jamu kimia serta masuknya obat-obatan tradisional dari luar negeri seperti Cina dan Malaysia. Menurut data, industri jamu nasional diperkirakan memiliki omzet senilai Rp 2,5 triliun per tahun. Omzet sebesar itu diperebutkan oleh tidak kurang dari 650 perusahaan jamu besar dan kecil. Sangat jauh dibandingkan industri farmasi yang hanya memiliki 250 pemain tetapi dengan omzet Rp 16-18 triliun. (Seputar Semarang, 11-7 oktober 2005) . Selama ini industri jamu bertahan tanpa dukungan memadai dari pemerintah maupun industri medis. Dokter dan apotik belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada pasien sehingga pemasaran produk jamu tidak bisa menggunakan tenaga detailer seperti pada obat modern. Di pihak dokter, sistem pendidikan masih mengacu kepada pengobatan modern dan tidak menyentuh substansi pengobatan dengan bahan akam (fitofarmaka). Untuk bisa diterima di dunia pengobatan modern serta berkembang, jamu (obat tradisional Indonesia) harus lulus uji klinis. Sementara Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang, mengaku para pengusaha jamu yang mayoritas pengusaha kecil terbentur pada masalah dana berkaitan dengan uji klinik. Sebab setiap uji klinis perlu dana, paling tidak Rp 500 juta untuk bisa pengembangnnya. (kompas, 8 Mei 2003) Maraknya obat-obatan tradisional asing yang masuk ke indonesia seperti Cina dan Malaysia membuat persaingan menjadi lebih ketat, terlebih di era perdagangan bebas. Maka diperlukan dukungan dan perlindungan dari pemerintah serta peningkatan kualitas produk jamu. Apabila tidak, eksistensi jamu tradisional Indonesia idak hanya terancam, teapi juga pangsa pasarnya yang sangat besar akan dibanjiri produk jamu dan obat-obatan tradisional dari negara-negara lain. Menurut Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul, jamu sebagai salah satu produk asli Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Keterbatasan pasar adalah kendala klasik yang dialami hampir oleh seluruh industri jamu di tanah air. Sebuah keterbatasan yang bermula dari kekurang percayaa masyarakat terhadap jamu secara utuh. Ketidak percayaan muncul sebab tak ada rujukan resmi untuk bertanya atau konsultasi tentang jamu. Padahal penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta merupakan potensi pasar yang menggiurkan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan khasiat jamu melalui penelitian, pengembangan, pengujian, penerapan, sosialisasi, dan Pelayanan Umum. Dalam dunia kesehatan telah terjadi pergeseran dalam hal pemeliharaan kesehatan, yaitu dari mengobati penyakit (curative) menjadi mencegah penyakit (preventive) dan promotif. Dari penggunaan obat kimia beralih ke obat alami (natural). Back to nature adalah istilah yang lahir atas kesadaran akan bahaya bahan-bahan kimiawi yang terkandung dalam obat-obatan sintesis. Disamping itu kenyataan menunjukkan adanya beberapa penyakit yang tidak mampu diatasi dengan obat kimia. Kesadaran ini semakin membuka mata kita akan betapa penting dan bernilainya obat-obatan herbal. Dari uraian di atas, disemarang dibutuhkan suatu wadah untuk menampung kegiatan mulai dari penanaman bibit tanaman obat, penelitian, pengujian, penerapan, pelatihan, promosi, dan sosialisasi, dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi jamu serta mengenalkan identitas Semarang sebagai Kota Jamu serta mengenalkan identitas. Wadah tersebut dinamakan Javanese Herbal Centre yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium, ruang seminar dan pelatihan, klinik herbal, apotik, restoran herbal, dan agrowisata tanaman obat. 1.2 Tujuan dan Sasaran 1.2.1 Tujuan Menyusun landasan perencanaan dan perancangan sebuah Javanese Herbal Centre sebagai Pusat Pelayanan dan Pengembangan Jamu Terpadu di Semarang yang mampu meningkatkan kualitas dan penggunaan jamu di masyarakat, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kota Semarang dan secara langsung mampu memberikan kontribusi sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi daerah-daerah sekitarnya. 1.2.2 Sasaran Tersusunnya landasan perencanaan dan perancangan Javanese Herbal Centre sebagai Pusat Pelayanan dan Pengembangan Jamu Terpadu di Semarang, khususnya dengan memanfatkan teknologi dan potensi alam yang ada. 1.3 Manfaat 1.3.1 Secara Subjektif Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang. 1.3.2 Secara Objektif • Memberikan kontribusi dan dukungan bagi perkembangan jamu di tanah air. • Memberi masukan dalam pengembangan sektor agribisnis di Semarang • Sebagai sumbangan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Arsitektur. 1.4 Metode Pembahasan Metode pembahasan yang digunakan adalah deskriptif analitis, yaitu melihat dan mencermati kondisi awal kegiatan dan sarana yang memiliki kemungkinan muncul dan dapat mendukung, kemudian mengadakan pengumpulan data primer dan sekunder, kemudian dilakukan analisa sehingga menghasilkan sintesa. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah : Survey lapangan, dilakukan untuk mendapatkan data primer, untuk menentukan kebutuhan ruang, besaran ruang, fasilitas, struktur organisasi pengelola, dan kelompok penggunaan bangunan. Studi literature, dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, dalam hal ini berupa studi kepustakaan mengenai teori laboratorium penelitian, klinik agrowisata, standar ruang serta pengumpulan data informasi dari instansi terkait. Wawancara, dilakukan dengan pihak terkait untuk melengkapi data primer mengenai topic yang dibahas. 1.5 Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan dalm Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur disusun dengan urutan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang pokok-pokok pikiran yang melatarbelakangi pemilihan judul Javanese Herbal Center di Semarang, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, manfaat, metode dan sistematika pembahasan, serta alur pikir. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Membahas tentang pengertian jamu dan obat tradisional, kegiatan yang diwadahi, fasilitas pendukung, serta tinjauan arsitektur organik BAB III STUDI BANDING Menguraikan objek studi banding yang sesuai beserta analisa perbandingan dan kesimpulan. BAB IV TINJAUAN KOTA SEMARANG Memaparkan tinjauan Kota Semarang dan potensinya sebagai lokasi Javanese Herbal Center, industri jamu dan agrowisata di Semarang, serta kebijakan pemerintah Kota Semarang yang terkait. BAB V KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN Menguraikan tentang kesimpulan, batasan dan anggapan yang akan digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan perancangan. BAB VI PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Berisi tentang analisa berbagai aspek perancangan (fungsional, kontekstual, kinerja, teknis, dan arsitektural), pendekatan standar dan studi ruang untuk mendapatkan besaran ruang serta pendekatan pemilihan tapak. BAB VII KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN Berisi program dasar perancangan hasil pendekatan dan analisis, serta uraian konsep dasar perancangan.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:26609
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:04 Apr 2011 15:01
Last Modified:04 Apr 2011 15:01

Repository Staff Only: item control page