MENCARI POTENSI WISATA KOTA LAMA SEMARANG

Sukawi, Sukawi (2008) MENCARI POTENSI WISATA KOTA LAMA SEMARANG. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7 (1). pp. 28-37. ISSN 1412-7768

[img]
Preview
PDF - Published Version
1693Kb

Abstract

Seperti yang telah diketahui banyak orang, bahwa pariwisata merupakan potensi yang dapat mendukung kemajuan sebuah kota. Sebuah kota yang memiliki potensi pariwisata yang baik dan dapat memaksimalkan potensi tersebut, dapat menyerap manfaat yang berkembang menuju perbaikan pada perekonomian kota. Namun sayangnya masih ada kota-kota yang mengesampingkan potensi pariwisata dalam mengembangkan perekonomian kota. Indonesia mempunyai banyak objek wisata, baik obyek wisata alam maupun obyek wiata budaya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Adapun salah satu kota di Indonesia yang tidak kalah menarik wisatanya adalah kota Semarang. Kota Semarang adalah salah satu kota yang kaya akan peninggalan sejarah, variasi urban fabric dan urban artifact yang bernilai tinggi. Salah satunya adalah kawasan Kota Lama Semarang di mana merupakan kawasan yang menarik untuk dikaji, terutama karena merupakan kota peninggalan penjajahan Belanda yang dijuluki “The Little Netherlands”, tempat bermukim orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya yang mempunyai kegiatan utama sebagai pedagang (Muhammad dalam Dharmawan, 2005).Kota Lama adalah potongan sejarah, karena dari sinilah ibu kota Jawa Tengah ini berasal. Semarang dan Kota Lama seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Tentu saja ini menghadirkan keunikan tersendiri. Sebuah gradasi yang bisa dibilang jarang ada ketika dua generasi disatukan hingga menciptakan gradasi yang cantik sebenarnya. PENDAHULUAN Secara umum karakter bangunan di wilayah Kota Lama Semarang mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Hal ini tentunya bisa dibilang wajar karena faktanya wilayah ini dibangun saat Belanda datang. Tentunya mereka membawa sebuah konsep dari negara asal mereka untuk dibangun di Semarang yang nota bene tempat baru mereka. Tentunya mereka berusaha untuk membuat kawasan ini feels like home bagi komunitas mereka. Obyek wisata merupakan salah satu aset bagi pemasukan pendapatan suatu kota maupun kabupaten. Bahkan obyek wisata yang dikelola secara profesional bisa dijadikan sebagai kas pendapatan daerah yang mendukung anggaran daerah. Tak terkecuali bagi kawasan Kota Lama Semarang. Selama ini kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu kawasan yang kaya obyek wisata. Sebagian besar bangunan merupakan peninggalan sejarah masa lalu yang pantas dilestarikan. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah masa lalu diantaranya Gereja Blenduk, Gedung Marba, Pasar Johar, Gedung Marabunta, Susteran, Polder, Stasiun Tawang, Jembatan Berok dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya bangunan yang memiliki ciri arsitektur Kolonial Belanda sebagai obyek wisata tentu akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Apalagi jika kawasan tersebut mempunyai suatu obyek wisata pendukung lainnya seperti Kesenian Tradisional Jawa Tengah, makanan khas, dan souvernir. Pariwisata sendiri memiliki pengertian sejumlah kegiatan terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya,adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang keluar masuk suatu kota atau daerah dan negara (www.subadra.wordpress.com, diakses tanggal 17 Maret 2009). Sebagai sebuah kota peninggalan Kolonial yang penuh sejarah dan menjadi awal berkembangnya kota Semarang, semestinya Kota Lama Semarang ini mampu mendukung pariwisata Kota Semarang. Apabila diolah dan dikembangkan dengan serius, Kota Lama Semarang dapat menjadi salah satu referensi historis khususnya tentang sejarah kota Semarang itu sendiri. Lalu pertanyaannya adalah, adakah potensi wisata di Kota Lama Semarang ini yang bisa dikembangkan? Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini, konsep urban desain dapat menjadi rujukan. Dengan konsep Hamid Shirvani dan teori tentang kebutuhan suatu tempat wisata, kita dapat mengetahui apakah kawasan Kota Lama Semarang mempunyai potensi sebagai daerah tujuan wisata. KOTA LAMA SEMARANG Sejarah Kota Lama Semarang ada berdasarkan perjanjian antara VOC dengan Kerajaan Mataram, perjanjian itu tepatnya terjadi pada tanggal 15 Januari 1678. Perjanjian ini dibuat karena VOC membantu Kerajan Mataram yang waktu itu rajanya adalah Sunan Amangkurat II untuk menumpas Pemberontakan Trunajaya. Sebagai imbalannya VOC memperoleh ganti rugi perang sebesar 20.000 ringgit perbulan. Karena sunan Amangkurat II pada waktu tidak meminta tambahan waktu untuk membayar uang itu kepada VOC, sebagai jaminannya Sunan Amangkurat menyerahkan Kota Semarang sampai utang Sunan Amangkurat II lunas. Keadaannya ternyata semakin kacau, setelah dapat menembus utang kepada VOC, sebagai imbalan bantuan yang pernah diberikan oleh VOC kepada Sunan Paku Buwono I dalam “Perang Suksesi Jawa Pertama (1704-1708)” Kerajaan Mataram harus menyerahkan daerah tersebut kepada VOC. Penyerahan itu dilakukan dengan sebuah surat perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 5 Oktober 1705 antara Sunan Paku Buwono I dengan Jenderal Joan Van Hoorn dan Raden Van Indie sebagai para wakil pihak VOC. Setelah mendapatkan Kota Semarang, VOC kemudian membuat sebuah Kota yang memiliki benteng disekelilingnya dengan nama bentengnya “De Hollander” yang berbentuk bintang lima. Di dalam kota tersebut, VOC membangun perkantoran pemerintah, perumahan orang Eropa, Gereja dan bangunan lainnya. Kota ini kemudian disebut sebagai “Little Netherland” karena semua bangunan yang ada di dalam kota tersebut mempunyai bentuk bangunan Belanda. Setelah Kota tersebut jadi, VOC kemudian menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahannya untuk wilayah Jawa Tengah, bahkan kota itu kemudian menjadi pusat perdagangan, pusat militer VOC. Mencari Potensi Kota Lama Dalam mencari potensi-potensi wisata yang ada di kota lama Semarang, ada beberapa kriteria yang menjadi dasar untuk menganalisa potensi yang sekarang ada dan yang memiliki potensi untuk berkembang. Ketiga teori tersebut yaitu teori urban disain Kevin Lynch, teori urban disain Hamid Shirvani, dan teori tentang pariwisata. Langkah-langkah yang kami lakukan adalah melakukan scanning dan maping dengan menggunakan teori Kevin Lynch, kemudian setelah didapat hasil scanning yang dimaksud, dilakukan analisa potensi dengan menggunakan teori urban disain Hamid Shirvani. Analisa Menurut Teori Kevin Lynch Districts (Domain/area) Districts/wilayah yang dibahas adalah kawasan kota lama Semarang. Wilayah ini dipilih karena masih mamperlihatkan citra suatu kota lama peninggalan kolonial. Hal yang memperkuat pemilihan wilayah ini adalah pada bentuk-bentuk bangunan yang masih kental akan arsitektur Eropa. Sedangkan di luar distric ini, citra kota lama terasa kurang kuat karena sudah banyak bangunan modern. Analisa Edges Batas-batas yang menjadi wilayah bahasan adalah: Batas Utara : Stasiun Tawang Batas Selatan : Jl. Pendowo Batas Barat : Jl. Mpu Tantular Batas Timur : Jl. Ronggo Warsito Jalan-jalan diatas menjadi batas terluar lingkup bahasan tentang pencarian potensi wisata kota lama semarang karena sebagian besar bangunan-bangunan penting peninggalan kolonial terdapat didalamnya. Analisa Pathways Analisa Landmark Landmark yang dimaksudkan disini adalah bangunan-bangunan atau dapat juga berupa open space yang secara visual menonjol dan menyolok dari sebuah kota. Kota lama memiliki bangunan-bangunan yang bernuansa Eropa, diantara bangunan-bangunan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain sehingga dapat dijadikan sebuah landmark kawasan kota lama. Kelebihan yang dimaksud dapat berupa kelebihan dalam sejarah bangunan, bentuk bangunan dan lain-lain. Bangunan atau ruang terbuka yang dimaksud adalah: Jembatan Berok, Bank Mandiri, Jakarta Lloyd, PT. Pelni, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), Gedung Marba, PT. Mascom, Taman Srigunting, Tawang, Gereja Blenduk, Polder Tawang, Jiwa Sraya, Susteran, PT. Telkom Dengan kriteria yang ada, bangunan atauopen space yang paling kuat menjadi landmark KotaLama Semarang adalan Gereja Blenduk dan Polder Tawang. Hal ini diperkuat dengan hasil kuisioner pada 20 responden (terlampir). Bangunan dan open space yang telah terpilih dapat dibagi kedalam beberapa sektor yang saling berkaitan. Tiap sektor membutuhkan kelengkapan-kelengkapan untuk memenuhi kriteria agar dapat menjadi sebuah sektor yang menarik untuk dikunjungi. Analisa node Analisa Nodes Setelah melakukan scaning dan maping pada kawasan kota lama, kami mendapatkan tiga node yang dapat dijadikan sebuah pusat kegiatan yang menarik dan memiliki kelengkapan sebagai objek wisata. Node 1 mencakup kawasan sekitar Jembatan Berok, Bank Mandiri, Jakarta Lloyd, PT.Pelni, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Kawasan jembatan Berok masuk dalam salah satu node dengan pertimbangan bahwa kawasan ini merupakan persimpangan jalan dan tempat pemberhentian transportasi umum. Dengan adanya pemberhentian transportasi, terbentuklah suatu pusat aktivitas pada kawasan tersebut. Node 2 mencakup kawasan sekitar Stasiun Tawang, Polder Tawang, Taman Tawang. Kawasan ini terpilih karena merupakan kawasan pemberhentian transportasi umum dan pemberhentian kereta api. Node 3 mencakup kawasan sekitar Gereja Blenduk, Gedung Marba, Taman Srigunting, dan Jiwa Sraya. Kawasan ini terpilih karena merupakan pusat aktivitas kegiatan masyarakat. Adanya open space pada kawasan tersebut memberikan kesan berbeda pada kawasan yang dipenuhi bangunan. Analisa Menurut Teori Hamid Shirvani Kawasan Jembatan Berok Land use (tata guna lahan) Lahan di kawasan jembatan berok digunakan sebagai area perkantoran, yaitu : Bank Mandiri, Jakarta Lloyd, PT. Pelni, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), dan adanya ruang terbuka yaitu jembatan berok itu sendiri. Building Form and Massing (bentuk dan massa bangunan) Bangunan di sepanjang jalan Mpu Tantular (view Adan B) hampir memiliki ketinggian yang sama serta letak bangunan cenderung sejajar. Hal tersebut dapat membuat vista menjadi membosankan tetapi dengan tampak tang berbeda-beda membuat vista menjadi menarik. Dan di jalan Pemuda (view C dan D) terdapat bangunan yang terlihat lebih tinggi dan lebih besar dari banguna-bangunan lain disekitarnya. Circulation and parking (sirkulasi dan parkir) Arus sirkulasi Dengan lebar jalan yang cukup lebar yaitu 13 m menyebabkan arus lalu lintas di jl. Mpu Tantular yang sebenarnya cukup padat menjadi lancar bahkan terasa lenggang. Parkir Pada area ini, tidak ada tempat parkir khusus. Pemakai jalan biasanya memarkir kendaraannya di samping jalan dan di depan gedung yang akan dikunjungi. Parkir kendaraan hanya tersedia untuk kendaraan yang berkepentingan dengan gedung yang memiliki tempat parkir. Tidak adanya kantong-kantong parkir terpusat membuat kurangnya kebutuhan parkir bagi pengguna/pengunjung disekitar area ini. Maka dari itu, apabila area ini diperuntukkan sebagai area wisata, dibutuhkan pengatuan parkir yang memadai. Open space (ruang terbuka) Pada area jembatan berok, terdapat area open space. Area ini berada di dekat jembatan. Area open space ini berupa taman pasif yang berada di tengah jalan. Karena area open space ini berada di tengah jalan dan pencapaiannya yang susah, taman ini tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan kondisi yang ada, taman ini tidak dapat di kategorikan sebagai area open space, karena tidak dapat menjadi area komunal bagi kegiatan masyarakat di sekitarnya. Pedestrian ways (jalur pedestrian) Terdapat pedestrian dengan dimensi lebar 1,20 meter kedua sisi jala. Pada kenyataannya, pedestrian ini jarang digunakan karena beberapa factor, diantaranya: banyaknya street furniture yang berada di sepanjang pedestrian, kondisi pedestrian yang relative panas pada siang hari, kondisi pedestrian yang ada di lapangan belum memberikan kemudahan akses bagi para penyandang cacat terutama pengguna kursi roda. Activity support (kegiatan pendukung) Aktivitas pendukung menjadi sangat penting karena tanpa adanya pendukung ini, aktivitas di dalam area tidak akan tercapai maksimal. Di area jambatan berok, terdapat beberapa aktivitas pendukung kegiatan utama, salah satunya: pedagang kaki lima sebagai tempat beristirahat dan melepas lapar dan dahaga. Signage ( tanda-tanda) Signage merupakan kelengkapan pada suatu area. Pada kawasan jembatan berok terdapat beberapa signage berupa lampu jalan yang berfungsi sebagai pembatas jalan dan aksesori jalan, selain itu terdapat papan-papan pengumuman. Terdapatnya lampu-lampu di area ini telah merefleksikan image kota lama yang diharapkan. Preservation and Conservation Penggunaan gedung-gedung di sekitarr jembatan berok merupakan upaya dalam konservasi bangunan-bangunan kuno. Pada area ini terdapat revitalisasi pada bangunan gedung lama sebagai bangunan kantor misal : Bank Mandiri, PT. Pelni, Djakarta Lloyd, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Kawasan Polder Tawang Land use Lahan di kawasan Polder Tawang dibagi untuk beberapa fungsi lahan, yaitu: untuk stasiun, taman bermain, polder tawang, lokasi PKL, perumahan, dan pertokoan. Building form and massing Adanya perbedaan bentuk dan ketinggian bangunan menyebabkan terbentuknya irama bangunan. Pandangan dari arah tawang telah menunjukkan adanya irama bangunan. Sehingga tidak membuat kebosanan apabila dilihat dan dinikmati. Pada sisi-sisi polder terdapat sebuah area yang menurut kami belum mendapatkan sebuah perhatian, ditunjukkan dengan tidak adanya keteraturan bangunan dan fungsi lahannya. Yaitu pada sisi timur polder tawang. Circulation and parking sirkulasi Sirkulasi kendaraan pada area sekitar polder bisa dikatakan lancar dan tanpa hambatan, karena dimensi jalan yang relatif lebar ( Jl. Taman tawang 13 meter dan Jl. Merak 3 meter). Hambatan yang ada pada sirkulasi daerah sekitar polder tawang adalah perawatan jalan. Penggunaan paving pada jalan utama yang dilewati kendaraan besar beresiko keadaan jalan yang cepat rusak. Kerusakan yang terjadi saat ini adalah jalan yang bergelombang. parkir Pengelolaan parkir pada daerah ini hanya ada di dalam stasiun tawang, lahan parkir tersebut lebih ditujukan kepada pengguna Stasiun Tawang. Pengelolaan parkir yang ditujukan untuk pengunjung polder belum ada. Hal ini pula yang menyebabkan adanya parkir liar di pinggir jalan seputar polder atau depan stasiun. Dapat dikatakan bahwa parkir ang belum terkreasikan dengan baik ini menjadi sebuah hambatan bagi pengunjung yang bermaksud mengunjungi Polder Tawang untuk saat ini. Open space Di daerah sekitar Stasiun Tawang terdapat area open space yang cukup besar, diantaranya: Polder Tawang dan taman tawang. Polder Tawang dapat menjadi open space yang menawarkan pemandangan luas dari berbagai sisi. Faktor kebersihan pada polder saat ini menjadi prioritas utama, apabila kebersihan polder masih sama dengan saat ini pengunjung akan segan untuk singgah walau hanya sekedar melepas lelah. Polder dapat menjadi spot penarik pengunjung, terutama dari arah stasiun yang merupakan sarana transportasi masal. Taman tawang merupakan taaman aktif yang dapat dijangkau dengan mudah. Area taman ini merupakan aset yang berharga bagi polder. Dengan adanya taman ini, panas yang timbul di area polder sedikit teredam oleh banyaknya pohon di taman. Pedestrian ways Pedestrian yang ditujukan untuk pejalan kaki telah tersedia. Hambatan yang ada pada pedestrian ini adalah kurangnya peneduh bagi pejalan kaki. Dengan kondisi matahari yang menyengat kulit, unsure peneduh menjadi factor yang sangat penting untuk menarik pengunjung. Tidak ada atau kurangnya peneduh jalan membuat sebagian besar pengunjung ,menjadi sengan dan malas menyusuri pedestrian polder yang telah tersedia. Activity support Sarana pendukung adalah bagian yang sangat penting dalam pengembangan kawasan. Pada kawasan Polder Tawang, terdapat beberapa sarana pendukung yang dapat memberikan manfaat dalam pengembangan kawasan ini. Stasiun Tawang merupakan aset penting bagi kawasan ini, karena jumlah penumpang setiap harinya yang tergolong besar merupakan target bagi kawasan ini. Apabila pengelolaan kawasan ini dapat menarik perhatian, bukannya tidak mungkin banyak penumpang kereta yang menyempatkan diri untuk bersantai sejenak di area sekitar polder. Hotel di sebelah selatan polder merupakan sarana penunjang yang mendukung keberadaan polder ini, dengan adanya hotel ini para pengunjung akan lebih merasa tenang menikmati polder meski sampai malam. Keberadaan PKL menjadi unsur pelengkap untuk kebutuhan makan di area ini, namun masih dibutuhkan pengaturan tempat bagi PKL-PKL tersebut. Dengan adanya pengaturan tempat, diharapkan unsur PKL ini dapat berfungsi maksimal dan tidak merusak keindahan yang sudah terbentuk. Hambatan yang ada adalah belum adanya sarana pendukung berupa rest area yang memadai serta rumah makan yang dapat menampung orang banyak. Signage Signage merupakan sumber penjelasan. Dengan adanya signage, diharapkan para pengguna kawasan dapat mengerti informasi yang dibutuhkan, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan,dll. Keberadaan signage harus diperhatikan, karena apabila tidak ditempatkan dengan baik, signage dapat merusak citra yang sudah terbentuk. Di antara beberapa signage yang ada di sekitar Polder Tawang, hanya signal-signal rambu lalu lintas-lah yang dapat dilihat dari jarak jauh. Preservation and Conservation Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, gedung-gedung di kawasan ini masih sedikit yang dikonservasi. Pemanfaatan gedung yang ada di kawasan ini masih terbatas. Pembangunan gedung baru dapat merusak image yang sudah terbentuk, maka dari itu perlu direncanakan revitalisasi gedung-gedung di kawasan ini agar dapat mendukung kegiatan di dalamnya. Stasiun Tawang merupakan salah satu bangunan konservasi yang masih terjaga hingga kini, walaupun telah mengalami beberapa kali peninggian peil akibat rob. Ada pula hotel atau mess keluarga pelangi indah tela mengalami konservasi karena mungkin disesuaikan dengan fungsinya sebagai hotel yang memerlukann tampak yang lebih menarik tanpa mengubah bentuk asal dari bangunan tersebut karena semua bangunan di Kota Lama Semarang dilindungi oleh undang-undang. Kawasan Gereja Blenduk Land use Tata guna lahan di sekitar Gereja Blenduk didominasi oleh perkantoran , ruang terbuka, dan restoran. Taman Srigunting merupakan area yang cukup penting sebagai area beristirahat, didukung oleh restoran yang cukup prestisius seperti Ikan Bakar Cianjur. Building form and massing Lahan yang sempit membuat area pandang menjadi terbatas. Pandangan yang dapat menangkap beberapa gedung sekaligus dapat dilakukan dari area taman Srigunting. Namun, gedung yang dapat terlihat terbatas hanya 3-4 gedung. Maka dari itu, keberadaan Taman Srigunting akan terasa seperti sebuah rest area yang dikelilingi benteng bangunan. Circulation and parking Sirkulasi di sekitar blenduk terpusat pada jalan Let. Jend. Suprapto. Keberadaan jalan ini menjadi sangat penting dengan lebar jalan ±11 meter. Terdapat gang-gang di sekitar jalan ini dengan lebar jalan rata-rata 3 meter. Area parkir yang tersedia adalah di daerah sebelah utara Gereja Blenduk. Untuk jumlah pengunjung saat ini, luasan lahan parkir Gereja Blenduk tidak mengalami masalah yang berarti. Selain itu ada pula parkir liar di sisi-sisi jalan. Keadaan ini harus segera terkoordinasikan agar dapat menjaga kerapian dan kenyamanan pengguna yang lain. Open space Area open space yang ada di sekitar Gereja Blenduk adalah taman Srigunting. Taman ini merupakan area yang penting karena keindahan gedung-gedung sekitar dapat dinikmati dari taman ini. Taman Srigunting menjadi sebuah area open space di antara deretan gedung tua disekitarnya. Pedestrian ways Pedestrian di area ini telah ada, namun hanya di sekitar taman. Sekitar jalan utama tidak ada jalur pedestrian, sehingga menyulitkan pajalan kaki untuk memanfaatkan jalan dengan maksimal. Maka dari itu dibutuhkan sarana pedestrian agar pejalan kaki dapat mengakses gedung-gedung sekitar dengan mudah. Activity support Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang-ruang publik suatu kawasan kota. Di sekitar Gereja Blenduk, ada beberapa kegiatan yang mendukung ruang-ruang publik di dalamnya. Kegiatan-kegiatan tersebut berupa taman, tempat makan, perkantoran dan bank. Signage Kebanyakan signase yang ada di dalam kawasan Kota Lama Semarang belumlah memperhatikan estetika dan keharmonisan dengan bangunan arsitektur di sekitarnya. Di sekitar Gereja Blenduk, signage yang ada berupa petunjuk larangan parkir, papan informasi pemerintah, dan tanda pemberhentian bus. Dari ketiga jenis signage di atas, hanya petunjuk larangan parkir dan tanda pemberhentian bus-lah yang dapat dilihat dengan jarak pandang cukup jauh. Preservation and Conservation Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, gedung-gedung di kawasan sekitar Gereja Blenduk hampir seluruhnya berfungsi walaupun telah banyak yang dialihfungsikan. Pemanfaatan gedung yang ada di kawasan ini antara lain bangunan restoran Ikan Bakar Cianjur, sate 29, dan gedung Marba yang sekarang dijadikan sebagai gudang, gedung perkantoran milik PT. Jiwasraya, gedung Bank BTPN, serta kantor milik ITC. Gereja Blenduk sendiri masih terjaga bentuk dan fungsinya. Selain bangunan, area konservasi yang ada di sekitar Gereja Blenduk adalah taman Srigunting yang keberadaannya dilindungi oleh pemerintah. KESIMPULAN Setelah melakukan analisa dengan menggunakan teori Kevin Lynch dan Hamid Shirvani, ditemukan tiga node yang beropotensi di kawasan Kota Lama Semarang. Tiga node (node Berok, node Tawang, node Blenduk) kemudian di analisa dengan menggunakan teori pariwisata. Berdasarkan teori pariwisata, dari ke tiga node yang ditemukan terdapat dua node yang secara garis besar memenuhi kriteria sebagai objek wisata yang dapat dikembangkan. Proses scoring dilakukan dengan menggunakan teori pariwisata. proses scorring kali ini memiliki nilai batas atas 35 point. Maka dari itu, proses penyaringan dilakukan dengan cara : node dengan jumlah nilai kurang dari 17 berarti node tersebut kurang memiliki potensi dan banyak memiliki kendala. Sedangkan node dengan jumlah nilai lebih dari 17 berarti node tersebut memiliki potensi yang lebih banyak dari pada kendala yang ada. Node tawang dan blenduk memiliki potensi sebagai pariwisata karena menurut scorring yang telah dilakukan, node tawang mendapatkan 23 point dan blenduk 24 point. Sedangkan node Berok kurang berpotensi sebagai objek wisata dengan pertimbangan kendala yang ada lebih banyak daripada potensi yang dapat dikembangkan. Node jembatang berok mendapatkan 12 point dalam scoring yang telah dilaksanakan. Jadi, berdasarkan analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa potensi wisata pada kawasan Kota Lama terdapat pada kawasan tawang dan Gereja Blenduk. REKOMENDASI Kawasan Polder Tawang Menurut keadaan Kawasan Tawang, rekomendasi yang dapat dilakukan untuk pengembangan kawasan polder tawang adalah : Pengalih fungsian bagian Jl. Merak sebagai taman aktif yang dapat dipakai secara maksimal dan dapat mengurangi panas di sekitar polder. Bangunan-bangunan di sebelah Selatan Polder Tawang yang mangkrak dapat direvitalisasi menjadi bangunan sebagai pendukung aktifitas seperti Hotel, Restoran, Tempat berbelanja dan lain-lain. Kondisi eksisting bagian Polder Tawang Rekomendasi Seperti pada visualisasi di atas, sekeliling polder dapat dijadikan jogging track. Sementara sebagian jalan Merak dijadikan taman aktif untuk menciptakan iklim mikro guna mengurangi panas. Kondisi eksisting jalan Merak terdiri dari dua lajur, cukup lengang dan jarang dilalui kendaraan, karenanya pengalihfungsian sebagian penggal jalan ini diperkirakan tidak akan mengganggu lalu lintas. Beberapa permasalahan pada polder tawang dapat diatasi dengan beberapa cara, yaitu: - Permasalahan panas pada polder dapat diatasi dengan penambahan vegetasi peneduh di sekitar pedestrian. - Parkir pada polder dapat diarahkan pada jalan kecil penghubung antara jalan merak dan jalan Taman Tawang. Jalan ini merupakan jalan yang sangat jarang digunakan sehingga dapat difungsikan sebagai tempat parkir. Stasiun Tawang merupakan transportasi darat yang mengangkut banyak penumpang. Perjalanan dengan kereta biasanya ditempuh oleh penumpang dari jarak yang cukup jauh, keadaan ini membuat penumpang menjadi lelah. Dibutuhkan tempat beristirahat meski sekedar area istirahat sementara untuk melepas lelah, hal ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan oleh polder tawang dengan mengembangkan area istirahat berupa taman, restoran, area duduk, dll. Kawasan Gereja Blenduk Gereja Blenduk memiliki potensi visual gedung yang bagus. Selain itu, taman Srigunting memiliki peran penting sebagai area open space yang dapat dipakai sebagai area istirahat dan menikmati udara segar. Pada area ini dapat dikembangkan sebuah galeri photo dan seni yang serasi dengan bangunan sekitar. Konsepnya adalah menjadikan gedung-gedung di sepanjang jalan Let.Jend Suprapto menjadi galeri seni dengan etalase-etalase kaca, sementara pengunjung menikmatinya dengan cara berjalan kaki pada koridor yang ada di depan gedung. Area open space berupa taman Srigunting di dekat Gereja Blenduk menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk beristirahat disana. Potensi ini membuka kesempatan untuk mengembangkan area makan dalam melengkapi taman Srigunting. Adapun jalan di depan Gereja Blenduk dapat dijadikan koridor wisata kuliner karena pada ruas jalan Letjen Suprapto memiliki beberapa rumah makan seperti RM. Ikan Bakar Cianjur dan Sate 29 yang terbukti dapat bertahan. Kondisi eksisting jalan Kepodang. Gambar ini diambil siang hari, namun cukup teduh oleh karena gedung-gedung tinggi yang ada di sekitarnya Jalan Suwari hingga jalan Kepodang di depan Gereja Blenduk dapat dijadikan koridor wisata kuliner dengan open resto di sepanjang jalan ini. Untuk area parkir, ada beberapa lahan kosong yang saat ini belum dimanfaatkan yang dapat dijadikan sebagai lahan parkir. Ada tiga lokasi seperti yang ditunjukkan dengan bangun warna hijau pada peta di atas. Tiga lokasi ini dirasa cukup mengakomodasi karena letaknya pun tersebar. DAFTAR PUSTAKA Darmawan, Edy. 2005. Analisa Ruang Publik Arsitektur Kota. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Darmawan, Edy. 2009, Ruang Publik Dalam Arsitektur Kota. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Lynch, Kevin. 1960.The Image of City. Massachusetts: The Mitt Press Cambridge. Sirvani, Hamid. 1985. Urban Design – The Architecture Town and Cities. New York: Mc. Graw Hill. Soekadijo, R.G. 1997. Anatomi Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Item Type:Article
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:20143
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:12 Aug 2010 08:21
Last Modified:20 Sep 2011 10:00

Repository Staff Only: item control page