ANALISIS KINERJA PERAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET) DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN BIMA NUSA TENGGARA BARAT

Kurniawati, Ririn (2006) ANALISIS KINERJA PERAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET) DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN BIMA NUSA TENGGARA BARAT. Masters thesis, PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1020Kb

Abstract

Poverty problem have causes disparity between west and east Indonesia area, as an effort to eliminate the difference of that, central government found 13 Kapet that expected can become Prime Mover for area of around him pass through what we called Trickle Down Effect ( Spread Effect). One of the Kapet in east Indonesia area is Kapet Bima. In growth here in it seem’s that investment at Kapet Bima very minim so that it is important to know " How Performance The Function of Kapet in Region Development in Sub-Province of Bima and whats factors influencing him" The Method using in this research are : Scoring, Factor analysis, SWOT analysis and Analitical Hirearchy Process (AHP) According to those analysis result which have been done Kapet Performance indicator are : Earnings Of Per capita, GDRP, Investment Value, Exporting Value, Human Development Index and GDRP Percentage of Industry sector. Performance of Kapet in regional development at Bima west nusa tenggara is unsuccesfull even disparity between Sub-Province in Province West Nusa Tenggara during range of time 1996-2003 progressively mounts. Performance influencing Factors of Kapet in Development of Region in Sub-Province of Bima are : Institute Performance of BP Kapet which not optimalize yet in regional development of Kapet Bima ( Sub-Province of Bima), Sub-Province of Bima imprecise as Growth Center, Lack of the siding from Local Government in supporting development of Kapet, Human Resource and low of bargain position of Pre eminent commodity (Natural Resources) and the last factor is Management of Kapet which still dominated by Central Government. and there are 8 strategy to develop Kapet Bima they are: Management Reform of Kapet , Promotion opportunities of investment, , Make-Up of regional facilities and infrastructure, Make-Up of Human Resource quality, Coordination between BP. Kapet with local Government , Optimalizing Performance of BP. Kapet, , Make-Up of pre-eminent commodity quality and The Last Strategy is Transparency and Accountability of Kapet management. While chosen management alternative of KAPET by Analytical Hierarchy Process ( AHP) is Decentralize Regionalization by Regional Management. The conclusion of this research is Kapet Performance In Regional Development at Bima West Nusa Tenggara is unsuccesfull because influence by factors: : Institute Performance of BP Kapet which not optimally yet in regional development of Kapet Bima ( Sub-Province of Bima), Sub-Province of Bima imprecise as Growth Center, Lack of the siding from Local Government in supporting development of Kapet, Human Resource and low of bargain position of Pre eminent commodity (Natural Resources) and the last factor is Management of Kapet which still dominated by Central Government. To solve that problem are recommended to do 8 strategy of Kapet Development, and it recommended to reform Management of Kapet with Bottom up approach pass through Decentralize Regionalization which Regional Management (RM) as the manager.More research about regional management in Kapet management Extending of Kapet area include sub province of sumbawa and More Research about Location criterion of Kapet. To complete this research it’s also recommended to do the research with stakeholder involve in decision making,, Study of Kapet with larger area including Dompu and Bima City, Study of Kapet with Central government as a conceptor of Kapet and pay attention at data. accurating Masalah kemiskinan telah meyebabkan kesenjangan yang antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia. Sebagai upaya untuk menghilangkan kesenjangan tersebut pemerintah pusat mendirikan Kapet sebanyak 13 buah yang diharapkan dapat menjadi Prime Mover bagi daerah sekitarnya melalui apa yang disebut Trickle Down Effect (Spread Effect). Salah satu Kapet di Kawasan Timur Indonesia adalah Kapet Bima. Dalam perkembangan selanjutnya terlihat bahwa investasi yang masuk di Kapet Bima sangatlah minim sehingga perlu diketahui ”Bagaimanakah Kinerja Fungsi Kapet dalam Pengembangan Wilayah di Kabupaten Bima dan Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Skoring, Analisis Faktor, Analisis SWOT dan Proses Hirarki Analitik. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan hasil indikator kinerja Kapet adalah : Pendapatan Perkapita, PDRB, Nilai Investasi, Nilai Ekspor, Indeks Pembangunan Manusia dan Persentase PDRB dari Industri Pengolahan. Kinerja Kapet dalam Pengembangan wilayah di Kabupaten Bima adalah tidak berhasil bahkan ketimpangan antar Kabupaten dalam Propinsi Nusa Tenggara Barat selama kurun waktu 1996-2002 semakin meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Kapet dalam Pengembangan Wilayah di Kabupaten Bima antara lain : Kinerja Lembaga BP Kapet yang belum optimal dalam pengembangan Kapet Bima (Kabupaten Bima), Kabupaten Bima tidak tepat sebagai Pusat Pertumbuhan, Kurangnya keberpihakan dari Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam mendukung pengembangan Kapet, Sumber Daya Manusia Kabupaten Bima yang kurang dan rendahnya posisi tawar sektor unggulan (Sumber Daya Alam) dan faktor terakhir adalah Manajemen Kapet yang masih didominasi oleh Pemerintah Pusat. Terdapat 8 strategi untuk pengembangan Kapet Bima antara lain : Reformasi Manajemen Kapet , Melakukan Promosi mengenai peluang investasi, , Peningkatan kualitas sarana dan infrastruktur wilayah, Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, , Koordinasi antara BP. Kapet dengan Pemerintah Daerah setempat, Optimalisasi kinerja BP. Kapet, Peningkatan kualitas komoditas unggulan dan strategi terakhir adalah Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan Kapet. Sedangkan alternatif terpilih kewenangan pengelolaan Kapet yang terpilih melalui Analitical Hirearchy Process (AHP) adalah Regionalisasi Desentralistik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Kinerja Kapet dalam Pengembangan Wilayah di Kabupaten Bima tidak berhasil karena dipengaruhi oleh faktor-faktor : Kinerja Lembaga BP Kapet yang belum optimal dalam pengembangan Kapet Bima (Kabupaten Bima), Kabupaten Bima tidak tepat sebagai Pusat Pertumbuhan, Kurangnya keberpihakan dari Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam mendukung pengembangan Kapet, Sumber Daya Manusia Kabupaten Bima yang kurang dan rendahnya posisi tawar sektor unggulan (Sumber Daya Alam) dan Manajemen Pengelolaan Kapet yang masih didominasi oleh Pemerintah Pusat. Untuk membantu memecahkan masalah tersebut direkomendasikan untuk melakukan 8 strategi dan direkomendasikan untuk mereformasi manajemen Kapet dengan pendekatan Bottom Up melalui Regionalisasi Desentralistik dengan Regional Management sebagai pengelolanya , Penelitian mengenai Regional Management dalam Pengelolaan Kapet, Perluasan wilayah Kapet termasuk Kabupaten Sumbawa serta Penelitian lebih dalam mengenai pemilihan lokasi Kapet, untuk melengkapi penelitian ini direkomendasikan penelitian tentang Kapet dengan : Melibatkan stakeholder dalam pengambilan keputusan, Lingkup wilayah studi yang lebih luas yang terdiri dari Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, melibatkan nara sumber dari Pemerintah Pusat sebagai penggagas utama Kapet dan memperhatikan keakuratan data dalam penelitian.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:18869
Deposited By:Mr UPT Perpus 5
Deposited On:05 Aug 2010 12:24
Last Modified:05 Aug 2010 12:24

Repository Staff Only: item control page