LAPORAN PENELITIAN MOBILITAS PENDUDUK DI PULAU JAWA ( Hasil Sensus Penduduk Tahun 1990)

Djastuti, Judi (1996) LAPORAN PENELITIAN MOBILITAS PENDUDUK DI PULAU JAWA ( Hasil Sensus Penduduk Tahun 1990). Documentation. UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF - Published Version
991Kb
[img]PDF - Published Version
Restricted to Repository staff only

2619Kb

Abstract

tehtang migrasi di. Pulau Jawa seoara umum bertujuan untuk mengindentifikasi posisi reletif pulau ini dalam Jaring¬Jaring migrasi haf:donal. TuJuan umum ini diJabarkan lebih lend-nt menJadi dua kelompok. Pertains, untuk mengidentifikasi volume dan arch migrasi interregional den interregional. Kedua, untuk mengSnali arus utama migrasi antara Jaws dengan daerah-daeran lain don faktor-faktor yang berbentuk pole tertentu. Dari basil identifikakasi kedue tujuan tersebut dibuat interpretasi interpretasi dalam bentuk. kesimpulan. Dari kasimpuian itu dimungkinkan disusun rekomendasi kebiJakan-kebiJakan sektoral, yang diharapkan mampu mengarahkan migrasi sebagai faktor positif' penyumbang pembangunan, baik pada tingkat individu, lokal: regional maupun nasional. untuk menoapai tuJuan-tujuan di atas digUnakan data hasil Senaus Penduduk 1980, Supas 1985, dan Sensus Penduduk 1990. terutama untuk melihat perkembangan volume dan arab migrasi Liar' don ke Pulau Jawa. Kajian tentang arus dan volume migrasi hanya didasarkan pada dua konsep migrasi, yaitu migrasi semasa hidup dan migrasi risen. Konsep migrasi risen dalam penelitian ini r.iciak digunakan dalam pembahasan mengenai trail dan volume migrasi ,:arena pola yang dihasilkan same dengan pole-yang dibentuk oleh konsep migrasi semasa hidup. Pada saat penelitian ini dilakukan, data mengenai karakteristik individu dan rumah tangga migran belum selesai diproses di BPS sehingga determinan-determinan migrasi ;;Pada tingkat individu tidak dapat digunakan.'Dalam beberapa hal data hanya diambil dari hasil-hasil penelitian yang sudah adz; don publikasi-publikasi resmi yang lain. Hasil studi menggambarkan bahwa Pulau jaws sebagai daerah yang paling berkembang di Indonesia memiliki kondisi demografi, sosial, ekonomi, dan infrastruktur yang lebih baik daripada daerah-daerah lain. Variabel-variabel demografi, seperti jumlah, atruktur, clan persebaran keruangan penduduk tarnpaknya sangat ditentukan oleh keberadaan fasilitas pelayanan sosial, ekonomi, dan infrastruktur: Dengan demikian, variabel-variabel ketersediaan fasilitas infrastruktur muncul sebagai determinan yang panting dalam studi migrasi intraregional maupun interregional. Kedudukan Pulau Jawa sebagai core Indonesia dari waktu ke waktu cenderung menguat, sekaligus menempatkan daerah-daerah lain sebagai kawasan periphery. Hal ini antara lain terlihat dari dinamika sebaran spasial aspek-aspek demografi, sosial den ekonomi, yang mengisyaratkan adanya proses konsentrasi fasilitas infrastruktur transportasi dan komunikasi, fasilitas pelayanan sosial, den fasilitas pelayanan ekonomi, kemudian diikuti dengan perkembangan demografis, yang secara kuantitatif hanya sedikit mengurangi ketimpengan persebaran spasial yang sudah ada. Seca•a kualitatif, penduduk yang berpindah masuk ke Pulau Jawa adalah mereka yang terdidik dan inemiliki later belakang social ekonomi lebih balk daripada yang keluar, yang pada umumnya mereka mengikutk transmigran sebelumnya. Sebagai pusat konsentrasi sebagaian baser penduduk Indonesia Pulau Jawa memiliki tingkat keunggulan komparatif fasilitas¬fasilitas pelayanan social, ekonomi dan investasi. Fasilitas¬fasilitas daya tarn: bagi orang yang akan berpindah ice Pulau Jawa bukan merupakan daya dorong bagi yang akan ke luar Pulau Jawa. ini terbukti dari tingginya akses penduduk secara relatif maupun absolut untuk memperoleh berbagai pelayanan tersebut. Konsekuensi logic deri kondisi tersebut Alga tercerMin dari pole migrasi yang nerkembang di Pulau Jawa pada dasawarsa sembilan puluhan ini. Secare keseluruhan migrasi masuk den migrasi keluar intraregional sebagai berikut. Perpindahan penduduk antarpropinri di Pulau Jawa menunjukkan propinsi yang dominan. kemudian perpindahan dari den ke Sumatra, dan disusul pulau-pulau lain. Menurut konsep migrasi semasa hidup, tercatat sekitar 51 persen dari 10.316.803 jiwa migran yang keluar dari Jawa adalah migran intraregional. Peranan Sumatra sebagai pena.mpung migran dari Jawa juga renting, sekitar 34,2 persen dari mereka yang tercatat Lelbaga4 migran keluar Jawa berpindah ke Sumatra. Pola migrasi yang dibentuk oleh konsep migrasi risen der! Jawa menunjukkan due hal yang panting. Pertama, lebih dari due pertiga (87,8 persen) dari 3.258.848 orang yang melakukan perpindahan di Jawa adalah migran intraregional, yang mencerminkan semakin penetingnya peranan DKI Jakarta dan kawasan sekitarnya sebagai penyerap migran intraregional di Jawa. Vaduz., peranan Sumatra semakin kecil (18,1 persen), tetapi kawasan Indonesia bagian Timur mulai menunjukkan peranan pentingnya dalam mengakomodasi migran dari Jawa. Meskipun secara umum Pulau Jawa dalam daring-,laying migrasi nasional dikategorikan sebagai daerah pengirim migran utama bersama sama dengan Bali, secara khusus sebenarnya DKI Jakarta den Jawa Barat dapat dinilai sebagai daerah penerima migran.., Higrasi masuk ke kedua propinsi ini, terutama di perkotaan, cenderung semakin meningkat dari waktu ke waktu. Propinai¬propinsi lain, yaitu JaWa Tengah, Daerah Istimewa YoYakarta. dan Jawa Timur lebih berperan sebagai daerah pengirim migran menurut konsep migrasi semasa hidup maupun migrasi resen. Menurut konsep migrasi semasa hidup, sekitar 6.937.224 jiwa tercatat lahir di luar propinsi tempat tinggalnya sekarang. Sekitar 75 persen adalah migran intraregional dan sekitar 15,4 persen migran masuk dari Sumatra. Sumbangan dari pulau-pulau lain dalam migrasi masuk ke Jawa pada umumnya masih kecil, di 'bewail 3 persen. Sementara itu, menurut konsep migrasi risen dapat dikenali bahwa sekitar 2.328.108 Jiwa yang menetap di Jawa berpindah dalam waktu lima tahun terakhir. Kompcsisinya menurut daerah asal sekitar 76,7 persen migran berasal dari Pulau Jawa merupakan migran intraregional dan sekitar 14,1 persen merupakan migran dari Sumatra. Untuk kawasan Indonesia Bagian TimUr, tampaknya hanya Kalimantan yang menyumbang sekitar 3 persen dari migran risen di Jawa. Pogisi Pulau Jawa dalam Jaring-jaring migrasi nasional yang dilihat berdasarkan data migrasi interregiOnal semasa hidup dan migrasi interregional risen, menunjukkan bahwa pole lama dominaai jalur Jawa-Sumatra tetap ada, meskipun sudah ada gejala ewal pergeseran ke arah Indonesia Bagian Timur. Hal ini antara lain tercermin der! imbangan migrasi interregional yang menggunakan konsep migrasi semasa hidup, yang menunjukkan bahwa semua propinsi memperoleh angka neto migrasi negatif, kecuali DKI Jakarta. Lengan konsep migrasi rien, tiga propinsi memperoleh angka migrasi neto positif, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, clan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari studi ini dapat dikenali arus utama migrasi intraregional selama lima tahun terakhir, yang mencakup Jalur¬jalur DKI Jakarta - Jawa Tengah, Jawa Barat - Jawa Tengah, Jawa Tengah - Daerah Istimewa Yogyakarta . Pada umumnya volume migrasi selama lima tahun terakhir pada jalur-jalur tersebut mencapei angka di atas 700.000 migran. Arus-arus migrasi intraregional utama yang dapat terdeteksi dart stud! ini antara lain jalur Sumatra -, DKI Jakarta, Sumatra - Jawa Earat, Jawa Tengah - Sumatra dan Jawa Timur - Kalimantan. terutama Kalimantan Timur. Perpindahan pe.nduciuk pada jalur-jalur tersebut rata-rata mencapai angka di atas 100.000 orang selama lima tahun terakhir. Pola migrasi intraregional yang ada sekarang cenderung masih. menempatkan DKI Jakarta sebagai penerima migran utama dengan daerah penyebaran di Jawa. Barat. Tampaknya migrasi intraregional yang berkembang sangat dipengaruhi oleh tingginya tingkat investasi di kawasan Jabotabek (Jakarta Bogor Tangerang •Bekasi). Untuk migrasi interregional masuk ke Jawa, selain DKI Jakarta clan Jawa Earat sebagai kawasan industri yang menawarkan kesempatan kenja clan usaha, juga Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan pusat konsent•asi fasilitas pelayanag pendidikan tinggi. Pola migrasi interregional keluar dari Jawa telah mengukuhkan posisi Jawa sebagai daerah pemasok utama migran ke Sumatra. Selain itu terdapat gejala dini semakin pentingnya arus migrasi, Jawa Timur dan Kalimantan Timur merupakan daerah yang menawarkan kesempatan kerja sektor ekstraktif. Rehomendasi yang diberikan secara sektoral antara iain ineiherikan a•ahan bahwa sektor kesehatan dan pendidikan di luar Jawa masih perlu diperhatikan, terutama untuk mengatasi jarak abeolut antsra pengguna jasa kesehatan dan pusat pelayanan. Peiayanan kesehatan dan pendidikan perlu diberikan lebih banyak melalui fasilitas pelayanan keliling (mobile service unit). Hal ini dapat berupa Puakesmas Keliling, Perpustakaan Keliling, dan pelayanan lain yang secara periodik berkeliling untuk mengurangi jarak absolut bagi pengguna jasa. Laiam sektor trasportasi dan komunikasi, usaha mendekathan pelayanan transportasi dan )comunikasi secara absolut Juga menJadi rrinsip utama rekomendasi. Untuk transportasi miealniya, peninghatan prasarana perhubungan yang sudah ada (jalan. Jembatan, dan pelabuhan penyeberangan) perlu memperoleh perhatian yang lebih' besar di luar Jawa. Hal ini perlu diikuti dengan kebijakan kredit berbunga rendah untuk pengadaan sarana transportasi, misalnya mobil dan speedboat, deism rangka membuka isolasi daerah. Perluasan Jangkauan fasilitas pelayanan komunikasi dapat dilakukan setelah transportasi lebih baik. Bator ekonomi (investasi) perlu diperhatikan sebab tersedianya kesempatan kerja yang produktif merupakan kunoi tercapainya kesejahteraan manusia. Dengan pekerJaan yang produktif orang akan memperoleh pendapatan yang cukup untuk berbagai barang dan jasa pelayanan. Untuk menciptakan kesempatan kerja yang produktif, investasi diarahkan secara teknologi pada• karya dan menyebar ke daerah-daerah yang belum berkembang industrinya di luar Jawa. Meskipun secara ekonomis kebiJakan semacam ini agak bertentangan dengan prinsip-prinsip aglomerasi ekonomi, diperlukan suatu kemauan politis (political will) dari . pemerintah untuk mewujudkannya. Dengan kebijakan semacam ini diharap]can kemauan pemerintah untuk lebih menekankan transmigraii swakarsa mandiri akan terwuJud karena transmigran mungkin bekeria lain di luar sektor pertanian. ABSTRACT The study on migration in Java is, as a whole, aimed tat identifying the. relative position of this island in the national migration network. This general objective is further analyzed . into two main groups : 1) identifying the volume and trend of intermigration and the interregional migration, and 2) identifying the mainstream of migration between Java and the other regions, and exspianations about factors which give the form of certain patterns. Eventually, out of the identification of these two objectives interpretations are then made in the form of conclusions to make recommendations anout sectoral policies to be able to direct migration to play its role in development either in individual, local, regional or national. levet. To achieve these objectives the study uses the 1090 Population Census, and also the 1980 and 1985 Population Censuses to observe the development of the volume and direction of migration from and to Java. The study on the stream and voluthe of migration is only baseed on the two migration concepts, the lifetime migration and the recent migration. Concerning the concept of recent migration, the discussion on the trend and volume of migration is not used in the study. since the pattern resulting it is similar to that formed by the. lifetime migration concept. When the study was being carried out, data about the characteristics of the individuals and of the migrants' households had not been wholly processed by the Central Bureau of Statistics, and thus the migration determinants on the individual level could not yet been reported. In some cases, data are taken from the existing research results and from other formal publications. The study shows that the Island of Java, which has been known as the most developed region of indonesia, has better demographic, social, and econimic conditions and infrastructures compared with the other islands. Some demographic variables such as the number, structure, and space distribution of population seem to be greatly determined by the existing socioeconomic service facilities and infrastructures. Thus, the variables of supply of infrastructural facilitities emerge as a significant determinant in the study of inter as well as interregional migration. The position of Java as the core island of Indonesia tends: to be increasingly sfronger from time to time, and has. at the same time, caused the other regions to become peripheries. This could be observed, among other, by the spatial distribution dynamics of the demographic and socioeconomic aspects which imply that there is a process of concentration about the infrastructure facilities in transport and communicaticin, social and econimic service facilities followed by demographic development which, quantitatively, only slightly lesSened the partialities of the, existing spacial distribution. Qualitatively. people who inmigrated to Java were those of the educated and those who have better socioeconomic background than people who outmigrated. to other islands who were real transmigrants or who followed their fellow migrants who had left earlier. As a concentration centre of the maiority of people of Indonesia, The island of Java has some comparative superiority in the supply of socioeconomic facilities as wall tht invesments which may become the pull factor to people who want to migrate to Java, and not push factor to those who are bound to transmigrate. This is proved by the high access of people who either relatively or absolutely want to obtain these various services. The logical consequences of these conditions is described by the .migration patterns which developed in Java during the decade of 1990s. • As a whole, the in-and out-of interregional migration shows a most dominant proportion, followed further by migration from and to Sumatra and other islands. According to the lifetime migration concept, about 51 percent out of 10,316,803 migrants who transmigrated from Java were interregional migrants. The role of Sumatra as the receiving region for migrants from Java is still important. This can be observed by the fact that 34.2 percent of all migrants from Java moved to Sumatra. The pattern of migration formed by the recent migration concept from Java shows two important factors. Firstly, more than. two thirds (57.8 percent) Out of 3,256, 848 people who performed population mobility in the Island of Java. were interregional migrants,. the fact of which described the increasingly important role of DKI Jakarta and its surrounding regions in absorbing interregional migrants of Java. Secondly, the role Sumatra became less and less important (18.1 percent') and many regions of the eastern parts of Indonesia began to show their important role in accannodating migrants from Java. Even though, as a whole, in terms of national migration the I-lands of java and Bali have been categorized af, the main sending regions, yet, specifically, DKI Jakarta and West. Java are actually more known as the receiving migrants regions. Inmigration to these two regions, especially to the. cities, tends to increase frum time to time. Meanwhile, according to the concept of either lifetime migration or recent migration, other provinces such as Central Java, Yogyakarta Special Region, and East Java are more notified for their sending of migrants. According to the lifetime migration concept, persons are identified as being born outside the they now live. About 75 percent of the number are migrants, followed by 15,4 percent of inmigrants Supports to Java are, on the whole, small (3 percent). Meanwhile, according to the recent migration concept, about 2,328,108 people who live permanently in Java heve performed transmigration during the last five yeats. The compasition, by vilages of origin shows that 76,7 percent came from Java as interregional migrants and 14.1 percent came from Sumatra as ordinary migrants. From East Indonesia, it seems that only Kalimantan sent 3 percent of recent migrant to Java. In the national migration network, the position of Java, based on data of lifetime interregional migration and recent interregioal migration, shows that the old patterns of the domination line between Java and Sumatra sill exists, even though a shift to the eastern part of Indonesia has been initiated. This is observed by the the balance of the interregional migration which used the lifetime migration concept, all of which shows that all provinces have obtained a negative. net migration rate except Jakarta Specific Region. By using the recent migration. concept, three provinces, Jakarta Region, West Java and Yogyakarta Special Region have obtained positive net migration rate. From the study, one can identify the main stream of interregional migration which has taken place for the last five years, covering the traffic lines between DEI Jakarta and Central Java, West Java and Central Java, and between Central Java and Yogyakarta Special Region. Generally, the volume of the above three lines has, during the last five years, reached more than 700,000 migrants. The main streams of interregional migration which could be noted in the study are among others the lines between Sumatra and DKI Jakarta, Sumatra and West Java, Central Java and Sumatra, east Java and Sumatra, and East Java and Kalimantan, particularly East Kalimantan. The population movements using these have covered about 100,000 persons on average during the last five years. The percent interregional migration pattern still has placed Jakarta Specific Region as the main area of receving migrants and is distribution in the areas of West Java. The development interregional migration seems to be greatly influenced by the highly increasing investments thats take place in the regions of Jabotabek. Conerning interregional migration to Java, it shows that, except DKI Jakarta and West JaVa which offered countless employment opportunities, Yogyakarta Special Region also forms a center of service facilities on higher education. The interregional migration pattern to outside Java has strengthened' the position of Java to become the main island of sending migrants to Sumatra. Besides, there is the symptom that, the more important the streams of migrants, the Provinces of East Java and East Kalimantan form the regions which. offer employment opportunities in the extrative sector. Sectoral recommendations imply that in the regions outside Java the sectors of health services and education 'need much greater attention, especially to cover the enormous gap between the utilization of health services and the service center. Health'. services and education demand better facilities on mobile services units. This could be in the forms of Mobile Community Health Centers, Mobile Library services, and several other mobile periodical services in order to lessen the absolute gap with the service users.. In the transportation and communication sectors, these services also become one of the main objectives. In transportation, for instance, improvement of communication facilities such as roads, bridges, and harbours, should be given greater attention in regions outside Java. This could be realized among others with the acquisition of credits with low interests for benefits of transportation facilities such As s•all¬scalemetorcars, speedboats for crossing the rivers and openinci, the many isolated areas. The expansion of communication service facilities could be realized when better transport facilities are already in function. The econimic investment, sector should realize that the availability of productive employment opportunities is the most important the production employment sector the population would earn sufficient income to obtain many kinds of commudities and enjoy various services. In order to create productive employment oppotunities, investments should be technologically directed to labour intensive activities and should be geographically distributed evenly in areas outside Java where industrialization is still poorly developed. Even though such policy is politically contradictive with the economic agglomeration principles, certain political will is badly needed from the government to realize, the above objectives. The government is expected that self-initiated transmigration should be stimulated and realized since, in reality, transmigrants need other acupatione beside working in the agricultural sector.

Item Type:Monograph (Documentation)
Subjects:J Political Science > JF Political institutions (General)
ID Code:23003
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:13 Oct 2010 10:26
Last Modified:13 Oct 2010 10:26

Repository Staff Only: item control page