Adaptasi Antarbudaya Warga Korea Selatan dengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga

Chotimah, Khusnul (2010) Adaptasi Antarbudaya Warga Korea Selatan dengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga. Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF
25Kb

Abstract

Ketika memasuki sebuah lingkungan baru, banyak hal yang menyimpang dari naskah budaya yang dimiliki seseorang. Setiap hal baru bagi orang asing merupakan serangkaian krisis. Hal-hal kecil yang awalnya tidak dianggap sebagai masalah berubah menjadi masalah yang seringkali membuat para stranger merasa frustrasi dan hal ini semakin diperparah dengan kurangnya pengetahuan mengenai host culture, seperti bahasa dan kebiasaan host culture. Rasa kecemasan dan ketidakpastian pun muncul saat para stranger tidak bisa memahami host culture. Salah satu hal yang sangat mempengaruhi proses adaptasi seseorang adalah kemampuan mengelola kecemasan dan ketidakpastian. Penelitian ini berpijak pada Cross-Cultural Adaptation Theory oleh Young Yun Kim yang menerangkan bagaimana “resettler” berubah dari orang luar meningkat menjadi orang dalam yang aktif dan efektif (Kim, 2001: 10) dan Anxiety Uncertainty Management Theory of Strangers’ intercultural Adjustment oleh William Gudykunst yang menerangkan bahwa adaptasi antarbudaya yang efektif akan tercapai bila para informan mampu mengelola kecemasan dan ketidakpastian dalam kadar yang optimum (Gudykunst, 2005: 425). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan masuk ke dalam aliran interpretif dengan menggunakan langkah analisis fenomenologi yang disusun oleh Van Kaam (Moustakas, 1994: 120-121). Penelitian ini mengambil 6 (enam) orang informan penelitian, yaitu 3 (tiga) warga Korea Selatan yang tinggal di Salatiga dan 3 (tiga) warga Indonesia yang sering berinteraksi dengan warga Korea Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan penghambat utama dalam hubungan antara warga Korea Selatan dengan warga Indonesia. Jika dua orang tidak berbicara dengan bahasa yang sama, interaksi mereka menjadi terbatas (Berry dkk, 1999: 666). Namun demikian, meski bahasa menjadi hambatan yang besar, dengan rasa saling pengertian dan empati dari warga Korea Selatan dan warga Indonesia, masing-masing mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik. Setelah beberapa waktu menetap dan berinteraksi dengan orang Indonesia, para informan ini mulai terbiasa dengan lingkungan dan budaya Indonesia. Mereka mulai mampu menerima dan beradaptasi dengan budaya Indonesia. Dengan rasa empati yang besar, para informan ini mencoba memahami budaya Indonesia, memahami makna yang ada di balik semua perbedaan yang mereka temui. Saling pengertian dan empati yang tumbuh mampu mengurangi kesalahpahaman dan miskomunikasi yang terjadi antara kedua belah pihak. Para informan yang awalnya sulit untuk berinteraksi dengan warga tuan rumah, setelah mengalami serangkaian proses pembelajaran, mereka pun mampu membaur satu sama lain bahkan sebagian dari mereka telah bisa masuk ke dalam masyarakat. Sedangkan bagi para informan dari Indonesia, setelah mengenal dan berinteraksi dengan orang Korea Selatan, mereka pun memahami dan mengerti kesulitan yang dirasakan oleh warga Korea Selatan selama menetap di Indonesia. Sebagai warga tuan rumah, para informan menerima warga Korea Selatan ini dengan tangan terbuka dan penuh keramahan. Key words: adaptasi antarbudaya, kecemasan dan ketidakpastian, dan interaksi

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:23904
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:10 Nov 2010 10:35
Last Modified:10 Nov 2010 10:35

Repository Staff Only: item control page