PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA DALAM MANAJEMEN PENATALAKSANAAN KASUS GIZI BURUK PADA ANAK BALITA TERHADAP PEMULIHAN KASUS GIZI BURUK TAHUN 2008 (Studi Kasus di Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan)

Setyaningsih, Pujiati (2009) PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA DALAM MANAJEMEN PENATALAKSANAAN KASUS GIZI BURUK PADA ANAK BALITA TERHADAP PEMULIHAN KASUS GIZI BURUK TAHUN 2008 (Studi Kasus di Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan). Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF - Published Version
354Kb

Abstract

ABSTRAK Pujiati Setyaningsih Pengaruh Kompetensi Bidan Di Desa Dalam Manajemen Kasus Gizi Buruk Anak Balita Terhadap Pemulihan Kasus di Kabupaten Pekalongan Tahun 2008 Kasus gizi buruk di kabupaten Pekalongan sudah mengalami penurunan dari tahun ke tahun, tetapi pada tahun 2008 pemulihan kasus hanya mencapai kurang dari 50%. Mengingat penyebabnya sangat komplek, pengelolaan gizi buruk memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua fihak. Bidan di desa merupakan pemberi pelayanan di tingkat dasar, sehingga sangat dibutuhkan kompetensinya dalam mengatasi masalah gizi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kompetensi bidan yang meliputi pengetahuan dan ketrampilan dalam manajemen kasus gizi buruk anak balita berpengaruh terhadap pemulihan kasus. Jenis penelitian studi kuantitatif, desain penelitian non experimental, dengan metode survey analitik. Pendekatan waktu menggunakan cross sectional. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada bidan dan orang tua anak balita. Data sekunder diperoleh dari dokumentasi di Dinas Kesehatan Kabupaten, Rumah Sakit dan puskesmas. Subjek penelitian adalah 31 bidan di desa yang melaksanakan manajemen kasus gizi buruk dan 31 ibu anak balita yang di rawat di rumah sakit/puskesmas perawatan pada tahun 2008. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa 87,1% bidan di desa mempunyai pengetahuan baik tentang manajemen kasus gizi buruk, 71% penatalaksanaan deteksi dini dilakukan lengkap, 80,6% penatalaksanaan fase stabilisasi dilakukan tidak lengkap, serta 67,7% penatalaksanaan fase tindak lanjut dilakukan dengan lengkap. Hasil analisis dengan uji chi square menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan pemulihan kasus adalah penatalaksanaan deteksi dini (p=0,005) dan penatalaksanaan fase tindak lanjut (p=0,0001). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa penatalaksanaan deteksi dini (p=0,004) dan penatalaksanaan fase tindak lanjut (p=0,0001) berpengaruh terhadap pemulihan kasus. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa penatalaksanaan fase tindak lanjut (p=0,010) paling berpengaruh terhadap pemulihan kasus. Disarankan adanya advokasi dari Dinas kesehatan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program pemulihan kasus gizi buruk. Bagi bidan di desa diharapkan dapat melakukan penatalaksanaan deteksi dini, perawatan fase stabilisasi, serta perawatan fase tindak lanjut secara lengkap. Dapat menggerakkan peran serta orang tua dalam penatalaksanaan kasus gizi buruk, khususnya fase tindak lanjut karena sangat berpengaruh dalam pemulihan kasus gizi buruk. Kata kunci :Gizi buruk,manajemen penatalaksanaan,pemulihan gizi buruk. Kepustakaan :55 (1999 - 2008)

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Health
ID Code:24305
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:01 Dec 2010 10:32
Last Modified:01 Dec 2010 10:32

Repository Staff Only: item control page