Proses Gatekeeping Berita Kekerasan Terhadap Perempuan Di Harian Meteor

Prawidiasari, Oktavia Ruth (2010) Proses Gatekeeping Berita Kekerasan Terhadap Perempuan Di Harian Meteor. Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF
38Kb

Abstract

Pada Harian Meteor ditemukan berita-berita kekerasan terhadap perempuan. Berita-berita kekerasan terhadap perempuan yang ditulis oleh harian Meteor, cenderung memojokkan dan merendahkan perempuan. Pemilihan kata, bahasa, angel, gambar, dll dalam berita kekerasan perempuan di harian Meteor tidak lepas dari proses gatekeeping. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses gatekeeping yang dilakukan oleh bagian redaksi berita kekerasan terhadap perempuan pada Harian Meteor. Proses gatekeeping pada berita kekerasan terhadap perempuan, yaitu di mana gatekeeper tidak hanya memilih kata dan bahasa, tetapi juga memotong, menentukan bentuk, menampilkan, mengulang, dan menentukan lamanya informasi yang berjalan kepada para audience. Penelitian ini menggunakan teori Gatekeeping untuk menjelaskan proses gatekeeping yang berlangsung pada berita kekerasan terhadap perempuan dan teori Feminis Sosialis untuk melihat adanya ideologi patriarki dan kapitalisme di dalam berita kekerasan perempuan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis. Hasil Penelitian menunjukan, level-level di dalam proses gatekeeping selalu terjadi dalam produksi berita kekerasan perempuan. Dalam berita kekerasan terhadap perempuan yang dimuat oleh Meteor, level ekstramedia memiliki kekuatan yang dominan dibandingkan dengan level-level gatekeeping lainnya. Audience, pasar dan pengiklan merupakan pihak ektramedia yang memiliki pengaruh yang besar. Hal ini dinilai sebagai bisnis media, untuk menarik pembaca guna memperoleh profit yang akan berdampak pada eksistensi medianya. Pada akhirnya teks-teks berita kekerasan terhadap perempuan di Meteor menjadi bias jender. Kata-kata yang digunakan untuk memberitakan seperti digagahi, menyetubuhi, karaokean, melucuti, merudalnya, ‘berdiri’, dan ngulum, cenderung berani dan vulgar. Hal ini dikarenakan gatekeeper ataupun pekerja media di Meteor yang sebagian besar adalah laki-laki. Harian Meteor melaui proses gatekeeping berita kekerasan terhadap perempuan mereproduksi budaya kekerasan. Harian ini menjual kekerasan melalui berita kekerasan perempuan dengan penulisan dan kata-kata yang tidak berpihak kepada publik. Disarankan kepada harian Meteor untuk memiliki kesadaran jender yang baik, sehingga dalam proses gatekeeping berita kekerasan terhadap perempuan, pemilihan kata dan bahasanya dapat menggunakan kata-kata yang lebih baik dan sopan. Sebagai media tidak hanya memikirkan provit tetapi juga harus memberikan informasi yang tepat dan mendidik bagi masyarakat. Key Words : Gatekeeping; Jender; Kapitalisme; Patriarki. ABSTRAKSI Name : Oktavia Ruth Prawidiasari Nim : D2C 006 067 Title : Gatekeeping Process of News of Violence Toward Women in the Newspaper Meteor In daily Meteor found on the news of violence toward women. Reports of violence against women, written by the daily Meteor, tend to discredit and degrading women. Choice of words, language, angel, images, etc. in the news of violence toward women in the daily Meteor can not be separated from the process of gatekeeping. Therefore, the purpose of this research is to know the gatekeeping process undertaken by the editorial news of violence toward women on the daily Meteor. Gatekeeping process on the news of violence toward women, that is where the gatekeepers are not only choose the words and language, but also cut, determine the form, displays, repeat, and determine the duration of the current information to its audience. This research uses Gatekeeping theory to explain the gatekeeping process that goes on the news of violence against women and Socialist Feminist theory uses to see the ideology of patriarchy and capitalism in the news of violence of women. This study uses qualitative research with a critical ethnographic approach. The research results show, that the levels in the gatekeeping process always occurs in the production of female violence news. In the news of violence toward women that was published by the Meteor, the ekstramedia level has a dominant power compared with other gatekeeping levels. Audience, market, and advertisers are in ektramedia parties who have a major impact. This is assessed as media businesses, to attract the readers to obtain profit that will impact on the media’s existence. Finally the text of the news of violence toward women in the Meteor seems to be gender biased. The words used to preach such as digagahi, menyetubuhi, karaokean, melucuti, merudalnya, ‘berdiri’, dan ngulum, tend to be bold and vulgar. This is caused by the gatekeeper or media’s workers in the Meteor, which is mostly male. Daily Meteor through gatekeeping process of the news of violence toward women reproduce the culture of violization. This naily sells violence through the news violence toward women by writing and words that are not aligned to the public. Suggested to the daily Meteor to have a good gender awareness, so that in the gatekeeping process of the news of violence toward women, the selection of words and language may use better words and politeness. As a media do not only thinking about profit but must also provide appropriate information and educate the community. Keywords: Gatekeeping; Gender; Capitalism, Patriarchy RESUME SKRIPSI Judul Skripsi : Proses Gatekeeping Berita Kekerasan Terhadap Perempuan di Harian Meteor Nama Penyusun : Oktavia Ruth Prawidiasari NIM : D2C 006 067 Jurusan : Ilmu Komunikasi Pada Harian Harian Meteor banyak ditemukan berita-berita kekerasan terhadap perempuan. Harian ini merupakan Harian kriminal yang terbit setiap hari, pertama dan terbesar di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harian ini sangat populer terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Harian Harian Meteor beroplah 150 ribu eksemplar per hari dan juga menguasai persaingan untuk media sejenis. Bejan Syahidan, pemimpin redaksi Harian Harian Meteor, mengakui Harian Harian Meteor sebagai media kuning. “Isi dari media kami memang tidak jauh-jauh dari kriminal, seks, dan supranatural. Itu sudah maqom-nya media kuning mas,” akunya. “Tapi perlu digarisbawahi bahwa berita yang kami tulis adalah berdasarkan fakta, tidak dibuat-buat,” jelas Bejan. (http://chabibdutahapsoro.com/blog/ media-kuning-itu_21.html). Berita-berita kekerasan perempuan lebih banyak ditemukan pada media-media kuning atau yang dikenal dengan “yellow press”. Menurut Muhammad Sulhan, konsep media ini sudah tersegmentasi. Yellow press sebagai pemenuhan kebutuhan bagi kalangan menengah ke bawah. Buktinya terlihat dari struktur bahasa yang sederhana. Narasumber-narasumber yang tampil di media ini rata-rata adalah golongan menengah ke bawah. Jadi secara psikologis media ini adalah media kepunyaan mereka. ”Arah pembaca yellow press merasa senang dan terlayani kebutuhannya sehingga mereka membeli. Ini pasar yang sangat potensial karena rata-rata orang Indonesia adalah golongan menengah ke bawah,” jelasnya. Menurutnya, fungsi yellow press terlihat penting (http://chabibdutahapsoro.com/blog/ media-kuning-itu_21.html). Berita-berita kekerasan terhadap perempuan yang ditulis oleh surat kabar cenderung memojokkan dan merendahkan perempuan. Judul-judul pemberitaan seperti yang terdapat dalam Harian Harian Meteor (12/01/2010) “Suami Kaploki ISTERI, (Emosi, Konangan Onani Sambil Telepon WIL)”, (18/03/2010) “Tim Cabub Cabuli ABG”, (27/03/2010) “Hamil, Pacar Dibunuh (mau enaknya, enggak mau tanggung jawabnya)”, dll merupakan contoh berita-berita yang merendahkan perempuan. Surat kabar sangat sering memberitakan adegan pelecehan dan kekerasan tanpa berusaha mengkaitkannya dengan kondisi objektif masyarakat dan memberi tips bagaimana menghindarinya. Surat kabar lebih sering menonjolkan hal-hal yang sensasional daripada alasan dan motif yang sebenarnya dari pelecehan dan kekerasan yang terjadi. Ada asumsi yang meyakini bahwa orientasi media amat dipengaruhi oleh bagaimana visi dan persepsi atau orientasi para pengelola media terhadap dunia kehidupan, maka kurangnya kesadaran jender dan sensitif jender di kalangan pengelola media cenderung melahirkan pemberitaan yang bias jender. Atau setidak-tidaknya, banyak peristiwa atau persoalan yang sensitif jender dalam masyarakat yang terluput dari perhatian para wartawan dalam menulis berita dan angle tulisannya. Pemberitaan kekerasan terhadap perempuan oleh surat kabar cenderung dilihat sebagai bahan untuk komodifikasi semata. Dalam kegiatan produksinya, redaksi berita suatu surat kabar setiap harinya menerima banyak sekali berita yang berasal dari berbagai sumber. Ruang redaksi berita akan terus-menerus menerima berita dari wartawan, baik berita-berita yang yang bernilai tinggi atau rendah. Di sinilah tugas para staf redaksi untuk menyeleksi berita. Staf redaksi harus benar-benar cermat dalam menentukan berita mana yang dibutuhkan dan menarik bagi para pembaca (publik). Berbagai informasi dan berita yang masuk harus disaring untuk menentukan berita mana yang layak untuk dimuat. Untuk setiap berita yang terkumpul dilakukan rapat redaksi untuk menentukan berita yang akan dimuat. Proses pemilihan berita apa yang layak untuk terbit atau tidak inilah yang dinamakan proses gatekeeping. Proses gatekeeping ini selalu dilakukan di setiap media, seperti media pemberitaan seperti Harian Meteor. Penelitian awal tentang gatekeeping hanya membatasi jangkauan permasalahan sekitar kegiatan pemilihan berita yang berlangsung di dalam ruang berita. Dalam ruang berita dilakukan seleksi berita dari sejumlah berita dan gambar yang ada. Dari hasil seleksi berita-berita tersebut terkumpul sejumlah berita yang layak ditampilkan (McQuail, 1996 : 162). Dari proses gatekeeping ini akan terlihat bagaimana staf redaksi mempertimbangkan nilai-nilai sebuah berita yang layak untuk diterbitkan. Selain itu dalam proses ini juga dapat memperlihatkan apakah staf-staf redaksi melakukan tugasnya dengan benar, menulis suatu beria secara subjektif atau objektif. Proses gatekeeping juga diartikan sebagai proses seleksi berita-berita yang ada dalam media massa. Dari latar belakang di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses gatekeeping yang dilakukan oleh bagian redaksi berita kekerasan terhadap perempuan pada Harian Meteor. Proses gatekeeping pada berita kekerasan terhadap perempuan, yaitu di mana gatekeeper tidak hanya memilih kata dan bahasa, tetapi juga memotong, menentukan bentuk, menampilkan, mengulang, dan menentukan lamanya informasi yang berjalan kepada para audience. Penelitian ini menggunakan teori Gatekeeping untuk menjelaskan proses gatekeeping yang berlangsung pada berita kekerasan terhadap perempuan. Gatekeeping adalah proses penyeleksian berita-berita dalam sebuah media massa. Tetapi pada perkembangannya proses gatekeeping tidak hanya sekedar menyeleksi. Menurut Donohue, Tichenor, dan Olien (dalam Shoemaker, 1991), gatekeeping bisa diartikan sebagai sebuah proses luas yang meliputi kegiatan mengkontrol informasi, yang mencakup semua aspek pengkodean pesan. Gatekeeping tidak hanya menyeleksi, tetapi juga menyembunyikan, mentransmisi, menajamkan atau menonjolkan, menayangkan, mengulang, dan menentukan waktu terbit sebuah informasi. Dalam studi komunikasi dan jurnalistik gatekeeper tampak sebagai pemilih atau filter informasi manusia (misalnya, wartawan, editor, pemimpin redaksi). Meskipun penyajian teori bervariasi, Shoemaker (dalam Barzilai, 2008) mengakui konsep yang lebih luas mengenai gatekeeping. Namun, proses gatekeeping juga dianggap sebagai atau sekadar seleksi. Bahkan, gatekeeping dalam komunikasi massa dapat dilihat sebagai proses keseluruhan melalui realitas sosial yang dikirimkan oleh media berita, dibangun, dan bukan hanya serangkaian 'dalam' dan 'keluar' keputusan. Jadi, teori-teori komunikasi berfokus pada proses gatekeeping dan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhinya. Studi tentang gatekeeping ini memberikan gambaran kepada media massa mengenai struktur konseptual untuk membandingkan antara isi media dengan beberapa ukuran tentang realitas. Di dalam proses gatekeeping terdapat lima levek. Level individu, level rutinitas media, level organisasi, level ekstramedia, dan level system sosial. Selain itu juga digunakan, teori Feminis Sosialis untuk melihat adanya ideologi patriarki dan kapitalisme di dalam berita kekerasan perempuan. Feminisme sosialis ini melihat penindasan terhadap wanita itu disebabkan oleh saling keterkaitan antara kapitalisme dan patriarkisme. Menurut perspektif ini, penindasan terhadap wanita bukan disebabkan oleh hasil tindakan intensif individual tetapi merupakan produk dari struktur politik, sosial, dan ekonomi di mana individu itu hidup. Pemikiran feminisme ini dipengarui oleh pemikiran Karl Marx mengenai sifat manusia, teori ekonomi, teori masyarakat dan teori politik (Sunarto, 2009:36). Feminisme sosialis, melihat bahwa kapitalisme dan patriarki merupakan ideologi yang menyebabkan terjadinya penindasan terhadap perempuan. Perspektif feminis sosial memperlihatkan bahwa media sebagai instrumen dalam menyampaikan stereotipe, patriakal dan nilai-nilai hegemoni mengenai wanita dan feminitas. Media berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial, menurut perspektif ini media menampilkan kapitalisme dan skema patriarki yang dianggap sebagai sistem yang paling menarik. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis, metoda yang mencoba mennjelasakan adanya ketidakadilan, ketertindasan, dominasi, diskriminasi dalam suatu budaya tertentu, misal kelas, ras, dan gender. Hasil Penelitian menunjukan, level-level di dalam proses gatekeeping selalu terjadi dalam produksi berita kekerasan perempuan. Dalam berita kekerasan terhadap perempuan yang dimuat oleh Meteor, level ekstramedia memiliki kekuatan yang dominan dibandingkan dengan level-level gatekeeping lainnya. Audience, pasar dan pengiklan merupakan pihak ektramedia yang memiliki pengaruh yang besar. Hal ini dinilai sebagai bisnis media, untuk menarik pembaca guna memperoleh profit yang akan berdampak pada eksistensi medianya. Pada akhirnya teks-teks berita kekerasan terhadap perempuan di Meteor menjadi bias jender. Kata-kata yang digunakan untuk memberitakan seperti digagahi, menyetubuhi, karaokean, melucuti, merudalnya, ‘berdiri’, dan ngulum, cenderung berani dan vulgar. Hal ini dikarenakan gatekeeper ataupun pekerja media di Meteor yang sebagian besar adalah laki-laki. Harian Meteor melaui proses gatekeeping berita kekerasan terhadap perempuan mereproduksi budaya kekerasan. Harian ini menjual kekerasan melalui berita kekerasan perempuan dengan penulisan dan kata-kata yang tidak berpihak kepada publik. Disarankan kepada harian Meteor untuk memiliki kesadaran jender yang baik, sehingga dalam proses gatekeeping berita kekerasan terhadap perempuan, pemilihan kata dan bahasanya dapat menggunakan kata-kata yang lebih baik dan sopan. Sebagai media tidak hanya memikirkan provit tetapi juga harus memberikan informasi yang tepat dan mendidik bagi masyarakat.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:23897
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:10 Nov 2010 09:51
Last Modified:10 Nov 2010 09:51

Repository Staff Only: item control page