ARSITEKTUR KOLONIAL KOTA LAMA SEMARANG

Murtomo, B. Adji (2008) ARSITEKTUR KOLONIAL KOTA LAMA SEMARANG. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7 (2). pp. 69-79. ISSN 1412-7768

[img]
Preview
PDF - Published Version
895Kb

Abstract

Kota Semarang adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang perkembangannya sebagian besar dipengaruhi oleh fungsinya sebagai kota pelabuhan sejak jaman kolonial. Hal ini menyebabkan banyaknya akulturasi budaya yang terjadi antara pendatang dengan warga pribumi. Percampuran ini juga mempengaruhi aspek arsitektural di Semarang. Baik itu dalam segi perencanaan dan perancangan kota, sampai dengan style bangunan yang banyak digunakan pada masa tersebut. Dalam hal penataan kota, kedatangan ras-ras pendatang itu juga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dan perkembangan pada perencanaan kota Semarang. Pengaruh bangsa Belanda relatif lebih besar terhadap karya-karya arsitektural yang dihasilkan di Semarang itu. Hal ini dapat dilihat dengan keberadaan daerah-daerah seperti Kawasan Candi dan Kota Lama. Kota Lama, berbeda dengan wilayah Candi, ciri arsitektural Kolonialnya masih terlihat dengan jelas lewat bangunan-bangunan dan pengaturan wilayah di salah satu bagian kota Semarang tersebut. Hal ini menjadikan Kota Lama sebagai salah satu miniatur dari keadaan konkrit kota Semarang pada masa tersebut. TEORI KOLONIAL DI INDONESIA Secara umum semua kota-kota kolonial memiliki persamaan, yakni fakta bahwa mereka terbagi menjadi dua bagian, bagian yang berasal dari penduduk/budaya lokal & bagian yang merupakan hasil dari cipta karya/budaya pendatang/ orang asing, karena proses dari imposisi kota yang mereka hasilkan. Oposisi antara belahan campuran & asing ini berakar pada sifat komunitas kolonial yang menekan dan karena hal ini, kota-kota kolonial sering kali dikarakterisasikan sebagai duality atau kota ganda. Di Indonesia kondisi kota-kota kolonial justru jauh lebih kompleks selain karena bagian lokal yang bergaya barat, terdapat juga bagian asing yang bergaya oriental, terutama Cina. Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia pada era kolonial bisa dikarakterisasikan sebagai kota tiga bagian dengan muatan arsitektur lokal berupa Kraton & Kampung, bagian cina yang terdiri dari ruko-ruko, dan satu bagian yang bergaya Barat yang tersusun atas benteng dan gudang-gudang kolonial. Lehmann telah menjabarkan tiga elemen dari penyusun kota; Kraton, Ruko, & Benteng yang mengatur sebuah konfigurasi yang bisa dianggap umum bagi kota-kota kolonial di Indonesia. Bagaimanapun konfigurasi dari tiga elemen ini tidaklah sama di semua kota. Kadang satu bagian atau bagian yang lainnya dominan. Bahkan kadang ada elemen yang tidak ada seperti hilangnya Kraton, karena dominasi dari Benteng di Batavia dan dominasi elemen Cina seperti di Lasem. Bisa juga hilangnya benteng karena dominasi Kraton, seperti di Palembang. Kadang salah satu dari elemen ini tidaklah terlalu berperan atau menonjol, seperti keraton di Manado. Kondisi dari perseteruan tiga elemen yaiut yang menyebeabkan perbedaan di tiga tipe kota kolonial yang ada di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh orang Indonesia, orang Cina & Bangsa Barat, seperti kota Yogyakarta, kota pasar Lasem, dan kota administratif Batavia. Walaupun ketiga tipe secara fundamental semua sama karena ditentukan oleh situasi kolonialnya, perbedaan dari campuran ketiga bagian ini meningkatkan variasi substansial yang dimana tipologinya dari kota-kota kolonial ini bisa didasarkan. Ruang terbuka publik berada di pusat kota, biasanya dekat dengan dengan gereja atau katedral, balai kota, dan sumur publik; mempunyai konfigurasi tidak menentu; sering tidak ada jalan yang melintasi secara lurus; tempat penduduk berkumpul; kebanyakan menyatu dengan harmoni sebagai elemen estetis kota. Lansekap Belanda sebagian besar adalah dataran rendah yang berada di pesisir pantai. Beriklim sedang dan tanahnya baik untuk agrikultur dan daerah pesisirnya merupakan potensi maritim yang besar. Charles V dari Spanyol mewarisi Negeri Belanda pada tahun 1506 (Jellicol 1996, 192). Kemudian Betanda berkembang menjadi negeri maritim yang kuat dengan kota-kota di tepi laut dengan suatu sistem kanal yang menggunakan teknologi baru pada masa itu untuk memecahkan masalah sempitnya lahan. Sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, peternakan dan perdagangan melalui laut. Kekuatan Maritim menjadikannya salah satu negara kolonial. Pada tahun 1609 negeri Belanda membebaskan diri dari Spanyol dengan tetap mempertahankan sistem monarki. KOTA LAMA PADA AWAL PENATAAN RUANG DI SEMARANG Sejak tahun 1903, sebelum Karsten tiba di Semarang, telah ada aktivitas lokal dalam bidang perencanaan kota. Aktivitas tersebut merupakan pelaksanaan dari politik desentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya. Pada saat itulah Karsten diangkat menjadi penasehat otoritas lokal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum. Sebagai penasehat kota, Karsten juga menyusun paket lengkap kota, yang berisi : - Town-plan ( perencanaan kota) - Detail plan (rencana detail kota) - Building Regulation ; peraturan bangunan untuk sejumlah kota di Jawa, antara lain : Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun, Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara) dua kota kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dan kota Purwokerto. Ia juga menjadi penasehat kota- kota Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin. Tahun 1906-1942 merupakan masa pemerintahan Kota Praja Semarang (Stadsgemeente van Semarang ) yang diresmikan tanggal 1 April 1906 diatur dalam staatsblad no.120 tahun 1906. Semarang sejak itu terlepas dari Kabupaten dan memiliki batas kekuasaan pemerintah Kota Praja. Kota Semarang mulai dibenahi dengan sistem administrasi pembangunan. Kontrol serta pemeliharaan elemen-elemen kota yang di bangun juga di lakukan dengan baik. Arah pembangunannya tertuju untuk membangun permukiman Belanda yang dilengkapi dengan fasilitas dan utilitas kota antara lain Stadion olah raga, lapangan menembak, taman-taman kota, jaringan jalan baru, drainage di Banjarkanal Timur dan Barat,Siranda Kanal dan CBZ Kanal,juga saluran. Pembangunan sarana-sarana pelabuhan, stasiun kereta api, kantor-kantor dagang dan lain-lain juga terus dilaksanakan. Fungsi kota menjadi meluas di samping sektor perdaganga, militer, pemerintahan, juga di sektor pendidikan dan pariwisata. Namun dalam masa stads gemeente ini, pembangunan kota hanya mengutamakan dan menekankan pada penertiban sistem administrasi pemerintahan, dan bukan pada sektor sosial ekonomi, sosial budaya serta perencanaan fisik yang menyeluruh. Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng VIJHOEK.Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : HEEREN STRAAT. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut DE ZUIDER POR. Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan. Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa (Cultur Stelsel) diseluruh kawasan Hindia Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan "LITTLE NETHERLAND". Kota Lama terletak pada bagian utara Semarang, dekat dengan pelabuhan. Daerah ini dahulu merupakan sebuah benteng pertahanan Belanda. Setelah situasi politik & ekonomi Belanda di Indonesia dirasakan aman & mantap, yaitu pada tahun 1824, benteng ini dihancurkan dan menjadi pusat pertahanan serta perdagangan. Dalam wilayah bekas benteng tadi, seperti pada kota-kota besar lainnya berkembang pusat kota dengan bentuk & gaya kota-kota pada awal abad pertengahan. Bangunan-bangunan berdiri mengelompok membentuk “pulau-pulau” dengan bangunan tanpa halaman depan dan dikelilingi oleh jalan, demikian juga gedung SMN tidak mempunyai halaman depan dan terletak langsung di depan jalan raya. Pintu masuk utama terletak di jalan yang lalu lintasnya kurang ramai. Dalam perkembangan kota, ruang terbuka untuk umum & pertamanan, mempunyai peranan penting. Karsten merencanakan sungai yang mengalir melewati kota difungsikan sebagai ruang terbuka untuk masa yang akan datang. Dia juga membangun taman untuk olahraga, maupun rekreasi pada daerah sebelah Timur kota Semarang, di mana banyak terdapat rumah-rumah villa (rumah-rumah mewah). Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Banyak orang yang sudah mengenal Kota Lama Semarang harus berfikir sejenaK apabila mendengar istilah kampung Eropa. Sebenarnya, sudah semenjak abad yang lalu, kedua pengertian ini, yakni OUTSTADT dan Europeschebuurt , dipakai di kalangan masyarakat untuk menyebut kawasan yang sama. Kawasan tersebut mencakup koloni yang semula berbenteng tempat bermukim orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya yang mempunyai kegiatan utama sebagai pedagang. Usia koloni yang sekarang relatif masih utuh tersebut sudah terbilang abad. Titik awal pengembangannya adalah perjanjian antara VOC dengan Sunan Amangkurat II pada bulan Oktober 1677 yang disusul oleh kesepakatan berikutnya pada bulan Januari 1678. Kedua belah pihak menyetujui hak penguasaan VOC atas sebagian wilayah Semarang. Sebagai imbalan atas bantuannya pada kerajaan Mataram untuk menumpas pemberontakkan Trunojoyo karena hasrat VOC terutama untuk menguasia bandar-bandar di speanjang pesisir utara, maka bagian yang dipilihnya adalah pelabuhan dan sekitarnya. Selanjutnya perjanjian Oktober 1705 memperkokoh kedudukan VOC dengan diperbolehkannya seriakt dagang ini mendirikan benteng. Semenjak itulah kawasan koloni tersebut dikelilingi oleh tembok yang dibuat segi lima yang disebut de VIJHOEK. Walaupun tembok keliling tersebut dibongkar pad abad berikutnya, batas koloni dapat dilacak karena tidak ada perubahan struktur kawasan yang berarti. Dinding sebelah barat terletak di tepi Kali Semarang yang semakin membelok ke Timur Laut. Jalan yang menelusurinya bernamaWester-wal straat yang menerus ke Pakhuis straat (sekarang keduanya disebut jalan Mpu Tantular). Dinding sebelah utara sejajar dengan jalan stasiun Tawang dan disebut Norder- Wal Straat. Sedangkan dinding timur dan Selatan masing-masing bersisian dengan Ooster-wal Straat (jalan Cendrawasih Utara) dan Zuder-Wal Straat (jalan Sendowo). Berangkat dari wilayah yang dikuasai VOC yang merupakan serikat dagang Belanda, serikat dagang tersebut memang tidak lalu tumbuh sebagai kampungnya orang Belanda semata. Peta bertahun 1695 menamakan koloni tersebut de Europesche (buurt) , demikian pula yang bertahun1719. untuk memperbedakannya dari de Javanische negara Rijen (perkampungan pribumi), de malaische dan de chineesche kampong (kampung Melayu & Pecinan). Nama-nama unsur lingkuan seperti de Heeren Straat (jalan utama yang membelah koloni menjadi dua bagian) de hersteller, cecylon, amsterdam, de lier, dan de smits ( nama pos keamanan pada tembok keliling ) yang merupakan nama tempat Negeri Belanda, atau nama yang mempunyai kaitan erat dengan negeri tersebut, tidak membentuknya menjadi belanda kecil. Perkmbangan selanjutnya lebih menegaskan kembali kehadiran warna yang berasal dari bagian-bagian eropa lainnya. Arsitektur kota lama Semarang, seperti yang masih terlihat sekarang lebih mengesankan sebagai perpaduan berbagai tradisi dan gaya yang berkembang di eropa yang memperoleh sedikit sentuhan lokal. Baru pada tiga puluhan gaya arsitektur yang berakar dinegeri Belanda masuk ke kota lama. Gaya arsitektur modern ini dikembangkan dari hasil pencarian kelompok pelukis de stijl oleh W.M.Dudok arsitek Liem Bwan Tjie (1930) dan J.E.L Blankenberg (1938) masing-masing menghadirkan rancangan kantor untuk Oei Tiong Ham Concern di Hoogendorp sstraat ( jl. Kepodang ) dan kantor borsumij borneo sumatra maatschappij yang baru, persis di sebelah barat gereja blenduk. Kendati rancangan mereka yang mempunyai ciri dinding polos dan jendela kaca yang menerus membentuk garis-garis horizontal yang sangat kuat, dipadukan dengan menara yang menjulang berhiaskan panel kaca sebagai titik tangkap sangat kontras dengan sekelilingnya, pendekatan yang dilakukan disini terhadap kondisi iklim tidak bergeser jauh dari yang diterapkan oleh kolega yang telah disebut sebelumnya. Bidang dinding yang seperti selubung tersebut sebernarnya merupakan bungkus bangunan yang ada didalamnya. Konsep serambi disini berlaku sebagai isolasi panas. Kantor Borsumij yang sampai sekarang masih kokoh berdiri sekarang ditempati oleh P.T Kerta Niaga, sedangkan Oei Tiong ham concern sekarang berada ditangan Rajawali Nusindo. Satu lagi bangunan yang bergaya serupa ialah Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jl. Mpu tantular KOTA LAMA DAN PERKEMBANGANNYA Kota Lama Kota Semarang dulunya merupakan Kota benteng yang merupakan daerah permukiman khusus bangsa Belanda dan pusat kota lama pada saat ini dikenal sebagai kawasan Kota Lama (Oude Staat) Semarang. Kota Lama didesain dalam suatu pola konsentrik denagn nodes pada paradeplein yang merupakan plaza pusat dengan gereja dan segala aktivitas perdaganagn di sepanjang tepi jalan. Kota ini seolah terbelah dua oleh Heerenstrat yang merupakan bagian dari jaringan de groote postweg yang dibangun pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Daendels. Aksis ke arah utara dan selatan yang dibentuk oleh Jl. Suari telah memunculkan Gereja blenduk sebagai focal point dari arah Pekojan. a. Awal Pertumbuhan Kota Benteng Pertumbuhan Kota Lama dipengaruhi oleh: - Pemberontakkan orang Cina melawan Belanda (1742) - Pindahnya kantor pusat dagang VOC dari Jepara ke Semarang (3 Januari 1778) VOC kemudian memperkuat diri denga membangun benteng-benteng perathanan termasuk pembanguann kota benteng untuk melindunginya dari serangan penduduk asli. b. Pertumbuhan Kota Lama pada pertengahan abad ke-18–Awal abad ke-19 Sampai pertengahan abad ke-18, Semarang mengalami perkembangan yang semakin pesat, demikian pula keadaan dalam benteng Belanda yaitu dnegan tumbuhnya perkantoran pemerintah karena fungsinya sebagai pusat pemerintahan, kantor dagang karena fungsinya sebagai pusat perniagaan, fasilitas sosial dan lain-lain. Kemajuan ini didukung juga oleh peran penting sungai Semarang sebagai jalur transportasi perkonomian utama. Pada waktu itu benteng ini memiliki tiga buah gerbang besar beberapa gerbang kecil, serta enam buah pos keamanan yang terletak menyebar. Tiga buah gerbang besar itu adalah: - De Wester ( Pintu Gerbang Barat) / Gouvernementspoort. Berlokasi di Gouvernements Brug/ Jembatan Gupernemen atau dikenal juga sebagai jembatan Berok. - De Zulder (Pintu Gerbang Selatan). Berlokasi di sekitar jalur lintas trem dekat awal Jalan Pekojan dan Jl. H. Agus Salim. - De Ooster Port. Berlokasi di akhir Heerenstraat (sekarang di persimpangan antara jalan Raden Patah dan Jl. MT Haryono) Sedangakan enam buah pos keamanan tersebut dikenal sebagai: - De Hersteller. Berlokasi di Jl. Ronggowarsito dan Jalan Pengapon - Ceylon. Berlokasi di halaman Gerja Gedongan - Amsterdam. Berlokasi di Jl. H. Agus Salim - De Lier. Berlokasi di kompleks Kantor Pos Lama - De Smits. Berlokasi di Boomlama - De Zee. Berlokasi di Boomlama Tahun 1824 benteng yang mengelilingi Kota Lama dibongkar, berikut gerbang dan pos keamanannya. Hal ini disebabkan oleh karena Belanda ingin mengembangkan Semarang sebagai Kota Modern, yaitu dengan: - Membuka jaringan kereta api - Membuka terusan pelabuah yang diberi nama Kali Baru dan kawasan sekitarnya Revolusi ini dengan cepat mengembangkan kehidupan ekonomi Semarang yang pada masa itu terbagi menjadi 2 morfologi urban denagn dua domain utama, yaitu: Domain Ekonomi. Memiliki inti ganda yaitu Kota Lama dan Pecinan-didukung oleh dua elemen primer transportasi yaitu kanal pelabuhan dan stasiun kereta api. Domain Politik. Memiliki init ganda yaitu sarana pemerintahan Kota Lama dan pusat pemerintahan tradisional di Kanjengan, serta didukung oleh elemn primer berupa benteng. Pertumbuhan Kota Lama pada Pertengahan Abad-19 Awal Perang Dunia II Pada masa ini Kota Lama sudah buka merupakan wilayah Khusus Belanda, aktivitas perekonomian juga sudah tidak didominasi oelh bangsa Belanda. Berdasarkan data yang dibuat pada tahun 1935, maka pada saat itu dalam kawasan Kota Lama telah ditemui gedung-gedung sebagai berikut: Stasiun Kereta Api, stasiun trem, Gereja Katolik, Gereja Kristen, Susteran, kantor notaris, kantor redaksi, konsulat (Muangthai, Belgia, Perancis, Inggris). Bank, perusahaan perkebunan, rumah jompo, klub-klub, kantor penerbit, rumah yatim piatu, pengadilan negeri, kantor pemerintah, kantor usaha dagang, sekolah teknik, staadschouwburg, hotel, kantor polisi. Kota Lama pada Masa Penjajahan Jepang – Setelah Perang Dunia II Pada masa ini hampir tidak ada pembangunan di Semarang. Kota Lama yang merupakan pusat kota menajdi kosong karena sebagian penghuninya yang berkebangsaan Eropa terpaksa menyelamatkan diri dari kejaran tentara Jepang. Bangsa Eropa yang berhasil ditangkap segera dimasukkan ke dalam kamp internir yang berdasarkan peta ”prisonner of War and internment camps” tanggal 15 Juni 1945 terlihat bahwa salah satu kamp internir itu dapat ditemukan di JL. Ronggowarsito yaitu di areal rumah puatu, sedangkan hotel Jansen yang dulunya merupakan hotel Eropa digunakan sebagai markas tentara Jepang. Perang yang terjadi antara Jepang dan Sekutu telah mengakibatkan banyak kerusakan di beberapa bagian kota Lama PENERAPAN GAYA KOLONIAL Mengingat dasar teori kolonial, terutama kolonial yang berasal dari Belanda adalah penerapan dari teori pendesainan kota Renaissance dan juga ada sebagian yang berdasarkan peraturan-peraturan tata kota yang dibuat oleh pemerintah Belanda selama mereka berada di Indonesia, maka berikut ini adalah poin-poin dari teori-teori tersebut yang dapat mencirikan kekolonialan sebuah kota. Poin-poin tersebut antara lain: 4.1.1 Pola Penataan Kota 1. Desain Kota Berbentuk Bintang Radial Penerapan pengaturan kota yang disusun oleh jalan radial dari titik sentral, yang biasanya diusulkan sebagai lokasi untuk sebuah gereja, istana, atau kemungkinan sebuah kastil (dalam kasus kota lama, titik sentralnya adalah gereja Imannuel (Blenduk), juga terlihat pada kota lama 2. Desain dengan Komposisi Poligon Mengingat fungsi pertama wilayah Kota Lama sebagai benteng, desain kota lama yang menggunakan komposisi Poligon sebagai suatu bentuk yang menguntungkan untuk pertahanan. Sudut yang dibentuk oleh dinding menjadi lokasi benteng, yang melindungi dari api dapat diarahkan melawan musuh yang berusaha memanjat dinding. Walaupun sekarang benteng sudah dirubuhkan begitu juga dengan pos-pos penjagaannya, namun, penerapan komposisi poligon ini masih berfungsi di mana dalam penerapannya menyebabkan pertemuan jalan yang adalah suatu manfaat yang berarti pada pemfokusan pada bangunan sentral penting sangatlah sesuai. Hal ini dapat dilihat pada letak gereja Blenduk yang berada di pertemuan 3 jalan. Batas kawasan yang berbentuk poligon tadinya adalah dinding benteng dengan pos-pos penjagaan di tiap-tiap sudutnya 4.1.2. Building Form & Massing 1. Penggunaan detail klasik Roma Penggunaan detail klasik Roma pada bangunan yang terlihat dari jarak yang besar. Aturan klasikal dan ornamen, dengan detail proporsi terbaik mereka. Gbr .5 Contoh Massa Bangunan di Kota Lama,dimana bentuk dari masa bangunannya terlihat sangat megah yang mencerminkan arsitektural kolonial dan masih berdiri hingga sekarang meskipun ada beberapa bangunan yang tidak terawat 2. Landmark Ciri lain yang seharusnya terdapat pada kota-kota kolonial yang mengadaptasi gaya kota renaissance adalah penggunanaan tugu/bangunan yang tinggi sebagai poin kunci kota. Di Kota Lama praktek dari teori ini dapat dilihat pada menara-menara gereja Blenduk yang pada awalnya dirancang lebih tinggi daripada bangunan-bangunan di sekitarnya. Gbr.7 Gereja Blenduk yang dahulu merupakan pusat orientasi masyarakat kota semarang dikawasan kota lama & Situasi Gang di Kota Lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan ciri kota lama 3. Adanya Pengorganisiran konstruksi dan bangunan Hal ini kurang lebih sama dengan teori pengaturan building mass & form di masa sekarang. Dapat dilihat bahwa di kota lama tinggi bangunan pada masing-masing kavling biasanya memiliki ketinggian dan ciri yang sama, sehingga ada kesan tertib yang dihasilkan dari pengaturan tersebut. Gbr. 8 Pengorganisasian massa Bangunan & Situasi Gang-gang Kota Lama 4.1.3 Tata Guna Lahan 1. Adanya Zona Untuk Setiap Kegiatan Pada teori kolonial, teori ini dalam sisi sosial dipersempit maknanya menjadi adanya pembagian zona untuk kraton, ruko dan benteng. Di mana kraton melambangkan zona pribumi, ruko melambangkan zona pendatang dari Cina, dan benteng yang melambangkan zona Belanda/pendatang dari Eropa. Untuk penerapannya pada Kota Lama, dulu hal ini benar-benar diterapkan 100%, tapi mengingat perkembangan zaman, untuk zona pecinannya, sekarang letaknya menjadi agak terpisah walaupun dulunya juga terletak pada bagian yang masih termasuk dalam satu kawasan ini. 2. Adanya kota satelit untuk pekerja Karena kota Lama hanyalah bagian kecil dari kota utama (Semarang), tidak terdapat kota satelit untuk pekerja pada kota Lama. Namun, sebagai gantinya pada wilayah ini terdapat kawasan yang dijadikan daerah tempat tinggal bagi pekerja dan buruh-buruh yang bekerja di kawasan ini. 3. Menciptakan Fungsi Harmonis dari Perkotaan Secara Keseluruhan Kawasan kota lama yang berada dekat dengan pelabuhan dan stasiun, sebagai saran transportasi yang vital dalam bidang perdagangan dan niaga yang menjadi fungsi utama Kota Lama sehingga hal ini mendukung pertumbuhan dan perkembangan kota dengan baik. 4. Pembagian yang proporsional dari kebutuhan semua kelompok penduduk sesuai kebiasaan mereka Pada Kota Lama, hal ini dapat dilihat pada keberadaan Gereja Blenduk sebagai tempat ibadah yang disediakan pada penduduk Kota Lama yang dulunya banyak ditinggali oleh orang Belanda yang mayoritas beragama kristen. Secara umum, ciri ini dapat juga dilihat pada style bangunan dan kondisi jalan yang mencirikan keadaan Belanda pada masa dulu dengan alasan penerapan yang sama. 4.1.4 Sirkulasi & Parkir 1. Jalan dengan interior yang Lapang Untuk jalan utamanya berukuran sekitar 10 meter. Gbr. 9 Merupakan salah satu koridor jalan dikota lama yang sampai sekarang masih terlihat tatanan kota kolonialnya 2. Semua jalan utama menghubungkan titik vital pada kota Mengingat pola pembentukan kota yang radial, maka hal ini berkelanjutan dengan fakta tersebut. Semua gang dan jalan kecil yang ada di kota lama berpusat pada jalan utama yang berada di depan gereja Blenduk. Dimana disana selain terdapat gereja Blenduk dan kantor pengadilan dulunya, juga terdapat taman sri Gunting, open space utama di daerah ini. 4.1.5. Ruang Terbuka 1. Konsep sabuk hijau sebagai suatu ruang terbuka di sekeliling kota Penerapan teori ini dapat dilihat pada keberadaan jalur-jalur hijau yang mengelilingi Kota Lama, yang masih terdapat di beberapa lokasi walupun kondisinya sudah tidak utuh lagi. 2. Perlindungan Terhadap Lansekap Ciri yang didasari oleh peraturan tata ruang pemerintah Belanda di Indonesia ini masih dapat dilihat dengan terdapatnya ruang terbuka-ruang terbuka yang berupa taman dan penyusunan vegetasi yang masih ada sampai saat ini. Gbr.9 Lansekap yang sudah tidak lagi menunjang ciri-ciri kota lama Sungai yang Mengalir Melewati Kota yang Difungsikan Sebagai Ruang Terbuka Kota Lama juga dialiri oleh sungai yang secara umum masih dapat difungsikan sebagai ruang terbuka, walaupun kondisi fisiknya sudah tidak memadai. Keberadaan sungai ini dulunya berdasarkan rencana Ir. Herman Thomas Karsten akan dijadikan semacam tempat terbuka publik yang aktif, namun mengingat kondisinya sekarang, agaknya rencana ini agak sulit untuk dapat diterapkan. 4.1.6 Terorganisir dengan Mempertimbangkan Dimensi Sosial & Estetika Kota Lama berdasarkan segi estetika cukup terorganisir melihat pengaturan massa bangunan, jalan-jalan, dan pengaturan ruang terbukanya yang sudah baik sejak dulu. Segi estetis juga terlihat cukup diperhatikan lewat penggunaan elemen-elemen pendukung yang estetis & ornamental, seperti lampu jalan dan seating group & elemen-elemen pendukung lainnya. Gbr.11 ElemenPendukung yang Ornamental: Sitting Group, Pot, Lampu jalan yang menggunakan standar arsitektur kolonial Sedangkan berdasarkan dimensi sosial, walaupun dulu kawasan Kota Lama lebih diperuntukkan sebagai kawasan perdagangan, namun kini banyak ditemukan rumah-rumah penduduk dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Gbr. 12 Beberapa Rumah di Kota Lama yang memiliki bentuk bangunan yang bergaya arsitektural kolonial PENUTUP Berdasarkan teori-teori yang ada maka dapat disimpulkan bahwa kota kolonial (dengan acuan gaya renaissance/eropa) seharusnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: - Kota Lama di Semarang pada era kolonial bisa dikarakterisasikan sebagai kota tiga bagian dengan muatan arsitektur lokal berupa Kraton & Kampung, bagian cina yang terdiri dari ruko-ruko, dan satu bagian yang bergaya Barat yang tersusun atas benteng dan gudang-gudang kolonial. Lehmann telah menjabarkan tiga elemen dari penyusun kota; Kraton, Ruko, & Benteng yang mengatur sebuah konfigurasi yang bisa dianggap umum bagi kota-kota kolonial di Indonesia. - Ruang terbuka publik berada di pusat kota, biasanya dekat dengan dengan gereja atau katedral, balai kota, dan sumur publik; mempunyai konfigurasi tidak menentu; sering tidak ada jalan yang melintasi secara lurus; tempat penduduk berkumpul; kebanyakan menyatu dengan harmoni sebagai elemen estetis kota. - Penggunaan teknik sumbu dalam disain kota merupakan yang paling menonjol, yang berarti bahwa sekarang bentuk kota harus mempunyai garis tengah sebagai pengatur. - Penggunaan lapangan – lapangan umum dan alun – alun - Penggunaan rencana bentuk bintang dengan jalan radial dari titik sentral, yang biasanya adalah lokasi sebuah gereja, istana, atau kemungkinan sebuah kastil. - Desain pada komposisi simetris sempurna. - Penggunaan poligon sebagai suatu bentuk yang menguntungkan untuk pertahanan dan pertemuan jalan yang adalah suatu manfaat yang berarti pada pemfokusan pada bangunan sentral penting - Sudut yang dibentuk oleh dinding menjadi lokasi benteng - Kota ideal dengan suatu tata letak jalan berinterior lapang. - Suatu kota segi empat, dengan zona untuk setiap kegiatan. - Semua jalan utama menghubungkan titik vital pada kota pada setiap yang lainnya: gerbang ke istana, gerbang ke benteng tua; plaza ke plaza; dan bangunan penting untuk masing-masing lainnya. - Kota yang melintasi sebuah sungai. - Konsep sabuk hijau sebagai suatu ruang terbuka di sekeliling kota. - Keberadaan kota satelit untuk pekerja - Penandaan poin kunci dalam kota dengan tugu tinggi - jaringan terpusat. - Desain yang secara simetris menyusun bangunan dalam bentuk simetris ideal. - Aturan klasikal dan ornamen, dengan detail proporsi terbaik mereka - Mengorganisir konstruksi dan bangunan, - Memperjuangkan pembagian yang proporsional dari kebutuhan semua kelompok penduduk sesuai kebiasaan mereka - Menciptakan fungsi harmonis dari perkotaan secara keseluruhan. - Perlindungan lingkungan terhadap lansekap - Perencanaan tata kota secara terorganisir dengan mempertim¬bangkan dimensi sosial dan estetika - Pengaturan bangunan yang tidak mempunyai halaman depan dan terletak langsung di depan jalan raya. - Sungai yang mengalir melewati kota difungsikan sebagai ruang terbuka Namun, pada penerapannya di Kota Lama Semarang, teori-teori ini mengalami penambahan dan pengurangan-pengurangan dalam rangka menyesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Sehingga teori kolonial yang masih diterapkan secara murni dan menyeluruh di kota Lama adalah sebagai berikut: - Desain Kota Berbentuk Bintang Radial - Desain dengan Komposisi Poligon - Penggunaan detail klasik Roma - Penggunaan Landmark - Adanya Pengorganisiran konstruksi dan bangunan - Adanya Zona Untuk Setiap Kegiatan - Adanya Zona khusus untuk pekerja - Menciptakan Fungsi Harmonis dari Perkotaan Secara Keseluruhan - Pembagian yang proporsional dari kebutuhan semua kelompok penduduk sesuai kebiasaan mereka - Jalan dengan interior yang Lapang - Semua jalan utama menghubungkan titik vital pada kota - Konsep sabuk hijau sebagai suatu ruang terbuka di sekeliling kota - Perlindungan Terhadap Lansekap - Sungai yang Mengalir Melewati Kota yang Difungsikan Sebagai Ruang Terbuka - Terorganisir dengan Mempertimbangkan Dimensi Sosial & Estetika Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan arsitektur kolonial di Semarang, khususnya di Kota Lama tidaklah diterapkan secara utuh, namun mengalami penyesuaian-penyesuaian berdasarkan perubahan kebutuhan, kondisi sosial masyarakat serta perkembangan zaman.

Item Type:Article
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:20151
Deposited By:Admin Agus P arsitek
Deposited On:12 Aug 2010 08:35
Last Modified:20 Sep 2011 09:02

Repository Staff Only: item control page