KAJIAN ARSITEKTUR MEDITERANIA DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Indraswara, M. Sahid (2008) KAJIAN ARSITEKTUR MEDITERANIA DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7 (2). pp. 80-89. ISSN 1412-7768

[img]
Preview
PDF - Published Version
1999Kb

Abstract

Gaya Arsitektur mediterania berkembang pesat sejak sekitar tahun 90-an sampai saat ini. Banyak sekali bangunan rumah yang menggunakan gaya arsitektur mediterania. Langgam arsitektur Mediterania pada hakekatnya merupakan perkembangan dari bentuk arsitektur vernakular yang terdapat di negara – negara kawasan pesisir laut Mediterania, bentuk arsitektur vernakular sendiri muncul sebagai tindak lanjut atas kebutuhan manusia akan tempat tinggal yang bisa beradaptasi menyesuaikan dengan kondisi alam sekitarnya, dan dalam perkembangannya arsitektur Mediterania sendiri sangat dipengaruhi oleh berbagai unsur kebudayaan, baik dari kebudayaan asli maupun kebudayaan dari pendatang. Konsep Arsitektur Mediterania yang sebenarnya adalah menyelaraskan atau menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar yang dipertegas dengan pemakaian bahan - bahan yang berasal dari alam dan tidak merusak alam seperti penggunaan plesteran secara tradisional serta pemakaian batu alam dan tanah liat pada dinding bangunan, arsitektur mediterania sendiri juga telah mendapat pengaruh dari arsitektur Islam yang sampai saat ini menjadi karakter dari arsitektur mediterania, yaitu penggunaan lengkung pada pintu masuk, jendela, dan serambi. Arsitektur mediterania tidak hanya menekankan pada fungsi saja melainkan diseimbangkan dengan kematangan konsep yang menggunakan pilihan bentuk, material, dan warna serta mempertimbangkan dengan kondisi lingkungan sekitar. ARSITEKTUR MEDITERANIA SECARA UMUM Apa yang telah kita ketahui sebagai wilayah ‘gaya’ arsitektur Mediterania adalah produk dari material gedung yang berhubungan dengan bahasa rakyat, karakter designnya yang menonjol dan ilusi romantis di masa lampaunya. Rumah Mediterania merupakan suatu bangunan yang telah menjadi tradisi dari suatu jaman yang telah berkembang pada daerah pesisir laut Mediterania. Rumah tradisional Mediterania ini telah menjadi suatu bangunan yang menjadi / menyatu dengan lingkungan dan alam disekitarnya, sehingga bentuk rumah tradisional Mediterania yang pernah ada hingga saat ini merupakan proses adaptasi dari keadaan lingkungan dan alam sekitarnya. Bentuk dasar dari rumah tinggal Mediterania ini dapat diketahui bahwa bentuk pada bangunan tersebut merupakan bentuk bangunan hasil dari penyesuaian dengan keadaan lingkungan serta iklim dan keadaan geografis pada negara – negara di sekitar laut Mediterania seperti negara – negara kawasan Eropa selatan. Seperti telah diketahui sebelumnya, bahwa keadaan geografis, iklim serta budaya pada masing – masing kawasan di sekitar pesisir laut Mediterania sangat berpengaruh pada bentukan arsitektur Mediterania sendiri. Dari segi arsitektur, ada dua hal yang menonjol pada gaya bangunan di Laut Mediterania, yaitu perpaduan antara budaya Barat dan Timur serta gaya bangunan yang khas yang berlokasi di kawasan pesisir, yang dikelilingi pulau-pulau. Secara keseluruhan bangunan bergaya Mediterania menciptakan kesan hangat, kokoh, tetapi tetap dinamis. GAYA ARSITEKTUR MEDITERANIA DI ITALIA Gaya arsitektur Mediterania yang ada di daerah kawasan Eropa Selatan terutama di negara Italia dikenal sebagai bangunan yang indah dan agaknya sesuai dengan daerah sub tropis dimana pada daerah ini mengalami 4 musim dalam 1 tahun. Negara Italia yang merupakan negara kepulauan ini banyak memiliki pantai dan laut, hal ini berdampak pada bentuk bangunan Mediterania yang terdapat di kota Venezia, dan Sisilia (Italia), dimana bangunan-bangunan tersebut memiliki tipikal yang berbeda dengan bentuk bangunan yang ada di tengah kota. Bentuk arsitektur Mediterania ini juga tidak bisa lepas dari pengaruh arsitektur Islam, dimana pada setiap bangunan Mediterania yang ada mengadopsi bentuk lengkung yang merupakan pengembangan dari bentuk – bentuk geometri yang ada pada arsitektur Islam. ARSITEKTUR TRADISIONAL MEDITERANIA Bisa dikatakan bahwa rumah tradisional Merditerania khususnya yang berada di Italia ini merupakan karya arsitektur vernakular, dimana rumah – rumah tersebut merupakan rumah tinggal hasil karya rancangan dan berkembang di masyarakat setempat dimana dalam membangun rumah tersebut sangat memperhatikan faktor – faktor alam, keadaan geografis, budaya setempat, serta mendapat pengaruh dari negara – negara tetangga yang berada di Asia barat, Pada perkembangannya arsitektur Mediterania ini nantinya juga akan mendapat pengaruh dari bentuk arsitektur Romawi dan Yunani. Pada awal abad 15 suatu aturan pengukuran bangunan ditentukan oleh salah seorang ksatria dengan segala senjatanya diukur untuk jarak ruangannya. Selain itu satu dari ketentuan di Armenopoulos’s Hexabiblos (tengah abad 14) menyebutkan bahwa penonjolan seperti balkon, harus memberikan kelonggaran 15 kaki keatas dari tanah jalan. Masyarakat Mediterania pada masa lalu dalam membangun rumah tempat tinggalnya, sangat menyesuaikan dengan kondisi alam dan kondisi geografis kawasan, selain itu masyarakat Mediterania juga memaksimalkan potensi yang ada alam dengan menggunakan batu alam dan tanah liat sebagai bahan bangunan untuk diterapkan pada dinding. Rumah tradisional Mediterania sebenarnya memiliki tampilan bentuk yang simpel, karena hanya merupakan suatu unsur bentukan – bentukan geometris yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu tatanan massa. PERKEMBANGAN GAYA ARSITEKTUR MEDITERANIA DI INDONESIA Sebutan 'gaya arsitektur Mediterania' sebenarnya bukanlah berasal dari wilayah Mediterania sendiri karena wilayah tersebut bukan suatu negara atau suku yang menyebut dirinya satu. Sebutan ini justru muncul di tempat lain yang mengadaptasikan gaya-gaya arsitektur dari wilayah Mediterania. Sebagai contoh, di Indonesia terdapat gaya (style) yang disebut sebagai gaya arsitektur Mediterania. Sebutan ini menunjukkan hubungan dengan wilayah Mediterania dan unsur-unsur bangunan dan rupa yang digunakan pada bangunan-bangunannya. Ini berarti, kata 'arsitektur Mediterania' memberi kesan 'seperti' bangunan-bangunan di Mediterania. Gaya arsitektur Mediterania di Indonesia muncul sebagai style atau gaya. Gaya arsitektur Mediterania adalah suatu gaya utuh dengan unsur-unsur pembentuk yang sudah tertentu. Ketika kita menyebutkan 'gaya arsitektur Mediterania', maka bayangan tentang bangunannya mungkin akan sama, yaitu bangunan dengan gaya berciri khas lengkung, berpilar, dan sebagainya. Gaya Mediterania adalah gaya arsitektur yang hangat, nyaman, berhias (dekoratif), dan harmonis. Gaya ini hangat karena kebanyakan warna-warna yang digunakan adalah warna hangat seperti warna pastel, terakota, serta kuning dan oranye. Karakter nyaman diper¬oleh dari kesan gaya yang homy (seperti di rumah) yang kental dari bentuk-bentuk yang tidak kaku dan luwes. Berhias dalam gaya arsitektur Mediterania berarti adanya hiasan-hiasan yang ragamnya sangat ba¬nyak, seperti kolom yang dihias dengan tonjolan-tonjolan, bingkai kusen di pinggir jendela dan pintu yang memberi kesan me¬wah, dan sebagainya. Keharmonisan gaya arsitektur Me¬diterania dicapai melalui keselarasan peng¬gunaan skema warna dan keselarasan gu¬bahan geometri (bentuk dasar). PENGARUH ARSITEKTUR DARI WILAYAH MEDITERANIA PADA PERKEMBANGAN GAYA ARSITEKTUR MEDITERANIA DI INDONESIA Pengaruh peradaban yang dimaksudkan dalam penjelasan ini berkaitan dengan per¬adaban-peradaban yang mengalami kejayaan di wilayah Mediterania dan memberi pengaruh bagi gaya arsitektur Mediterania di wilayah atau negara lain. Peradaban yang memiliki hubungan dengan perkembangan gaya arsitektur Mediterania di Indonesia hanyalah yang memiliki unsur-unsur bangunan dan unsur rupa yang secara prinsip menunjukkan kesamaan. Pengaruh Spanyol Spanyol terletak di sebelah barat laut Laut Mediterania. Spanyol tidak hanya memberi pengaruh pada perkembangan gaya arsitektur Mediterania di Indonesia, namun jauh sebelum itu, merupakan pengaruh yang menimbulkan bibit gaya arsitektur Mediterania di Amerika, tempat perkembangan gaya ini sebelum masuk ke Indonesia. Bangsa Spanyol menginvasi Amerika pada abed ke-16 dengan membawa serta pengaruh gaya arsitekturnya. Pengaruh ini diterima cukup baik dan disebut sebagai 'gaya arsitektur Mediterania (Mediteranian Architecture style)', yang berkembang pesat di daerah Florida dimana gaya ini dikenal sangat luas. Pada tahun 1920, di Florida terjadi pengenalan aliran Gothic, yang membuka jalan bagi pengaruh lain dari wilayah Medite¬rania untuk turut meramaikan perkembangan gaya ini. Di Indonesia, gaya arsitektur Mediterania berkembang pesat. Pengaruh Spanyol dapat dilihat pada : - Genteng tanah liat berwarna terakota - Dinding yang diplester kasar - Lengkungan-lengkungan, terutama di atas pintu, jendela dan porch (beranda)Pintu yang diukir - Kolom atau pilar - Batuan yang diukir atau dihias Banyaknya pengaruh di atas disebabkan gaya arsitektur Mediterania memang awalnya diambil dari pengaruh arsitektur Spanyol yang berkembang pesat dengan masuknya pengaruh lain dari Yunani-Romawi, serta Timur-Tengah. Pengaruh Timur-Tengah Timur-Tengah mencakup Turki, Arab, Palestina dan Israel, dan negara-negara lain yang terletak di sebelah timur Laut Mediterania. Turki termasuk ke dalam Yunani-Romawi, sedangkan daerah-daerah seperti Arab, Palestina dan Israel memiliki jenis arsitektur yang khas dengan bangunan padang pasir dan bukit yang kering. Pengaruh gaya bangunan di Timur-Tengah terhadap perkembangan aya Mediterania Indonesia tidak banyak, salah satu yang menonjol adalah hiasan floralnya yang memberi inspirasi bagi hiasan sulur sederhana. Hiasan sulur ini cukup banyak ditemukan pada bangunan bergaya arsitektur Mediterania di Indonesia, namun tidak dipakai sebagai unsur dekorasi utama, hanya mem¬perkuat kesan gaya saja. Pengaruh Yunani - Romawi Letak geografis Yunani-Romawi dahulu terletak di wilayah Italia, Yunani dan Turki saat ini, yang terletak di sebelah utara Laut Mediterania. Peradaban Yunani-Romawi banyak menyumbangkan ide-idenya pada perkembangan gaya arsitektur Mediterania di Indonesia dengan bentuk-bentuk pilar yang kokoh, tympanum, architrave, unsur lengkung, lis profil, dan sebagainya. Bangunan di Yunani-Romawi kebanyakan dibuat dari susunan batu yang diukir dengan mewah, yang memberikan kesan berat atau masif. Kemasifan ini turut menunjang citra kekokohan dan kemewahan pada kejayaan Yunani-Romawi. Pengaruh lain adalah garis-garis lengkung yang menghiasi jendela dan pintu, yang menjadi unsur dominan dalam gaya arsitektur Mediterania di Indonesia. Selain itu, Yunani-Romawi juga memberi pengaruh menggunakan balkon dan lis profil. UNSUR-UNSUR PEMBENTUK BANGUNAN ATAP Atap bangunan di Mediterania menggunakan atap miring, baik pelana (dua sisi) ataupun limasan (empat sisi), kuda-kuda kayu dan genteng tanah liat berwarna terakota, teritisan pendek atau tanpa teritisan sama sekali. Atap pada gaya arsitektur Mediterania di Indonesia bervariasi antara atap pelana, atap limasan, atau kombinasi keduanya. Atap biasanya berteritisan pendek, sedangkan jendela-jendela diberi pelindung dak beton. INDING Dinding bangunan di Mediterania (terutama Spanyol) banyak dibuat dari batubata tanpa dibakar yang disebut adobe. Dinding batuan juga mewarnai bangunan dimasa lalu sebagai peninggalan Yunani-Romawi (di Italia sekarang dan Turki) dan bangunan-bangunan di wilayah Timur-Tengah. Karakter dinding tersebut dibawa dalam gaya arsitektur Mediterania di Indonesia dalam bentuk dinding bertekstur plester kasar, dinding batuan, atau ornamen yang menyerupai susunan batuan. KUBAH Kubah adalah atap melingkar dengan ben¬tuk setengah bola yang banyak digunakan di wilayah Mediterania pada bangunan-bangunan besar. Kubah sering digunakan karena alasan konstruksi kubah bisa menaungi ruang cukup lebar tanpa kolom. Kubah juga memiliki nilai keindahan (estetika) yang baik. Kubah merupakan salah satu ciri gaya arsitektur Mediterania di Indonesia, walaupun bukan ke¬harusan menggunakannya. Kubah banyak di¬pakai sebagai elemen hiasan (dekoratif) pada area masuk bangunan (entrance) atau khusus di atas ruang yang membutuhkan penekanan sua¬sana special. Karena kubah memberi kesan me¬wah, biasanya ditempatkan pada area ruang tamu atau orang berkumpul dalam rumah. PINTU DAN JENDELA Pintu dan jendela di Indonesia biasanya berbentuk segiempat, dengan bentuk lengkungan di atasnya. Kusennya biasanya dibuat menjadi bingkai yang dihias dengan lis profil. Bukaan angin-angin (ventilasi) berbentuk segiempat dan lingkaran, serta berukuran kecil-kecil. PILAR Pilar adalah kolom vertikal dari batuan, kayu atau metal yang berfungsi struktural (konstruksi) dalam arti memikul beban atap, atau hiasan saja (ornamentasi). Pilar menjadi salah satu pemerkuat ciri gaya arsitektur Mediterania, sebagai bagian penting dari gaya ini. Pilar-pilar sesungguhnya dari Mesir dan Yunani-Romawi merupakan bagian dominan pada muka bangunan (facade), sangat vokal dan memiliki kesan kemewahan bangunan-ba¬ngunan besar. Hiasan (ornamentasi) pada pilar adalah aturan baku dengan tiga jenis aturan (dalam aturan klasik/classical order Yunani-Romawi), yaitu aturan Doric, aturan Ionic, serta aturan Chorintian. Pada gaya arsitektur Medi¬terania di Indonesia, pilar muncul sebagai pilar sesungguhnya yang berfungsi struktural, atau hanya hiasan saja. Pilar biasanya berben¬tuk bulat panjang dan dihiasi per¬mukaannya dengan hiasan yang mirip dengan aturan-aturan Yunani-¬Romawi tersebut, atau hiasan yang didesain sendiri, dibuat mirip-mirip dengan aslinya. Kadangkala pilar malah berpenampang segi-empat. Pilar biasanya menopang bagian portico, balkon atau carport dengan model tympanum di atas-nya. PORTICO Portico adalah bagian bangunan terbuka yang menempel bangunan, digunakan untuk area masuk (entrance) bangunan, biasanya memiliki kolom-kolom untuk menyangga atapnya sendiri. Sebuah bangunan bergaya arsitektur Mediterania biasanya mempunyai portico, atau yang menyerupai portico, karena merupakan ciri kunci dari gaya arsitektur Mediterania. Portico dapat berdiri sendiri sebagai ruang terbuka dengan atapnya sendiri, atau dengan sebuah balkon di atasnya. BALUSTRADE Balustrade merupakan barisan atau susunan horisontal dari tiang-tiang yang di¬satukan railing (rel penghubung) berupa kayu, besi atau bahan lain. Balustrade merupakan permainan hias (dekoratif) yang terdapat pada rangkaian tiang-tiang penga¬man di atas bangunan, balkon, atau tangga yang memiliki citra keindahan khas Medi¬terania. TYMPANUM Tympanum adalah bagian dari bentuk geometri dan hiasan (dekorasi) yang berbentuk segitiga (kadang juga setengah lingkaran) di atas pintu, jendela atau portico. Di Indonesia, banyak digunakan pada bagian atas portico, bentukan atap, serta di atas pintu dan jendela. BALKON Balkon merupakan area menonjol di lantai atas bangunan, digunakan sebagai area ruang luar. Balkon adalah ciri kuat gaya arsitektur Mediterania, meng¬ingat di wilayah Mediterania, terutama di Spanyol dan Italia, balkon banyak digunakan. Balkon biasanya me¬rupakan area untuk sekadar duduk-duduk dan menik¬mati pemandangan. Sebagai suatu ciri khas gaya arsitektur Mediterania di Indonesia, balkon berperan penting untuk menunjang kesan gaya ini, di mana biasanya bila sebuah rumah tinggal bergaya Mediterania mempunyai dua lantai, maka bia¬sanya juga mempunyai balkon. BENTUKAN MENARA Bentuk menara atau serupa me¬nara juga muncul dalam gaya arsitektur Mediterania di Indonesia. Bentuk menara banyak dijumpai di Timur-Tengah. Bentukan menara ini biasanya menghiasi bagian ujung ba¬ngunan atau menandai bagian bangunan yang penting, misalnya pintu masuk utama. Denah menara biasanya berbentuk melingkar dan atap menara menyesuaikan dalam bentuk kubah. Bila menara berde¬nah segiempat, maka atapnya biasanya atap limasan lancip seperti bangunan-ba¬ngunan Gothic. UNSUR-UNSUR RUPA WARNA Warna yang banyak muncul pada bangunan di wilayah Mediterania adalah warna batuan seperti terakota, kuning kapur, putih, abu-abu dan sebagainya. Warna-warna ini menjadi muncul secara berani akibat efek pantulan sinar matahari yang memungkinkan warna-warna terlihat begitu cemerlang. Warna terakota juga terlihat pada atap rumah-rumah tradisional, misalnya di Spanyol, di mana penutup atap atau genteng terbuat dari tanah liat berwarna terakota. Pada awalnya bangunan bergaya arsitektur Mediterania memiliki citra polos dan sederhana. Rexford menjuluki bangunan asal .Spanyol ini berwajah 'beak and bare', bangunan-¬bangunan ini kemudian terpengaruh warna-warna cerab Karibia. Kesan bangat bahkan panas akhirnya dihadirkan pada dinding bangunan dengan gaya arsitektur Mediterania ini . (Istanto, 1999) Pada gaya arsitektur Mediterania di Indonesia, warna-warna cernerlang ini muncul sebagai cat yang berwarna-warni. Kalaupun menggunakan batuan, maka batuan yang digunakan adalah batuan dengan warna cerah, seperti misalnya batu palimanan dan bata paras. UNSUR DEKORATIF Lis Profil Lis profil adalah hiasan berbentuk kumpulan garis menonjol. Lis profil ini merupakan salah satu ciri utama dalam gaya arsitektur Mediterania di Indonesia. Hiasan ini biasanya memberi batas antara bagian bangunan, misalnya antara dinding dengan atap, antara lantai satu dan lantai dua, antara jendela dan dinding, dan sebagainya. Lis profil sangat mirip dengan architrave, yaitu dekorasi berbentuk pita-pita atau lis pada pilar-pilar aturan klasik Yunani-Romawi, namun telah disederhanakan atau digubah kembali. Ketebalan lis profil bervariasi, kadang hanya muncul sebagai garis semata. Lis profil termasuk hiasan menarik karena memberi ketegasan bentuk bangunan dan membawa kesan mewah. Dekorasi Bentuk Vegetasi dan Hiasan Mesir Dekorasi jenis vegetasi muncul dalam bentuk paling sederhana, misalnya bentuk sulur sederhana, di mana hiasan ini bisa dikaitkan dengan hiasan floral yang berkembang pesat di Timur-Tengah. Dekorasi bentuk vegetasi ini tidaklah menonjol pada gaya arsitektur Mediterania di Indonesia, penggunaannya hanya untuk memperkuat kesan gaya Mediterania. Hiasan yang serupa hieroglif atau hiasan lain dari Mesir kadang digunakan pada gaya ini, namun hanya se¬bagai variasi saja. Bahan Bangunan Bahan yang digunakan untuk membangun di wilayah Mediterania cukup bervariasi, meskipun tidak selengkap saat ini. Wilayah Mediterania terdiri dari banyak negara dan kebudayaan yang tidak sama cara membangunnya, sebagai contoh bangsa Afrika pedalaman mempunyai cara cukup unik, membangun dengan bahan tanah liat. Bangunan tanah liat mengharuskan adanya banyak 'kolom' terbuat dari tanah liat pada sepanjang dinding dan banyak di dalam bangunannya. Eksplorasi teknik membangun tanah liat ini memungkinkan dibangunnya bangunan setinggi dua puluh meter. Orang-orang Timur-Tengah, Mesir, Yunani-Romawi serta Bizantium-Kristen awal ba¬nyak membuat bangunan dari batuan dan Bata bakaran. Saat ini, teknologi dan bahan bangunan berkembang sangat pesat sehingga tidaklah mustahil untuk mengadaptasi segala jenis bentuk ba¬ngunan atau hiasan (ornamen) yang berkembang di wilayah Mediterania. Batuan pada gaya arsitektur Mediterania di Indonesia hanya menjadi unsur hias (dekoratif) saja karena tidak digunakan untuk konstruksi. Batuan yang di maksud adalah batuan ekspos (batuan hias) pada dinding, bukan pada pon¬dasi. Batuan memberikan kesan 'lebih berat' pada tampilan muka (facade), yang banyak diguna¬kan di bagian bawah dinding. PENUTUP Gaya arsitektur Mediterania merupakan produk lokal atau biasa disebut dengan arsitektur Mediterania vernakular, yang terdapat pada beberapa negara di sepanjang pesisir laut Mediterania yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh keadan iklim, geografi, kebudayaan lokal hingga unsur – unsur arsitektur Islam. Bangunan Mediterania yang berada di Italia sendiri juga tidak lepas dari unsur – unsur pembentuk yang meliputi unsur kebudayaan lokal Italia sendiri, keadaan geografis dimana Italia memiliki daerah pantai, daratan, serta daerah perbukitan. Faktor perbedaan lokasi ini pula yang membedakan bentuk bangunan Mediterania serta pola tatanan masa antara bangunan yang satu dengan yang lain / bangunan tetangga yang berada di tepi laut, dengan yang ada di tengah kota. Secara umum style rumah mediterania yang berada di Italia ini bisa dikenali dengan ciri berikut : - Dinding eksterior berupa plesteran atau batu bata, plesteran secara tradisional dicet putih, krem, atau pink. - Bentuk Atap datar , pelana dan sebagian besar berbentuk limasan biasanya Menggunakan genteng dengan warna merah, meski terkadang juga memakai warna hijau. - Menggunakan bentuk lengkung untuk portico (entrance), jendela, serambi. - Mempunyai bukaan pintu dan jendela yang lebar. - Beberapa bangunan menggunakan railling besi seperti besi tempa yang digunakan pada balkon dan serambi bangunan. Style arsitektur Mediterania menawarkan keindahan (estetika) yang tidak biasa ditawar¬kan oleh banyak gaya arsitektur lain, karena gaya ini memang mengambil estetika sebagai ciri khas pembentuk gaya. Segala sesuatu yang dibangun ketika menggunakan gaya ini didasarkan pada apakah nantinya menunjang keindahan atau tidak, berdasarkan prinsip-prinsip gaya arsi¬tektur Mediterania. Bahkan konstruksi pun seringkali dibuat untuk menunjang estetika. Mediterania, negeri dan wilayah pemberi pengaruh pada gaya Mediterania di Indonesia adalah yang memiliki nilai sejarah tinggi. Faktor yang perlu untuk diperhatikan pada gaya arsitektur Mediterania di Indonesia ada¬lah kesesuaiannya dengan iklim. Sepanjang bangunannya tetap dapat menanggulangi iklim Indonesia yang panas dan basah, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Gaya arsitektur Mediterania kebanyakan cocok bagi orang Indonesia karena sifat gaya arsitektur yang cenderung berhias dan berornamen, sebagaimana tradisi yang telah diterapkan pada kebanyakan arsitektur tradisional Indonesia, berhias dan berornamen. Gubahan tampilan muka (facade) pada perkembangan gaya Mediterania di Indonesia mengambil unsur-¬unsur gaya dari wilayah Mediterania dan menggunakannya dengan cara digubah kembali atau dipakai sesuai aturan aslinya. Pada fasade rumah dengan gaya arsitektur mediterania di Indonesia ini bisa dikenali dengan ciri berikut : - Terdapatnya portico dengan bentuk lengkung pada bagian antar kolom. - Dinding eksterior berupa plesteran atau batu bata, dengan penambahan unsur batu alam pada bawah bangunan dan pada portico. - Bentuk Atap pelana dan sebagian besar berbentuk limasan dengan tritisan pendek yang dilengkapi kantilevel berhias list profil. - Menggunakan railling besi dengan dekorasi vegetasi yang digunakan pada balkon. - Terdapatnya unsur dekoratif berupa list profil yang menghiasi fasade.

Item Type:Article
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:20152
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:12 Aug 2010 08:39
Last Modified:20 Sep 2011 09:01

Repository Staff Only: item control page