GELANGGANG REMAJA DI JAKARTA

IRIYADI, TAUFIQ (2001) GELANGGANG REMAJA DI JAKARTA. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
62Kb

Abstract

Remaja sebagai generasi penerus memiliki posisi yang sangat penting dalam merencanakan masa depan bangsa. Pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi salah satu usaha yang utama dalam mewujudkan masa depan bangsa cerah. Sementara itu ramaja lebih banyak bergerak di luar lingkungan keluarga, karena mereka bukan lagi kanak-kanak. Mereka ingin pengalaman yang lebih luas dengan teman-teman sebaya. Kecenderungan tersebut merupakan peluang besar masuknya pengaruh negative yang menjadi sumber timbulnya masalah sosial dan kemasyarakatan oleh remaja. Beberapa tahun belakangan ini semakin marak pemberitaan tentang segi negative remaja di media cetak maupun elektronik. Instansi, akademis, LSM yang merasa prihatin sering mengadakan diskusi atau seminar dengan topik yang sama sekitar remaja dan kreatifitasnya. Para tokoh agama pun selalu menghimbau lewat dakwah agar para remaja tidak terjerumus ke jalan yang sesat yaitu seputar tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan minuman keras. Hal ini membuktikan adanya keresahan di kalangan masyarakat. Jumlah remaja merupakan komposisi terbesar penduduk Jakarta yaitu 31,88 % dengan peningkatan 0,99% per tahun. Dengan pertumbuhan remaja yang pesat dan peningkatan pengangguran akibat krisis ekonomi yang mengakibatkan putus sekolah, di tahun-tahun mendatang akan semakin banyak permasalahan kerawanan sosial yang pelaku dan korbannya adalah remaja. Akan tetapi tidak seluruhnya remaja melakukan kenakalan, di sisi lain minat remaja Jakarta pada bidang olahraga dan seni sangat besar dapat dilihat dari pemanfaatan ruang-ruang terbuka seperti bantaran kali, taman, jalan raya dan tanah kosong untuk bermain pada lapangan sesungguhnya membutuhkan biaya persewaan yang mahal seperti graham, sasana, hall, gedung olahraga dan komplek olahraga. Apresiasi remaja terhadap seni dibuktikan dengan seringnya diadakan pagelaran pentas, festival terutama musik yang diadakan oleh sekolah, perguruan tinggi maupun lembaga/instansi. Hal ini untuk menyalurkan bakat, minat dan dinamika remaja yang sedang berkembang dengan kegiatan berguna. Dari jumlah prasarana olahraga menurut Dinas Pemuda dan Olahraga adalah 650 buah terdiri dari lapangan sepakbola, lapangan basket, lapangan bulutangkis, lapangan voli, kolam renang, gedung olahraga dan gedung serbaguna. Jumlah itupun belum memenuhi standar ideal ruang gerak untuk berolahraga minimal 3 m² / orang bila luas seluruh lapangan dijumlahkan. Dalam Pola Umum Pembinaan dan Pengembangan Olahraga di DKI Jakarta, 1995 untuk pembangunan prasarana olahraga diasumsikan masyarakat Jakarta berolahraga sebesar 75% dan 25% tidak berolahraga yaitu balita dan manula. Sedangkan penduduk Jakarta saat ini berjumlah 9.489.400 orang ini berarti 75% x 9.898.400 = 7.420.800 orang. Menurut perhitungan di atas kebutuhan lahan olahraga adalah 7.420.800 : 100.000 x 229.ooo m² = 16.993.632 m². (standar perencanaan kota Olympic Solidirity untuk 100.000 penduduk membutuhkan lahan berolahraga 229.000 m²). pada saat ini lahan yang telah dipergunakan untuk berolahraga baik berupa prasarana olahraga terbuka, tertutup, taman bermain dan jalan yang dimanfaatkan untuk berolahraga baru mencapai 8.000.000 m² sehingga masih dibutuhkan sekitar 16.993.632 m² - 8.000.000 m² = 8.993.632 m². kondisi ini tidak ideal mengingat keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk. Belum adanya perencanaan program yang menyatukan visi dan misi di masing-masing gelanggang remaja menimbulkan kesan heterogen dan berjalan sesuai dengan rel berlainan. Hal itu terjadi akibat perbedaan minat remaja di setiap wilayah, di Jakarta Pusat banyak dilaksanakan pendidikan dan olahraga menonjol bola voli, di Jakarta Selatan banyak dilaksanakan pembinaan seni dan budaya, di Jakarta Utara banyak dilaksanakan festival dan pertandingan olahraga seperti PORSENI pelajar. Ketidakjelasan masa pembinaan yaitu mulai dan berakhirnya suatu pembinaan mengakibatkan pemborosan biaya dan berkurang jumlah remaja yang harus dibina. Dari hasil wawancara dengan Bapak Zaenal Arifin, Kabag. Olahraga, Biro Bina Mental DKI Jakarta mengatakan kebutuhan Gelanggang Remaja di Jakarta perlu karena yang ada saat ini tidak ada korelasi hubungan meningkat antar gelanggang remaja yang ada saat ini menjadikan program pembinaan terputus pada tingkat kotamadya terhenti atau diambil alih oleh instansi/lembaga/klub tanpa proses administrasi ganti rugi jasa pembinaan awal. Wadah untuk kelanjutan program pembinaan belum ada, jadi kegiatan seperti PORSENI pelajar, lomba antar kotamadya, usaha pencarian bibit tidak dapat dikembangkan karena kegiatan bersifat insidentil, tidak terjadwal dan diadakan atas prakarsa satu gelanggang remaja tingkat kotamadya. Sudah banyak cara yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan-permasalahan sosiologis pada penduduk kelompok usia remaja. Salah satu cara yang telah dilaksanakan adalah pembangunan sarana pembinaan sebagai wadah penyaluran minat dan bakat serta meningkatkan kreatifitas para remaja. Sarana yang telah dibangun tersebut adalah : 1. Sarana Krida, sarana yang disediakan untuk proses pembinaan dan pengembangan kegiatan-kegiatan para remaja yang tergabung dalam wadah organisasi Karang Taruna di Tingkat Kelurahan. 2. Gelanggang Remaja tingkat Kecamatan, sarana yang disediakan untuk proses pembinaan dan pengembangan kegiatan-kegiatan para remaja yang telah berprestasi di Tingkat Kelurahan. 3. Gelanggang Remaja tingkat Kotamadya, sarana yang disediakan untuk proses pembinaan dan pengembangan kegiatan para remaja yang telah berprestasi di Tingkat Kecamatan. Wadah yang ada saat ini di Jakarta didirikan sekitar tahun 70-an atau kurang lebih 30 tahun lalu. Berarti untuk saat ini masing-masing gelanggang remaja kotamadya melayani 605.000 remaja yang sedang membutuhkan wadah untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreatifitas. Hasil wawancara dengan Ir. Harry Wadi, Dinas Pemuda dan Olahraga, dalam Perda. No.9 tahun 1997 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pemuda dan Olahraga pasal 23 menyebutkan untuk melaksanakan program pembinaan dan pengembangan anak, remaja, dan pemuda perlu pembangunan, pengadaan dan pengelolaan prasarana / sarana pemuda dan olahraga. Salah satunya adalah gelanggang remaja dengan pembangunan bertingkat mengingat keterbatasan lahan dan harga tanah yang mahal sebisa mungkin menggunakan lahan milik Pemda. Dari uraian di atas, Kota Jakarta membutuhkan suatu wadah pemusatan kreatifitas dan aktifitas remaja untuk melengkapi fasilitas sosial dan rekreasi kota serta pendidikan formal. Pemusatan aktivitas bagi remaja yang merupakan kelanjutan program binaan dari yang ada diharapkan menghasilkan remaja yang mandiri dan berguna bagi pemerintah daerah. Juga untuk menghindari kerawanan sosial remaja terhambat akibat fasilitas yang kurang memadai dan tidak memenuhi syarat. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas diperlukan perencanaan dan perancangan tentang gelanggang remaja yang menggunakan penekanan desain arsitektur high-tech dengan pendekatan karakter remaja. 1.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan dari pembahasan adalah menggali, mengungkapkan dan merumuskan masalah-masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Gelanggang Remaja di Jakarta agar : 1. Tercipta suatu wadah, dimana remaja dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat di luar pendidikan formal sebagai kelanjutan program dari gelanggang remaja yang sudah ada dan tidak menutup kemungkinan bagi remaja di sekitar wilayah untuk menggunakan fasilitas pada gelanggang remaja. 2. Remaja dapat berinteraksi sosial dengan sesamanya, berekreasi, dan berekreasi secara positif dan terarah dalam lingkungan terpadu antara kegiatan edukatif dan rekreatif yang nyaman. 3. Perencanaan dan besaran ruang dan lokasi yang mampu memenuhi kebutuhan remaja saat ini dan mendatang, sesuai dengan sifat remaja yang bergerak terus mengikuti perkembangan remaja Sasaran Sasaran dari pembahasan ini adalah tersusunnya konsep dasar dan landasan program perencanaan dan perancangan Gelanggang Remaja di Jakarta 1.3 Manfaat Secara Subyektif Untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai jenjang strata S1 di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip dan sebagai bekal studio grafis. Secara Obyektif Dapat bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa yang akan menyusun Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur 1.4 Lingkup Pembahasan Perencanaan dan perancangan untuk Gelanggang Remaja di Jakarta ini berkaitan dengan aspek-aspek yang berkaitan dengan perundang-undangan / kebijaksanaan pemerintah, meliputi bidang pendidikan, kebudayaan, kepemudaan, olahraga, serta kondisi aspek sosial dan aspek fisik. Secara fisik lingkup pembahasan pada landasan program perencanaan dan perancangan ini meliputi DKI Jakarta, yang berskala pelayanan untuk kegiatan bersifat regional tanpa mengabaikan kegiatan yang bersifat nasional. 1.5 Metode Pembahasan Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam pembahasan ini adalah : A. Data Primer Adalah data yang langsung diperoleh dari sumbernya, dan pengumpulannya dilakukan dengan : 1. Observasi langsung Observasi langsung dalam pengumpulan data dengan cara melihat, mengamati, dan mencatat informasi secara langsung pada obyek yang sedang diteliti. 2. Wawancara Wawancara dilakukan secara langsung dengan nara sumber yang dipercaya. a. Direktorat Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga, Depdiknas b. Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta c. Biro Bintal Pemerintah DKI Jakarta d. Kantor Menpora B. Data Sekunder Adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dengan jalan membaca buku-buku yang berhubungan dengan obyek yang diteliti. Pengumpulan data sekunder ini dengan melakukan studi kepustakaan Metode Analisis Data Untuk pemecahan permasalahan dalam bahasan ini metode analisis data yang digunakan adalah : 1. Analisis Kualitatif Adalah analisis untuk menggambarkan dan menerangkan hasil pembahasan tentang berbagai masalah yang dapat diuraikan dengan kata-kata maupun diagramatis 2. Analisis Kuantitatif Adalah analisis dengan menggunakan ukuran angka-angka 1.6 Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan secara garis besar merupakan pengolahan data yang dilnjutkan dengan analisis dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang menjadi Landasan Program Perencanaan dan Perancangan. BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan. BAB II Tinjauan Umum Remaja dan Gelanggang Remaja, menguraikan pengertian gelanggang remaja, kajian teoritis tentang remaja, tinjauan tentang gelanggang remaja sebagai wadah kegiatan remaja, studi banding beserta analisis dan kesimpulan dari studi banding. BAB III Tinajauan Gelanggang Remaja di Jakarta, menguraikan tentang tinjauan terhadap Kota Jakarta, potensi dan permasalahan remaja di Jakarta, faktor penentu perencanaan gelanggang remaja, dan konsepsi rencana kerja pola pembinaan Gelanggang Remaja di Jakarta. BAB IV Kesimpulan, Batasan dan Anggapan, menguraikan kesimpulan dari hasil analisis / pendekatan sebagai acuan untuk menentukan batasan dan anggapan yang dipakai dalam penyusunan program perencanaan dan perancangan. BAB V Pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan, menjabarkan analisis / pendekatan program perencanaan dan perancangan berdasarkan kerangka permasalahan, batasan, dan anggapan yang ada. Pendekatan yang diperlukan antara lain, yaitu pendekatan : aspek fungsional, aspek teknis, aspek arsitektural dan diakhiri dengan pendekatan penentuan lokasi dan tapak. BAB VI Konsep dan Program Dasar Perancangan, berisi konsep dasar perancangan, faktor penentu perancangan dan program perancangan sebagai akhir dari analisis.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:23582
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:27 Oct 2010 15:26
Last Modified:27 Oct 2010 15:26

Repository Staff Only: item control page