STUDIO PRODUKSI FILM DI JAKARTA

IVAYANTI, RIA (2002) STUDIO PRODUKSI FILM DI JAKARTA. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
52Kb

Abstract

Salah satu unsur yang paling penting dari alat komunikasi visual massa yang sangat dikenal sekarang adalah film. Film mempunyai kekuatan yang sangat berpengaruh dan sangat peka, karena dapat diterima dengan dua panca indera secara bersamaan yaitu penglihatan dan pendengaran. Segala sumber tentang film menjadi karya yang dibicarakan, ditelaah, dianalisa dan dipersoalkan. Hal ini terlihat pada fungsi film bagi berbagai kalangan seperti : 1. Bagi masyarakat penonton, film berfungsi sebagai media hiburan ataupun pengetahuan. 2. Bagi para sineas (pembuat film), film merupakan sarana pengekspresian seni, kreatifitas dan pemenuhan hidup. 3. Bagi pengusaha, film merupakan lahan usaha yang potensial. 4. Bagi pemerintah, pendidik dan budayawan, film merupakan media penerangan, pendidikan dan pengembangan budaya bangsa. Harapan akan mulai bangkitnya perfilman nasional mulai timbul ketika Garin Nugroho dan Christine Hakim memproduksi Daun Diatas Bantal. Film ini diputar di bioskop-bioskop Kelompok 21, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Kemudian menyusul beberapa film nasional lain yang diproduksi seperti Kuldesak, Bintang Jatuh, Petualangan Sherina (yang sangat meledak di semua kota tempat film ini diputar), Pasir Berbisik, dan berbagai film independent yang jumlahnya sangat banyak seperti Pachinko, Jalangkung, Beth dll. Film petualangan Sherina memberi pengaruh yang sangat luar biasa dan membuat para sineas semakin terpacu untuk terus berkarya, karena mereka melihat bahwa masyarakat Indonesia sudah membuka matanya untuk perfilman nasional. Selama ini sebagian besar studio-studio film di Jakarta merupakan studio film yang merupakan bangunan re-fungsional (gudang, lapangan olahraga, ataupun auditorium). Berdasarkan uraian diatas, maka diusulkan adanya perencanaan dan perancangan Studio Produksi Film di Jakarta pada lokasi yang tepat dan dengan sarana dan prasarananya. Mengacu pada hal tersebut maka tampilan bangunan studio produksi film ini nantinya diharapkan dapat menampilkan karakter tersendiri dan sekaligus menciptakan suatu kompleks produksi film dan juga menjadi tempat apresiasi yang terdiri dari sarana produksi, sarana administrasi, serta fasilitas apresiasi bagi pemerhati film. Teknologi yang terus maju dan bergerak menjadi salah satu pemicu bagi semakin berkembangnya kehidupan sosial budaya dari masyarakat yang terdiri dari berbagai individu (heterogen). Film merupakan aplikasi atau cangkokan dari berbagai ilmu pengetahuan misal, sastra, fotografi, seni rupa dan lain-lain. Para pendukung sebuah produksi film sendiri adalah orang-orang yang sifatnya dinamis (siap menerima perubahan), aktif, modern dan tidak mau ketinggalan jaman. Berdasarkan hal tersebut maka diterapkan penekanan desain arsitektur Morphosis yang memiliki pandangan heterogenitas dan menganggap bangunan sebagai fragmen-fragmen yang memberikan inspirasi. 1.2. Tujuan dan Sasaran Tujuan yang akan dicapai yaitu mempersiapkan perencanaan dan perancangan Studio Produksi Film di Jakarta pada lokasi dan dengan sarana prasarana yang sesuai untuk sebuah studio produksi film. Sasaran yang hendak dicapai yaitu menyusun Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang bertitik tolak dari judul pembahasan yaitu Studio Produksi Film di Jakarta dengan penekanan desain arsitektur Morphosis. 1.3. Lingkup Pembahasan Lingkup pembahasan penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dengan judul Studio Produksi Film di Jakarta dengan penekanan desain arsitektur Morphosis. Lingkup pembahasan diarahkan dengan memperhatikan berbagai faktor dalam kurun waktu sepuluh tahun, dan masih bisa memenuhi fungsinya sampai sepuluh tahun mendatang. Pembahasan perencanaan dan perancangan baik dari segi kualitatif maupun dari segi kuantitatif berdasarkan studi banding dari berbagai studio produksi film baik yang terletak di Jakarta maupun yang terletak di luar negeri. Pendekatan ilmiah dan asumsi untuk menjawab permasalahan yang ada sesuai dengan kemampuan yang nantinya menghasilkan landasan program untuk menuju perencanaan fisik. 1.4. Metode Pembahasan Metode pembahasan menggunakan metode deskriptif dan komparasi yaitu menguraikan data-data komparasi yang telah dikumpulkan, penganalisaan data dan menyimpulkan hasil analisis. Hal ini dilakukan mengingat terbatasnya data akan bangunan studio produksi film yang ideal yang ada di Indonesia. Sehingga dengan adanya perbandingan/komparasi dengan obyek yang memiliki kualitas yang lebih baik ditinjau dari kelengkapan fasilitas dan luas kawasan serta majunya teknologi yang dimilki dan menunjang terselenggaranya kegiatan dalam sebuah studio produksi film. Untuk lebih dekatnya mengenai metode pembahasan dapat dilihat skema Diagram Alur Pikir. 1.5. Sistematika Pembahasan Sesuai dengan metode pembahasan dan diagram alur pikir dihasilkan sebuah sistematika pembahasan. Sistematika dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) ini terbagi atas beberapa bagian yang dijabarkan lagi dalam bab-bab dan sub-subnya, antara lain : BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang, tujuan dan sasaran pembahasan, lingkup pembahasan, metode pembahasan dan sistematika pembahasan. Yang nantinya akan dapat memberikan gambaran umum mengenai arah dari LP3A ini. BAB II TINJAUAN KOTA JAKARTA Menguraikan tentang kota Jakarta, kebijakan mengenai kota Jakarta, potensi pendukung dari sebuah studio produksi film. BAB III TINJAUAN STUDIO PRODUKSI FILM Bab ini menguraikan tinjauan film dan produksi film disertai pengertian studio produksi film, kegiatan yang terjadi didalamnya, dan peralatan yang digunakan serta kriteria pemilihan lokasi. BAB IV STUDI BANDING Bab ini mengutarakan data dan analisis dari bangunan studio produksi film yang terletak di mancanegara yang didapat melalui studi literatur dan internet. BAB V KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN Mengutarakan kesimpulan, batasan dan anggapan yang semuanya akan dipergunakan dalam analisis selanjutnya. BAB VI PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Menguraikan pendekatan program perencanaan dan perancangan arsitektur sebagai dasar pembuatan program ruang bagi studio produksi film. BAB VII KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Menguraikan konsep dan program dasar perencanaan dan perancangan arsitektur yang melandasi perancangan produk grafis.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:18740
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:04 Aug 2010 14:19
Last Modified:04 Aug 2010 14:19

Repository Staff Only: item control page