GALLERY PHOTOGRAPHY IN YOGYAKARTA

MUDA PALGUNA, REDI (2010) GALLERY PHOTOGRAPHY IN YOGYAKARTA. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
72Kb

Abstract

1.1. A. PENGERTIAN JUDUL Yogyakarta : Kotamadya yang juga sebagai ibukota propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gallery : Berasal dari bahasa latin Galeria. Galleria dapat diartikan sebagai ruang beratap dengan satu sisi terbuka. Di Indonesia, galeri sering diartikan sebagai ruang/bangunan tersendiri yang dipakai untuk memamerkan karya seni, seperti lukisan, foto, barang antik, patung-patung, dan sebagainya. Ruang kecil yang digunakan untuk aktifitas khusus dengan tujuan praktis untuk memamerkan hasil karya seni dan memberi pelayanan dalam bidang seni. Photography : Fotografi berasal dari istilah Yunani : phos yang berarti cahaya dan graphein yang berarti menggambar . Istilah tersebut pertama kali oleh Sir John Herschel pada tahun 1839. Jadi arti kata fotografi adalah menggambar dengan cahaya. Prinsip kerja yang paling mendasar dari fotografi sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Pada waktu itu telah diketahui bahwa apabila seberkas cahaya menerobos masuk melalui lubang kecil ke dalam sebuah ruangan yang gelap, maka pada dinding di hadapannya akan terlihat bayangan dari apa yang ada dimuka lobang. Hanya saja bayangan yang terlihat dalam keadaan terbalik. Ruangan seperti inilah yang disebut sebagai camera obscura ( camera : kamar, obscura : gelap) . Dari sinilah lahir istilah Camera. Prinsip ini telah digunakan oleh ilmuwan Arab Ibnu al Haisan sejak abad ke-10. Lalu pada abad ke-15 Leonardo da Vinci, mencoba menguraikan kerja kamar gelap ini dengan lebih terperinci. Gallery Photography yaitu Bangunan tersendiri yang dipakai untuk memamerkan hasil karya seni Photography seperti foto, desain grafis dan sebagainya serta menampung semua aktifitas seni photography yang ada guna meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni photography 1.2. LATAR BELAKANG Umum Apakah Seni itu ? Pertanyaan klasik yang selalu dikemukakan oleh banyak orang adalah apakah seni itu. Kebanyakan dari mereka menjawab secara spontan bahwa seni adalah keindahan. Jawaban tersebut tidak salah, tetapi tidak juga benar karena dibeberapa karya seni (khususnya seni rupa), keindahan itu tidak mudah ditemukan oleh setiap orang. Sedangan definisi seni menurut Achdiat K. Mihardja: “ Seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya”. Padahal karya seni dapat dipandang sebagai salah satu unsur budaya yang paling penting di samping unsur budaya yang lain seperti ilmu dan teknologi, karena dengan berkesenian dapat dibangun jiwa melalui apresiasi tentang nilai-nilai estetis atau keindahan yang dapat digunakan sebagai dasar pematangan jiwa, karena dengan tambahan kemampuan mendalam karya seni akan bertambah pula dimensi kejiwaan individu dalam masyarakat, dengan pemilikan kekayaan baru dari dimensi artistik yang membahagiakan. Di Indonesia, perkembangan fotografi tampak dengan semakin banyaknya jumlah penggemar fotografi, tumbuhnya klub-klub fotografi, serta semakin banyaknya digunakan media fotografi sebagai alat atau sarana penunjang berbagai kegiatan seperti pada media massa, bidang perdagangan, ilmu pengetahuan, hukum, pendidikan, kedokteran, dokumentasi, hiburan/seni budaya, dan lain- lain. Seiring perkembangan teknologi fotografi di Indonesia, maka fotografi tidak sekedar sebagai sarana untu mendokumentasikan suatu kegiatan atau peristiwa saja, tetapi fotografi telah berkembang menjadi sarana dalam bidang seni sebagai alat komunikasi. Seni fotografi, dewasa ini sudah semakin dikenal sebagai suatu cabang seni yang mandiri, berdiri sejajar seni lukis dan seni patung. Seperti seni lukis yang lebih tua umurnya, seni foto juga menampilkan suatu ide, konsep, kesan dan pemikiran, bukan dari subyek-subyek yang “diciptakan”, tapi dari subyek-subyek yang telah ada di alam, subyek biasa dalam hidup keseharian maupun subyek yang unik dan “luar biasa” yang dipotret. Kejelian, kecerdasan, dan ketrampilan teknis si pemotretlah yang membikin subyek alamiah itu menjadi suatu gambar yang mengagetkan, membuka wawasan, menyodorkan suatu ide, pemikiran, atau konsep yang sebelumnya tak terpikirkan. Melihat perkembangan yang cenderung meningkat di bidang fotografi serta keterkaitan fotografi dengan bidang-bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang lain, maka ada banyak kebutuhan serta keinginan untuk mengikuti perkembangan tersebut. Kebutuhan-kebutuhan seperti tersedianya suatu wadah yang membuat masyarakat untuk mempelajari dan menampung kegiatan-kegiatan dalam bidang fotografi, antara lain: pameran, informasi, pendidikan, eksperimen, diskusi, jasa, pelayanan serta promosi yang tentunya dapat bermanfaat bagi si pemakai bangunan pada khususnya dan juga mampu menunjang laju pembangunan kota Yogyakarta pada umumnya, khusus sebagai promosi di bidang pariwisata dan jasa. Fotografi tidak hanya sebagai media mengekspresikan ide, gagasan, perasaan dan hobi, tetapi juga menjadi salah satu pilihan profesi yang bergengsi, terutama di kota-kota besar seperti Yogyakarta. Selain itu sarana fotografi di Indonesia juga masih sangat sedikit. Hal ini tidak seimbang dengan perkembangan fotografi dan kebutuhan tenaga profesional. kota Yogyakarta sebagai kota Seniman di Pulau Jawa, yang akan berkembang sebagai kota metropolis setelah kota Jakarta, dirasakan sudah saatnya memiliki suatu wadah pendidikan formal yang dapat mendukung perkembangan dunia fotografi tersebut secara lebih profesional. Selain itu juga diperlukan aspek -aspek pendukung seperti sarana pameran dan sarana komersial. Bangunan yang direncanakan ini merupakan jenis campuran antara System Building, Symbolic Building, dan Comodity Building. System Building diwakili oleh adanya suatu sistem tertentu yang dipakai dalam aktivitas sehari-hari sehingga bentuk bangunan cenderung fungsional, tetapi memiliki kekhasan tertentu karena adanya simbolisasi dari dunia fotografi pada penampakannya secara implicit (intangible). Sementara itu bangunan ini nantinya akan bersifat komersil , sehingga tidak lupa harus memperhatikan segi efektifitas dan efisiensi dalam perancangan maupun pemeliharaannya. Pendalaman yang ingin ditekankan adalah pendalaman sosial budaya dengan pendekatan konsep filosofis secara metafor. Dari segi sosial menekankan pada sasaran dari dunia fotografi sendiri, sedangkan dari segi budaya mengambil istilah fotografi untuk konsep filosofis terhadap massa dan bentuk bangunan. Selain itu diharapkan pula, wadah yang tersedia ini, dapat memperkenalkan perkembangan-perkembangan baru baik di bidang fotografi sendiri, maupun dalam bidang arsitektur. Potensi-potensi yang ada tersebut dapat menjadi penunjang ataupun penghambat bagi desain yang direncanakan, dimana bangunan yang akan dirancang ini diharapkan akan dapat menampilkan penemuan-penemuan baru dalam arsitektur. Masalah yang dapat timbul adalah apakah lingkungan dan masyarakat sekitar dapat menerima perkembangan dan kemajuan tersebut dalam desain bangunan ini Namun dengan melihat kemajuan yang pesat di kota Yogyakarta , serta potensi-potensinya, maka diharapkan pemerintah dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam bidang fotografi, untuk menyediakan fasilitas berupa sarana pameran, pendidikan, informasi, perdagangan serta sarana promosi. KHUSUS Arsitektur adalah keahlian, permainan yang tepat dan sempurna tentang massa-massa yang disajikan bersama di bawah cahaya. Mata kita dibuat untuk melihat bentuk-bentuk di dalam cahaya dan bayangan yang menunjukkan bentuk-bentuk ini. (Le Corbusier). Pencahayaan dalam sebuah galeri seni merupakan hal yang sangat penting karena dengan pencahayaan tersebut dapat tercipta suasana yang apresiatif terhadap karya-karya seni foto yang dipamerkan. Kegiatan utama pameran adalah komunikasi visual, yaitu antara masyarakat pemerhati seni (pengunjung) dengan karya seni yang dipajang sebagai wakil dari seniman dengan indera penglihatan sebagai alat utamanya. Cahaya yang dirancang dengan tepat akan mampu memperkaya cita rasa, memberikan penekanan dan menciptakan atmosfer yang mendukung pada ruang pamer. Cahaya pada ruang pamer memberi kesempatan kepada pengunjung berproses menuju perubahan atmosfer ruang yang lebih efektif daripada bentuk ruang dan wujud arsitektur yang komplek. Pemanfaatan cahaya alami pada waktu siang hari dan penggunaan cahaya buatan pada malam hari akan mampu menciptakan perbedaan atmosfer pada ruang pamer dan ketepatan rancangan pengolahan cahaya akan mampu melahirkan kenikmatan komunikasi visual dalam ruang pamer karya seni. Oleh karena itu maka perencanaan dan perancangan bangunan Gallery Photography di Yogyakarta ini dititikberatkan pada aspek pencahayaan. 1.3. PERMASALAHAN UMUM Dalam proses berkaya seni fotografi atau proses visualisasi karya adalah menghidupkan dan memberi jiwa pada karya foto. Seperti halnya dengan seniman seni rupa lainnya, fotografer bekerja menggunakan otak dan hatinya yaitu segala tindakan yang dilakukan, terutama dalam proses pengambilan obyek, ia akan mengetahui hasil yang akan diperoleh sehingga melakukan tindakan-tindakan yang berguna untuk mendukung ide dan gagasannya. Pada dasarnya masalah fotografi adalah masalah yang cukup kompleks karena menyangkut berbagai macam aspek. Berdasarkan masalah fotografi yang cukup kompleks karena menyangkut berbagai macam aspek, Bagaimana menampilkan Gallery Photography yang mampu : a. Menjadi wadah komunikasi antara para fotografer, pemerhati seni dan masyarakat. b. Memamerkan hasil karya seni foto dari waktu ke waktu, workshop dan course. c. Menggambarkan sirkulasi dan konfigurasi bentuk sebagai pendukung kegiatan apresiasi khusus seni fotografi KHUSUS Bagaimana merancang sebuah wadah yang dapat menampung kegiatan-kegiatan pameran, informasi, pengetahuan serta jasa dan layanan profesional dalam bidang fotografi , serta promosi yang diharapkan sangat berguna bagi masyarakat fotografi, melalui penerapan konsep pencahayaan sehingga dapat mendukung seluruh kegiatan dalam gallery photography dan akan dapat menunjang lajunya pembangunan kota Yogyakarta pada umumnya. 1.4. TUJUAN DAN SASARAN TUJUAN a. Menyediakan wadah yang mampu menampung kegiatan pameran; diskusi antar fotografer; pemerhati seni dan masyarakat; workshop dan course mengenai fotografi. b. Memasyarakatkan dan memajukan seni forografi di kota Yogyakarta dan sekitarnya pada khususnya serta di Indonesia pada umumnya. c. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni fotografi. d. Menyalurkan ilmu pengetahuan yang bertujuan memberikan informasi melalui pameran, perpustakaan, course, seminar maupun workshop. e. Menciptakan pengalaman ruang yang berbeda kepada pengunjung melalui penerapan konsep pencahayaan. SASARAN Berupa konsep dasar perencanaan dan perancangan gallery photography sebagai wadah kreatifitas seni fotografi, secara khusus berupa penyelesaian permasalahan yang diungkapkan dan ditekankan. 1.5. LINGKUP PEMBAHASAN Lingkup pembahasan dititikberatkan pada masalah arsitektur untuk mendapatkan konsep perencanaan dan perancangan Gallery Photography, sedangkan aspek pencahayaan sebagai penekanan akan dibahas dengan asumsi, hipotesa dan logika sederhana tetapi didasarkan pada rasio yang benar. 1.6. METODA PEMBAHASAN Metoda yang digunakan dalam pembahasan adalah metoda analisa deskriptif dengan menyajikan data yang dianggap relevansi dengan permasalahan dan persoalan yang ada, baik yang diperoleh dari survey, studi literature, internet maupun pengalaman untuk kemudian dianalisa dan disimpulkan guna dijadikan dasar penyusunan konsep perencanaan dan perancangan Gallery Photography dengan tinjauan pada aspek pencahayaan. 1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN □ Tahap Pertama Berisi tentang pengertian judul, latar belakang, permasalahan, tujuan dan sasaran, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika pembahasan. □ Tahap Kedua Menguraikan pengertian, perkembangan dan hal-hal yang berkaitan dengan seni fotografi serta pembahasan mengenai galeri dan Menguraikan tinjauan khusus mengenai pencahayaan. □ Tahap Ketiga Memaparkan tinjauan mengenai Kota Yogyakarta □ Tahap Keempat Kesimpulan, batasan dan anggapan □ Tahap Kelima Berisi tentang konsep-konsep dasar perencanaan dan perancangan, konsep tata ruang dalam dan luar serta konsep arsitektural dan struktural Galeri Fotografi.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:25241
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:10 Jan 2011 10:49
Last Modified:10 Jan 2011 10:54

Repository Staff Only: item control page