SEMARANG BOOK HOUSE

SUPRIYATIN, ETY (2010) SEMARANG BOOK HOUSE. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
87Kb

Abstract

Seiring dengan diberlakukannya kebijaksanaan desentralisasi, dimana peranan daerah menjadi sangat besar, perkembangan suatu daerah akan bergantung pada kemampuan daerah itu sendiri dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya. ( Revisi RTRW/RDTRK Kota Semarang tahun 2000-2010) Pendekatan pembangunan melalui otonomisasi yang seluas-luasnya menghendaki Kota Semarang perlu mendorong pembangunan kota agar lebih produktif untuk menghasilkan daya guna dan hasil guna yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan prinsip otonomi yang mengharuskan kota lebih mandiri dalam pelaksanaan dan pengelolaan pembangunan kota. Dalam kaitan ini, maka Kota Semarang harus mampu mendorong pembangunannya sesuai dengan kemampuan atau potensi yang ada berdasarkan keuntungan komparatif dan kompetitif, serta berkelanjutan. ( Revisi RTRW/RDTRK Kota Semarang tahun 2000-2010) Implikasi dari perubahan kebijakan tersebut diantaranya adalah pengembangan sektor ekonomi. Pengembangan di sektor ini hendaknya memiliki spesialisasi dan diferensiasi agar dapat unggul dari yang sudah ada. Strategi pengembangan tata ruang wilayah kota Semarang yang direncanakan untuk bidang perekonomian adalah sektor industri, sektor perdagangan, sektor jasa, dan sektor lingkungan hidup. ( Revisi RTRW/RDTRK Kota Semarang tahun 2000-2010) Untuk sektor perdagangan dan jasa yang berkembang di Kota Semarang diantaranya perdagangan di bidang komputer, perbukuan, seluler, tekstil, makanan dan lain – lain. Perdagangan buku tidak hanya didukung dengan keberadaan toko buku saja, tetapi juga dengan adanya kegiatan pameran buku, bedah buku, seminar buku, diskusi buku, dan kegiatan lainnya. Secara tidak langsung kegiatan – kegiatan tersebut merupakan media promosi dan pengenalan buku kepada masyarakat, sehingga perdagangan buku akan lebih berkembang. Kota Semarang merupakan kota yang menjadi pasar potensial untuk penjualan buku. Ini terlihat dari besarnya jumlah penduduk di Semarang yang didukung tingkat pendidikan masyarakat.’’Sebagai kota yang menjadi Ibukota Jawa Tengah, Semarang merupakan pasar yang sangat potensial untuk mengembangkan bisnis penjualan buku di kota ini,’’ kata Ketua Penyelenggara pameran buku yang bertajuk ’Gebyar Buku Murah 2010’, Ratna Riadhini, Senin (1/3).Selain itu, katanya, potensi kota ini dalam penjualan buku, terlihat dari jumlah pengunjung dalam pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Jalan Sriwijaya, Semarang, itu setiap hari mencapai 2.000 orang sejak 25 Februari, saat pameran dibuka. (Sumber : http://www.wawasandigital.com, diakses tanggal 19 Maret 2010 ) Akan tetapi, kegiatan pameran buku ini tetap mempunyai kendala karena keterbatasan fasilitas. Menurut keterangan pengurus Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jateng David Sitranata, “Bisnis pameran, terutama di Semarang cukup baik, hanya saja Semarang tidak memiliki tempat besar untuk menampung kegiatan pameran dengan skala besar, sehingga pihak penyelenggara kesulitan mencari tempat stand pameran.” (Sumber : http://bikin.web.id/tag/pameran-komputer, diakses tanggal 22 Maret 2010 ) Selain kegiatan pameran buku yang sedang marak, konsep toko buku juga berubah fungsi. Kini makin banyak keluarga yang memilih toko buku untuk bersantai. Di banyak toko buku pada akhir minggu juga sudah tampak pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah tidak ada lagi orang datang sendirian ke toko buku dan setelah memilih-milih langsung pulang. Banyak yang datang sekeluarga. Penampilan mereka pun santai, ala kadarnya, dengan memakai baju santai seperti kaos oblong. Bahkan, ada yang hanya bersandal jepit dan celana pendek. Kecenderungan bersantai sekeluarga di toko buku agaknya ditangkap oleh beberapa pengusaha sebagai peluang bisnis. Mereka sudah tidak lagi mengkhususkan menjual buku saja, tapi lengkap dengan menjual barang-barang lain. Tidak hanya alat-alat tulis, tapi juga 'barang-barang supermarket'. Bahkan ada beberapa toko buku yang kini sengaja dikonsep sebagai tempat rekreasi, atau bersantai. (Sumber : http://ahperpus.multiply.com , diakses 17 februari 2010 ) Dari latar belakang di atas, penyusun menyimpulkan bahwa perlu adanya sebuah fasilitas publik bersifat komersial yang dapat mewadahi kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan dunia perbukuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yaitu Semarang Book House. Semarang Book House ini menggunakan konsep one stop book center, dimana fasilitas – fasilitas yang mendukung kegiatan perbukuan ini nantinya terintegrasi dalam satu lokasi. Selain itu, keunggulan Semarang Book House yang lain adalah kenyamanan bagi pengunjung untuk beraktivitas di dalamnya. 1.2. Tujuan dan sasaran a. Tujuan Memperoleh judul Tugas Akhir yang jelas dan layak, dengan suatu penekanan desain yang spesifik sesuai dengan originalitas / karakter judul dan citra yang dikehendaki atas judul yang diajukan. b. Sasaran Tersusunnya usulan langkah-langkah pokok proses (dasar) perencanaan dan perancangan Semarang Book House berdasarkan atas aspek-aspek panduan perancangan (design guide lines aspect). 1.3. Manfaat a. Secara subyektif adalah sebagai salah satu persyaratan untuk melanjutkan ke studio grafis. b. Secara obyektif adalah memberi pengetahuan dan manfaat bagi orang banyak berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Semarang Book House. 1.4. Ruang Lingkup a. Ruang Lingkup Substansial Perencanaan dan perancangan Semarang Book House, termasuk dalam kategori bangunan tunggal yang berfungsi sebagai fasilitas publik komersil berserta dengan perancangan tapak/lansekapnya. b. Ruang Lingkup Spasial Secara administratif adalah daerah perencanaan Semarang Book House yang terletak di Kota Semarang. 1.5. Metode pembahasan Metode yang dipakai dalam penyusunan penulisan ini antara lain : 1. Metode deskriptif, yaitu dengan melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data ditempuh dengan cara : studi pustaka / studi literatur, data dari instansi terkait, wawancara dengan narasumber, observasi lapangan serta browsing internet. 2. Metode dokumentatif, yaitu mendokumentasikan data yang menjadi bahan penyusunan penulisan ini. 1.6. Sistematika Pembahasan Sistematika penyusunan penulisan ini adalah : BAB I PENDAHULUAN Membahas mengenai Latar Belakang, Tujuan dan Sasaran, Manfaat, Ruang Lingkup Pembahasan, Metode Pembahasan, Sistematika Pembahasan dan Alur Pikir. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Membahas mengenai tinjauan umum dan pengertian Semarang Book House dan penjelasan penekanan desain yang dipakai dalam perancangan Semarang Book House. BAB III DATA Membahas mengenai tinjauan Kota Semarang mengenai peraturan dan kebijakan, tata guna lahan dan lain – lain. BAB IV Mengungkapkan kesimpulan, batasan dan anggapan dari uraian pada bab sebelumnya. BAB IV PENDEKATAN PERENCANAAN dan PERANCANGAN Membahas mengenai aspek fungsional (pelaku, jumlah pengelola, jumlah pengunjung, pendekatan aktivitas, pendekatan kebutuhan ruang, pendekatan program ruang), aspek kontekstual, kinerja, teknis serta arsitektural. BAB VI HASIL Membahas mengenai program perencanaan yang meliputi program ruang, lokasi dan tapak terpilih dan konsep perancangan bangunan yang meliputi konsep bentuk, penekanan desain yang digunakan, konsep struktur dan utilitas bangunan.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:20313
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:13 Aug 2010 08:36
Last Modified:13 Aug 2010 08:36

Repository Staff Only: item control page