ETNISITAS, PRIMORDIALISME, DAN JEJARING POLITIK DI SULAWESI SELATAN (STUDI PILKADA DI SULAWESI SELATAN TH 2007-2008)

SUGIPRAWATY, SUGIPRAWATY (2009) ETNISITAS, PRIMORDIALISME, DAN JEJARING POLITIK DI SULAWESI SELATAN (STUDI PILKADA DI SULAWESI SELATAN TH 2007-2008). Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
524Kb

Abstract

Perubahan politik nasional dari rezim orde baru yang otoriter dengan penerapan sistem pemerintahan yang sentralistis, beralih pada sistem politik demokratis meluas sampai pada tingkat lokal. Kehadiran Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah merupakan peluang mewujudkan aspirasi daerah untuk memiliki pemimpin lokal yang disepakati oleh rakyat melalui proses pemilihan kepala daerah langsung. Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2007 menjadi ruang kontestasi yang terbuka bagi masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan yang ditopang oleh etnis Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Tiga pasangan calon dianggap mewakili etnis, yakni pasangan Amin Syam-Mansyur Ramly sebagai representasi etnis Bugis, pasangan Aziz Qahhar Mudzakkar-Mubyl Handaling juga representasi etnis Bugis, dan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Numang sebagai representasi etnis Makassar dan etnis Bugis. Kemenangan Syahrul Yasin Limpo dari etnis Makassar menandai pergeseran elite dari etnis Bugis ke etnis Makassar. Dari hasil penelitian ini tergambar ketokohan dan kompetensi yang dimiliki Syahrul menjadi faktor yang determinan dalam memenangkan pemilihan gubernur. Syahrul memiliki keterampilan politik dalam mendapatkan dukungan dari: lintas partai politik, lintas etnis, dan lintas agama. Jejaring politik Syahrul di berbagai organisasi dan semua kalangan termasuk komunitas masyarakat Sulawesi Selatan yang beragama Kristen yang kemudian memberikan arti yang signifikan terhadap kemenangannya dengan dukungan Partai Damai Sejahtera dan dukungan Persatuan Pendeta Se-Sulawesi Selatan. Selain itu Syahrul menggunakan pendekatan primordial (ikatan kekeluargaan, kesukuan, dan kewilayahan). Pada Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, etnisitas semakin lemah. Sentimen etnis juga lemah walaupun sengaja dimunculkan oleh kandidat untuk mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan ikatan-ikatan primordial. Terlihat dari dukungan etnis Makassar yang sangat dominan kepada Syahrul dan kemampuan Amin Syam untuk memenangkan daerah-daerah yang merupakan kantong etnis Bugis. Persaingan antaretnis Bugis dan Makassar berlanjut pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar dengan menggunakan perpaduan kekuatan etnis Bugis dan Makassar dalam satu paket pasangan untuk dapat memenangkan pilkada. Sedangkan rekrutmen pada level yang lebih bawah, yakni proses penerimaan CPNS yang lebih berdasarkan sistem merit yang sedikit berbeda dengan rekrutmen tenaga honorer yang masih berdasarkan sistem kekerabatan. The transformation of centralistic national politics of the New Order regime into the democratic system has bring about democracy at the local level. The implementation of The Law No.32/2004 on Local Government (Pemerintah Daerah) is an opening window of opportunity for the people to elect their local leaders directly. The 2007’s South Sulawesi Governor Election became an open contest to all of the people in the Province of South Sulawesi including Bugis ethnic, Makassar ethnic, Toraja, and Mandar ethnic. The three couple of candidates were regarded to represent their ethnic, they were Amin Syam-Mansyur Ramly as Bugis’ representative, along with Aziz Qahhar Mudzakkar-Mubyl Handaling who were also Bugis’, and Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Numang as a mix of Makassar-Bugis ethnic. The victory of Makassar’ Syahrul Yasin Limpo candidate had shown the elite’s transform from Bugis ethnic into Makassar. The result of this research shows that Syahrul’s personality and competency are the determinant factors to win the election. Syahrul has the political ability to win the supports from: across political parties, across ethnics and across religions. Syahrul’s political network in many organizations and all people, including Christian’s community of South Sulawesi gave a significant contribution to his victory. He was supported by the Partai Damai Sejahtera and the unity of South Sulawesi’s bishops. Syahrul also used the primordial approach (family-based, ethnic-based and region-based) to get supporters. The ethnicity had weakened in the South Sulawesi Election. Ethnical sentiment could not help the candidates to get the support from voters though it was being emerged deliberately by the candidates. This fact could be relay on the big supports from the Makassar ethnic to Syahrul and the ability of Amin Syam to win the regions belong to Bugis ethnic. The rivalry between Makassar and Bugis continued in the Regency Election with the use of the mix of Bugis-Makassar in one package to win the election. The recruitment in the lower level such as the CPNS test process which was more based on marriage system was a bit different with the “honorer” recruitment, which was based on the relatives system.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:J Political Science > JA Political science (General)
Divisions:School of Postgraduate (mixed) > Master Program in Political Science
ID Code:18023
Deposited By:Ms upt perpus3
Deposited On:28 Jul 2010 15:44
Last Modified:28 Jul 2010 15:44

Repository Staff Only: item control page