EVALUASI KINERJA LINGKUNGAN DAN EKONOMI ALAT PENGASAPAN BERTINGKAT DI SENTRA PENGASAPAN IKAN BANDARHARJO KOTA SEMARANG

Fransiska, Dina (2010) EVALUASI KINERJA LINGKUNGAN DAN EKONOMI ALAT PENGASAPAN BERTINGKAT DI SENTRA PENGASAPAN IKAN BANDARHARJO KOTA SEMARANG. Masters thesis, Magister Ilmu Lingkungan.

[img]
Preview
PDF - Published Version
105Kb

Abstract

ABSTRAK Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo adalah sentra pengasapan terbesar di Kota Semarang. Di Sentra Industri Pengasapan Ikan Bandarharjo, keluaran bukan produk yang cukup besar adalah asap. Hal ini disebabkan para pengrajin belum mengoptimalkan asap yang dihasilkan dari pembakaran batok kelapa. Untuk setiap rak panggangan dibutuhkan 1 tungku pengasapan sehingga berdampak pada banyaknya asap yang terbuang ke lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas udara ambien di lingkungan sekitar lokasi pengasapan ikan dan mengkaji penggunaan alat pengasapan alternatif untuk meminimalkan penggunaan bahan bakar pada proses pengasapan ikan dan mengurangi emisi asap. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan action research. Penelitian lapangan diawali dengan analisa udara ambien di sekitar sentra pengasapan ikan di Kelurahan Bandarharjo kemudian dilanjutkan dengan melakukan rencana aksi terhadap proses pengasapan ikan agar efisien dan mengurangi emisi yang terpapar pada lingkungan tanpa mengurangi mutu ikan asap yang dihasilkan. Pada penelitian ini dilakukan pengasapan ikan pada dua alat yang berbeda (alat yang dirancang pada penelitian ini dan alat yang ada di masyarakat) dengan basis total berat ikan yang sama yaitu seberat 10 kg. Jenis ikan asap yang diteliti dibatasi pada ikan manyung (Arius Thallasinus). Hasil penelitian ini diketahui bahwa kegiatan pengasapan ikan di Sentra Pengasapan Ikan Kelurahan Bandarharjo mempengaruhi kadar CO dan debu pada udara ambien di daerah sentra pengasapan yaitu CO sebesar 289,6 µg/Nm3 dan TSP/debu sebesar 323,0 µg/Nm3 dan Kelurahan kuningan CO sebesar 349,7 µg/Nm3 dan TSP/debu sebesar 117,5 µg/Nm3. Sedangkan pada uji coba alat pengasapan bertingkat membutuhkan waktu pengasapan yang lebih cepat dibandingkan dengan alat yang ada di pengrajin dengan peningkatan efisiensi sebesar 30,14%, sehingga memperbesar kapasitas produksi dari 8,21 kg/jam menjadi 11,76 kg/jam pertungku. Kebutuhan bahan bakar yang digunakan menjadi berkurang dari 0,58 kg menjadi 0,4 kg per kg ikan. Opasitas asap yang dihasilkan pada alat pengasapan bertingkat pada penelitian ini lebih rendah yaitu 19,33% dibandingkan dengan alat yang ada dipengrajin yaitu 25,25%. Kualitas ikan menjadi lebih baik dari segi organoleptik dan mempunyai kadar phenol yang lebih besar yaitu 731,25 mg/kg dibandingkan dengan ikan asap yang dihasilkan alat yang ada di pengrajin yaitu 462,35 mg/kg. Hasil uji mikrobiologi (E.coli, Salmonella, Jamur) terhadap ikan dengan alat pengasapan bertingkat relatif lebih sedikit dibanding dengan alat yang ada dipengrajin. KATA KUNCI: Kinerja lingkungan dan ekonomi, alat pengasapan bertingkat ABSTRAC Bandarharjo Smoking Fish Center is the biggest centers in Semarang Municipality. It resulted non-product output in form of smoke. This is because craftmen at the Center had not optimized the smoke emitted by the burning of coconut shells as the raw material of the smoking process. Bandarharjo Smoking Fish Center applied one smoking toaster for every toaster rack so the more toasting process, the higher smoke contents were emitted to the air. This study aimed to analyze the ambient air quality nearby the Center location, which affected the environment, as well as to analyze the use of alternative smoking devices in order to minimize fuel use in the smoking process and to reduce smoke emission. The study applied field and action researches. Field research began with ambient air quality neaby the Center location in Bandarharjo village, followed by an action plan on creating an efficient smoking process and reducing the emission, while the qualit of the end product, the smoke fish, was maintained. This study examined two different smoking devices (one constructed during the research and the other existing at the Center in time). The total base for each device is made equally 10 kg. Fish species to be observed was limited to manyung (Arius Thallasinus). This study resulted as the followings activities at Bandarharjo Smoking Fish Center affected CO and dust contents in the ambient air in the following areas Bandarharjo (CO 289.6 g/Nm3; TSP/dust 323.0 g/Nm3) and Kuningan (CO 289.6 g/Nm3; TSP/dust 323.0 g/Nm3). Experiment of using multi-stage smoking device needed shorter time than using the traditional device, resulting in efficiency of 30.14% and an increase of production capacity from 8.21 kg/hour to 11.76 kg/hour for each toaster. The fuel needs used also decreased from 0.58 kg to 0.4 kg per fish kilogram. Opacity rate of the smoke non-product output after the operation of multilevel smoking device resulted in 19.33%, a significant decrease from that of using the traditional device (26.25%). Organoleptic test on the fish showed a better quality as this end product contained larger phenol substance (731.25 mg/kg) than that of using the traditional device (462.35 mg/kg). A microbiological test using E. coli, Salmonella, and fungi, showed that multi-stage smoking device resulted in smaller number of bacteria contained within the smoking fish. KEYWORDS: environmental and economic performance, multi-stage smoking device.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Environmental Science
ID Code:24640
Deposited By:ms Hastomo Agus
Deposited On:13 Dec 2010 11:14
Last Modified:13 Dec 2010 11:14

Repository Staff Only: item control page