HUBUNGAN NILAI AgNOR PRA DAN PASCA KEMORADIASI DENGAN RESPON RADIASI PADA PENDERITA KARSINOMA EPIDERMOID SERVIKS UTERI STADIUM LANJUT

Irawan, Irawan (2008) HUBUNGAN NILAI AgNOR PRA DAN PASCA KEMORADIASI DENGAN RESPON RADIASI PADA PENDERITA KARSINOMA EPIDERMOID SERVIKS UTERI STADIUM LANJUT. Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF - Published Version
500Kb

Abstract

HUBUNGAN NILAI AgNOR PRA DAN PASCA KEMORADIASI DENGAN RESPON RADIASI PADA PENDERITA KARSINOMA EPIDERMOID SERVIKS UTERI STADIUM LANJUT Irawan, Bambang Suyono, Herman Kristanto Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro – Semarang Latar belakang : Karsinoma serviks uteri (KSU) merupakan masalah wanita yang penting, terutama di negara berkembang. Keganasan ini merupakan jumlah terbanyak kedua dari seluruh keganasan pada wanita di seluruh dunia termasuk Indonesia karena kebanyakan penderita datang sudah dalam keadaan terlambat yaitu pada stadium lanjut (KSU-SL) sehingga pengobatan yang dapat diberikan adalah radioterapi. Selama ini faktor histopatologi berupa derajat diferensiasi merupakan faktor prognosis pada penderita KSU. Selama ini KSU berdiferensiasi jelek dianggap mempunyai prognosis lebih buruk oleh karena diduga mempunyai aktivitas proliferasi sel lebih tinggi dibanding diferensiasi baik Aktivitas proliferasi dapat dinilai dengan hitung AgNOR (argyrophilic nucleolar organizer region) merupakan salah satu parameter statis penilaian aktivitas proliferasi yang mudah, sederhana dan tidak mahal. Tujuan : Untuk membuktikan peran aktivitas proliferasi (hitung AgNOR) sebagai prediktor respon radiasi histopatologis pada penderita KSU-SL. Metode : Rancangan penelitian adalah uji diagnostik. Penelitian dilakukan di Poliklinik Ginekologi Khusus dan Laboratorium Patologi Anatomi FK UNDIP/RSUP. Dr. Kariadi Semarang mulai Agustus sampai bulan Desember 2007. Didapatkan 56 subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Dari 56 subyek penelitian tersebut berdasarkan kriteria eksklusi diperoleh 48 subyek yang tidak dapat dianalisis karena sediaan pasca terapi gambaran bintik AgNOR tidak dapat tervisualisasi. Hasil : Karakteristik penderita menunjukkan bahwa rerata umur adalah 47,42 tahun. Stadium keganasan yang terbanyak adalah stadium III B yaitu 58,3% dengan sebagian besar diferensiasi sel ganas diketahui diferensiasi baik yaitu 37,5%. Sebanyak 41 (85,4%) penderita mendapatkan Platosin Neoadjuvant sekali dan 23 (47,9%) penderita mendapatkan Platosin Concomitant 5 kali. Pada kedua stadium juga didapatkan jumlah penderita dengan respon radiasi histopatologis terbanyak adalah baik sebesar 36 (75%) penderita. Terdapat hubungan antara hitung AgNOR pra terapi dengan respon radiasi histopatologis dengan cut of point adalah 7,6 dimana hitung AgNOR pra terapi >7,6 mempunyai risiko 7,3 kali menyebabkan RRH jelekmoderat dibandingkan hitung AgNOR pra terapi ≤7,6 (p<0,05). Simpulan : Hitung AgNOR pra terapi kemoradiasi dapat digunakan sebagai prediktor respon radiasi histopatologis dan terdapat hubungan antara penurunan aktivitas proliferasi (nilai hitung AgNOR) dengan respon radiasi histopatologis pada penderita KSU-SL yang mendapat terapi kemoradiasi dimana semakin besar penurunan nilai hitung AgNOR semakin jelek RRHnya. Kata kunci : hitung AgNOR, karsinoma epidermoid serviks uteri, aktivitas proliferasi.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:24727
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:16 Dec 2010 10:40
Last Modified:16 Dec 2010 10:40

Repository Staff Only: item control page