Indeks Massa Bebas Lemak Pada Berbagai Derajat Keparahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik dan Kaitannya dengan Tingkat Asupan Zat Gizi Makro

Weni Hermita Y, Weni Hermita Y (2008) Indeks Massa Bebas Lemak Pada Berbagai Derajat Keparahan Penyakit Paru Obstruktif Kronik dan Kaitannya dengan Tingkat Asupan Zat Gizi Makro. Undergraduate thesis, Program Studi Ilmu Gizi .

[img]
Preview
PDF - Published Version
31Kb
[img]PDF - Published Version
Restricted to Registered users only

203Kb

Abstract

Latar Belakang: Malnutrisi pada pasien PPOK dikarenakan peningkatan energy expenditure akibat inflamasi berulang secara sistemik yang merupakan mediator gangguan nafsu makan dan hipermetabolisme. Inflamasi menyebabkan pemecahan protein dalam jaringan dan bila asupan makanan yang tidak mencukupi akan memicu deplesi massa bebas lemak. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan consecutive sampling dan ditetapkan 48 subyek dengan PPOK yang diperoleh dari Poliklinik Rawat Jalan Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Data asupan makanan diperoleh melalui wawancara menggunakan food frequency questionaire. Data derajat keparahan penyakit ditentukan berdasarkan nilai FEV1 dan rasio FEV1/FVC yang dikutip dari catatan medik. Massa bebas lemak diukur menggunakan bioelectrical impedance analysis dan dihitung menjadi Indeks Massa Bebas Lemak. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Sebagian besar subyek (33,3%) memiliki derajat keparahan PPOK tingkat 3/ berat. Sebagian besar subyek memiliki tingkat asupan energi (60,4% subyek), tingkat asupan karbohidrat (6,3% subyek), tingkat asupan protein (85,4% subyek), dan tingkat asupan lemak (95,9% subyek) defisit ringan sampai berat. Sebesar 52,1% subyek dengan IMBL rendah. Terdapat hubungan bermakna antara derajat keparahan PPOK (nilai rerata FEV1 dan rasio FEV1/FVC) dengan IMBL (r= 0,367; p= 0,010 dan r= 0,306; p= 0,035). Tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan energi dan karbohidrat dengan IMBL (r= -0,215; p= 0,143 dan r= 0,066; p= 0,657). Terdapat hubungan bermakna antara tingkat asupan protein dan lemak dengan IMBL (r= -0,579; p= 0,000 dan r= -0,535; p= 0,000). Kesimpulan: Pada pasien PPOK terjadi deplesi jaringan massa bebas lemak yang ditunjukkan oleh rendahnya IMBL. Rendahnya IMBL dihubungkan dengan derajat keparahan PPOK, tingkat asupan protein dan lemak. Tetapi tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan energi dan karbohidrat dengan IMBL.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords:derajat keparahan PPOK, tingkat asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak, indeks massa bebas lemak
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Faculty of Medicine > Department of Nutrition Science
Faculty of Medicine > Department of Nutrition Science
ID Code:26096
Deposited By:Dian Widanarta
Deposited On:28 Jan 2011 13:17
Last Modified:28 Jan 2011 13:17

Repository Staff Only: item control page